Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Pulang Kampung


__ADS_3

Waspada memang dibutuhkan, Allen tidak tahu apa yang direncanakan Nathan dan Nala kedepannya.


"Baiklah sekarang pergilah." Allen menyuruh Budi meninggalkannya sendirian. Ia masih kepikiran dengan kemungkinan Nathan berkhianat.


Setelah beberapa saat memikirkannya, Allen memutuskan untuk berdiri. "Biarlah waktu yang menjawabnya, sekarang ayo berkemas dan pulang."


Karena semua urusan kantor sudah selesai, Allen meninggalkan Kota K dengan santai. Desa tempat tinggalnya ada di Kota K bagian paling ujung, atau perbatasan dengan Kota L.


Karena rumahnya ada di tengah hutan, Allen harus berjalan. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari kalan raya, jika naik motor mungkin 1 jam cukup. Namun kalau jalan kaki sekitar 4 jam karena medannya cukup berbahaya bagi yang belum terbiasa.


Allen berjalan membawa tas berukuran besar, ia menyusuri jalan setapak dan mendapati beberapa orang membawa rumput liar. "Halo Pak, apa kabar?" sapa Allen dengan nada sopan.


"Wah, baik Nak Allen. Sudah berapa tahun di kota, sepertinya susah sukses?." Bapak pembawa rumput liar itu bertanya dengan suara keras.


"Ya cukuplah buat makan. Silahkan lanjut, Pak." Allen mempersilahkan Bapak pembawa rumput melanjutkan perjalanannya.


"Ok, duluan Ya ...." Ia menancap gas dan segera menuju kandang sapinya.


Allen melanjutkan perjalanannya, ia menyapa beberapa warga yang dilewati. Perasaan nostalgia timbul, ia merasa rindu dengan udara, suara hewan, hijaunya pepohonan, dan masih banyak lagi. Allen tidak pernah melihat mereka semua selama ada di Kota.


Setelah berjalan cukup lama, Allen akhirnya berdiri di depan rumah sederhana dengan atap anyaman bambu. "Sudah berapa lama aku tidak pulang, 11 tahun..."


Allen menghitung waktu yang berlalu di kehidupan sebelumnya. Bersamaan dengan langkah kakinya, ia menarik napas panjang.


"Aku pulang." Suaranya tampak gemetar ketika melihat Yuni sedang menyetrika baju tetangga.


Yuni mengalihkan pandangannya dan langsung berlari ke Allen, kedua tangannya langsung memeluk anak tercintanya. "Akhirnya kau pulang, Nak. Satu tahun kau tidak menemui kita!."


"Iya, Bu. Aku sangat menyesal." Allen membiarkan dirinya berada di pelukan hangat ibunya.


"Bodoh, jangan menyesal. Bagaimana kabar adikmu?" tanya Yuni sambil melepaskan pelukannya.


"Dia belajar dengan baik, tapi... Kenapa sekarang dia jarang masuk sekolah." Allen sedikit murung dan menundukkan kepalanya.


Bukannya marah, Yuni malah tertawa keras. "Hahaha, adikmu sama sepertiku. Sekolah hanya membuang-buang waktuku main. Ya, meskipun begitu Ibu selalu menjadi peringkat dua... Terbawah si..."


Allen hanya bisa tersenyum kecut kecut mendengar Yuni membanggakan dirinya. Padahal dia ada di peringkat dua terbawah.


"Iya, iya Bu."

__ADS_1


"Hei, jangan meremehkan ibumu. Aku sengaja peringkat dua terbawah supaya bisa bolos dan duduk paling depan." Yuni sebenarnya bukan orang bodoh, ia adalah jenius paling di cari dunia. Senyumnya mengandung banyak misteri yang tidak bisa diungkapkan.


Mahmudi yang mendengar anaknya datang langsung bergegas pulang. Bahkan ia meninggalkan sapinya di ladang.


"Nak, kau pulang!." Mahmudi memeluk anaknya dengan perasaan hangat.


"Yah, sapi mu ada dimana?" tanya Yuni dengan ekspresi dingin.


"Oh ia, Bimo... Jangan kabur!." Mahmudi berlari kembali ke ladang dan segera membawa kembali sapinya.


Kedamaian yang terjadi di desa membuat Allen tersenyum dan melepaskan tawarannya. Ia tidak pernah tertawa atau bahkan se damai ini.


Hujan mulai turun, Allen dan Kedua orang tuanya duduk di depan teras sambil memakan beberapa gorengan tahu dan tempe.


"Bagaimana kabarmu di Kota, Nak?." Mahmudi mulai bertanya.


"Bukankah ini sedikit terlambat, aku disini sudah 4 jam..."


Yuni menepuk punggungnya dengan tenaga biasa, tetapi Energi Jiwa Allen bergetar. "Bapakmu emang begitu, otaknya juga sering telat!."


Allen tidak mau menanggapi, ia tahu peringkat berapa ayahnya di sekolah. Tidak ada yang bisa menggeser tahta sucinya di peringkat satu, Ya Mahmudi selalu peringkat satu dari TK hingga SMA.


"Hei, jangan salah. Setidaknya aku bisa menyelesaikan kuliahku dalam 4 tahun!." Mahmudi membela diri.


Allen hanya bisa tersenyum dan tertawa menanggapi candaan kedua orang tuanya. Pada kehidupan sebelumnya ia tidak pernah bertanya seberapa tinggi pendidikan kedua orang tua.


"Terserahlah, aku kalah kalah itu. Tapi kapan kau menjawab pertanyaan tadi, Bocah Nakal." Mahmudi memandang Allen yang tersenyum meremehkan.


"Aku baik-baik saja. Bahkan anakmu ini sudah membangun sebuah perusahaan yang omsetnya ratusan juta." Allen membanggakan dirinya.


"Wah, pasti susah ya menjadi pemimpin perusahaan. Ngomong-ngomong apa nama perusahaannya?." Yuni bertanya dengan suara pelan sambil menyeduh kopi.


Allen bisa tersenyum melihat tempat seduhan kopinya sangat antik. Bahkan di kota tidak ada yang menyamainya.


"Perusahaan Allen, aku bingung mencari nama yang cocok akhirnya Allen saja lebih mudah." Allen memegang cangkir dan menyeruput kopi buatan ibunya.


"Hahaha, kau sangat mirip denganku. Penamaan mu sangat buruk." Mahmudi malah membanggakan keburukannya.


"Ya, bisa di lihat dari penamaan ayammu." Yuni nyeletuk pembicaraan.

__ADS_1


"Hei, Tono dan Robi nama yang keren tahu. Aku pernah melihatnya di Kota!." Mahmudi membela dirinya.


Pertengkaran mereka bertahan hingga sepanjang malam, Allen menyiapkan api unggun dan panggangan.


Allen dan kedua orang tua menyantap daging sapi dan sate yang dibeli. Rumah mereka ada di tengah hutan, jadi tidak ada tetangga yang protes ketika Yuni dan Mahmudi terus berteriak.


Allen tampak sangat gembira, walaupun tidak ada kembang api malam tahun baru. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat tindakan bodohnya di kehidupan sebelumnya.


"Nak, sudah jam 2 ayo masuk. Apa kau tidak ngantuk?" tanya Yuni sambil mengucek matanya.


"Duluan saja Bu. Aku masih ingin melihat pemandangan desa." Bukannya masuk dan tidur, Allen malah memanjat pohon dengan alat seadanya.


"Ya, udah. Kamarmu sudah aku bersihkan. Jangan lupa tidur." Yuni segera kembali ke rumah dan tidur.


Sesampai di ketinggian 30 meter, Allen menyadarkan tubuhnya di rumah kayu buatannya dulu. "Anginnya sangat sejuk..." Allen menghela napas segar.


"Sejuk Palamu!. Ini dingin Bocah!." Mahmudi ternyata ada di dalam rumah kayu.


"Ayah, apa yang kau lakukan?." Allen kaget dan langsung melempar pertanyaan.


"Setiap malam sabtu aku harus jaga. Disana juga ada Pak Rahmad, dan Pak Totok." Mahmudi menunjuk dua pohon besar.


"Apa setiap hari seperti ini?." Allen tidak pernah ingat ada kegiatan seperti ini.


"Tidak, semua ini berawal sejak 9 bulan lalu. Ada penjahat yang mencoba merampok rumah di desa. Mereka membawa senjata tajam dan mengancam warga. Untungnya bapakmu yang gagah ini berhasil menghentikannya."


"Bagaimana caramu menghentikan mereka, Pak?."


Mahmudi tertawa sebelum menjawab. "Aku tidak bisa menghentikan mereka tanpa bantuan Bimo dan Romo."


Romo adalah nama kerbaunya yang paling tua, entah mengapa kerbau itu masih sehat sejak Allen kelas 9 SMP.


Mahmudi menjelaskan, dengan idenya ia menyuruh Bimo berteriak, "Mou..."


Kemudian Romo menyerang penjahat dari belakang. Semua proses dilakukan dengan sangat mulus. Anehnya Romo dan Bimo bisa mengerti apa yang diinginkan Mahmudi.


Allen mendengarnya dengan saksama, tentu saja dia tidak mempercayai hal tersebut. Mana ada Kerbau menghentikan sekelompok penjahat dengan senjata tajam.


Malam berlalu dengan cepat, Allen tidak tidur sama sekali. Namun ayahnya masih mendengkur padahal sudah jam 7 pagi.

__ADS_1


"Nak, ayo turun!." Yuni berteriak dengan suara yang sangat keras. Anehnya Allen di ketinggian 30 meter mendengarnya dengan jelas.


"Ya, Bu." Allen menjawab dan kemudian melihat ayahnya. Matanya terbelalak melihat ayahnya sudah turun dengan kecepatan tinggi dan menyelinap masuk dari pintu samping.


__ADS_2