
Siska terdiam. Pandangannya langsung terarah pada ponsel di dalam saku celana, yang lantas ia keluarkan dengan cepat.
Dengan sekejap saja Siska mulai menekan tombol rekam pada aplikasi perekam suara, agar semua keluh kesan Naura dapat ia berikan pada Hamdi jika bertemu dengannya nanti.
Siska memang sangat bahagia dengan pernikahan Hamdi dan tak berniat untuk merusak hubungan keduanya yang baru saja mereka mulai. Namun, Siska pun tak tega jika Hamdi harus terjebak di dalam perniakahn yang jelas jelas tidak di landasi dengan kejujuran seperti apa yang ia harapkan sebelumnya.
Jujur, memang benar masih ada sedikit cinta untuk Hamdi di dalam hatinya. Bahkan Hamdi masih memiliki tempat khusus di dalam relung jiwa Siska saat ini sebab mereka telah mengarungi semua suka dan duka bersama sama cukup lama sebelum ada Naura di antara keduanya.
"Akan aku gu**gurkan ba* si*lan ini agar tak menjadi penghalang untuk mendapatkan Hamdi. Aku sudah mendapatkan dirinya sesusah ini dan Takan ku biarkan dia pergi betul saja karena benih pria baj**Ngan itu tumbuh di dalam rahimku" ucap Naura dengan keras hingga membuat Siska Merasa senang.
Brak!!!
Pintu di tutup dengan kencang oleh Naura yang kini melangkahkan kaki pergi keluar dari kamar mandi tersebut.
Siska bahkan perlahan mulai keluar dari salah satu bilik tersebut dan melihat sekeliling yang tampak sunyi dan sepi tanpa ada Naura di sekitarnya.
__ADS_1
"ternyata dia bukanlah wanita baik baik seperti apa yang kulihat sebelumnya. Dia bahkan telah mengkhianati Hamdi sebelum pernikahannya, padahal Hamdi sudah rela membuka hatinya untuk dia yang bahkan tak pantas untuk bersanding dengan Hamdi" gumam Siska seraya menggenggam erat ponsel di tangannya.
******
Kini Siska kembali berjalan menuju ruangan tempat Jonathan di rawat akibat tusukan yang sebelumnya Rafa layangkan tepat di tubuhnya.
Siska menatap wanita paruh baya yang kini berada di dalam kamar tersebut dengan sendu, sebab merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi padanya. Siska benar benar tak tahu jika Rafa memiliki niat buruk dan juga bisa pikiran kotor padanya, sebab selama ini Rafa terlihat baik dan juga begitu lugu tak seperti orang lain yang terkesan memandang Siska dengan rendah.
Wanita paruh baya itu menatap Siska dengan nyalang, dan berjalan menuju ke arahnya dengan tergesa gesa, hingga membuat Zidan yang berjaga di luar pun ikut menghalau apa yang sebenarnya wanita itu ingin lakukan pada adiknya.
"Gara gara kau anakku seperti itu! Kau harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padanya sampai ia sembuh lagi! Kau ingat kata kataku ini ya! Kau memang tak pantas menjadi wanita yang Jonathan cintai sebab kau benar benar sangat menjijikan! Kau wanita mur**Han yang menjajakan tubuhmu dengan begitu mur*h!"
"aku tak pernah perduli dengan usia anda saat ini dan aku bahkan tak perduli dengan sisa umur yang anda miliki untuk bernafas! Anda sudah tua dan seharusnya anda sadar dengan apa yang anda katakan itu cukup membuat adik saya terluka! Dia tak sehina yang anda pikirkan dan anda bahkan tak berhak mencemooh orang yang sudah memberikan darah untuk putra anda. paham!"
Wanita itu tampak melotot ke arah Zidan seolah tak takut dengan apa yang pria muda itu katakan.
__ADS_1
"anakku terluka karena membela wanita ini! Jo ku terluka karena melindungi adikmu yang tak tahu diri ini!"
Zidan terkekeh pelan menyikapi respon yang ibu Jonathan katakan padanya.
"Apa adikku berteriak meminta tolong dan bahkan berharap bahwa anak anda yang menolongnya? Hah? Apa anda merasa bahwa anak anda pahlawan karena telah menyelamatkan adik saya hah? Kenapa anda berani sekali menyimpulkan bahwa ini adalah salah adik saya padahal adik saya pun tak meminta bantuan pada putra kesayangan anda? Ingat ini baik baik ibu yang terhormat. Saya terkadang bisa menjadi seorang pria berarah dingin yang bahkan tak segan melakukan apapun ham sama seperti Rafa karena emosi dan juga terluka. Saya bahkan terkadang sering lepas kendali dengan apa yang saya lakukan karena emosi menyerang. Saya hanya memperingatkan anda dan bukan memberikan ancaman. Saya tak ingin jika nanti tangan saya sampai kotor setelah menyentuh anda yang begitu gila akan kehormatan" bisik Zidan penuh dengan penekanan.
Dokter tiba tiba saja muncul tepat di hadapan mereka, sehingga berhasil membuat Ibu Jonathan tampak diam seraya menelan Saliva yang terasa serat di tenggorokan.
Zidan hanya tersenyum manis dengan wajah yang begitu mengerikan. Hingga Siska yang sadar dengan ancaman yang kakaknya lakukan itu mampu membuat ibu jonathan sedikit ketakutan.
"Pasien kini telah melewati masa kritis. Saya harap anda semua bisa menjaga situasi rumah sakit dengan baik jika masih ingin bisa saya izinkan untuk menjenguk pasien. Saya permisi"
Siska tersenyum miring dan berjalan menuju taman rumah sakit untuk menenangkan pikiran serta perasaan yang ada di dalam hatinya.
Ia kini menggenggam kuat ponselnya dan berencana untuk membeberkan fakta tentang Naura yang belum Hamdi ketahui sebelum wanita itu kembali mengarang cerita penuh kebohongan hanya untuk membuat Hamdi tak pergi darinya.
__ADS_1
Siska mengetik sebuah pesan sebagai keterangan rekaman yang akan di kirimkan pada Hamdi saat ini, namun dengan cepat ponsel yang berada di dalam genggamannya di ambil oleh seseorang yang bahkan sangat ia kenali.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya sosok tersebut yang tentu saja membuat Siska menoleh dengan cepat.