Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Membangun Keluarga


__ADS_3

Allen mendekati kamar Yone dan membukanya, ia tersenyum tipis ketika melihat kakek tua itu masih mempertahankan penyamarannya sebagai seorang sopir berumur 40 tahunan.


Setelah memastikan Yone di kamar tidurnya, Allen kembali menunggu Nathan dan Nala. Tidak berasa matahari sudah mulai terbit, Allen keluar dan melakukan beberapa latihan ringan.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Nathan dan Nala secara bersamaan membuka matanya. Mereka langsung melompat dari manusia biasa ke Pejuang Beladiri tingkat 1.


“Selamat kalian satu langkah menuju dunia beladiri. Pahami buku ini dan segeralah bakar setelah selesai, beladiri seperti ini tidak boleh diteruskan pada orang yang kurang tepat.”


Allen memberikan buku teknik beladiri untuk dikembangkan Nathan dan Nala, sebenarnya ia ingin memberikan Teknik Jiwa tapi entah mengapa hati nuraninya mengatakan belum saatnya.


Nathan dan Nala langsung membacanya, mereka dengan cepat memahami isi buku. Allen baru saja menyeduh teh hijau untuk refleksi, tapi Nala sudah membakar bukunya.


“Apa kalian sudah selesai?”


Nala menganggukkan kepalanya. “Buku tipis ini sangat mudah di hafal,” jawabnya pelan. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Nala menggerakkan tubuhnya dan menirukan setiap gerakan sesuai petunjuk Teknik Beladiri.


Nathan menutup bukunya setelah 2 jam membaca, ia berdiri dan membakarnya. “Pemahamanku memang tidak sebaik Nala, tapi kemampuanku menerjemahkan informasi lebih baik darinya.”


Seperti yang dikatakan Nathan, ia menggerakan tubuhnya sesuai petunjuk. Kemudian ia menambahkan gerakan yang nyaman untuk tubuhnya, hasilnya tentu tidak lebih baik dari Nala yang mengikuti buku.


Allen menggelengkan kepala. “Mungkin kau memang pandai dalam improvisasi sebuah informasi. Tapi pengetahuanmu tentang beladiri masih belum cukup baik, jadi improvisasi itu dapat menghambat perkembanganmu karena tubuhnya terlalu nyaman.”


Pelajaran Allen membuat Nathan mulai sadar, ia menggerakan tubuhnya sesuai petunjuk buku. Nathan dan Nala menggunakan dua teknik beladiri yang berbeda. Nathan menggunakan Teknik Naga Langit, sedangkan Nala menggunakan Ketentraman Hati Es.


Meskipun keduanya menggunakan dua keterampilan yang berbeda, dua keterampilan beladiri itu saling beresonansi dan saling melengkapi. Allen memilih beladiri itu karena ia merasa Nathan dan Nala tidak bisa di pisahkan.


Yone ingin mengikuti apa yang dilakukan Nala dan Nathan, tapi ia merasa tubuhnya sakit semua dan aura di dalam tubuhnya semakin melemah. “Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah mereka bisa meningkatkan kekuatannya?” gumam Yone yang meniru.


Allen membuka pintu dan mengatakan, “Tubuhmu tidak cocok dengan beladiri itu. Teknik itu memang khusus diciptakan untuk mereka yang punya keteguhan hati dan fisik yang kuat.”


Nathan dan Nala punya fisik yang kuat sejak lahir, padahal yatim piatu tapi tubuh mereka berdua proporsional. Lebih gilanya lagi, Nathan tidak olahraga rutin tapi tubuhnya tegap berisi. Nala tidak kalah, tubuhnya bisa langsing padahal makannya tidak teratur dan penuh dengan gula.


Yone terkejut, ia langsung mengambil pisau dan mencoba menusuk Allen. “Sialan, aku bunuh kau!” teriaknya.


Sayangnya Allen sudah sampai di depannya dan memegang tangan Yone. “Jangan lakukan hal bodoh. Seperti yang kau dengar kemarin, aku tertarik dengan keahlian unikmu, bagaimana kalau sekarang mulai membahasnya?” tanya Allen sambil menatap tajam ke arah Yone.

__ADS_1


Aura membunuh yang mencekik membuat Yone tidak bisa bernapas, ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan ketika bertemu pria hitam dari Keluarga Baruch, ia masih bisa bernapas.


“Siapa kau?”


“Allen, kau sudah tahu semua informasiku. Jadi kapan kita sepakat?”


“Jangan harap!”


“Baiklah, pergilah. Pintu kami hanya terbuka satu kali lagi, semoga kau tidak menyesal.” Allen melepaskan pegangannya dan menyuruh Yone pergi dari hadapannya.


Sumpah darah dan sumpah setia tidak dapat dipaksakan, Allen menyadari itu karena ingatannya mengatakan bahwa dua sumpah itu sangat sakral. Jadi pemaksaan tidak akan membuat kesakralan itu timbul dan mengikat jiwa.


Yone berlari keluar, ia menyelamatkan dirinya dan mencoba untuk mengambil kesempatan ini berlatih di hutan belakang penginapan. Allen sendiri tidak mengejarnya, ia berfokus pada perkembangan Nathan dan Nala.


Ponsel Allen berdering. “Halo, Tiwi ada apa?”


“Hyung, akan ada makan malam nanti. Semua orang di perusahaan ingin kamu datang!” ucap Tiwi dengan suara tegas.


“Baiklah, aku akan datang. Apa Budi belum kembali?” tanya Allen.


“Baiklah, aku akan berangkat sendiri nanti.”


Nathan dan Nala berfokus untuk mengendalikan aura dalam tubuhnya, Allen tidak akan mengganggunya. Ia lebih khawatir dengan Budi yang belum mendapatkan Spirit Pendukung.


“Berapa lama yang dia perlukan untuk mendapatkannya?” gumamnya.


Peri tanah keluar dari alam bawah sadar, kekuatannya sudah penuh. “Tidak semua orang di takdirkan untuk menjadi seorang petarung elemen, apa kau tahu kelompok Seven Soul tidak pernah mengandalkan kekuatan elemen.”


“Jadi maksudmu Budi tidak ditakdirkan untuk punya elemen. Bukankah Pejuang tingkat 5 harus punya sebuah elemen?”


Peri Air muncul, ia menggelengkan kepala. “Manusia itu sangat kompleks, aku pernah melihat seorang pejuang bernama Joko 100 tahun yang lalu. Dia menolakku dan saat itu ia mencapai Pejuang tingkat 8. Meskipun akhirnya mati di tangan monster aneh, ia setidaknya membuktikan bahwa manusia tidak punya batasan.”


Allen membulatkan tekadnya, ia sudah tahu bahwa teknik jiwa sangat hebat. Tidak perlu untuknya membuat kontrak dengan spirit pendukung, tapi Allen tetap melakukannya untuk melengkapi kekurangannya.


Setelah beberapa saat berpikir, Allen mengambil ponsel dan memanggil Budi untuk kembali ke perusahaan. Tidak butuh waktu lama untuk Budi kembali, ia hanya berkeliling di sekitar bukit belakang perusahaan.

__ADS_1


“Lihatlah muka lesumu, apa kau sudah menyerah?” tanya Allen dengan nada sedikit mengejek.


Seorang pria berumur 51 tahun bisa lebih lemah di bandingkan dengan anak berusia 23 tahun. Sudah jelas itu mencoreng harga dirinya, tapi Budi membuang rasa malu dan bertanya dengan wajah serius.


“Tuan, bagaimana caramu menjadi sangat kuat?”


Allen menjadi serius. “Rasanya sangat menyakitkan, tiada hari tanpa latihan dan tiada hari tanpa luka. Apa kau siap menerimanya?”


“Jangan remehkan aku. Bahkan jika harus berjalan di atas api, aku tetap akan melakukannya!”


Allen tersenyum dan mengatakan, “Lakukan sumpah darah dan aku akan mengatakannya.”


Budi mengikuti setiap tahapan pengucapan sumpah darah, tubuhnya memancarkan cahaya kuning dan kekuatannya langsung melonjak dari tingkat 4 menengah menjadi tingkat tinggi. Lonjakan kekuatannya tidak main-main, dalam hal total kekuatan Allen langsung di ungguli.


[Budi


Umur : 51 tahun


Elemen : -


Total Kekuatan : 23.452.]


Hanya dengan mengucap sumpah, Allen merasakan gelombang aura yang sangat kuat. Alam bawah sadar Allen mulai meronta dan menarik semua aura yang keluar dari tubuh Budi.


Sekarang tidak hanya Allen dan Budi yang menjadi kuat, tetapi para pepohonan mulai menyerap energinya. Setelah 10 menit, mereka berdua membuka matanya, Allen tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya.


“Selamat datang di keluarga besarku.” Allen mengucapkan ucapan selamat datang. Mulai sekarang Allen akan membentuk sebuah organisasi beladiri untuk menaklukkan dunia.


“Terima kasih, Tuan.”


“Karena kau sudah menjadi bagian keluargaku, jangan panggil aku tuan, panggil saja bos.”


Setelah memberikan beberapa kata pengantar, Allen mulai mengajarkan Budi Teknik Jiwa. perlu 3 jam untuk Allen menyelesaikan semua ajarannya. Budi sendiri langsung mempraktikkannya tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Melihat Budi berlatih dengan serius, Allen meninggalkannya dan bersiap untuk menghadiri pesta perusahaan yang akan dilaksanakan jam 8 malam.

__ADS_1


“Semoga aku tidak telat,” katanya sambil berlari sekuat tenaga, jam sudah menunjukkan pukul 19.00.


__ADS_2