Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Lamaran


__ADS_3

Dua hari berlalu, kini Siska sudah siap dengan gaun cantiknya berwarna moca kesukaan Hamdi. Hari ini adalah hari dimana Hamdi dan Siska akan mempererat hubungan keduanya sebelum meniti ke jenjang yang lebih serius.


Cleo dengan wajah tampannya, saat ini tengah berada di pangkuan Nayla sedang menatap sang ibu yang sudah cantik dengan riasannya. Tawa bayi mungil itu tampak indah di dengar hingga membuat Zidan dan Nayla ikut tertawa bahagia.


Siska menatap Hamdi yang saat ini sudah siap di sebuah panggung kecil yang telah di dekorasi dengan indah. Kini tangan Siska pun mulai di raih dan dikenakan cincin permata merah muda yang saat indah oleh Hamdi. Satu tetes bulir bening berhasil lolos dari kelopak mata Siska yang membuat Ibu Widya pun terharu.


Luka dan duka di masa lalu kini mulai hilang seiringan dengan kebahagiaan yang muncul di kehidupan Siska yang telah lama hancur. Hamdi seolah menjadi obat bagi Siska dan Ibu Widya setelah semua masalah yang mereka hadapi selama ini.


Malam ini, Hamdi dan Siska menghabiskan waktu bersama keluarga mereka yaitu Cleo, Nayla, Zidan dan Ibu Widya di salah restoran ternama di pusat kota. Semua biaya yang dikeluarkan murni berasal dari Hamdi yang semakin hari, bisnisnya semakin berjaya.


"Jadi kapan kalian akan menikah?' tanya Zidan dengan semangat.


Hamdi dan Siska hanya saling pandang hingga membuat Ibu Widya menepuk pundak Siska dengan pelan.

__ADS_1


"Sebaiknya pernikahan kalian di percepat. Ibu tak ingin kalian melakukan hal yang tidak tidak, walaupun ibu percaya dengan kalian. Selain itu, Cleo juga sepertinya sudah ingin memiliki ayah baru yang setiap saat bersamanya. Ibu tak masalah jika pernikahan kalian di gelar sederhana dan hanya di datangi oleh keluarga serta tetangga dekat saja"


"Ibu benar Sis. Mas Zidan akan menjadi wali untukmu, mengingat ayahmu entah dimana serta Bian masih berada di dalam penjara"


Siska menganggukan kepala. Berbeda dengan Nayla yang sudah lama tak mendengar nama mantan suaminya tersebut, seketika diam tak mampu berkata apapun.


"Baiklah jika ibu dan kau ingin pernikahan kami di percepat. Aku akan siapkan berkas berkasnya ke pengadilan agama" ucap Hamdi dengan semangat.


Bulan yang indah bersinar dengan terang di atas awan yang hitam. Nayla dan Zidan yang saat ini tengah duduk bersantai di atas balkon kamarnya, mulai berbincang membicarakan rencana pernikahan Hamdi dan Siska.


"Akhirnya Hamdi dan Siska bisa kembali bersama setelah terjadi keretakan diantara keduanya" ucap Nayla seraya menyandarkan kepalanya dibahu Zidan.


"Iya Nay. Mas juga sangat senang ketika melihat keduanya kembali bersatu. Hanya saja ada yang mengganjal di hatik mas"

__ADS_1


Nayla seketika menatap suaminya tersebut dan mulai bertanya tentang apa yang mengganggu pikiran Zidan.


"Memangnya kenapa? Apa mas meragukan Hamdi?"


Zidan menarik nafas panjang dan segera menggenggam erat tangan Nayla.


"Aku tidak sedikitpun meragukan Hamdi. Aku hanya bingung dengan identitas pelaku yang terus memberikan hadiah pada Siska. Semua pelaku pelecehan sudah tertangkap dan tak mungkin salah satu diantaranya mampu meneror Siska seperti tempo lalu. Dan anehnya, Siska bahkan merasa pernah melihat sosok pria yang datang ke rumah kita, namun dia tak tahu siapa nama dan tak tahu pernah bertemu dimana dengan pria tersebut"


"Mungkin saja itu salah satu pria yang menyukai Siska saat sekolah dulu mas" ucap Nayla dengan cepat.


Zidan berusaha mencerna perkataan Nayla yang ada benarnya juga. Namun, semua teror itu anehnya terjadi setelah semua pelaku pelecehan itu terungkap dan bahkan saat ini Siska akan menata hidupnya.


"Ya sudah, sekarang kita doakan saja supaya Siska dan Hamdi bisa melangsungkan acara pernikahan dengan lancar. Dan untuk peneror itu, kita lihat dulu saja. Sampai mana keberanian si peneror itu dan sampai kapan dia akan mencoba mendekati adik kita mas"

__ADS_1


Zidan merangkul tubuh Nayla dan berjalan menuju mereka. Nayla tertidur pulas di samping Zidan yang saat ini masih membuka matanya memikirkan sosok misterius yang selama ini berusaha mengusik hidup Siska.


"Siapa pria yang berani mengusik adikku? Dia bahkan datang sebagai pecundang dan berusaha membuat Siska takut dengan datang kehadapannya seperti itu. Apakah dia adalah Bian? Atau ayah?" gumam Zidan dengan pelan.


__ADS_2