
Malam telah datang. Angin berhembus dengan kencang disaat Siska ingin menutup jendela dikamar Nikita. Sayup sayup terdengar suara yang berasal dari balkon kamarnya.
"Ibu dengar sesuatu gak?" tanya Siska pada ibunya yang sedang berbaring disamping bayinya.
"Tidak Sis. Emang suara apa?"
"Siska dengar ada suara perempuan diluar sana bu"
"Itu paling perasaanmu saja. Kamu jangan parnoan ya. Kamu tuh sudah besar jadi jangan menjadi penakut" ucap Ibu Widya dengan cuek namun didalam hatinya ia pun merasa sedikit merinding.
Siska menutup gordeng jendela dikamarnya dan mulai berjalan kearah ranjang untuk berbaring disamping bayinya.
"Ibu, Mas Zidan sama Mbak Nayla kok belum pulang ya"
"Mereka kan sedang memberikan keterangan dikantor polisi. Mungkin mereka sibuk dan ditanyai banyak pertanyaan"
"Ya tapikan, Mbak Nayla sedang hamil. Pasti dia sangat lelah"
Ibu Widya bangkit dan berjalan menuju laci di kamar tersebut. Ia mengambil ponselnya dan ingin menghubungi putra serta menantunya untuk segera pulang.
"Ibu mau apa?" tanya Siska pada Ibu Widya yang terlihat panik.
"Ibu mau suruh Zidan sama Nayla pulang.Ini sudah lewat jam 8. Tak baik seorang wanita hamil keluyuran malam malam walaupun sama suaminya"
"Ya sudah bu. Tenangkan dulu diri ibu. Mungkin mereka sedang dijalan pulang" Ucap Siska meyakinkan.
Lama Ibu Widya berdiri seraya memegang ponselnya. Tak ada jawaban dari Zidan membuat wanita paruh baya itu sedikit kesal.
"Harusnya polisi tuh tahu waktu. Sudah malam kok masih saja disuruh beri keterangan. Mana Nayla lagi hamil lagi" gerutu Widya kesal.
"Sudah, sudah bu. Bentar lagi pasti Mas Zidan dan Mbak Nayla pulang"
"Hemh iya Sis. Sekarang kamu tidur saja biar ibu yang menunggu mas mu itu. Ibu akan membukakan pintu kalau Zidan sama Nayla pulang"
Siska mengangguk dan mulai menutup matanya seraya mengusap lembut bayi yang tertidur pulas disampingnya.
Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi dengan keras, membuat Ibu Widya segera berlari menuruni anak tangga untuk membukakan pintu. Hamdi yang sejak sore terlelap tak bangun sebab obat yang dokterr berikan cukup memiliki dosis untuk membuat orang yang meminumnya mendapatkan efek kantuk hebat.
"Assalamualaikum" ucap seseorang dibalik pintu.
__ADS_1
Ibu Widya yang mengetahui bahwa suara itu adalah Nayla tak menunggu waktu lama ia memutar kunci dan membukakan pintu. Disambutnya sang menantu dan putranya yang baru saja pulang dengan hangat.
"Alhamdulillah kamu sudah pulang. Ibu khawir kamu kenapa napa Nay. Kamu kan sedang hamil, besok besok jangan keluar malam" ucap Widya lembut.
"Iya bu, maafin Nayla. Alhamdulillah minggu depan persidangan untuk kasus yang menimpa Siska dan Nikita akan segera dimulai. Besok juga Frans beserta beberapa tersangka lainnya akan diterbangkan menuju jakarta agar bisa disidang disana"
"Alhamdulillah Nay, terimakasih banyak. Sekarang kamu mandi dan istirahatlah. Jaga kesehatannya dan bayi yang sedang kamu kandung" Widya tersenyum kepada Nayla dan Zidan.
Zidan menatap sekitar mencari keberadaan Siska dan Hamdi.
"Dimana Siska dan Hamdi bu?"
"Siska sedang tidur bersama anaknya. Sedangkan Hamdi sejak sore tertidur dan sampai sekarang belum bangun. Mungkin karena efek obat yang dia minum"
"Hemh ya sudah bu. Oh iya mana laptop Nikita yang Siska temukan bu?"
"Oh iya, laptop itu ada dikamar nak. Ambilah dan coba buka kunci yang ada pada laptop tersebut. Siapa ada bukti yang bisa memberatkan Frans"
Zidan mengangguk dan berjalan bersama Nayla dan Ibu Widya menuju kamar Nikita. Ketiganya berjalan beriringan menaiki anak tangga untuk mengambil laptop.
Pintu kamar dibuka pelan oleh Zidan. Dan ia pun melihat dua makhluk Allah sedang terlelap diatas ranjang dengan pulas. Pria itu kemudian tersenyum dan mencium kening bayi Siska dan mengusap pelan pucuk kepala adiknya tersebut.
Zidan mengambil laptop yang tersimpan diatas laci dan mencoba membuka laptop tersebut. Terkunci. Beberapa kali ia mencoba memasukan sandi untuk membuka kunci pada laptop tersebut namun nihil tak dapat terbuka.
********
Nayla dan Zidan berjalan menuju kamar mereka dengan laptop dipelukannya. Keduanya terdiam dengan pikiran masing masing. Nayla yang saat ini tengah mengandung merasa sangat lelah dan cape. Hingga saat sampai dikamar ia kemudian berganti pakaian dan kemudian berbaring diatas ranjang.
"Kamu cape sayang?" tanya Zidan seraya tersenyum melihat tingakah istrinya.
Nayla membalikan badan dan menatap suaminya dengan manja.
"Iya cape banget. Aku pengen istitahat mas"
Zidan berjalan mendekati istrinya dan mulai memijat kening sang istri pelan. Ia mengusap dan memijat kepala Nayla dengan penuh kasih sayang.
"Kamu pasti lelah mas, istirahatlah aku gak papa"
"Aku ingin kamu dan bayi kita sehat Nay. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk bayi kita"
__ADS_1
"Alhamdulillah mas kita diberikan kepercayaan oleh Allah dengan keberadaan bayi ini dirahimku"
"Iya sayang kita harus bersyukur dan berterimaksih pada Allah atas rahmat yang sudah ia berikan pada kita. Kita harus menjaga amanah ini dengan baik baik" Zidan mengekus perut Nayla yang masih rata.
Tak lama akhirnya Nayla dan Zidan terlelap dengan pulas dan sesekali terdengar dengkuran halus Zidan.
*********
Pagi yang cerah, menampilkan mentari yang begitu indah menyambut keluarga Zidan yang sudah sibuk memasak didapur. Nayla dan Siska saat ini tengah menyiapkan makanan untuk sarapan, sedangkan Zidan, Hamdi dan Ibu Widya kini sedang bermain bersama bayi Siska yang terdengar sesekali tertawa.
"Anak siapa ini?" tanya Zidan pada bayi yang hanya tersenyum ceria.
"Ya anak aku dong Dan. Iya kan sayang" ucap Hamdi girang.
Ibu Widya hanya tertawa melihat kelakuan cucunya yang begitu menggemaskan.
"Makanan sudah siap" ucap Siska dengan piring berisi ayam kecap yang dibawanya.
"Wah asik makan" teriak Hamdi seraya berlari menuju meja makan.
Tak lama Nayla datang seraya membawa sayur yang sudah ia buat dan menghidangkannya diatas meja makan. Beberapa makanan kini sudah terhidang diatas meja dengan rapih. Siska, Hamdi, Ibu Widya dan Zidan sudah berada dimeja makan untuk menyantap sarapan. Sedangkan Nayla kini menggendong bayi Siska dipangkuannya.
"Biar aku saja mbak yang gendong" ucap Siska pada Nayla.
"Tak papa Sis. Kamu makan duluan saja. Aku masih merasakan mual dan belum ingin makan apapun"
"Tapi kamu harus makan sayang" balas Zidan.
"Nanti mas. Aku masih mual. Sayang sekali jika nanti aku makan tapi harus dimuntahkan kembali. Lagian aku tak enak jika kalian sedang makan malah membuat kalian tak berselera"
Akhirnya Hamdi, Siska, Ibu Widya dan Zidan memakan hidangan yang sudah berada diatas meja makan dengan lahap. Sampai sampai Hamdi dan Zidan berebutan ketika mengambil ayam yang berada didalam piring.
"Yang besar miliku Dan!" teriak Hamdi.
"Dih maksa lu! ini punyaku" jawab Zidan tak kalah sengit.
"Ya sudah ini makan saja. Kan gampang, tinggal bagi dua apa susahnya" ucap Ibu Widya dengan tangan yang sudah berhasil mebagi dua ayam yang sedang diperebutkan oleh Hamdi dan Zidan.
"Yah ibu" ucap Zidan dan Hamdi serentak.
__ADS_1
Tawa mereka begitu ramai sampai samapi tak sadar bahwa sepasang mata misterius sedang menatap mereka dengan senyum menyeringai.
"Akhirnya ketemu juga"