Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Kedatangan Keluarga Huben


__ADS_3

Simon Muller telah meninggalkan marganya, sekarang dia hanya Simon yang berkerja di bawah Allen.


"Tuan, tolong terima hormatku." Simon bersujud di depan Allen.


Allen bukan orang yang suka dipuji berlebihan. "Bangun dan jangan berlebihan. Setelah mengucap Sumpah Darah, sekarang kau berhak mempelajarinya juga."


Jari telunjuknya menyentuh dahi Simon. Sejumlah informasi tentang Prinsip Jiwa dikirimkan sebagaimana mestinya. Namun Allen hanya mengirim informasinya sampai tingkat 4 saja.


Bukan karena tidak mau, tapi karena Allen belum bisa memahami Prinsip Jiwa tingkat 5.


"Terima kasih, Tuan." Simon baik-baik saja tanpa terlihat adanya peningkatan atau perubahan.


"Tidak ada watu lagi. Aku masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka semua. Jadi ayo kembali ke Kota K." Allen mengajak Chris, Petrik, dan Simon.


Keempatnya langsung menghilang dan melakukan tugasnya masing-masing. Chris dan Petrik akan mengurus Keluarga Huben, banyak dari anggotanya yang tidak setuju. Hingga akhirnya Chris hanya membawa 700 anggotanya. Sisanya akan terus mempertahankan warisan keluarga.


Padahal Chris tidak ingin meninggalkan warisan keluarga. Namun tugasnya sekarang adalah melindungi orang-orangnya.


Allen membawa Simon ke Pulau Nemo karena dia bisa merasakan ketulusannya.


"Tempat apa ini, bagaimana bisa ada kekuatan Spiritual yang sepadat ini!." Simon terkejut dengan energi yang menyelimuti Pulau Nemo.


"Untuk sekarang kamu akan bekerja sama dengan Son Hyuk untuk melindungi tempat ini." Allen melirik ke arah Son Hyuk yang baru datang.


"Bos, kamu sudah kembali?" tanya Son Hyuk sambil memberi hormat khas pejuang beladiri.


"Ya, mulai sekarang kamu ajari dia cara menjaga tempat ini." Allen menunjuk Simon dengan santainya.


Son Hyuk berkeringat dingin, orang di depannya sangat kuat. Bahkan dirinya tidak bisa melihat kekuatannya lainnya.


"Jangan memeriksanya, dia masih ada di Tingkat 7. Keterampilannya memang unik, tapi Prinsip Jiwa masih belum ada saingannya." Allen membusungkan dadanya sedikit sombong.


Son Hyuk dan Simon tidak mau menjawabnya. Mereka harus berpikir ribuan kali untuk menjawab pertanyaan seperti itu.


Allen tahu mereka tidak bisa menjawab, jadi memilih untuk memalingkan badan." Ayo ikuti aku, Keluarga Huben akan segera datang."


Ketiganya menyambut Keluarga Huben di Perusahaan Allen. Mereka bertiga datang dengan pakaian rapi dengan jas hitam yang menawan.


"Selamat datang, Chris." Allen menyapa Keluarga Huben.


Chris dan Petrik tampak cemas. "Bos, apa kita punya pasukan cadangan? musuh mengejar kami."

__ADS_1


Petrik memperlihatkan luka di tangannya berwarna hitam. "Ini bukan serangan manusia, pasti iblis atau mahkluk lainnya."


"Gunakan itu," kata Allen sambil memberikan botol berisi air suci yang dibeli dari Toko Sistem.


Petrik langsung menggunakannya tapi tidak terjadi apa-apa. "Tidak ada reaksi, Bos."


"Sepertinya ada manusia yang mencoba meniru kejutan iblis. Aku yakin orang-orang itu adalah Keluarga Baruch. Tapi bagaimana dia tahu kalian akan datang lewat hutan?" tanya Allen sambil mengerutkan alisnya.


Setelah memperhatikan lebih teliti, Allen mendapati hanya 600 orang yang sampai di tempat ini.


"Brengsek, sepertinya ada yang berkhianat di keluarga." Chris mengepalkan tangannya marah.


Petrik menepuk pundak Chris. "Kita sudah membuang mereka, jadi jangan sebut bajingan itu dengan nama keluarga!."


Allen melihat semua orang dengan Mata Dunia, semuanya sudah mengucap Sumpah Darah. Namun Allen harus belajar dari kejadian Nathan dan Nala.


"Sekarang, semua orang ucapkan Sumpah Darah lagi. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku!." Allen tampak serius mengatakannya.


Tanpa pikir panjang, semua orang mengucap Sumpah Darah. Ikatan mereka menjadi lebih kuat dan Allen langsung melambaikan tangannya.


Sebuah cahaya kecil muncul dan menuju ke dahi semua keluarga Huben kecuali Chris dan Petrik.


Setelah beberapa detik, semua orang di Keluarga Huben membuka mulutnya dan memuntahkan seteguk darah hitam. Itu artinya semua orang berhasil mempelajari Prinsip Jiwa.


Petrik menawarkan diri. "Bos, biarkan aku ikut memeriksanya."


"Ya, lakukan."


Tiga orang Pejuang Tingkat 7 langsung berpencar dan melihat sekelilingnya. Mereka memastikan bahwa arena ini sudah aman.


Namun Allen berkata lain. "Sepertinya kemampuan deteksi kalian masih terlalu lemah," katanya pelan.


Untuk memastikan tidak ada yang melihat, Allen melempar sebuah kertas berwarna kuning dengan tulisan merah.


"Aktifkan!" kata Allen sambil mengangkat dua jari ke medan mulutnya.


Sebuah kubah transparan tercipta, semua orang yang ada di dalamnya menghilang tanpa jejak. Bahkan aura mereka hilang sepeti orang mati.


Delapan pengintai terkejut dan langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Sok Hyuk dan Petrik ingin segera menebas mereka semua, tapi dihentikan Allen.


"Jangan gegabah, masih ada banyak orang. Membunuh mereka memang mudah, tapi menipu mereka lebih menyenangkan." Allen segera melakukan pergerakan.

__ADS_1


Semua orang dimasukkan ke dalam Ruang Pelatihan. Allen memasukan Kotaknya ke tanah sedalam 500 meter.


Setelah semua masuk, para pengintai mulai masuk ke dalam kubah. Mereka kebingungan karena tidak ada orang didalamnya.


"Sial, kita kehilangan jejak." Salah seorang pengintai menebas pohon hingga roboh.


Allen dan teman-temannya tidak bisa melihat apa yang terjadi di permukaan. "Karena para pengintai itu sangat tekun, ayo tunggu mereka selama seminggu."


Simon dan Petrik akan menjadi instruktur beladiri semua orang. Son Hyuk ditugaskan untuk menciptakan teknik menggunakan Energi Jiwa.


Melihat Son Hyuk kebingungan membuat Allen sedikit senang. Pasalnya Son Hyuk terlalu santai di Pulau Nemo.


Seminggu tidak berasa telah terlewati, Allen sendiri yang keluar ke permukaan. Tanpa melihat belakang ia langsung melesat menuju Pulau Nemo.


Sosok pria berpakaian serba hitam muncul dari belakang pohon, matanya yang merah membuat penglihatannya sangat tajam. Pria itu mengejar Allen dengan kecepatan penuh.


Allen sendiri sudah tahu ia sedang diikuti, ia menggunakan Langkah Bayangan berkali-kali untuk membuat jarak. Namun semua usahanya gagal, musuh di belakang bisa mengimbangi kecepatan.


"Sial, siapa orang itu." Allen mengeratkan giginya sedikit kesal. Jika musuh ingin membunuhnya, seharusnya dia langsung menerkam. Namun sebaliknya, musuh terus mengintai dan mengikutinya.


Tanpa terasa Allen berlari hingga ke Kota S. Dia langsung langsung bersembunyi di dalam gua. Untuk memastikan musuh tidak menyadarinya, dia menggunakan jimat seperti biasanya.


Kali ini Allen harus bekerja keras karena berjalan di bawah tanah sedalam 2 kilometer. Jika menggunakan tubuhnya saat ini, kedalaman 2 kilometer mustahil dilakukan. Untungnya ada Kotak Ruang Pelatihan yang membantunya.


Tujuannya tentu saja Pulau Nemo. Allen berusaha keras membuat sebuah lorong di kedalam 2 kilometer.


Setelah 36 jam berusaha keras, Allen berhasil membawa Kotak Ruang Pelatihan ke mulut Gua Misterius. Tanpa menunggu lama Allen langsung berlari ke dalam dan masuk Pulau Nemo.


Pria yang berpakaian serba hitam masih setia menunggu Allen keluar dari gua di Kota S. Padahal Allen dan semua orang sudah ada di Pulau Nemo.


Semua di keluarkan, Allen berdiri di depan semua. "Sekarang tempat ini rumah kalian, namanya Pulau Nemo. Tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali mereka sudah mengucap Sumpah Darah."


Allen melanjutkan penjelasannya tentang tata tertib Pulau Nemo. Dia juga mengancam semua anggota baru untuk masuk dan keluar sesukanya.


Semua penjelasan sudah dikatakan. Semua orang langsung berteriak, "Siap mengerti Bos!."


Cahaya kecil muncul dari telapak tangan Allen, matanya mengeluarkan petir tipis berwarna ungu gelap. Cahaya kecil itu langsung masuk ke dahi semua orang termasuk Petrik dan Simon.


Cahaya kecil itu mengandung banyak informasi tentang tata tertib. Mereka juga tahu bahwa Pulau Nemo hanya bisa di akses Allen, selama dia tidak mengizinkan orang masuk atau keluar tidak akan ada orang yang bisa menembusnya.


Dewa adalah satu-satunya kata yang tepat untuk Allen di Pulau Nemo. Semua aturan bisa dirubah dan diterapkan sesuka hatinya.

__ADS_1


Terdapat 1100an orang yang berlatih di Pulau Nemo. Mereka semua tampak sangat serius dalan pelatihannya, khususnya Keluarga Huben yang menuntut balas dendam pada para pengkhianat. 100 orang yang meninggal di perjalanan harus mendapat keadilan, mereka semua bersungguh-sungguh akan membalas dendam.


Allen yang melihat tekad mereka hanya diam. "Semoga iblis hati tidak mengganggunya."


__ADS_2