Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Kisah Dante


__ADS_3

Formasi yang dipasang memang diatur sedemikian rupa untuk membuat Allen dan kelompoknya kalah. Tangan kanan Allen bergerak membentuk sebuah Simbol melayang, kemudian menyebarkannya ke segala penjuru.


5 jarum segera dilamparkan untuk menyerang musuh. Sudut bibirnya sedikit terangkat, Allen memodifikasi Formasinya dengan mudah.


"Hancurkan mereka." Allen memberi perintah santai.


Ujian kedua sampai ke sembilan dilalui tanpa kendala, musuh masih perlu waktu menyelesaikan ujian ke 6.


Setelah membunuh satu monster, Allen dan dau rekannya beranjak ke ujian selanjutnya.


Seorang pria tua berambut putih melirik ke arah Allen. "Siapa yang menyangka kalian sampai lebih cepat."


"Jangan pura-pura lagi, apa kau masih ingin bermain misterius, Dante." Identitas asli Allen masih belum ketahuan, tapi mereka pernah merasakan aura satu sama lain.


"Aku tidak akan melupakan kejadian di lab, bajingan kecil yang mencuri Roh Pelindungku." Dante mengeratkan giginya marah.


Allen menggelengkan kepala. "Jangan membuatku tertawa, Roh Pendukung itu awalnya milikku."


Dante tidak bisa mengingat sosok pemuda yang bermain di taman ketika Roh Angin menampakkan wujudnya. Namun dia yakin, anak bertopeng di depannya adalah dia.


"Aku menemukannya, jadi sudah pasti menjadi milikku. Karena musuhmu masih terlalu lama, bagaimana jika kita melunasi hutang kemarin?" tanya Dante sambil menggulung lengan bajunya.


Allen yang masih mengenakan topeng hitam juga mengikutinya. "Jangan menyesal, tanganku lebih keras dari baja."


Dante tersenyum tipis dan tubuhnya tiba-tiba hilang, lengannya langsung berayun menghantam muka Allen.


Bukannya menghindar, Allen justru mengadu topeng dan pukulan musuh. Topeng milik semua anggota Raja Surgawi tidak mudah dihancurkan, bahannya dari Kayu Hitam.


"Bam," benturan tinju dan topeng terdengar, Allen tidak bergerak dari tempatnya. Namun tangan Dante mati rasa.


Sambil menghempas-hempaskan tangan kanannya, Dante mulai berbicara. "Topeng yang sangat kuat, bolehkah aku memilikinya?" tanyanya.


Allen tersenyum di balik topengnya, ia tidak menjawab dan memasang kuda-kuda bertarung. "Jangan membuatku tertawa, bukankah sudah menjadi hukum dunia siapa yang kuat berhak memiliki barangnya."


Dante tertawa keras, ternyata masih ada orang yang mengingat Mottonya. "Baiklah, sebaiknya aku mulai serius."


Kedua tangannya berubah menjadi hitam besi. Kakinya melangkah perlahan, tinjunya diarahkan ke tubuh Allen.


Sebagai tanggapan, Allen tidak menghindar. Dia justru mengadu kekuatan tinjunya dengan musuh.


Tubuh Ilahi Raja Perang melawan Tinju Besi dari Zaman Kuno. Ledakan terjadi, tanah-tanah disekitar mereka hancur.


Allen terpental hingga memuntahkan seteguk darah segar. "Racun, kau menggunakan racun," katanya yang masih mengambang di udara.


Dante juga tidak kalah buruk, tulang tangan kanannya retak. Anehnya kemampuan regenerasinya tidak bekerja.


"Brengsek, kau juga menggunakan racun!." Dante memakan pil penyembuhan. Namun tidak ada reaksi sama sekali, tangan kanannya masih mati rasa dan tulangnya retak.

__ADS_1


Allen tertawa kecil, "Hixixi. Ini mulai menarik!."


Tanpa memikirkan luka di tubuhnya, Allen berlari dan memukuli musuh. Tanah disekitarnya hancur, Dante hanya bisa menerima dan sesekali menyerang balik.


Setiap kali Dante menyerang balik, Allen justru mendapatkan kesempatan yang lebih bagus. Pukulan yang seharusnya semakin lemah justru menjadi semakin keras.


"Sialan, kau menggunakan apa..." sebelum menyelesaikan perkataannya, Dante terkena pukulan di pipinya.


Gigi Dante pecah, Allen mengerutkan keningnya ketika melihat di dalam mulut Dante ada sebuah batu bersinar.


Sinar batu itu dimuntahkan, Allen reflek langsung memutar tubuhnya menghindari serangan. "Apa itu tadi?" ucapnya kaget.


Dante tersenyum lebar. "Pertempuran tangan kosong memang bukan gayaku. Jadi ayo selesaikan dengan kekuatan asli," katanya sambil meludahkan gigi dan darahnya.


Justru itu yang membuat Allen senang, dua Tangan Bayangan muncul di punggungnya. Allen langsung menyerang duluan dengan tangan bayangan sebelah kiri.


Dante menggunakan elemen tanah untuk membaur tembok menghadang tangan bayangan miliknya, tapi Allen tidak kalah pintar. Tembok yang terbuat dari tanah dijadikan tumpuan untuk melompat lebih tinggi.


"Absolut Slash." Allen mengungkapkan nama skill terbarunya. Padahal dia tidak membawa pedang, tapi sayatan pedang muncul dan membelah tembok tanah buatan musuh.


Dante menggunakan elemen angin untuk mendorong tubuhnya menghindar, kemudian dia menciptakan api di atas telapak tangannya.


Sebelum dilemparkan, Dante meludahi apinya. Ludahnya mengandung racun paling mematikan yang dimilikinya.


Allen tidak menghindar, dia justru menangkap bola api dengan tangan bayangan. Kemudian meremasnya hingga menguap dan racun musuhnya diserap sempurna.


"Mati, kau!" teriak Dante dengan perasaan senang.


Allen masih berdiri tegap menunggu debu yang menutupinya hilang. "Apa yang kau bicarakan, racun lemah seperti itu tidak akan bisa membunuhku."


Kali ini Allen menggunakan Tongkat Sihir, ia membentuknya menjadi pedang. Kuda-kuda bertarungnya disiapkan dengan mantap.


"Ayo lanjutkan, jangan membuatku kecewa." Allen masih dalam posisi siap bertarung. Pedangnya ditempatkan di atas lengan kiri yang maju kedepan.


Dante tersenyum dan melepaskan aura terkuatnya untuk membunuh musuh. "Jangan dendam padaku, Bocah sialan. Hari ini akan menjadi pemakamanmu!."


Allen tertawa keras. "Dante, dante. Sebagai orang tua kau lupa diri, seharusnya kau dulu yang perlu dimakamkan."


Pedang ditangan Allen menusuk ke depan. Angin dan api muncul disekitarnya dan menusuk Dante yang sudah bersiap.


"Jangan sombong, Bocah..."


Sebelum menyelesaikan menyelesaikan perkataannya, Dante merasakan hawa kematian. Tanpa sadar dia melompat menghindari teknik pedang musuhnya.


Allen membelalakkan matanya, dia tidak percaya orang tua keras kepala itu menghindar. Dengan secepat kilat Allen mengubah teknik tusukan menjadi sayatan.


Sayangnya perubahan tiba-tiba tidak menghasilkan kerusakan yang maksimal. Dante berhasil menghindar dengan sedikit goresan di lengannya.

__ADS_1


"Orang tua sepertimu ternyata takut mati juga. Kenapa? apa kau ingin menyudahi pertarungan sia-sia ini?" tanya Allen dengan nada mengejek.


Dante melirik ke tangan kanannya, meski mati rasa karena tulangnya retak dia bisa melihat tangannya gemetar ketakutan. "Brengsek jangan meremehkanku!."


Meskipun sudah tahu nasibnya, Dante memaksakan diri dan menyerang dengan putus asa. Allen yang melihat banyaknya pertahanan yang terbuka tidak membiarkan kesempatan itu hilang.


Pedang di tangannya berayun dengan cepat dan menebas leher musuhnya. Matanya terpejam dan sebuah Monster muncul di belakang punggungnya.


Tanpa rasa bersalah monster itu melahap tubuh Dante. Karena ingin melihat ingat musuhnya, Allen mengorbankan sedikit kekuatan Mental untuk melihat ingatan Dante.


Siapa yang menyangka ternyata Dante adalah anak yatim piatu sejak umur 10 tahun. Hidupnya sangat menderita dan dipaksa untuk bekerja oleh para Pejuang Beladiri yang menyebut diri mereka Kultivator.


Setelah berumur 15 tahun, Dante mengambil buku panduan untuk berkultivasi. Namun bakatnya terlalu buruk, sampai akhirnya dia menemukan jalan iblis.


Rasa sakit yang dia derita, tekanan psikologis yang diterima Dante dikirim langsung ke ingatan Allen. Tanpa sadar dia meneteskan air mata karena alasan Dante ingin menjadi kuat untuk menghidupkan lagi Anak dan Istrinya.


Dante muda yang berumur 25 tahun berhasil menapaki jalan iblis. Dia dipanggil jenius pada zamannya, tapi para Pejuang Beladiri yang lebih kuat menghancurkan semua mimpi-mimpinya menjadi yang terkuat.


Pada saat kritis, Dante bertemu dengan istri satu-satunya. Meskipun tidak terlalu cantik, dia adalah sosok wanita yang sangat perhatian. Dante selalu mengingat senyumnya yang manis.


20 tahun berlalu bersama istrinya, dia dikaruniai satu anak perempuan yang cantik. Namun semua kebahagiaannya hancur dalam semalam, ketika teknik kultivasinya berontak dan membuatnya menjadi gila.


Tanpa sadar Dante membunuh istri dan anaknya, setelah berhasil menekan kekuatan iblisnya. Dia berusaha keras untuk membangkitkan istri dan anaknya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang penyihir.


Istri dan anak Dante dibangkitkan, tapi tidak dalam bentuk manusia melainkan dalam bentuk arwah di alam mimpi. Setiap malam Dante terus memimpikan Istri dan Anaknya.


Sampai akhirnya penyihir itu mulai memanggil iblis di dalam tubuhnya. Karena kebahagiaan Dante terlalu tinggi, dia tidak bisa melawan iblis dalam tubuhnya. Sampai akhirnya dia menjadi mesin pembantaian seperti sekarang.


Allen membuka matanya, dia melihat sosok Dante muda, istri dan anaknya. Mereka semua tersenyum manis dan berkata, "Terima kasih."


Allen mengusap air mata dan membalas senyumnya. "Semoga kalian dipertemukan di kehidupan selanjutnya."


Bayangan Dante dan keluarga mulai memudar, Allen melirik ke arah dua rekannya. "Apa kalian melihatnya?" tanyanya.


"Melihat apa, Bos?" tanya salah satu orang.


"Lupakan, aku tidak ingin membahasnya." Allen memalingkan pandangnya ke arah tiga orang dari Keluarga Baruch yang baru datang.


"Woh, apa yang terjadi disini. Bagaimana ruang formasi bisa hancur sebelum kami datang?" tanya salah seorang perwakilan.


Allen dan dua rekannya berdiri tegap. "Selamat datang, kami sudah menunggu sangat lama. Ayo selesai babak kedua."


"Bocah sombong, memangnya kau bisa mengalahkan kami!."


Allen menggelengkan kepala. "Tentu tidak, aku tidak akan ikut campur. Jadi bersenang-senanglah."


Bukannya mendekat, Allen justru menjauh dan membiarkan dua rekannya menyelesaikan babak kedua.

__ADS_1


__ADS_2