Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Tak aman


__ADS_3

Siska mengernyitkan dahi. Apa maksud dari perkataan Hamdi padanya. Bukankah hadiah ini dari Hamdi? pikirnya sekarang.


"Kita harus pulang ke Jakarta dan tutup semua akun media sosialmu sebelum.para pelaku pelecehanmu tertangkap" Hamdi berucap penuh dengan amarah.


Hamdi memiliki ambisi bahwa seluruh pelaku pelecehan terhadap Siska harus mendapatkan gancaran setimpal dan harus dihukum seberat beratnya. Terlebih lagi pada Frans yang harus membusuk dipenjara karena telah melenyapkan Nikita.


"Sekarang kau kemaslah pakainmu dan bayimu. Besok pagi kita berangkat"


"Tapi bagaimana tiketnya?" Siska bertanya dengan bingung.


"Kau tak perlu takut aku akan carikan penerbangan pertama ke Jakarta. Bila memang penerbangannya sudah penuh maka aku bisa membeli tiket dari penumpang dengan harga dua kali lipat"


Siska hanya bisa terdiam seraya menggendong bayinya dipangkuannya. Tak lama kemudian Ibu Widya yang mendengar keributan antara Siska dan Hamdi kini sudah sampai dikamar Siska.


"Ada apa ini nak? kenapa ribut ribut?"


"Sebenarnya hadiah yang Siska dan ibu terima bukanlah dariku. Ada seseirabg yang mengetahui keberadaan Siska dan bayinya sehingga mungkin saja pelaku pelecehan Siska yang mengerimnya"

__ADS_1


"Bagaimana jika itu dari kerabat atau sahabatmu Ham?" tanya Ibu Widya dengan pelan.


"Tidak mungkin bu. Aku tak mempunyai siapapun disini apalagi kerabat. Aku bekum menceritakan apapun pada sahabatku tentang keinginanku untuk menikahi gadis . Bahkan temanku pun belum tahu Siska itu yang mana. Mereka hanya tahu nama saja tanpa tahu siapa Siska sebenarnya dan kenyataan bahwa Siska memiliki anak"


"Lalu siapa yang sudah mengirimkan semua ini?"


"Entahlah bu. Aku juga tak tahu. Aku hanya yakin bahwa ini adalah hadiah dari salah satu pelaku pelecehan terhadap Siska yang mengetahui bahwa Siska telah memiliki seorang bayi ,bahkan orang misterius itu tahu bayi Siska berjenis kelamin laki laki. Aku takut hal buruk akan terjadi pada mereka bu" Hamdi mulai lemas dan terduduk dilantai.


Trauma beratnya akibat kehilangan orang orang yang menyayanginya cukup membuat ia terguncang.


"Sudahlah nak. Kita harus kuat dan harus bisa menghadapi ini bersama sama. Kita harus yakin bahwa kita akan saking menjaga satu sama lain apapun keadaannya" Ibu widya meyakinkan Hamdi seraya memeluk tubuhnya.


Dengan cepat Hamdi berlari dengan membawa sebuah pemukul basball ditangannya dan turun menuruni anak tangga menuju pintu.


Saat pintu dibuka Hamdi sudah bersiap siap mengayunkan tongkat tersebut namun dicekal kiat oleh Zidan.


"Apa apaan ini? kau ingin membunuhku ya?" Zidan berteriak dengan keras karena terkejut.

__ADS_1


"Kau?" Hamdi menatap heran.


"Ya ini aku. Memangnya siapa lagi?" Zidan yang kesal karena hampir saja mendapat pukulan dari Hamdi segera masuk kedalam Villa bersama Nayla.


Nayla yang terkejut hanya terdiam tak mengerti maksud dari tindakan Hamdi.


"Apa yang terjadi Ham? kenapa kau mau memukul Mas Zidan?" tanya Nayla heran.


Siska dan Ibu Widya yang mendengar suara Nayla dan Zidan pun sampai di ruang bawah.


"Tadi ada yang mengirimkan hadiah untuk Siska dan bayinya Nay" terang Hamdi.


"Lalu? mengap kau ssperti itu pada Mas Zidan?"


"Aku tak bermaksud memukul Zidan Nay. Aku bermaksud memukul orang yang mengirimi Siska hadiah, sebab tak ad siapapun yang tahu tentang Siska selain kita, dan para pelaku pelecehan"


Nayla dan Zidan saling pandang. Ia baru paham maksud dan tujuan dari perkataan Hamdi.

__ADS_1


"Jadi siapa orang yang memberikan hadiah itu pada Siska Ham?" Zidan mulai bertanya serius.


"Entahlah Dan Aku pun masih bingung tentang identitas orang tersebut. Namun besok pagi aku akn pergi kerumah sakit dan meminta untuk jenasah Nikita di bawa ke Jakarta saja untuk dimakamkan. Setelah itu aku akan membawa Ibu Widya, Siska dan bayinya untuk pulang kembali ke Jakarta, karena ku rasa disini ia tak aman"


__ADS_2