
Siapa yang tidak terkejut melihat pria tua berwajah pucat dan banyak bekas luka muncul di belakangnya.
"Sialan, kau mengagetkanku Pak Tua. Cepat duduk aku ditugaskan merawat mu." Ye Mo berteriak sambil membuang wajahnya. Aktingnya patut di acungi dua jempol, Allen menyuruhnya untuk tetap menjaga rahasia mereka.
Setelah beberapa saat, Allen datang berkunjung. "Halo Pak Tua, aku Allen pemilik tempat ini. Kalau boleh tahu apa yang terjadi denganmu?"
Son Hyung memejamkan matanya perlahan, ia mencoba mengingat kejadian apa yang baru saja menimpanya.
"Aku di kejar penjahat, kemudian 5 orang bertopeng hitam menolongku. Setelah itu aku tidak tahu." Son mengatakan apa yang diingat.
Allen mengangguk. "Baiklah, istirahat saja dulu. Jika butuh sesuatu katakan pada bocah ini. Dia sedikit keras kepala tapi baik hati."
"Ya, terima kasih." Son melihat ketulusan Allen yang meminjamkan tempatnya.
Setelah cukup jauh, Allen menghembuskan napasnya. Ia berhasil meningkatkan kemampuan, Stealth. Perbedaannya sangat besar, sekarang Allen bisa mengatur auranya sama seperti manusia biasa.
"Son sudah bangun, sepertinya aku harus memperkuat hubunganku dengannya." Allen merencanakan beberapa trik murahan untuk menarik perhatian Son Hyung.
Keluarga Son berasal dari Kota S, tempat yang sama dengan keluarga Budi. Setelah menyelidikinya, Allen menemukan bahwa Keluarga Son tidak memusuhi Keluarga Budi. Namun ada sedikit perselisihan di bidang penjualan obat-obatan.
Allen kembali ke kontrakan, ia melihat menatap panci dan kompornya. "Apa yang harus aku buat? tidak mungkin aku membuat pil kebugaran."
Pil kebugaran memang pilihan terbaik, tetapi Son masih membawa 6 buah yang di sembunyikan.
"Kenapa tidak buat Pil Kebangkitan Tubuh." Peri Tanah memberinya saran.
"Pil Kebangkitan Tubuh terlalu mahal, aku harus menghabiskan 300 ribu Koin Emas." Allen sedang membicarakan harga pil di Toko Sistem.
Peri Tanah menggelengkan kepala dan menunjuk dahi Allen. "Aku punya resepnya, mungkin saja tidak sebaik pil di Toko Sistem milikmu. Tapi ini bisa mengikat hubunganmu dengan Son Hyung."
Sejumlah informasi tentang pembuatan pil masuk ke dalam pikirannya, Allen dengan santai menerimanya. Manusia normal akan berteriak histeris sambil guling-guling.
"Aku kekurangan benda bernama Kuali." Allen memeriksa informasi yang diberikan Peri Tanah.
"Apa kau tidak merasakan nyeri di kepalamu?" tanya Peri Tanah tidak menghiraukan pertanyaan Allen.
"Nyeri? sedikit sih. Tapi setelah sering menggunakan Pelahap Jiwa aku sudah terbiasa." Allen menjawabnya sambil mengambil panci.
Matanya di tutup, Allen mencoba membuat Kuali yang terbuat dari panci. Dua telapak tangannya mulai panas karena api, panci yang tak berdosa perlahan meleleh.
__ADS_1
Setelah dilelehkan, Allen mencoba membentuknya menjadi kuali. Namun percobaan pertamanya langsung gagal.
Lelehan panci meledak dan membuat seisi ruangan terkena percikan lelehan besi. Bahkan sofanya hingga berlubang dibuatnya.
"Sepertinya bulan ini aku harus pergi dari kontrakan." Allen melihat sekelilingnya dengan senyuman kecut.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Peri Tanah.
"Membuat Kuali, aku kira panci sama dengan Kuali yang kau maksud." Allen membersihkan masalah yang ia buat.
Peri Tanah menepuk jidatnya. "Bukankah kau bisa menciptakan besi hanya dengan auramu. Ngapain susah-susah melelehkan besi!."
Allen berhenti sejenak dan menoleh ke arah Peri Tanah. "Eh... benar juga, aku lupa."
Setelah sadar akan kesalahannya, Allen segera berdiri dan membuat Kuali sesuai bayangannya. Prosesnya tidak lama, ia hanya butuh 2 menit untuk membuat benda dari udara kosong.
"Betapa mudahnya punya elemen Tanah. Ini sangat berguna." Allen tampak senang dengan kekuatannya.
Peri Tanah hanya bisa menggelengkan kepala. Dia punya kekuatan besi karena sudah hidup selama 2000 tahun. Peri Tanah lainnya juga tidak mungkin bisa menyaingi pencapaiannya, singkatnya Peri Tanah adalah peri terbaik dalam sejarah.
Allen dengan perasaan bahagia langsung membuat Pil Kebangkitan Tubuh. Bahan-bahan sudah siap karena semuanya ada di dapurnya.
Petunjuk pembuatannya menggunakan bahasa kuno, entah bagaimana caranya Allen bisa mengerti. Ia mencampurkan beberapa bahan, ada yang di geprek, ada yang di iris, ada juga yang harus di peras.
Allen menarik napas dan menatap tajam ke arah Kuali. Konsentrasi digunakan dengan maksimal, energi jiwa berwarna ungu kehitaman mulai berontak keluar.
Kedua tangannya gemetar ketika Energi Jiwa mulai menyentuh Kuali. Allen tetap fokus dan mengerahkan semua kemampuannya.
Setiap kali Energi Jiwa bergejolak, Allen bernapas untuk menenangkan dirinya. Bahan di dalam Kuali berputar dengan kecepatan tinggi dan bercampur menjadi satu.
Kuali yang awalnya tenang mulai bergetar, Allen mengendalikan getarannya dengan Energi Jiwa. Tanpa terasa darah mulai keluar dari sudut kanan bibirnya, Allen tetap melanjutkan pembuatan pil.
Peri Tanah tampak khawatir, tapi ia harus percaya dengan tuannya. "Apa memang buku petunjuk yang aku kirimkan seperti ini, sepertinya sedikit berbeda."
Memang benar Allen sedikit mengubah proses dan suntikan auranya. Namun semua itu dilakukan supaya menyesuaikan dengan kondisi sekitar.
Setelah beberapa menit, getaran Kuali berhenti. Allen tersenyum dan membukanya, tepat ketika ia membuka penutupnya, ledakan besar terjadi.
"Sial, apa yang terjadi?" teriak Allen sambil membersihkan wajahnya.
__ADS_1
Seluruh ruangan gosong karena ledakan, Kuali buatannya juga hancur menjadi abu. Hanya menyisakan 3 pil berbeda warna.
"Kenapa warnanya berbeda?." Allen mengambil tiga pil dengan tangan kanannya.
Peri Tanah membatu, ia melihat ada tiga pil kualitas terbaik karena terlihat mengkilap. "Setiap pil beda penggunaan. Pil Kuning untuk Pejuang Tingkat 4 ke bawah. Pil Jingga untuk Pejuang Tingkat 5, dan Pil Merah untuk Pejuang Tingkat 6."
Allen segera sadar bahwa tiga pil miliknya adalah harta karun. Pasalnya ramuan yang digunakan untuk Pejuang Tingkat 6 hampir tidak ada di dunia. Hanya keberuntungan yang bisa membawa mereka ke tingkat 7.
Tanpa ragu Allen segera memakan Pil Jingga dan memurnikan pil di dalam tenggorokannya. Tepat setelah masuk ke dalam lambung, Pil Jingga meledak dan energi berjumlah banyak mendorong keluar.
Allen meringis dan mencoba menahan ledakan energi di dalam tubuhnya. Energi Jiwa tampak gembira, ia langsung menyelimuti tubuh Allen dan langsung melahap semua ledakan energi dalam sekali kedip.
Semua kulit Allen mengelupas dan digantikan dengan kulit yang lebih kuat. Tidak sampai disitu, matanya memancarkan cahaya jingga yang dapat mengaktifkan Pengelihatan Surgawi dengan lebih mudah.
[Mental +9
Konsentrasi +10
Kekuatan Tubuh +15
Aura +20.]
Peningkatan yang signifikan telah berhasil, Allen tersenyum manis dan membuka matanya. "Wow, keberuntungan besar!."
Suara teriakannya terdengar sangat keras, hingga akhirnya tetangganya datang dan menggedor pintu.
"Bocah culun kecilkan suaramu, aku mau tidur!."
Allen menutup mulutnya, ia yakin kontrakan ini sudah kedap suara. Tapi tetangganya bisa mendengar suara di dalam.
Allen membuka pintu kontrakan, postur tubuhnya yang cukup tinggi mengintimidasi pria yang memakai handset di telinganya.
"Maaf, aku salah." Allen mencoba meminta maaf, tapi ia memancarkan aura mendominasi.
Tetangganya langsung berbalik dan kembali ke kamar. "Bagus, jangan buat onar lagi." Ia tampak ketakutan melihat Allen yang sangat tinggi dan mendominasi dengan postur tubuhnya.
Allen tersenyum sedikit. "Bakat yang mengerikan, bagaimana bisa seorang bocah berusia 15 tahun bisa mendengar suara dari ruangan yang kedap suara."
Ingin membuktikan diagnosanya, Allen menyalakan musik dari ponselnya, kemudian menutup pintunya.
__ADS_1
"Hahaha, bagaimana bisa aku tidak tahu ada manusia abnormal di kontrakan mewah ini." Allen mengatakannya dengan pelan. Ia tak punya niat menyakiti tetangganya. Namun tetangganya punya pendengaran yang tidak manusiawi, ia mendengar semua yang dikatakan dan dilakukan Allen.
"Sial, aku membuat kesalahan." Tetangga Allen gemetar ketakutan.