Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Batu dan Barang Antik


__ADS_3

Benar saja setelah Allen mengusir Tuan Muda, sosok yang lebih kuat datang dan menghadangnya. Pria Tua itu seorang Pejuang Tingkat 6 tapi lebih lemah dari Chris.


"Anak Muda, kau sombong sekali mengarahkan niat membunuh pada Tuan Muda kami." Pria Tua itu menatap tajam ke arah Allen.


Bukannya takut, Allen menjawab dengan santai. "Memangnya kenapa, dia dulu yang membuli teman dekatku."


Kedua mata mereka saling memandang, Niat Membunuh saling bertabrakan. Pria Tua tidak bisa mengukur kekuatan lawan, tapi Allen bisa dengan jelas melihat bahwa Pak Tua itu hanya menggertak.


"Luka dalammu tidak akan bisa sembuh. Sepertinya Tuan Muda tampan kita akan segera kehilangan pelindungnya." Allen mengalihkan pandangnya ke arah Tuan Muda Keluarga Bishop.


Pelindung Rega memang terlihat tegar tapi tubuhnya sudah mencapai batas. Takdir menghalanginya tumbuh lebih kuat, sangat disayangkan Pak Tua itu akan mati dalam 3 bulan.


"Mulutmu sangat tajam, Anak Muda. Aku lihat kau cukup pandai menilai barang antik, bagaimana jika kita membandingkan pengetahuan?"


Pelindung Rega Bishop itu juga harus menghemat kekuatan, supaya bisa melihat Rega Bishop lebih lama. Tidak ada yang tau alasannya, tapi yang pasti Pak Tua itu sangat menyayangi Rega.


Allen tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kanannya. "Tentu saja," jawabnya dengan penuh percaya diri.


Pelindung Rega menjabat tangannya, Allen belum kehilangan senyumnya. Setelah itu mereka menuju sebuah ruangan batu antik.


"Untuk permulaan ayo bandingkan pengetahuan kita di bidang Batu Antik." Pelindung Rega menawarkan tantangan.


"Tidak masalah, karena anda yang memilihnya. Silahkan mengambil dulu." Allen mempersilahkan Pelindung Rega mengambil duluan.


"Jangan menyesal, Bocah."


Padahal Allen sudah bersikap sopan tapi apa yang dia dapatkan masih saja kata-kata kasar.


Pelindung Rega memilih Batu Antik cukup lama, dia sudah lama tidak ikut Judi Batu. Setelah 10 menit akhirnya dia mendapatkan apa yang diinginkan.


"Sekarang giliranmu."


Allen langsung berjalan ke depan dan mengambil batu di bawah kaki meja. "Aku ambil ini," katanya sambil mengangkat pilihannya.


Pembelah batu mulai mengerjakan pekerjaannya, ia langsung membelah Batu Antik pilihan Pelindung Rega.


"Giok Hijau. 500 ribu." Pemotong Batu sedikit bersemangat karena mereka mulai kesulitan menemukan Giok Hijau.


Allen kemudian memberikan batu seukuran kepalan tangan pada Pembelah Batu. "Potong saja menjadi dua, tidak perlu ragu."


"Bos, jika batunya dibelah dia itu akan mengurangi nilainya." Pembelah Batu sedikit khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku juga yang akan membelinya dengan harga normal." Allen dengan santai mengatakannya. Untungnya dia sudah membayar Batu yang dia temukan. Jadi otomatis batu itu menjadi miliknya.


Pembelah Batu segera bertugas, ia menuruti perkataan Allen. Namun piringan pemotong batu berhenti di tengah-tengah.


"Aneh, kenapa berhenti. Padahal batunya kecil." Pemotong Batu kebingungan.


Allen mendekat dan meminta batunya. "Cara bukanya tidak sulit, lihatlah."


Dua tangannya memutar batu dan membuatnya terbelah menjadi dua. Warna Merah Darah terlihat di tengah batu.


"Giok Merah Hijau. 5 juta." Pemotong Batu jujur mengatakannya. Namun dia tidak tahu nilai sebenarnya dari Giok Merah Hijau itu.


"Aku menang, Pak Tua. Sekarang kita kemana?" tanya Allen dengan penuh percaya diri.


Rega Bishop yang kesal dan bosan mulai memberontak dan menendang orang-orang tak dikenal.


Protes keras dari pengunjung, salah seorang pria biasa ingin memukulnya. Namun Pelindung Raga menghentikan tangan lawannya.


"Sudahlah, maafkan saja Tuan Muda kami. Jangan buat masalah untuk keluargamu."


Ketika semua sedang ribut, Allen segera memasukkan Batu Giok Merah Hijau ke dalam Cincin Penyimpanan.


"Baiklah pertandingan ke dua ayo cari Barang Antik." Allen menghentikan pertengkaran mereka. Dia menepuk pundak pria biasa itu.


Pelindung Rega mengerutkan kening. "Aku kira kita ada dipihak yang sama, sepertinya tidak."


"Sejak awal aku berteman dengan Chris. Jadi jangan basa-basi dan apa yang dilakukan Rega sudah kelewatan."


"Tuan, tolong maafkan Tuan Muda saya." Pelindung Rega meminta maaf untuk menghindari masalah tidak penting.


Setelah semua selesai, Allen dan Pelindung Rega mencari Barang Antik yang mempunyai nilai jual tinggi.


Allen ke kiri sedangkan lawannya ke kanan. Beberapa saat mencari Allen menemukan sebuah Lukisan sangat indah. Namun dia bisa merasakan bahwa lukisan itu hanya imitasi atau palsu.


"Paman, menjual barang palsu bisa dikenakan denda atau bahkan penjara. Berapa harga barang yang asli?" tanya Allen sambil menunjuk Lukisan di ujung ruangan.


"Hanya barang itu nah yang ada di toko. Aku tidak tahu mana yang asli dan palsu." Penjual mencoba mengelak.


Allen tersenyum ramah. "Baiklah, kalau begitu aku ingin gulungan itu." Jari telunjuknya mengarah pada sebuah gulungan yang ditutupi kain kotor.


Penjual tampa panik, ia tidak menyangka pelanggannya kali ini sangat jeli. Bahkan bisa menemukan barang asli ditumpukan barang palsu.

__ADS_1


"Aku membelinya, harganya 10 ribu, Kan." Allen menyerahkan uang 10 ribu rupiah dan mengambil Lukisan Asli.


Setelah berhasil mendapat yang diinginkan, Allen kembali ke tempat penilaian. Ia melihat Pelindung Rega membawa beberapa benda unik.


"Karena Anda datang duluan, silahkan menyampaikan kehebatan dari barang-barang Anda." Allen mempersilahkan lawannya.


Namun Pelindung Rega menggelengkan kepala. "Seperti kesepakatan sebelumnya, Kamu yang mulai duluan."


Rega Bishop terlihat bosan dan mulai ingin berkeliling. Namun tangannya segera diraih dan dihentikan Pelindungnya.


"Tuan Muda, anda tidak boleh berkeliaran."


"Ya, Ya, Ya. Cepat satu jam lagi aku mau pulang."


Allen hanya bisa tersenyum melihat Rega begitu manja. Jika saja dia bisa semanja itu pada orang tuanya kala itu. Dan tidak meninggalkan desa.


"Lupakan, semuanya sudah berlalu." Allen menghentikan pikiran negatif yang hampir menyerangnya.


"Baiklah, perkenalkan. A View Mount Megamendung Karya Raden Salah." Allen membuka gulungannya tanpa bingkai mewah.


Semua orang tertawa terbahak-bahak, mereka yang tidak mengerti langsung mencaci Allen yang bodoh. Namun mereka yang tahu apa itu seni langsung mengangkat tangannya.


"Boleh aku memeriksanya?" tanya Pria Tua yang memakai kacamata bulat dan rantai emas masuk ke saku baju.


Tampilannya sangat rapi, Allen bisa memastikan orang didepannya bukan pria tua biasa.


"Tentu saja, Anda terlihat sangat kompeten dibidang ini." Allen menyerahkan gulungan kertas Lukisan.


Pria Tua itu langsung terbelalak melihat semua goresan lukisannya sangat mirip dengan yang asli. "Nak, apa kamu benar-benar menganggap ini asli?" tanya Pria Tua.


"Tidak diragukan lagi, itu Lukisan Asli. Kalau tidak percaya anda bisa membawanya ke pusat penelitian." Allen penuh percaya diri.


Pria Tua menggelengkan kepala. "Lukisan ini memang sangat bagus, tapi Lukisan yang asli ada di Inggris. Jadi aku pastikan Lukisan ini palsu. Tapi biarkan aku membayarnya dengan harga yang pantas."


Allen tetap tersenyum ramah. "Mengapa anda menyimpulkan seperti itu. Haruskah aku mengungkapkan maksud anda membeli Lukisan Palsu, Bapak Moris Muller?"


Semua orang yanh tidak tertarik tiba-tiba datang, mereka mendengar nama Moris Muller yang terkenal kaya di Kota A. Kekayaannya menempati nomor 3 sebagai individu terkaya.


Moris Muller tersenyum ramah. "Jadi sejak awal kamu memang sudah mengenaliku?"


"Tidak, aku hanya menebak. Siapa sangka ternyata benar." Allen mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Menarik, apa kamu mencoba mengancamku?" tanya Moris Muller.


"Tidak, banyak. Buat aku menang di pertandingan ini." Allen mengungkapkan maksud dan tujuan.


__ADS_2