
Kota S menyimpan banyak rahasia, jadi Allen tidak akan meninggalkan kesempatan sedikitpun. Menurut instingnya, Gedung terbengkalai itu merupakan markas yang menarik.
Ketua Geng Motor terus mengikutinya dari belakang, ia memastikan pria di depannya tidak menemukan rahasia di bawah gedung.
Namun Allen sangat jeli, ia menghentakkan kakinya dan terdengar suara janggal. "Ada ruangan di bawah sini. Ayo kita periksa!."
Hentakan kakinya yang kedua sangat keras hingga bisa meruntuhkan lantai. Allen melakukannya tanpa keringat karena dia seorang Pejuang Beladiri Tingkat 6.
Ketua Geng Motor ternganga, dia tidak tahu ada ruangan di bawah. Jadi ia menghela napas karena hartanya tidak terungkap.
Allen tersenyum manis ketika mendengar Ketua Geng menghela napas. "Jadi masih ada tempat lain."
Setelah melompat ke dalam, Allen mencium bau yang kurang sedap. Ia segera mencari sumbernya dan menemukan sebuah perkebunan tanaman beracun.
"Tuan, itu Tumbuhan Spiritual, cepat ambil semuanya!." Lembu Suro tampak sangat semangat.
"Bukankah itu tumbuhan beracun?" tanya Allen dengan perasaan bimbang.
"Ya, mereka memang tanaman beracun. Tapi kalau mencampurnya dengan Bunga Salvia, kita bisa menciptakan ramuan yang bisa meningkatkan kekuatan tubuh." Lembu Suro berkata dengan penuh semangat.
Pada saat dia masih berumur 15 tahun, ayahnya Lembuswana selalu meminum ramuan itu. Setelah 10 tahun, tubuhnya tidak bisa di tembus besi biasa.
"Terus kenapa kau bisa mati hanya karena batu?" tanya Allen sambil menyempitkan matanya curiga.
"Wanita sialan itu membawa Pembuat Formasi, semua batunya diperkuat dan energi jiwaku tidak bisa digunakan." Lembu Suro mengatakan apa yang dia alami.
"Maksudmu ada orang yang bisa memblokir Energi Jiwa?." Allen mulai penasaran.
"Tidak sepenuhnya benar, aku tidak bisa menggunakan Energi Jiwa karena janjiku dengan ayah." Lembu Suro tidak boleh menggunakan Energi Jiwa untuk sayembara Dewi Kilisuci.
"Baiklah, lupakan. Mari ambil semua tanaman ini." Allen segera menyuruh para Geng Motor untuk mencabut semua tanaman dari akarnya.
Setelah beberapa jam akhirnya semuanya selesai. Allen melirik ke arah Ketua Geng Motor yang tampak tegang.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Allen sambil memperhatikan gestur lawan bicaranya.
"Tidak ada, Tuan." Ketua Geng Motor ingin menyembunyikan hartanya.
Namun Allen bisa membaca gestur tubuh dan memandang sebuah lukisan di dinding. Pedang Pendek langsung menembus tembok, ia mendapatkan uang yang cukup banyak.
"Tidak, bos jangan mengambilnya. Kami bisa mati!." Ketua Geng Motor bersujud dan memohon ampun.
__ADS_1
Allen tidak peduli dan memasukkan semua uang tunai ke Cincin Penyimpan. Jumlahnya cukup banyak, yaitu 21 miliar Rupiah.
Setelah menguras semua uang, Allen melihat sebuah batu mengkilap dan langsung mengambilnya.
Sebelum di masukkan Cincin Penyimu, batu itu bersinar dan langsung mengembun hilang. "Batu apa tadi?" tanya Allen pada dirinya sendiri.
Lembu Suro menjawab, "Batu Yuanshi. Aku tidak menduga masih ada orang yang memilikinya."
"Batu Yuanshi?"
"Batu Asal, jika kamu menyerapnya. Kekuatan Jiwamu akan bertambah perlahan." Lembu Suro menjawab dengan ekspresi serius.
Allen sendiri tidak merasa ada yang berubah dari kekuatannya. Namun tiba-tiba energi jiwa salam tubuhnya semakin tenang dan Prinsip Jiwa berputar tanpa diperintahkan.
"Apa yang terjadi, kenapa energi jiwaku terus berputar." Allen sedikit panik karena ia tidak pernah mengalami anomali seperti ini.
"Tenang saja, Batu Yuanshi bisa membantumu menyempurnakan energi jiwamu." Lembu Suro dengan tenang menjelaskannya.
Allen mengangguk dan meninggalkan para Geng Motor di markasnya. Tujuannya tidak lain adalah kediaman Keluarga Son.
Setelah beberapa menit, Allen berdiri tegap di depan gerbang besar milik Keluarga Son.
"Sebentar, saya akan menyampaikannya." Penjaga Gerbang menjawabnya dengan ramah.
"Tidak perlu, aku sudah disini." Son Hyung menyambut kedatangan Allen secara langsung.
"Maaf aku terlambat, tadi ada sedikit masalah," kata Allen dengan senyum ramah.
Son Hyung tahu ternyata tidak hanya semua orang di bawahnya, tapi Allen sendiri sangat istimewa. "Tidak perlu bersikap formal, ayo masuk."
Penjaga Gerbang menjadi tegang, padahal ia hanya ingin berpura-pura masuk dan kembali lagi tanpa hasil. Namun siapa yang menyangka ternyata pria muda itu benar-benar tamu tuannya.
Allen dan Son Hyung berjalan masuk tanpa ada pembicaraan formal di antara mereka. Setelah sampai di tempat yang nyaman, Allen mulai menyampaikan maksudnya.
"Aku ingin mencari tahu tenang Bunga Salvia atau tanaman unik lainnya." Allen mencoba menyembunyikan maksudnya.
Son Hyung menjawabnya dengan ramah. "Tumbuhan Spiritual sulit ditemukan, tapi Bunga Salvia mungkin bisa kita temukan di Pelelangan besok."
"Pelelangan?"
"Acara ini diadakan satu tahun dua kali. Pelelangan diikuti orang-orang terkenal di seluruh dunia." Son Hyung mencoba untuk menarik perhatian anak muda di sebelahnya.
__ADS_1
"Dimana tempatnya?" tanya Allen penasaran.
"Di Markas Besar Militer Kota S. Keluarga Gong menjadi penyelenggaranya." Kemudian Son Hyung menjelaskan detail pelelangan.
Karena setiap orang yang ikut pelelangan harus mendapat undangan, Allen tidak bisa ikut.
"Tenang saja, setiap undangan boleh membawa 3 orang. Jadi aku bisa membawamu masuk." Son Hyung menawarkan diri.
Allen mengeluarkan botol berwarna putih berisi pil kebugaran. "Sebagai tanda terima kasih, tolong terima pemberianku ini."
Son Hyung tidak bisa menahan tangannya untuk menyambar botol putih. "Jangan sungkan, aku melakukannya karena pertemanan kita."
Allen dan Son Hyung sepakat akan datang besok. Karena hari sudah malam, Allen menginap di Keluarga Son.
Sebelum tidur ia melihat keluar jendela dan mendapati seorang pelayan menggunakan pisaunya berlari teknik beladiri.
Setelah memperhatikan cukup lama, Allen tidak bisa tinggal diam. "Menggukan gerakan itu untuk sebuah pisau tidak akan membantumu."
Pelayan itu melirik Allen dan segera membungkuk. "Maafkan saya menunggu Anda, Tuanku."
Allen menggelengkan kepala. "Tidak perlu merasa sungkan, aku hanya tamu biasa. Ngomong-ngomong darimana kamu mendapatkan teknik seperti itu?"
"Aku menciptakannya sendiri, Tuan. Setelah melihat teknik pedang Keluarga Son." Pelayan menjawabnya dengan nada cepat.
Allen sedikit terkejut mendengarnya, siapa yang menyangka remaja seusianya punya pemahaman yang cukup baik. Pahala dia tidak pernah mendapat pelajaran resmi, bakatnya menciptakan Teknik Pedang tidak buruk.
"Mengesankan, tapi menggerakan kaki dan lengan seperti itu tidak bisa memaksimalkan dampaknya." Allen mulai membuka pembicaraan.
Pelayan yang berlatih Beladiri juga tertarik dan menanyakan beberapa hal janggal di kepalanya. Tanpa sadar Allen dan pelayan itu berbicara sampai pagi.
"Sepertinya matahari akan terbit, sebaiknya kamu segera pergi." Allen mempersilahkan Pelayan untuk memulai pekerjaannya.
"Terima kasih pertunjuknya, Tuan Allen." Pelayan memberinya hormat khas seorang pejuang beladiri.
"Aku juga banyak belajar darinya. Semoga harimu menyenangkan." Allen mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangannya.
Karena pelelangan akan dilakukan di malam hari, Allen mengelilingi Kediaman Son untuk mencari kesenangan.
Turnamen yang di adakan Keluarga Son ternyata bertepatan pada hari ini. Jadi Allen segera melihat dan menikmati pertarungan anak-anak.
Awalnya dia memang berpikiran seperti itu, tapi matanya tercerahkan karena Pejuang Tingkat 4 ke atas yang boleh mengikuti turnamen. Kebanyakan dari peserta adalah pria yang lebih dari 40 tahun.
__ADS_1