
Hamdi dan Nikita yang kini semakin terlihat pucat, hanya bisa pasrah dengan perlakuan keji yang para penjahat itu lakukan. Terlebih perlakuan kasar dari ayahnya Frans dan Frans sendiri.
Bukannya Hamdi pria yang lemah, namun luka di punggungnya berhasil membuat ia tak berdaya sebab darah yang terus saja mengalir serta siksaan yang begitu menyakitkan terus saja mereka lakukan tanpa melihat air mata serta keringat yang bercucuran keluar dari tubuh Nikita dan Hamdi.
Perlahan Frans mendekatkan tubuhnya kearah Nikita yang tertunduk lesu diatas kursi dengan tangan dan kaki yang kembali diikat. Frans tersenyum kecut melihat Nikita yang terlihat memprihatinkan.
"Sudah kubilang sayang. Kau jangan berani macam macam padaku! Sekarang kau merasakan akibatnya kan. Tadinya aku ingin sekali menjadikanmu ratu dihidupku. Namun sayang, kau bahkan tak pantas ku jadikan alas kaki sekalipun" Frans menampar keras pipi mulus berkeringat milik Nikita.
Bibirnya yang mulai pucat dan nafasnya yang mulai terdengar sulit, tak membuat para pria dihadapannya merasa iba. Hamdi yang melihat perlakuan kasar kepada sepupuny itu hanya bisa menatap sendu dengan bibur yang tak kalah terlihat mulai keunguan akibat pukulan yang terus saja ia terima dari anak buah Frans.
"Katakan apa yang sebenarnya kalian inginkan dari anak saya hah!" suara berat dari pria paruh baya membuat Hamdi seketika menatap tajam kearahnya.
"Cih! kau bertanya pada kami seakan kau tak tahu semua yang sudah putramu lakukan! kau pasti tahu seberapa baji**nnya anakmu itu"
"Aku sebenarnya lelah melihat kalian hidup. Namun aku ingin sekali mendengar alasan yang sangat rinci mengenai rencan yng kalian lakukan dirumah kami"
Hamdi tersenyum, kemudian tertawa terbahak bahak mendengar perkataan ayahnya Frans.
"Baiklah jika kau ingin sekali tahu apa yang akan kami lakukan padamu. Jadi sebenarnya aku dan Nikita datang kerumahmu hanya untuk menjebak anak set**n kesayangan mu untuk mengakui semua kebeja*n yang ia lakukan pada perempuan bernama Siska yang saat ini sudah menjadi seorang ibu. Dia adalah mantan kekasihnya dulu saat masih bersekolah, dan anakmu yang breng**k itu membuat Siska di lecehkan olehnya beserta teman temannya hingga membuat Siska hamil dan melahirkan anak dari para bajin**n itu. Aku sengaja datang untuk menjebak Frans agar mau mengakui kesalahannya dan kau tahu tuan ? aku berhasil!"
Seketika wajah Frans beserta ayahnya terkejut mendengar kalimat terakhir yang Hamdi katakan.
"Berhasil!? jangan ngada ngada ! kalian gagal dan sebentar lagi kalian akan mat* " Frans yang akan melangkahkan kaki menuju Hamdi segera dicegah oleh ayahnya sendiri.
"Kita dengarkan kelinci ini bicara dulu Frans. Setelah dia puas maka kita habisi secepatnya"
__ADS_1
"Lanjutkan" sambungnya lagi kepada Hamdi agar meneruskan ceritanya.
"Ternyata kau begitu penasaran dengan ceritaku hah?! apakah kalian mulai takut? sudah kuduga bahwa nyali kalian hanya sebatas kuku saja" cibir Hamdi dengan nafas yang mulai terdengar ngos ngosan.
Suara langkah kaki yang begitu banyak dari arah luar membuat para anak buah Frans seketika menoleh dan mengecek keadaan sekitar. Tak berselang lama terdengar bunyi tembakan yang saling bersahutan disusul dengan kemunculan sosok pria dibelakang ayahnya Frans dan langsung saja mencekiknya.
Frans menoleh kearah ayahnya dan mendapati sosok pria yang tak asing dihidupnya dulu. Andi.
"Andi! ka...kau "
"Ya ini aku Frans! aku babumu yang selalu kau hina dan suruh suruh saat sekolah. masih ingat? "
"Lepaskan ayahku Di!" Frans mencoba menggapai ayahnya dari Andi namun Andi dengan sigap menendang bagian perut bawah Frans hingga membuatnya tersungkur.
"Bangun Ham! kumohon bangun" Nikita mulai menangis melihat Hamdi yang menutupkan matanya serta terjatuh dari kursi.
Nikita melihat kearah pria asing dihadapannya yang sendirian tengah mencoba melawan Frans beserta ayahnya.
Frans yang jatuh tersungkur kebelakang, meringis kesakitan seraya memegang area vita***ya yang terasa begitu ngilu.
"Set**!" umpat Frans kesal.
Ia meringis merasakan ngilu yang menjalar diseluruh tubuhnya akibat tendangan Andi yang begitu tepat mengenai benda pusakanya yang selama ini selalu ia banggakan. Hingga saat ia mencoba untuk bangkit, ia melihat sebuah pistol yang tergeletak tak jauh dari tempat ia terduduk dan segera mengambilnya.
Pelatuk sudah Frans tarik, sampai saat ia menembakan sebuah peluru kearah Andi, Nikita berlari dan berdiri tepat membelakangi Andi, hingga peluru yang Frans tujukan untuk Andi tepat mengenai bagian samping kepala.
__ADS_1
Seketika darah memancar keseluruh ruangan akibat bagian kanan kepala Nikita terkena tembakan dari peluru yang Frans letuskan. Nikita yang terkena tembakan langsung tersungkur jatuh, sedangkan Andi yang melihatnya hanya bisa menatap kosong dan mulai melepaskan jeratan dileher ayahnya Frans.
Frans yang begitu panik segera berlari meninggalkan ayahnya yang terduduk, namun dihadang oleh dua orang polisi yang sudah berhasil membekuk anak buah mereka diluar dan segera menangkapnya.
Andi berjalan pelan menuju Nikita dan menatap kosong kearah wanita yang sudah menyelamatkannya. Hamdi yang hilang kesadaran sepenuhnya tak tahu mengenai kondisi Nikita yang saat ini entah masih hidup ataukah sudah meninggal.
Beberapa anggota polisi segera berlari meminta bantuan medis untuk mengangkut tubuh Hamdi dan Nikita yabg berada didalam bangunan tua ini. Sampai pada akhirnya, Nayla yang memapah Zidan melihat Hamdi tergeletak begitu saja, segera berlari dan mencoba menyadarkan sahabatnya tersebut.
Dan saat mereka melihat kearah depan, dimana ada sesosok pria yang cukup tak asing bagi mereka sedang menatap wanita bersimbah darah berpakaian sama seperti Nikita, Nayla segera berjalan gontai kearahnya walaupun beberapa kali terjatuh sebab tak sanggup melihat keadaan serta kenyataan yang akan ia terima selanjutnya.
"Ka...kau siapa?" tanya Nayla pelan.
Andi hanya termenung tak menatap Nayla ataupun menjawab pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Nayla kemudian menyingkap rambut dengan darah yang menutupi wajah wanita dihadapannya.
Zidan segera berlari memeluk istrinya ketika Nayla tahu siapa yang ada dihadapannya sekarang. Petugas medis membawa tubuh Hamdi terlebih dahulu untuk segera mendapatkan penanganan akibat luka dipunggungnya seraya mulai membawa peralatan untuk membawa tubuh Nikita yang bersimbah darah agar tak terkontaminasi bakteri sebab mereka pun belum tahu apakah Nikita masih selamat atau tidak.
"Kau bunuh Niki?" suara Nayla lembut.
"Kau sudah membunuh sahabatku? kau...kau, apakah kau membencinya?" nada suara Nayla masih lembut tanpa penekanan sedikitpun.
"Sudah Nay. Sudah" Zidan memeluk istrinya seraya mulai menghapus air mata yang keluar secara perlahan dari sudut mata Nayla.
Petugas medis mulai mengangkat tubuh Nikita dengan hati hati. Sedangkan para polisi mulai menelusuri serta mencatat semua peristiwa yang terjadi ditempat tersebut.
Minal aidzin walfaidzin para readers, walaupun udah kelewat🤗🙏mohon maaf lahir batin 🥰maaf baru bisa up part baru karena kondisi tubuhnya belum stabil😁 Makasih banyak udah mau nunggu kelanjutan cerita Nayla dan Zidan sampai saat ini❤️
__ADS_1