Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Kumpul


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Semuanya baik-baik saja kecuali hubungan Agus dengan kedua istrinya.


Dirumah Santi mengadakan syukuran kecil-kecilan dan mengundang keluarga Agus bersama istri keduanya. Ibunya Santi juga mengundang pak jaya, sepertinya pak jaya memang pantas di undang karena ini syukuran atas kesembuhan cucunya juga.


Matahari pagi bersinar begitu indah di iringi awan orange yang menambah kesan sejuknya pagi ini. Bulir-bulir air yang tersisa di dedaunan menyebarkan aroma susana pegunungan yang begitu asri.


Jauh disana terlihat gunung yang masih diselimuti embun pagi.


Di dapur semua hidangan sudah tertata dengan baik.


Pertama keluarga Agus yang datang, semuanya datang termasuk Surya papa mertuanya, walaupun berjalan masih di bantu dengan tongkat tapi ia sangat antusias mengunjungi rumah cucunya itu.


Tak lama Jaya pun datang dengan buah tangan yang banyak, ia juga mengajak putri kecilnya. Jaya segera memberi salam dan menjabat tangan satu persatu.


"Terimakasih sudah datang dan memenuhi undangan Santi. Ya karena ini syukuran atas kesembuhan El jadi saya mengundang semuanya untuk kumpul bersama, biar el semakin semangat dan bahagia mempunyai banyak keluarga yang sayang sama El." Ucap Santi memulai percakapan.


El tak mau lepas dari gendongan Santi sampai acara selesaipun.


"Sini El sayang." Ucap Surya


El masih tidak mau.


Ketika Jaya yang mau menggendong El baru mau bangkit dari pangkuan bundanya.


Dengan tertawa khas anak kecil, El melompat-lompat di pangkuan Jaya, kakeknya.


Rara, ibunya Santi memandang putri kecil yang bersama Jaya ia sungguh mirip dengan Santi sewaktu Santi berumur dua belas tahunan.


Hati kecilnya kadang merasa sedih, kadang juga tidak peduli dengan Jaya.


"Santi. Kamu sekalian rapihkan bajumu dan keperluan El biar kita barengan pulangnya," ucap Agus memecah kehangatan.


Disampingnya Zihan terlihat cemberut, mamanya pun ikut merubah rona wajahnya.


"Iya mas!" Ucap Santi singkat.


"Sampai lupa tidak memperkenalkan diri saking asyiknya kita bertemu cucu pertama kita ya pak. Saya Jaya" sambil menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan.


"Surya." Balas Surya tersenyum.


Deg. Jantungnya seperti berhenti.


Jaya langsung teringat istrinya yang pernah mengucap nama itu, apakah itu kebetulan atau memang ini orangnya. Hati Jaya dari semenjak bertemupun sepertinya sudah tak asing di perasaannya.


"Lah. Ini perasaanku saja mungkin." Benak Jaya ketika bersalaman.

__ADS_1


Jaya sepertinya terdorong untuk mencari tahu siapa itu Surya.


**


Ntahlah kemasukan apa Santi menjadi sangat bucin kepada Agus,


Agus yang sedang sendirian merokok di kursi depan di datengin Santi, dengan gaya nya yang manja ia minta bantuan barang-baranya di angkut terlebih dahulu, karena memang rumahnya dekatan tak perlu sewa mobil atau naik motor, Agus langsung membawa koper dan perlengkapan El di tenteng kedua tangannya.


Zihan hanya bisa terdiam melihat Santi seperti anak gadis yang baru pacaran lagi.


Tapi Zihan pun tak mau kalah, ia segera menyusun strategi baru untuk perhatian lebih dari Agus.


Keduanya berlomba-lomba mendapatkan perhatian.


Tapi sikap Santi yang seperti itu hanya berlaku untuk suaminya saja, ketika ia berbicara atau sedang dalam kondisi lain Santi bisa merubah sikapnya dengan penuh wibawa.


Ketika Agus sampai lagi di rumah Santi, sudah ada dua istrinya yang sedang menunggu dengan minuman di tangan masing-masing.


Santi membawa kopi hitam kesukaan Agus dan Zihan membawa es kelapa, menurut Zihan Agus pasti kehausan walaupun cuaca dingin pasti ia lebih memilih air es buatannya karena biasanya setelah bekerja pasti ingin yang segar-segar termasuk es kelapa ini.


Tapi sayang Agus memilih secangkir kopi hitam buatan istri pertamanya, cuaca yang dingin membuat secangkir kopi adalah minuman yang pas di siang hari ini.


Dengan gaya centilnya Santi menjulurkan lidahnya ke arah Zihan, Zihan tak terima ia di ejek istri pertama.


Di bandingkan umur Santi memang lebih muda dari Zihan tapi status Santi harusnya Zihan bisa lebih menghormati Santi. Dari awal menikah sampai sekarang Zihan tak ada sopan-sopannya terhadap Santi, jadi Santi pun kembali ke sikap bocahnya.


"Mas kita jalan-jalan yuk!" Ajak Santi dengan mengedip-ngedipkan matanya.


Agus merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya, Agus menempelkan telapak tangan di jidatnya Santi.


"Tidak panas!" Ucap Agus sedikit mengerutkan darinya.


"Kamu kenapa sayang, tumben amat ngajak mas jalan-jalan biasanya juga kalau mas ajak kamu ngomongnya bosen," ucap agus meledek.


"Hanya sekedar mencari angin saja kok mas," bujuk Santi sambil memonyongkan bibirnya yang seksi.


"Ya sudah nanti malam kita jalan, El biar mama atau Dila yang jagain"


"Benar ya mas?" Santi mengacungkan jari kelingkingnya membuat sebuah perjanjian, wajahnya dihiasi senyuman kemenangan.


"Iya sayang," tangan Agus sedikit mengacak rambut Santi.


"Aku ikut!" Zihan menerobos ketengah Santi dan Agus,


"Mau jalan kemana mas, jam berapa?" Sambil memeluk tangan Agus.


Santipun tak mau kalah ia segera menyingkirkan madunya.

__ADS_1


"Acara ini khusus pasangan suami istri no madu-maduan. Salah siapa mau jadi madu!"


Gentak Santi.


Santi segera menyered tangan Agus masuk ke dalam rumah dan bermain kembali dengan El.


Dalam hatinya Santi merasa rapuh, ia menyesal telah menyetujui pernikahan suaminya.


"Kamu kenapa dari tadi monyong terus?" Tanya mama.


"Gak apa-apa ma. Hanya kesal saja melihat perubahan Santi," ucap Zihan dengan nada sedih.


"Makanya kamu minta duit yang banyak sama bapak kamu sana, biar mama berpihak sama kamu lagi," ucap mama


"Ih mama jahat!"


Zihan meninggalkan mama sendirian di luar dan segera menyusul suaminya ke dalam.


Lagi-lagi Zihan mengganggu Agus yang sedang bermain bersama El juga Santi.


"Sayang peluk ayah bunda dong," Santi mendekati Agus di susul El.


Dering telpon berbunyi dari saku celana Jaya.


"Hallo. Kenapa dok?"


"Bisa kerumah sakit sekarang?" Ucap dokter di sebrang sana


"Bisa dok. Saya segera on the way"


Pak jaya pamitan pada semua orang dan segera mencap gas mobil miliknya. Putrinya tak banyak bicara ia tau ayahnya sedang panik.


****


Dila sudah bosan ia mengajak Surya pulang.


"Ma. Pa. ayok pulang papa juga kan harus minum obat!"


"Iya sayang kita pamitan dulu ya," ucap papa.


Santi pun ikut bersama keluarga Agus untuk tinggal bersamanya lagi.


Ibunya Santi terlihat sedih seperti mau ditinggalkan jauh saja. ia menangis begitupun mela, rumah akan sepi tanpa El.


"Rumah mas Agus kan deket bu. Ibu bisa kapan saja menjenguk El, kamu juga Mil jagain ibu di rumah ya, kalian jangan sampai telat makan jaga kesehatan."


Santi dan pak jaya pun berlalu.

__ADS_1


"Dirumah yang besar ini kembali kita berdua ya Mil" ucap Rara memeluk Mila.


__ADS_2