
Malam telah datang. Sejak siang tadi Hamdi sudah pamit pulang setelah menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan Zidan.
Tak pernah terpikir sebelumnya oleh Hamdi bahwa kesepakatan yang ia buat dengan ayah Siska ternyata dapat membuat Zidan dan Siska menyangka bahwa dirinya membeli Siska atau dengan kata lain melakukan segala cara agar membuat Siska menjadi istrinya.
Ketulusan dihatinya untuk Siska datang dengan cara yang tiba tiba, serta cinta yang ia miliki pun tanpa alasan.
Malam ini, angin begitu lembut menerpa wajah cantik ibu muda yang tengah bercanda dengan anaknya didalam kamar. Siska kini menciumi setiap inci tubuh bayinya dengan lembut dan sesekali bercengkrama dengan darah dagingnya yang ia pun tak tahu siapa ayah biologis dari sang bayi.
Hatinya begitu bahagia saat ini sebab telah mendapatkan obat yang tepat setelah kejadian kelam yang menimpanya dulu, serta depresi yang ia alami dari kejadian itu.
Hamil di luar nikah, harus ia jalani dengan setiap harinya menangis karena keadaan dan moodnya yang selalu berubah ubah. Serta usinya yang masih terbilang cukup muda untuk mengandung membuatnya sering sekali marah marah tak jelas pada siapapun ataupun benda yang membuatnya kesal.
Namun kini, ia jauh bisa menerima keadaannnya sekarang dan mampu menjadi wanita yang tegar dan dewasa. Keadaan yang memaksanya untuk dewasa serta paham dengan situasi yang ada.
"Anaknya ibu nanti dikasih nama apa ya?" gumam Siska dengan tetap menatap wajah tampan sang bayi.
"Jimin? Jungkook? atau V ?" lanjutnya dengan tertawa.
Siska memang salah satu fans berat dari boyband korea yang saat ini tengah naik daun.
"Untuk namanya nanti kita bicarakan dengan Mas Zidan ya Sis" ucap Nayla seketika membuat Siska tersenyum.
"Eh Mbak Nay"
"Semangat sekali ibumu nak memberikan nama . Sampai sampai ia lupa bahwa ia punya tante yang gak diajak memikirkan namamu"
Nayla mengelus pucuk kepala bayi Siska dengan pelan. Rambutnya yang hitam lebat dan pipinya yang begitu tembam membuat Nayla begitu gemas.
****
Disisi lain, Zidan kini sedang menatap kosong kearah jendela kamarnya memikirkan rencana yang harus ia ambil kedepannya untuk masa depan Siska.
__ADS_1
Pernikahan Siska memang harus terjadi sebab bayi Siska juga pasti membutuhkan sosok seorang ayah, walaupun memang pasti bisa Zidan gantikan keberadaannya. Tapi jika memang Siska mencintai Hamdi, maka itu pilihannya. Zidan harus menikahkan Siska dengan Hamdi sebab mereka sama sama saling cinta dan berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Tanpa disadari, Ibu Widya kini tengah menatap punggung pria yang selama ini selalu ia bedakan dan tak pernah ia anggap benar benar anak. Ada perasaan menyesal dilubuk hatinya karena selama ini ia tak pernah membesarkan Zidan dengan sepenuh hati.
"Nak kamu sedang apa?"
Zidan membalikan badannya dan berjalan kearah ibu yang berdiri diambang pintu.
"Eh bu, ini Zidan lagi hirup angin segar. Ibu belum tidur? masuk bu"
"Ibu disini aja. Ibu juga belum ngantuk makanya mau lihat lihat anak anak ibu dulu lagi ngapain. Dimana Nayla nak?"
"Nayla sedang berada dikamar Siska. Katanya pengen lihat bayi"
Ibu Widya tersenyum getir mengingat perlakuannya selama ini pada Nayla yang kurang baik, bahkan saat dulu Nayla mengandung anaknya Bian pun ia tak tahu.
"Semoga saja kalian cepat cepat dikasih momongan. Biar anaknya Siska punya temen dirumah ini"
Zidan menatap wajah Ibu Widya dengan sedikit aneh. Baru kali ini ia disapa oleh Ibu Widya dengan ketulusan yang teroancar dari matanya.
"Ya sudah nak. Ibu ke kamar Siska dulu ya"
" Iya bu"
Zidan tersenyum kearah ibu yang kini semakin menjauh dari kamarnya. Diambilnya ponsel dan menekan nomor Hamdi untuk menanyakan tentang pria yang sudah merusak kehidupan Siska selama ini.
Tak perlu menunggu waktu lama, Hamdi akhirnya menganggkat telpon dari Zidan.
"Assalamulaikum Ham"
"Waalaikumsalam Dan. Ada apa? kau mau mendengarkan penjelasanku lagi mengenai cafe yang akan diberikan pada pria itu"
__ADS_1
"Bukan! bukan itu yang mau aku bahas Ham. Lagi pula sudah lupakan saja semua itu. Sekarang aku hanya ingin tahu mengenai kabar baji*ngan yang telah merusak Siska. Dimana dia sekarang?"
Hamdi sejenak terdiam dan mulai menjelaskan keberadaan Frans pada Zidan.
"Dia ada di luar kota Dan. Saat ini ia tengah berkuliah disana dan pastinya hidup enak tanpa beban sedikitpun. Aku memiliki mata mata yang tak lain sepupuku sendiri, jadi jangan khawtir misi ini akan ketahuan. Tadi aku dapat informasi bahwa sepupuku akan bekerja di rumah seta*n itu dan kebetulan sekali, sepupuku ditugaskan untuk mengawasi serta menyiapkan kebutuhan sehari hari anak koruptor itu"
"Bagus Ham. Kau bergerak cepat sekali. Lalu bagaimana rencana yang akan kau buat berikutnya?"
"Kau pasti tahu bahwa baji*ngan itu adalah pria yang penuh dengan nafsu. Sepupuku adalah wanita modern dan cantik. Pakaiannya pun tak kalah dari si ja*lang Clara. Sudah kupastikan nanti Frans akan masuk kedalam perangkap sepupuku dan mengatakan semua kejahatan yang ia perbuat pada Siska hingga akhirnya ia akan membusuk dipenjara"
"Kau yakin Ham? apakah kau tak takit mengorbankan sepupumu pada pria baji*ngan seperti Frans?"
Hamdi tertawa mendengar pertanyaan dari Zidan.
"Kau tak tahu seberapa kejam sepupu Dan. Dia adalah wanita kuat, dan juga ahli dalam bela diri. Pernah sekali dia tak sengaja mematahkan leher pencopet dijalanan dan akhirnya diapun digiring ke kantor polisi. Jadi jika sampai Frans melakukan hal yang tak ingin Nikita lakukan, maka dia tak segan segan menyakiti bocah tengik itu ataupun membuat nyawanya melayang"
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih karena sudah membantuku mencari para baj*ingan yang sudah membuat Siska hancur. Maafkan aku juga karena kesalah pahaman yang tadi terjadi"
"Tak papa slow ae Dan. Ya sudah, aku tidur dulu ya. Titipkan salamku pada calon istriku dan jagoanku yang baru lahir. Bye bye Zidan. Muach"
Kata kata Hamdi membuat perut Zidan mual dan membuatnya segera mematikan telpon yang sedang berlangsung.
"Dasar orang gila" gumam Zidan pelan.
****
Nayla berjalan kearah Zidan yang sedang tertidur diatas ranjang berukuran besarnya. Dia mengecup pelan kening sang suami dan berbisik bahwa dirinya sangat bersyukur memiliki suami seperti Zidan.
Tanpa disadari, Zidan yang sengaja berpura pura tertidur menarik tangan Nayla hingga membuat tubuhnya jatuh diatas Zidan dan akhirnya Zidan mel***at habis bibir mungil Nayla.
Tak ada penolakan dari Nayla membuat Zidan semakin lancar melakukan aksinya pada sang istri. Seolah mendapat persetujuan dari Nayla, perlahan Zidan membuka seluruh pakaian yang ia kenakan dan melakukan aksinya dengan semangat.
__ADS_1