
Yuni dan Mahmudi memang berniat membuat dua lubang, mereka berlomba menjadi yang pertama.
Setelah beberapa jam, Mahmudi berhasil mendapat sumber air. "Aku menemukannya!." Ia lantas langsung keluar dari lubang.
Yuni sedikit lebih terlambat dibandingkan suaminya. Ia harus mengakui, "Ya kali aku kalah. Sekarang ayo cepat rapikan."
Setelah berlomba, mereka menutup lubangnya kembali. Mahmudi sedikit terlambat dibanding Yuni saat menutupnya.
"Apa yang kamu pelajari dari kejadian ini," tanya Yuni sambil menancapkan sekopnya ke tanah.
Allen mengerutkan keningnya, ia tidak menduga akan mendapat pertanyaan dadakan. "E... Kecepatan bukan segalanya."
Jawaban Allen tidak memuaskan Yuni, jadi ia langsung berbalik dan mengamalkan alat-alatnya ke gudang.
Mahmudi menepuk pundak anaknya. "Tidak sesederhana itu. Apa kau tahu kenapa aku bisa lebih dulu menemukan sumber air?."
"Tentu saja karena mulai duluan." Allen menjawab sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Mahmudi hanya bisa menghela napas karena dangkalnya pemahaman Allen. "Tidak peduli berapa cepat atau lambat kami menggali, hasilnya hampir sama. Apa kau memperhatikan lubang yang di gali ibumu sangat dangkal tapi mengeluarkan sumber mata air?."
"Iya aku melihatnya."
Mahmudi melanjutkan. "Sama seperti kamu yang mencoba memulai latihan beladiri. Tidak peduli jalan yang kau pilih, hasil akhirnya adalah tujuannya."
Allen langsung tersentak mendengar bapaknya membahas Beladiri. Tanpa sadar Allen menggunakan Mata Surgawi untuk melihat kekuatan bapaknya.
[Mahmudi
Umur : 51 tahun
Elemen : Tidak terdeteksi
Total Kekuatan : 100.]
[Peringatan, identifikasi target tidak akurat.]
Allen berfokus pada peringatan di bawah sistem. Wajahnya menunjukan ketidakpercayaan.
"Jadi kemampuan spesial kekuatan mata. Hmmb... sepertinya tidak, kemampuan melihat masa depan. Sangat mengesankan, sangat disayangkan anakku tidak punya banyak waktu." Mahmudi meninggalkan Allen yang masih bingung.
Peri Tanah keluar dari alam bawah sadar. "Orang tuamu sanga misterius, tidak hanya bisa menyembunyikan kekuatan tapi dia bisa menghilangkan hawa keberadaannya."
"Yah, aku harus menanyakannya nanti." Allen segera duduk dan mencoba memahami apa yang ingin di sampaikan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Hari berlalu dengan cepat, matahari sudah mulai terbenam. Allen dan kedua orang tuanya duduk di meja makan.
"Sebenarnya siapa kalian berdua, Pak, Bu?" tanya Allen dengan ekspresi serius.
Yuni menjawab sambil menyiapkan nasi ke piring suaminya. "Hanya manusia biasa. Jangan salah paham, kami hanya sedikit mengerti tentang Beladiri. Jadi tidak ada keistimewaan untukmu."
Allen lanjut bertanya, "Apa kalian punya hubungan dengan Seven Soul?."
Yuni dan Mahmudi saling memandang. "Sebaiknya kamu jangan membicarakan mereka. Anggap saja itu hanya cerita Fiksi yang di karang orang." Yuni menjelaskan.
"Kenapa, bukankah mereka pahlawan?." Allen penasaran mengapa kedua orang tuanya melarangnya.
"Tidak ada namanya pahlawan, Seven Soul melakukan dengan ikhlas tanpa paksaan. Untuk sekarang fokus saja pada pengembangan kekuatanmu." Yuni berdiri dan meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamar tidur.
"Kenapa ibu sampai seperti itu, Pak?." Allen bertanya dengan rasa penasaran.
"Belum saatnya kamu tahu. Sekarang fokus saja bertambah kuat, kami tidak bisa membantu ataupun mencampuri urusan dunia. Bahkan jika kamu mati, kami hanya bisa memberi penghormatan dari sini." Mahmudi tidak mau menjelaskan kondisinya.
Allen tidak memaksa, ia merasa situasi yang dihadapi kedua orang tuanya sangat rumit. "Baiklah, harus sekuat apa untuk aku bisa mendengar cerita kalian?"
Mahmudi tersenyum. "Minimal Buka Prinsip Jiwa tingkat 5. Kalau zaman ini sekitar Pejuang Tingkat 8."
"Itu memakan waktu ratusan tahun. Bagaimana dengan kalian?." Allen tampak khawatir karena Mahmudi dan Yuni hanya manusia biasa.
Setelah mengatakannya, Mahmudi berdiri dari kursi dan langsung berlari ke ladang. Ia keceplosan mengatakan betapa hebatnya dirinya di masa lalu.
Peri Tanah keluar dari alam bawah sadar. "Sudah aku duga, dia bukan orang biasa. Tapi aku tidak merasakan energi sepertimu."
"Kondisinya mungkin sangat rumit, ayo berlatih saja." Allen melakukan latihan malam untuk mengisi waktu luang. Kali ini ia melatih teknik pedang pendek.
Sebelum memulainya, Yuni datang dan memberikan senjatanya. "Fokus pada satu senjata adalah pilihan terbaik untukmu saat ini. Pakailah ini."
Yuni memberikan sebuah pedang pendek yang masih terbungkus kain mori. "Pedang ini punya sejarah panjang, jangan pernah meninggalkannya. Kalau perlu gunakan Ikatan Jiwa untuknya."
"Ikatan Jiwa?"
Allen tidak tahu teknik apa itu Ikatan Jiwa, ia hanya mengetahui Pelahap Jiwa.
Yuni menunjuk dahinya. "Teruslah berlatih, itu satu-satunya caramu membangkitkan Ikatan Jiwa," lanjutnya sambil membalikkan badannya. Ia langsung pergi meninggalkan tempat.
Allen belum sempat bertanya banyak, tapi ia lebih tertarik dengan pedang pendek yang diberikan ibunya.
Tangannya perlahan membuka penutup mori, matanya melotot tidak ingin ketinggalan momen terbaiknya.
__ADS_1
Tepar setelah penutur di buka, Energi Jiwa di dalam tubuhnya berontak ingin keluar. Allen mengeratkan giginya dan menutup kembali pedangnya dengan kain mori.
"Pedang apa ini ibu?." Allen bertanya-tanya kenapa ia tidak sanggup melihat pedangnya.
Peri Tanah dan Air di paksa keluar, mereka merasa ada tekanan yang membuat lingkaran mana dalam tubuhnya berkembang.
"Apa yang terjadi!" seru Peri Air yang kebingungan.
"Sepertinya itu berkaitan dengan orang tuanya lagi." Peri Tanah mencoba membuat penjelasan yang masuk akal.
Peri Api tidak merasakan apapun, ia keluar sambil menguap. Tanpa terasa gumpalan api kecil keluar dari mulutnya. "Ngantuk sekali, tapi kapan kau bertarung lagi. Aku ingin membakar semuanya!."
Silvy hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Ia tidak banyak bicara setelah kejadian Ular Naga dan Dante.
"Apa kalian punya penjelasan yang masuk akal, kenapa aku tidak bisa melihat pedangnya?." Allen mencoba bertanya pada 4 peri pendukungnya.
Semua peri tidak bisa menjawab, mereka diam. Setelah beberapa saat, Silvy mengangkat tangannya.
"Energi mental, pedang itu punya sejarah yang sangat mengerikan. Bisa jadi pedang itu pernah membunuh seorang Dewa." Silvy mencoba menjelaskan dengan bahasa manusia.
"Dewa! Tidak mungkin!." Allen, Peri Tanah, dan Peri Air berteriak bersama.
"Kenapa tidak mungkin, aku ingat tuanku sebelumnya pernah bertarung dengan Dewa. Walaupun akhirnya kalah dan mati, untungnya dia melempar ku ke Bumi." Peri Api mengatakan yang sesungguhnya.
Mahmudi datang. "Keberadaan Dewa memang ada, tapi kalian tidak bisa masuk ke alam yang lebih tinggi karena Ruang dan Waktu berantakan."
"Syukurlah, aku tidak ingin mati konyol melawan dewa-dewa sejarah itu." Allen menghela napas lega.
"Peri pendukung milikmu sangat baik, mereka punya kualifikasi Legenda dan satu Mitos. Aku yakin perkembangan mu tak terbendung lagi." Mahmudi memuji kemampuan Allen dalam mencari Spirit Pendukung.
"Pak, apa kau bisa melihat mereka?" tanya Allen sambil menunjuk Peri Tanah.
"Ya aku bisa. Peri Tanah, Angin, Api, dan Air, komposisi yang sangat baik."
Tidak hanya Allen yang terkejut mendengar pernyataan Mahmudi, Peri Tanah, Peri Air, dan Peri Api tampak membuka mulutnya terkejut.
"Bagaimana bisa, manusia tidak bisa melihat kami!." Peri Tanah menolak pernyataannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, itu kata-kata yang selalu diucapkan olehnya. Sekarang lanjutkan latihan mu. Kalau belum bisa membukanya, gunakan saja seperti itu." Mahmudi meninggalkan Allen sendiri.
Allen kebingungan sekarang, tidak hanya orang tuanya sangat misterius. Peninggalan mereka juga tidak masuk akal.
"Baiklah, tujuan awal ku sudah ditentukan. Ayo naik ke Prinsip Jiwa tingkat 5!." Allen mengatakannya dengan serius.
__ADS_1
Ia lupa bahwa dirinya masih ada di tingkat 2, bahkan belum melihat tanda-tanda akan naik tingkat.