Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Pasar Antik


__ADS_3

Pedro dan Shera tampak sangat senang, keduanya langsung bersujud di depan Allen.


"Terima kasih, Bos!" ucap Pedro dan Shera.


Allen tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menerima sujud dua bocah dari panti asuhan itu. Setelah 2 detik, ia membantu keduanya berdiri.


"Tidak perlu sopan. Karena kalian sudah mengucap sumpah darah, kita sudah menjadi keluarga."


"Baik, Bos."


Allen mengajak kedua bocah itu ke ruang pelatihan para pejuang beladiri di perusahaan. Keduanya hanya menonton dan memperhatikan setiap gerakan orang di bawah.


"Bos, kenapa mereka menggukan gerakan yang boros seperti itu?" tanya Shera kebingungan.


Allen menjawab, "Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti kalian. Bukankah aku pernah menawarkan kesempatan pada beberapa bocah di bawah?"


"Hmm..."


Shera hanya menggeram, ia masih tidak mengerti mengapa orang-orang itu menggukan gerakan yang tidak efektif. Padahal jika mereka memperbaikinya sedikit, efektivitas latihannya akan meningkat.


Pedro tidak terlalu cerdas dalam mengamati, ia hanya menurunkan gerakan para pejuang beladiri di bawah. Tanpa sadar tubuhnya memperbaiki gerakannya dan langsung meningkatkan efisiensi penyerapan aura.


"Hoo, ini sangat hangat."


Allen menepuk pundaknya. "Jangan melatihnya, bukankah Teknik Jiwa yang aku berikan sudah cukup?"


Pedro langsung menunduk dan meminta maaf. "Maafkan aku, Bos!" teriaknya dengan nada gemetar.


"Tidak masalah, kalian memang harus belajar bahwa memakan makanan yang lebih besar dari mulutmu akan membawa petaka."


Allen juga belum mengerti mengapa Teknik Jiwa yang telah diterapkan tidak boleh di gabung dengan teknik biasa.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sesi tanding dilaksanakan. Budi sebagai instruktur memberi aba-aba. "Yang merasa kuat silahkan maju!" teriaknya memberi perintah.


Dua orang maju ke dalam arena pertandingan. Tatapan mereka tampak sanga kuat dan siap menghancurkan musuhnya.


Allen bisa melihat bahwa salah satu dari mereka adalah mata-mata yang di kirim perusahaan lain.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Allen pada Pedro dan Shera.


Sebagai praktisi yang suka memperhatikan sekitar, Shera menjawab duluan. "Harusnya pria berbaju hijau bisa menang dengan mudah!"


Allen tersenyum manis dan menggelengkan kepala. "Lihatlah kejutan yang akan ditunjukkan peserta baju kuning."


Pria baju hijau langsung membuat gerakan mematikan setelah tanda pertarungan di mulai. Namun peserta baju kuning menanggapinya dangan baik dan memukul rahang bawah lawannya. Tidak lebih dari 3 detik, pertandingan selesai dengan kemenangan peserta baju kuning.

__ADS_1


Shera terkejut, ia membuka mulutnya karena tidak percaya dengan matanya. "Kok bisa?" teriaknya terkejut.


Pedro menanggapi, "Peserta baju kuning itu menyembunyikan sesuatu. Itu sangat mencurigakan."


"Benar, peserta baju kuning itu mata-mata yang dikirim musuh kita."


Pedro dan Shera tampak serius, mereka menelan ludahnya karena melihat Allen tenang meskipun musuh ada di depan matanya.


"Menunjukan emosi di depan musuh adalah kesalahan fatal. Jika mereka menemukan kelemahanmu, cepat atau lambat kau akan hancur."


Kata-kata Allen membekas di benak Pedro dan Shera. Mulai saat ini mereka akan menjadi manusia tanpa ekspresi.


Latihan tanding terus dilakukan, Allen hanya bisa menghela napas karena tidak menemukan bibit unggul lainnya.


"Ayo ikut aku ke pasar antik.”


Pasar antik selalu menjadi pilihan para pejuang beladiri, mereka berharap mendapatkan benda yang dapat membantunya berkembang. Awalnya Allen merasa barang antik dan lain sebagainya hanya hiasan atau pajangan semata, tetapi setelah merasakannya sendiri ia sadar.


Pada kehidupan sebelumnya, William meletakkan barang antik di setiap sudut ruangannya. Setelah diingat-ingat lagi, barang antik itu dapat meningkatkan stamina setiap orang yang ada di sekitarnya. Itulah mengapa Allen bisa bekerja tanpa henti.


Pasar antik di Kota K hanya ada satu, Allen dan 2 rekannya turun dari mobil dan melihat gedung setinggi 20 lantai. Pedro dan Shera tidak terkejut, mereka tampak sangat tenang.


Allen yang melihat mereka berdua juga mencoba memasang ekspresi datar, tapi dalam hatinya ia berteriak, “Sejak kapan pasar antik seperti ini!”


“Ayo masuk.”


Dua penjaga menghadang mereka bertiga. “Tunjukkan kartu masukmu?” tanya salah satu penjaga.


Allen menggelengkan kepala. “Aku belum punya kartu masuk,” jawabnya singkat.


Salah satu penjaga langsung menunjuk seorang pria berbaju rapi yang membawa sebuah lembaran kertas di tangan kanannya. “Beli saja kartu sekali pakai darinya,” kata penjaga dengan acuh.


Perlakukan seperti ini sudah wajar di terima Allen dan 2 bocah, itu semua karena mereka bukan anggota dari toko antik. Pada kehidupan sebelumnya, Allen hanya tahu nama besar toko barang-barang antik, tapi siapa yang menyangka ternyata toko itu di pasar sebesar ini.


“Paman, berapa kartu masuknya?” tanya Allen dengan suara sopan.


“3 juta untuk tiga orang. Tidak ada tawar menawar,” jawab pria penjual kartu masuk.


Allen tidak punya pilihan lain selain membelinya, Perusahaan Allen sudah berkembang dengan baik. Usahanya di bidang perdagangan juga sudah menghasilkan keuntungan nyata, jadi Allen membawa 20 juta uang tunai saat ini.


Tanpa mengedipkan mata, Allen membeli 3 kartu masuk dan menyerahkannya ke penjaga. Matanya melirik ke arah seorang pria tua yang mengenakan jaket hitam, pria tua itu tidak lain adalah Dante.


“Sial, apa yang dilakukan tua bangka itu!” gumamnya pelan.


“Sungguh beruntung kau, Nak. Hari ini pasar antik akan mengadakan kompetisi mencari batu berharga.”

__ADS_1


Kompetisi mencari batu berharga atau nama lainnya judi batu adalah acara yang di adakan setiap tahunnya. Pemenang boleh membawa batu berharga sesuka hati mereka, tetapi harus di lelang dulu sebelum membawanya.


Awalnya Allen tidak tertarik dengan judi batu, tetapi sistem menampilkan informasi batu di sekitarnya. “Apa aku harus mengambil keuntungan?” gumam Allen pelan, kemudian ia melirik ke arah atas. Dia mendapati 5 orang duduk di kursi kehormatan, salah satunya adalah Dante yang menyembunyikan wajahnya dengan penutup kepala.


Pedro dan Shera melihat beberapa batu berharga. Shera mengandalkan analisisnya untuk menyimpulkan bahwa batu itu berharga, sedangkan Pedro menggunakan instingnya untuk menemukannya.


“Apa kalian suka dua batu itu?” tanya Allen.


“Tidak, Bos. Kami tidak punya uang,” jawab Pedro mengalihkan pandangannya dari batu. Disusul Shera yang menyembunyikan wajah keinginannya.


“Bawa dua batu itu, aku bisa membuat senjata dari dua bahan itu.”


Shera dan Pedro tanpa ragu langsung mengambil batu dan memasukkannya ke troli kosong. Allen mengambil beberapa batu berharga dari tumpukan batu seharga 10 ribu rupiah.


[Batu


Elemen : -


Kualitas : C.]


Kualitas C sudah sangat bagus, jadi Allen harus puas untuk sekarang. Setelah berjalan beberapa menit, mata Allen tertuju pada sebuah batu yang di pajang dalam wadah kaca, harganya cukup mahal yaitu 10 juta rupiah.


Meskipun begitu, Allen harus membelinya dengan harga semurah mungkin. Makanya ia mendekati penjual dan berkata, “Paman, berapa harga?”


“Nak, apa matamu bermasalah. Sudah jelas aku menulis disitu 10 juta.”


Allen menggelengkan kepala dan kemudian tersenyum tipis. “Aku yakin batu ini sudah lama tidak ada yang melirik. Bagaimana jika 5 juta saja, aku cukup tertarik dengan wadahnya.”


Perkataan Allen menggiring opini penjual supaya menjualnya dengan harga murah tanpa penyesalan. Makanya ia tidak menyinggung batu, melainkan hanya tertarik dengan wadah kaca yang di ukir sebuah naga.


“Ambil!” ucap penjual dengan suara lantang.


Transaksi jual beli segera di lakukan, batu sebesar kepalan tangan anak kecil dan wadah kaca berukiran naga sekarang berada di tangan Allen. Setelah memastikan sesuatu, Allen ternyata memang mendapat rezeki nomplok.


[Batu Arhat


Elemen : Cahaya


Kualitas : A.]


Meskipun hanya kualitas A, Allen harus bersyukur karena mendapatkan batu elemen cahaya. Sejujurnya ia memiliki banyak teori untuk menyerap energi dengan elemen yang berbeda-beda. Makanya ia membutuhkan objek yang bukan dari api, air, tanah, dan angin.


Setelah berkeliling beberapa saat, Allen segera membayar tagihan semua batu. Pedro dan Shera juga mendapatkan barang yang mereka inginkan. Mereka semua ingin segera pulang, tapi langkah kaki Allen terhenti ketika melihat Harjo Susanto sedang tertekan karena pihaknya sedang tidak diuntungkan dalam taruhan.


“Tidak mungkin, kau pasti curang!” teriak Harjo Susanto.

__ADS_1


__ADS_2