
Pertanyaan Allen sangat membingungkan, Tiwi tidak mengerti mengapa mereka harus mempertaruhkan nyawa hanya karena belajar beladiri. Namun setelah menoleh ke kanan dan kiri, ia menemukan bahwa perkataan Allen ada benarnya.
Doni, Bobi, dan Tom masih merenung, mereka sekarang sudah punya istri. Bahkan istri Tom masih mengandung anak pertamanya, Doni dan Bobi punya anak kecil. Ketiganya tidak bisa kehilangan keluarganya, tetapi risiko masuk dunia beladiri sangat tinggi. Doni dan Bobi sudah pernah mengintip dunia beladiri, kemudian mereka keluar lagi. Tom bahkan pernah menjadi instruktur beladiri tingkat rendah, jadi ia pernah menginjakkan kaki di dunia yang kejam itu.
“Bos, jika aku menolak apa Anda akan marah?” tanya Tom dengan suara pelan.
“Tentu saja tidak, sebagai seorang pejuang aku tidak akan memaksa kalian.” Allen perlahan memejamkan matanya sambil berpikir. Sepertinya dia salah langkah karena mencoba merekrut orang yang sudah menikmati hidupnya.
“Aku tidak peduli dengan dunia kejam atau apalah namanya, aku Tiwi tidak akan mundur dari sisimu, Hyung.” Tiwi mengatakan pernyataan tegas, ia anak desa jika tidak melakukan perubahan hidupnya akan tetap seperti itu saja.
“Apa kau yakin, Tiwi?” tanya Allen memastikan keputusannya.
“Ya, aku yakin.”
“Baiklah, Tiwi mulai sekarang aku akan melatihmu.”
Allen mengalihkan pandangan ke 3 orang yang masih berpikir. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Allen memutuskan untuk mengakhiri diskusinya tanpa mendapat jawaban dari mereka.
“Baiklah, sepertinya sudah larut. Pikirkan saja di rumah, katakan pada istri dan anak-anak kalian, mungkin kalian akan mendapatkan jawabannya. Ingat, aku hanya memberi kalian satu kesempatan lagi.”
“Baik,Bos.”
Tiga preman yang bekerja untuk Perusahaan Allen kembali, sekarang hanya tinggal Tiwi dan Allen.
“Karena kau sudah memutuskan untuk mengikutiku, untuk memastikan kau tidak berkhianat mari gunakan sumpah darah.” Allen menuntun Tiwi mengucapkan Sumpah Darah.
Tidak lama setelah semua prosesi di lakukan, tubuh Tiwi memancarkan cahaya kuning dan aura berwarna ungu gelap muncul dari sekujur tubuhnya. Perlahan sebagian kecil kotoran dalam tubuhnya keluar, bau tak sedap muncul akibat pemurnian itu.
“Kenapa semua orang di sekitarku seperti monster. Baru mempelajari langkah pertama teknik jiwa, dia bisa memurnikan sebagian kecil tubuhnya.” Allen melihat Tiwi duduk bermeditasi mengeluarkan kotoran dalam tubuhnya. Untuk kenyamanan Tiwi, Allen duduk di sebelahnya dan mengedarkan teknik jiwa.
Menit demi menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Tiwi perlahan membuka matanya, ia langsung melihat kedua tangannya yang dipenuhi dengan keringat hitam.
__ADS_1
“Apa ini efek dari beladiri, tubuhku terasa sangat ringan.” Tiwi merasakan semua beban di tubuhnya sudah terangkat.
“Tidak hanya ringan, dengan teknik yang aku berikan, kau bisa memperpanjang umurmu hingga tak terbatas. Tapi semua tergantung pemahamanmu tentangnya,” jawab Allen yang sudah berdiri di sampingnya.
“Hyung, apa kau serius?”
“Ya, tentu saja akus serius.”
Tiwi langsung berpikiran untuk mengajarkan orang tuanya teknik jiwa, tetapi Allen langsung menyadarinya. “Kau tidak bisa mengajari orang lain teknik jiwa, itu akan langsung membunuh dan membakarmu. Baik mengajar menggunakan tulisan atau lisan, jangan pernah mengajarkannya.”
“Bukankah syaratnya tinggal mengucap sumpah darah, aku akan mengatakannya pada mereka kalau ada kesempatan.”
Allen menggelengkan kepala. “Jangan lakukan itu, tunggu dan rasakan dunia beladiri itu seperti apa. Kau pasti mengingat 3 kakakmu yang perkasa mengundurkan diri kemarin, Kan?”
Tiwi akhirnya merenung dan langsung mendapatkan jawabannya. “Hyung, bagaimana caraku menjadi kuat?”
Allen menuliskan latihan harian, kemudian ia menyerahkannya dengan tangan kanan. “Setiap hari luangkan waktumu melakukan semua ini di pagi hari. Percayalah, semua latihan berat ini akan terasa mudah setelah satu bulan.”
“Baik, Hyung.”
Nala memasang kuda-kuda seorang petarung tangan kosong, Nathan menggunakan pembukaan seorang petinju. 30% Aura di alirkan ke tangan kanan Nathan, kemudian menegangkan bahunya dan serangan tinju di lancarkan.
Nala merespons dengan tangkisan, matanya tidak bergerak sama sekali tapi ia bisa mengendalikan auranya ke siku sebelah kiri untuk menghadang serangan kakaknya. Serangan mereka memang tidak cepat, tapi Allen merasa kagum dengan metode latihan mereka.
Setelah berhasil menangkis serangan Nathan, Nala mengangkat kakinya dengan aura yang normal. Namun setelah mendekati target, Nala mengubah kapasitas auranya hingga 40%.
Nathan terbelalak karena pertahanannya tiba-tiba terbuka, ia melihat kaki Nala di selimuti aura sebanyak 40%. “Bukannya tadi tidak ada!” gumamnya terkejut dengan teknik aneh milik adiknya.
“Serangan telak, Kakak!” ucap Nala sambil bersiap menggunakan serangan tinjunya.
Nathan menoleh ke kanan dan mendapati pukulan Nala sudah terbang menuju ke arahnya. Namun sebelum pukulan Nala sampai, Allen menghentikannya dengan satu tangan kiri.
__ADS_1
“Jangan berlebihan, itu akan mematahkan tulang rusuknya. Hari ini aku masih membutuhkan Nathan untuk menuntut seorang kepala koki,” kata Allen dengan sangat santai.
Nala tampak sangat tenang di luar, tapi dalam hatinya ia tidak percaya bosnya bisa menerima kekuatan penuhnya dengan tangan kiri saja. Itu pun bosnya belum menggunakan kekuatan penuh, dapat terlihat jelas dari sorot matanya yang tenang seperti air.
Nala menarik tangannya. “Baik, Bos. Aku memang ingin mengakhiri ini.”
Nathan tidak menyangka adiknya bisa berkembang secepat itu, ia mengepalkan tangannya dan bertekad untuk berlatih mati-matian. Bukan untuk menyusul adiknya, tetapi supaya posisi di sisi Allen tidak tergantikan.
“Kepala koki mana yang akan kita tuntut?”
“Salah satu kepala koki dari Kota I. Tidak hanya telat, dia bahkan meminta uang kerja tanpa membuat satu pun masakan.”
Allen menceritakan kronologinya, tidak lupa ia menyodorkan bukti-bukti yang valid. Kemudian ia juga memberikan seseorang yang bersedia menjadi saksi jika dimintai keterangan tambahan.
Setelah mendengar rangkaian cerita, Nathan menyimpulkan bahwa Koki dari Kota I tidak bisa di tuntut dengan mudah. “Apa kau masih ingat perkataan terakhirnya, Kepala Koki itu bukan orang biasa.”
Allen juga tidak sempat menggunakan keterampilan sistem untuk melihat kekuatan lawan. Mendengar saran dari Nathan, Allen mencoba untuk melupakan kasus ini dan fokus pada permasalahan yang lebih mendesak.
“Bukan berarti kita tidak mendapatkan uang dari kasus ini. Mari lakukan seperti yang sebelumnya.” Nathan ingin memanfaatkan kekuatan media untuk menjatuhkan reputasi Koki dari Kota I, ia menjelaskan semua rencananya untuk menjatuhkannya.
“Menarik, kapan kita eksekusi?”
“Kalau menjatuhkan reputasi saja bisa kita lakukan sekarang, tapi tujuan akhirnya kan menarik Kepala Koki ke penjara dan mendapatkan denda kerugian.”
Allen mendengar semua rencana matang yang disusun Nathan, bukan karena ia tidak bisa menyusun rencana sendiri tapi Allen ingin memberikan kesempatan pada orang lain.
“Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya. Jangan lupa terus latihan, aku berharap banyak pada kalian berdua.” Allen mengatakannya karena ia tahu kemajuan Nathan dan Nala tidak masuk akal. Meskipun masih sedikit di bawahTiwi, setidaknya mereka menjadi tiang untuk pasukan yang akan dibuat.
Dunia mulai tidak kondusif karena banyaknya serangan penjahat, di Kota K saja lebih dari 3 kasus dalam satu bulan. Tidak lama lagi Walikota Kota K akan di ganti, jadi Allen hanya bisa menunggu keputusan para petinggi kota k.
Seperti yang diperkirakan, keesokan harinya Walikota Kota K resmi di lepas dari jabatannya. Dia di gantikan oleh seorang wanita muda yang membawa misi demokrasi.
__ADS_1
“Jadi sudah waktunya untuk melangkah.” Allen tersenyum melihat berita yang mengatakan bahwa Kota K berganti pemimpin.
Jamie Oliver, Harjo Susanto, dan Allen tersenyum tipis, mereka sudah melempar jaring, mereka hanya perlu menunggu Walikota yang baru memakan umpannya. Sehingga ketiganya dapat mempertahankan perusahaannya dengan baik.