
Allen keluar dari sungai, tanpa ia sadari tubuhnya sangat kokoh berotot. "Sekarang berbeda, aku tidak akan ditindas lagi!."
Setelah merapikan pakaiannya, ia segera berangka menyusuri hutan dan mencari petunjuk tentang Pulau Nimo.
Batu saja berjalan dua puluh meter, Allen merasakan keberadaan yang sangat kuat. "Apa ini!." katanya sambil melangkah mundur.
Peri Tanah keluar. "Hati-hati, orang ini jauh lebih kuat dari Dante!."
Namun setelah Allen menunggu cukup lama, ia tidak menemukan siapa pun.
"Kemana pweginya?." Allen melangkah lagi. Tepat setelah langkah kedua, tubuhnya tiba-tiba gemetar ketakutan.
Setelah memantapkan tekadnya, Allen terus melangkah dan setelah 5 langkah energi menakutkan itu hilang.
Allen penasaran mencobanya lagi, tubuhnya gemetar ketakutan. "Jadi hawa menakutkan ini hanya ada di sekitar sini."
Untuk memastikannya, Allen memutar dan menggambar hawa menakutkan itu. Setelah beberapa saat, Allen menemukan bahwa itu berbentuk lingkaran.
"Lingkaran, tapi kenapa setelah aku melompat 2 meter tidak terasa." Allen masih kebingungan dan mencoba memuaskan rasa penasarannya.
Setelah berjam-jam melakukan penelitian, hawa menakutkan itu hanya muncul sampai jam 8 pagi, setelahnya akan menghilang.
"Sudah tidak terasa lagi. Apa aku perlu menunggu hingga pagi lagi?." Allen memantapkan niatnya, ia akan menunggu sampai pagi lagi.
Keesokan harinya, hawa menakutkan itu muncul lagi. Allen segera bergegas dan memberanikan diri menggalinya. Dengan pedangnya, melubangi tanah.
Keterampilan pedang di gunakan untuk menyingkirkan tanah-tanah yang menutupinya.
[Mental +1]
Baru saja dua menit, Mentalnya bertambah satu poin. Hal itu membuat Allen lebih bersemangat menggali tanah.
Waktunya hanya 2 jam, Allen tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kekuatannya di maksimalkan. Butiran keringat terus menetes dari sekujur tubuhnya, kakinya gemetar ketakutan. Namun tekadnya terus membara dan tangannya bergerak menggali tanah.
Peri Tanah yang melihat dari atas hanya bisa mengatakan. "Apa dia bodoh?."
Allen punya Elemen Tanah, hanya dengan sedikit usaha dia paati bisa menjangkau targetnya di bawah tanah. Setelah membiarkannya beberapa saat, Peri Tanah tidak tahan untuk mengatakannya.
Namun Silvy datang dan menghentikan niat Peri Tanah. "Biarkan bos melakukannya. Apa kamu tidak lihat senyumnya itu, aku hanya pernah melihatnya ketika dia bersama orang tuanya."
__ADS_1
Peri Tanah sadar, ia berhenti dan memandangi pekerjaan bosnya. "Kamu benar, aku terlalu naif." Peri Tanah mengakui kesalahannya dan mencoba lapang dada.
Setelah jam 8, Allen berhasil menggali cukup dalam. Namun hawa keberadaannya sudah menghilang, ia mendongak ke atas.
"Sudah berapa dalam aku mengali?." Allen melihat ujung cahaya yang sangat kecil.
"Kau menggali sedalam 13 meter." Peri Tanah menjawab dengan santai.
"13 meter, seharusnya ada mata air yang keluar. Kenapa tidak ada sama sekali?." Allen mencoba menelitinya, ia mengambil beberapa sampel tanah.
Dia memanfaatkan dinding tanah untuk keluar. Setelah sampai permukaan, Allen segera meletakkan tanah di genggamannya ke sungai terdekat.
Matanya terbelalak ketika melihat tanah itu jatuh tapi air yang dilaluinya terbelah. Tepar setelah sampai di dasar, tercipta sebuah pusaran kecil.
"Tidak basah dan menciptakan kekacauan bagi air. Apa kalian ada yang tahu apa itu?." Allen bertanya pada empat Peri Pendukungnya.
Peri Tanah dan Peri Air menggelengkan kepala. Peri Api tidak peduli karena tidak ada hubungannya dengan Api.
Silvy mendekat. "Batu Kegelapan, kau bisa menyerapnya dan mengubahnya menjadi Energi Jiwa. Tapi ingat, jangan sampai mempengaruhi kewarasanmu."
Allen mengambil batunya di sungai, ia menuruti apa yang dikatakan Silvy. Batunya ditaruh tangan kanan kemudian ia mengedarkan teknik Prinsip Jiwa.
Dalam hitung detik, batunya meledak dan energi jiwa Allen bertambah sedikit. Setelah menyerap batu, Allen memegangi kepalanya.
Silvy menjawab, "Efek samping dari penyerapan Batu Kegelapan. Rasa ingin membunuh, rasa bersalah dan semua kesuraman di dunia bergabung menyerang penyerapnya."
Peri Tanah berteriak panik, "Apa yang kau lakukan. Bos bisa mati, kenapa kau tidak memberitahukan tadi!."
Silvy tersenyum manis. "Ini jalan pintas untuk membuatnya berkembang. Aku yakin kamu pernah mendengar 7 dosa besar... Itulah yang harus dikuasai para pasukan Seven Soul."
"Apa yang kau tahu darinya, jangan bercanda!." Peri Tanah tidak terima, ia tetap menyalahkan Silvy. Menurut ingatannya, tidak ada anggota Seven Soul yang melakukan metode ini.
"Jika ada 7 dosa, pasti ada juga 7 kebajikan. Sekarang Bos dalam krisis, dia harus membedakan mana yang baik dan buruk untuknya." Silvy tidak peduli dengan pendapat Peri Tanah.
Setelah beberapa saat, Allen mengerang kesakitan. Erangannya mulai berubah menjadi teriakan. Allen tidak bisa menahannya karena serangannya bukan ke fisik tapi mental.
[Mental +1](8x)
Pemberitahuan sistem terus mengatakan poin Mental Allen bertambah terus menerus. Peri Tanah mulai berhenti mengomel, sekarang dia hanya bisa pasrah melihat bosnya berguling-guling di tanah.
__ADS_1
Matahari mukai terbenam, Allen merasakan sakit itu lebih dari 8 jam. Namun setelah menyelesaikannya, ia tersenyum manis.
"Jadi seperti itu, pantas saja aku terlalu lama berkembang." Allen menyadari kesalahannya. Tujuan hidupnya hanya untuk balas dendam, padahal Prinsip Jiwa mengajarkannya untuk bertambah kuat, bukan balas dendam rendahan.
Bahkan leluruhnya memanjat ke Dunia Tinggi, setelahnya dia membalikkan langit dan bertarung dengan Raja Segalanya. Meskipun berakhir dengan kekalahan, Allen sadar bahwa bertambah kuat adalah kuncinya.
Allen berdiri dan membersihkan tubuhnya. Ia sudah 2 hari tidak makan, tetapi tubuhnya masih segar.
"Aku lupa makan, tapi kenapa aku masih baik-baik saja!." Allen kebingungan, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Silvy datang mendekat. "Itu karena tingkat Prinsip Jiwamu susah mencapai level 3."
"Level 3, memangnya ada keistimewaan apa?." Allen mencoba menggali informasi dari Silvy.
"Tidak ada yang istimewa, hanya saja kamu sekarang mulai melangkah ke jalan keabadian." Silvy segera masuk ke dalam setelah menjawabnya.
"Jalan keabadian, apa maksudnya!." Allen berteriak menghentikan Silvy, tapi dia tidak berhasil.
Peri Tanah mendekat dan mengatakan, "Sudahlah, dia akan mengatakannya saat waktunya tiba."
Tidak bisa dipungkiri, peri paling muda itu punya banyak rahasia. Peri Tanah juga tidak mau ikut campur, ia hanya ingin tuannya berkembang.
"Kamu benar. Sekarang aku harus tidur." Allen mencari tempat tidur si atas pohon. Ia berharap tidak ditemukan seseorang.
Namun nasib sial menerpanya, ular berbisa berhasil menggigit kakinya. Allen segera mengambil pedang pendek dan menebasnya hingga putus.
"Sial!." Allen mencoba mengedarkan Prinsip Jiwa dan mendapatkan sesuatu yang aneh.
"Kenapa tidak ada racun yang masuk?." Allen memastikan lagi ular yang dia bunuh. Ia mendapati ular itu memang berbisa dan cukup mematikan.
Silvy tiba-tiba muncul dan menyentuh dahi Allen, sejumlah informasi penting di kirim ke otaknya.
Allen tersenyum manis, setelah melangkah ke tingkat 3. Allen bisa tahan tidak makan selama 7 hari. Tidak hanya itu, dia bisa tanah racun tingkat 6 kebawah.
"Apa racun ada tingkatannya?." Allen kekurangan informasi tentang racun di jaman dulu. Tapi ia bisa memastikan bahwa gigitan ular beracun tidak bisa menyakitinya.
Tidak berasa Allen melewati malam dengan tidur di atas batang pohon. Ia meregangkan badannya dan langsung jatuh.
Reflek tubuhnya menstabilkan diri seperti seekor kucing. "Heh?."
__ADS_1
Allen juga tidak tahu mengapa itu bisa terjadi, padahal kejadiannya sangat singkat dan tinggi pohonnya hanya 2 meter.
"Aneh, aku kehilangan kontrol tubuhku." Allen penasaran kenapa tiba-tiba tubuhnya menyeimbangkan diri. Pahala ia baru saja bangun.