
Suasana rumah terdengar rame sekali disana terlihat mama, Zihan, dan Agus. Mereka saling bertukar cerita dan sepertinya lagi asyik bercanda. Santi tidak peduli dengan suasana rumah.
"Assalamualaikum." Santi mengucapkan salam dan segera menghampiri Agus, mencium tangannya kemudian menghampiri mama juga. Santi langsung menuju kamarnya.
Kamar adalah tempat ternyaman baginya, ia membuka kembali ponselnya melihat-lihat foto ketika ia masih gadis, terbesat di pikirannya ingin kembali membuka olshop miliknya itung-itung menyibukan diri biar tidak terlalu stres melihat duri yang selalu bermesraan.
Mengatur rencana biar ia juga bisa membuka sebuah toko. Santi berencana akan meminjam uang pada suaminya.
Tok.. tok.. tok..
bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Santi
"Non di tunggu di ruangan tengah sama tuan Agus dan nyonya!" Ujar mbo Sri.
"Iya mbo." Jawab Santi.
Disana sudah terlihat mama, Agus dan juga Zihan sedang duduk menunggu kedatangan Santi.
"Ada apa mas?" Tanya Santi singkat.
"Sini duduk!" Agus menepuk kursi sebelah kanannya.
"Ma. Agus mau membawa Santi dan Zihan ke desa tempat Agus bekerja supaya Agus tidak terlalu jauh berangkat kerjanya, Agus telah membeli sebuah rumah yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah Santi, Jadi kalau Santi melahirkan bisa ibunya yang mengurus." Ucap Agus.
Santi tersenyum dalam pikirannya tiba tiba muncul banyak rencana. Zihan hanya terdiam sebenarnya ia tidak mau hidup di desa tapi demi suaminya ia rela mengikuti saran suaminya itu.
"Iya mama setuju, mama selalu dukung apapun yang kamu mau."
"Besok kita pindah, sekarang kita istirahat," ucap Agus langsung berdiri melangkah menuju kamar Santi, Zihan yang tak mau di tinggal langsung lari mengejar Agus dan menariknya masuk ke arah kamarnya. Sudah terlalu biasa Santi mendapati pemandangan seperti itu, ia hanya tersenyum.
Santi membawa koper baju dalam isinya semua milik pribadi dia, baju yang pernah dikasih setelah menikahpun tak ia bawa.
Mobil melaju sangat pelan karena memang akses jalan di desa itu belum baik masih banyak jalan yang berlubang, Zihan yang baru pertama kali ke desa itu merasa jengkel dan menyuruh Agus mencari makan dulu.
__ADS_1
Terkadang hati terasa sakit terkadang juga jijik melihat tingkah polah Zihan yang seakan-akan sengaja melakukan kemesraan di dalam mobil, ya Santi memang duduk di depan bersama Agus tapi tangan Zihan memeluk Agus terus dari belakang membuat Santi merasa jadi orang ketiga di antara mereka.
Mobil berhenti di sebuah rumah yang tak asing bagi Santi, rumah itu adalah rumah bekas villia sahabat kecil Santi, mereka terpisah karena villia harus sekolah di luar kota,
"Kita cari makan yu!" Ajak Agus kepada dua istrinya yang sedang fokus pada ponselnya masing-masing.
"Kamu aja yang keluar mas, beli makanan yang banyak cemilan juga jangan lupa," ujar Zihan yang masih fokus pada ponselnya itu.
Santi tidak menawarkan diri untuk ikut bersama Agus, dia hanya terdiam dan balik lagi pada ponselnya.
****
Santi sudah sibuk mempersiapkan sarapan dan rapi-rapi rumah.
"Kita sarapan bareng yu, Zihan masih tertidur," ujar Agus.
"Iya. Mas kalau saja kamu setia pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia, dulu semasa pacaran aku tidak tau kalau aku hanya di jadikan pelampiasan olehmu. Sekarang kamu lihat mas, aku tersiksa batin melihat orang yang aku sayang terus-terusan bermesraan dengan maduku. Ya aku ikhlas tapi tolong hargai aku ketika ada aku bersama kalian!" Santi mencurahkan isi hatinya.
"Aku mau ada kegiatan, aku mau mulai berjualan online lagi jadi sewaktu waktu aku akan keluar. Itung-itung menyibukan diri, biar aku tidak keterusan memikirkan mu mas," ucap santi lagi.
****
Hoaam..
Zihan menguap matanya masih terpejam tangannya ke atas dengan rambut yang berantakan.
"Santi. Kamu masak apa?" tanya Zihan, tangannya membukakan penutup makanan di meja makan tapi tak ada apa apa disana.
"Males amat aku harus nyari sarapan sendiri."
Gumam hati kecil Zihan.
Hidup memang penuh dengan misteri, hari ini kita bersenang-senang tapi tidak akan pernah tau tentang hari esok jangan kan esok satu jam ke depanpun kita tidak akan pernah tau akan ada apa yang menghampiri kita.
__ADS_1
Merenungi nasib tidak akan pernah bisa mengubahnya, kuncinya harus bangkit dan mulai semuanya kembali walaupun harus memulai dari nol, harus tetap semangat.
"Bismillahirrahmanirrahim ya allah aku meminta kelancaran dalam setiap langkahku dan hati yang selalu kuat menghadapi ujian dariMu."
Sambil meneteskan air mata Santi berdo'a selepas sembahyang sunnah.
Hari pertama memposting dagangan lumayan banyak langganan yang kembali kepada Santi, Satu persatu langganannya memesan berbagai dagangan.
Dari bulan ke bulan semakin rame, ada saja yang memesan, tapi perut yang semakin membesar membuat Santi sering merasa kecapean harus bolak balik kerumah ibunya karena balik lagi seperti dulu rumah ibunya dijadikan tempat ia menghasilkan banyak uang. Tabungannya sekarang sudah terkumpul banyak melebihi perkiraan Santi sebelumnya, Mempunyai pegawai yang siap menjadi tangan kanan Santi sangat susah di cari. Aha! Santi menjentrikan jarinya ia teringat dengan teman yang selalu ada bersamanya.
"Mila kamu kerja dimana sekarang?" Tanya santi penuh harap.
"Aku tidak kerja San, kakiku di amputasi yang sebelah kiri, mana ada perusahaan yang mau menerima seorang pekerja cacat seperti aku." Jawab Mila di sebrang sana.
"Maaf ya mil, bukannya aku menyinggungmu. Aku cuma mau nawarin pekerjaan buat mu, Aku percaya sama kamu jadi aku pikir kamu pasti bisa di andalkan." Ucap Santi.
"kerja apa?"
"Kamu datang saja besok ke rumahku sekitar jam 9."
Mila adalah teman kecil, dulu sepulang sekolah ia selalu mengajak main di rumahnya. Rumahnya besar ayahnya seorang pengusaha kaya tapi Mila tidak sombong dan tidak malu berteman dengan Santi yang tidak bersekolah.
Berharap terbantu dengan adanya Mila, Santi yang sebentar lagi menghadapi persalinan mulai fokus pada persiapan calon buah hati.
Mempersiapkan segalanya sendirian, Agus yang sibuk dengan pekerjaannya dan Zihan yang tidak mau tau urusan Santi. Hanya ibunyalah yang menemani Santi kesana kemari membeli perlengkapan bayi.
Setiap hari minggu jadwal Agus libur selalu diserobot Zihan, Santi selalu mengalah membiarkan Zihan setiap minggu pergi ke kota hanya untuk mempercantik dirinya ke salon dan belanja-belanja keperluannya, di desa juga banyak salon dan toko-toko kosmetik tapi Zihan lebih memilih pergi ke kota yang jaraknya lumayan jauh.
Aduh.
Keluh Santi yang sedang merasakan tendangan bayinya.
"Kamu aktif banget sih nak, kamu kangen ayah ya sayang. Sabar ya."
__ADS_1
Ucap santi kembali bersedih teringat Agus yang selalu mendahulukan kepentingan Zihan. Sampai Agus lupa memberikan perhatian lebih pada Santi dan kandungannya.