Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Rahasia Naura


__ADS_3

Siska yang saat ini tengah duduk bersama Zidan menunggu pemeriksaan Jonathan selesai, tampak begitu cemas dan juga diam..


Wanita itu tak seceria biasanya, sebab merasa sangat bersalah atas semua kejadian yang menimpa Jonathan pagi ini, sampai membuat keselamatannya bahkan terancam.


"Mas, maaf jika aku malah merepotkanmu disini. Aku bahkan merepotkan Mbak Nayla yang tengah hamil besar, karena membiarkannya mengasuh Cleo di rumah" ucap Siska seraya menundukan kepala.


Zidan tersenyum manis menatap sepupunya tersebut dan mulai mengusap pucuk kepala wanita itu dengan lembut.


"Kau tak pernah merepotkan siapapun Sis. Mas dan mbak ikhlas membantumu dan menjaga putramu karena kami sangat menyayangi kalian berdua" jawab Zidan berusaha menenangkan..


"ck alah. So sedih padahal hatinya begitu bahagia membuat semua orang kesusahan dan juga menderita" sambung Ibu Jonathan yang duduk tepat di dekat hadapan Siska dan juga Zidan.


Zidan yang sejak tadi mencoba sabar dan menahan emosi, mulai menunjukan sikap dinginnya dan juga kemarahan yang sejak tadi ia simpan karena menghormati usia wanita paruh baya itu yang seperti dengan bibinya.


Zidan menatap wajah ibu Jonathan dengan nyalang, dan tampak memalingkan wajahnya dengan cepat seraya terus menghentakkan kakinya tepat ke atas lantai lorong rumah sakit.

__ADS_1


"Kita Takan pernah tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia. usia dan juga jenis kelamin bahkan tak menjamin seseorang berukir panjang, terlebih lagi kelakuan yang mereka miliki sungguh membuat siapapun menjadi gelap mata dan juga muak. Oh ya Sis, kau masih kenal dengan Pak Amir tidak? pria yang dulu sempat di penjara karena telah memata**hkan tangan pesaing Bisnisku yang curang dan dia juga bahkan telah mem**tong tiga jari tangan Pak Rama ketika ia tahu bahwa sahabatnya itu memalsukan tanda tangannya di kantorku"


Siska mengangguk dengan pelan dan hal itu tentu saja membuat ibu Jonathan yang melihatnya, menelan saliva dengan susah payah setelah mendengar ucapan yang Zidan lontarkan.


"Aku rasa dia bisa membantuku saat semua orang berusaha menjatuhkanku dan juga keluargaku. Dia sangat ulung dan juga rapih dalam bekerja. Sehingga Takan ada siapapun yang tahu tentang rencana jahatku yang mungkin sebentar lagi akan terjadi, karena seseorang berusaha untuk mengusik hidupku!" ucap Zidan seraya menatap tepat ke arah manik hitam ibu Jonathan yang langsung diam membeku.


"Apa yang akan mas lakukan? Mas jangan buat aneh aneh ya! Siska gak suka!" bentak Siska dengan bibirnya yang berkerut sebab merasa kesal.


"Tenang saja Siska. Pak Amir kerjanya itu sangat rapih dan juga bersih. Polisi bahkan tak bisa menahannya karena dia sama sekali tak pernah meninggalkan bukti ataupun sidik jari pada korban korbannya, sehingga ia selalu saja lolos dari jerat hukum dan ia juga bahkan Takan pernah menyebutkan orang yang memerintahnya karena pedoman setia"


"pantesan dapat karma buruk. Wong kelakuannya aja kaya begajulan!" umpat ibu Jonathan dengan keras yang tentu saja terdengar oleh Zidan di sebrang sana.


Siska terdiam. Ia tahu bahwa kakak sepupunya itu hanya tengah berusaha mengancam ibu Jonathan agar tak terus berbicara buruk dan juga meyebalkan tentang keluarganya. Sehingga Zidan bahkan bisa berbohong sedemikian rupa untuk membuat wanita itu diam.


Namun, tiba tiba saja pandangan mata Siska terpaku sejenak kala melihat seorang wanita muda di ujung lorong tengah berjalan sendirian, seraya mengelus perutnya yang tampak rata seperti biasa.

__ADS_1


"Mas, Siska ke toilet dulu sebentar ya" ucap Siska seraya berjalan pergi menuju ujung lorong dan mengikuti wanita yang sangat ia kenal, tanpa mendengar jawaban dari Zidan terlebih dahulu.


Kini wanita itu tengah berjalan ke arah ruangan tempat dokter kandungan berada, dan tentunya hal itu membuat Siak sedikit terkejut dan juga penasaran.


"ngapain Naura ke dokter kandungan?" gumamnya pelan seraya menunggu Naura kembali keluar dari rumah tersebut, dengan bersembunyi di balik sebuah tihang penyangga. .


Satu, dua menit telah berlalu. Dari kejauhan terlihat kini Naura mulai melangkah keluar dari ruangan dokter, yang tentunya membuat Siska panik dan masuk ke dalam kamar mandi untuk tak berpapasan dengannya di rumah sakit ini.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Siska yang saat ini tengah bersembunyi di salah satu bilik toilet dekat wastafel, hanya diam membisu, seolah olah tak ada siapapun di dalam kamar mandi tersebut Untuk membuat Naura mengungkapkan sesuatu, yang tampak begitu jelas kekesalan di wajahnya saat ini.


Hingga tak lama kemudian, terdengar suara keran di putar dengan cepat. Dan kemarahan Naura tumpah dengan keras, sehingga Siska bahkan bisa mendengarnya dari dalam sini..


"Sial! Dasar ba*i sialan! Kenapa bisa tumbuh di saat saat begini sih! aku baru saja menikah dengan Hamdi, dan kini benih yang Aryo tanam bahkan bisa tumbuh di dalam rahimku dengan baik tanpa aku ketahui sebelumnya. Aku harus mengu***gurkan bayi ini secepat mungkin, sebelum Hamdi tahu tentang kejadian ini dan dia bisa saja menceraikan ku Jika tahu tentang kebenaran ini"

__ADS_1


Siska menutup mulut dengan cepat. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar tadi dari mulut istri sah mantan kekasihnya yang masih sangat ia cintai.


"Jadi, Naura telah tid** dengan pria lain dan bahkan kini tengah mengandung benih pria lain, sebelum menikah dengan Hamdi kemarin? tidak? Tidak!. Hamdi harus tahu tentang berita ini" ucap Siska dalam hati..


__ADS_2