
Karena waktunya tidak cukup, Allen hanya melepas kacamata bulatnya dan mengganti pakaian tanpa mandi. Meskipun hanya mengganti pakaiannya saja, Allen terlambat 5 menit.
“Apa aku salah jadwal?” tanyanya sambil melihat jam tangan.
Jam tangannya menunjukkan pukul 20.30 waktu setempat, tapi mengapa belum ada tamu yang datang, hanya ada Tiwi, Doni, Bobi, dan Tom. Mereka berempat sibuk mempersiapkan pesta penyambutan, tidak dapat di pungkiri mereka dan beberapa preman sangat rajin hingga tidak menyadari kehadiran Allen.
“Baiklah, sepertinya aku terlalu cepat datang.” Allen melepas kancing jasnya dan menyimpannya menyampirkannya di pundak.
Setelah melihat situasi, Allen merasa ada yang kurang di dapur. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk dapur, semua koki tampak tegang ketika melihat pria berpakaian rapi dengan dasi panjang di depan pintu.
“Apa ada yang kekurangan tenaga?” tanya Allen dengan suara keras.
“Tidak, Pak!”
Jawaban para koki membuat Allen bingung, padahal ia berniat membantu karena melihat wajah para koki tampak kelelahan. Namun siapa yang menyangka ternyata para koki tidak membutuhkannya.
Seorang pria berpakaian khas koki dengan topi putih tinggi mendatangi Allen. “Bos, jika kecepatan koki kita seperti ini tidak akan sempat menghidangkan makanan terbaik.”
Wakil koki itu juga tidak tahu siapa Allen, ia hanya menganggap pria berpakaian rapi itu adalah kepala koki yang katanya datang dari Kota I. Kota itu terkenal karena makanannya sangat enak, koki di sana juga sangat hebat bahkan terkenal sampai ke penjuru dunia.
Allen yang merasa dirinya memang bos dari Perusahaan Allen hanya bisa mengerutkan matanya dan mengalihkan pandangannya pada koki. Setelah melihat beberapa pekerjaan koki, Allen menyimpulkan bahwa cara mereka memasak terlalu membuang waktu dan tidak efisien.
“Baiklah, ikuti semua instruksiku. Hai pria besar No. 7, gunakan pisau yang lebih kecil ukuran 7. Pria kecil No. 2 jangan menggoreng ganti ke No. 8....”
Semua instruksi Allen dilakukan, para koki di dapur melakukan pekerjaannya menjadi lebih cepat. Allen sebagai kepala koki gadungan mencoba beberapa makanan yang telah di selesaikan.
“Ulangi, nomor 2 jangan tambahkan garam. No. 10 apa kau tuli, sudah aku katakan tuangkan garamnya sedikit!”
Wakil kepala koki hanya terdiam, ia juga merasakan makanan yang di anggap Allen gagal. Padahal rasanya sangat enak bahkan bisa membawa semua orang yang memakannya melayang. Namun makanan seenak itu di anggap gagal.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Wakil koki mencicipi makanan yang berhasil lulus. “Sial, ini pasti datang dari surga. Bagaimana semuanya bisa pas dan meleleh dalam mulut, Kota I memang beda!” katanya dalam hati.
Disisi lain Kepala Koki yang asli baru sampai di bandara sambil membawa koper bawaannya. “Hah, sudah jam setengah 9. Siapa suruh pesta mereka ada di kota terpencil ini.”
Seorang sopir menjemput dan membawanya ke perusahaan Allen, membutuhkan waktu 1 setengah jam untuk sampai di sana.
Wakil Koki yang melihat semua koki di dapur tersenyum dengan pekerjaannya mulai menyadari bahwa Allen bukan orang biasa. “Ini pertama untukku melihat koki di dapur tersenyum.”
Allen tampak serius dan menyelesaikan semua masakan yang sudah di pesan sebelum jam 9 malam. “Nice! Kalian luar biasa. Ayo kumpul sebentar, setelah ini wakil koki yang akan mengurus semuanya!”
Semua koki dan wakil koki berkumpul, mereka melakukan beberapa evaluasi yang membangun. Allen mengatakan semua isi pikirannya untuk meningkatkan kualitas masakan setiap bidang, tidak butuh waktu 5 menit untuk menyelesaikan evaluasinya.
Allen keluar dari dapur sambil mengambil jasnya. Tujuannya tidak lain adalah toilet, ia segera masuk dan membasuh wajahnya dengan air. “Rasanya menyenangkan bisa melepas stres seperti ini!” katanya.
Peri Air datang dan mengatakan, “Mengapa tidak menggunakan keterampilan air untuk membasuh seluruh tubuhmu. Bukankah itu menghemat waktumu?.”
Seperti biasa Peri Air selalu memberikan tantangan yang hampir mustahil di lakukan oleh pemula seperti Allen. Namun siapa yang menyangka air dalam jumlah kecil langsung membasuh wajah dan seluruh tubuh Allen, kemudian keringatnya juga keluar dan masuk ke dalam wastafel.
“Haha, benar kau seharusnya melakukannya.” Peri Air masuk ke dalam alam bawah sadar dan membuka buku catatannya tentang keterampilan Clear.
“Kenapa kau sangat ribut?” tanya Peri Tanah yang kurang kerjaan. Ia sedang mengajari Peri Api untuk mengontrol kekuatannya, padahal seharusnya Peri Tanah tidak punya pengetahuan untuk itu.
Peri Air menunjukkan buku catatan tentang kekuatan Clear yang baru saja diselesaikan Allen. “Bukankah seharusnya Clear hanya bisa di lakukan setelah Elemen Air mencapai tingkat 3?” katanya sambil mata melotot.
“Kau tidak pantas mengatakan itu pada tuan kita sekarang, ingatlah Teknik Jiwa selalu bisa menjadi jawabannya.”
Peri Air langsung tenang dan ekspresinya kembali datar seperti biasanya. “Benar juga, aku lupa siapa dia.”
Disisi lain Allen masuk ke dalam tepat pesta, ia melihat Tiwi berjalan ke arahnya. “Tiwi, apa memang pegawai kita sebanyak ini?” tanya Allen yang melihat hampir 300 orang berada di dalam ruangan.
__ADS_1
Tiwi menggelengkan kepalanya. “Ini tidak lebih dari 1%nya, setelah Hyung memenangkan persidangan, perusahaan kita melakukan ekspansi besar-besaran. Bahkan Toko Bangunan yang kita kembangkan tempo hari mendapat puluhan tender dari perusahaan besar.”
Seperti yang di katakan Tiwi, Toko Bangunan yang ada di tengah hutan itu sebentar lagi akan di bangun ulang menjadi anak perusahaan Allen. Hanya butuh 1 tahun untuk Harjo Susanto dan Allen mendapatkan keuntungan bersih, tapi mereka berdua masih sangat ambisius dan mengembangkannya ke tingkat selanjutnya.
Pesta penyambutan Allen akan segera di mulai, tiba-tiba seorang wanita cantik dan pria paruh baya datang masuk ke dalam ruangan, mereka adalah Clarissa dan ayahnya.
Semua orang langsung terdiam, ayah Clarissa adalah pemimpin dari Bank Rakyat. Kekayaan mereka tidak dapat di ukur dengan uang karena hampir semua pinjaman yang mereka ajukan pasti akan berhasil.
Clarissa dan ayahnya mendekati Allen. “Selamat, sekarang perusahaanmu sudah menjadi maju sampai tingkat ini,” kata Clarissa sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Allen tersenyum manis dan menjabat salam dari Clarissa. “Terima kasih, semua itu berkat kebaikanmu.”
Ayah Clarissa menyempitkan matanya, ia bisa melihat Allen adalah orang baik tapi entah bagaimana caranya bisa membangun bisnis sampai sejauh ini. “Bagaimana caramu membangun perusahaan sampai sejauh ini?” tanyanya langsung ke inti pembicaraan.
Clarissa sedikit membentak ayahnya dengan suara pelan, “Ayah!”
Sebagai pemimpin perusahaan Allen tentu saja menjawabnya dengan jujur. “Semua ini berkat rekan-rekanku yang sangat hebat. Dia Tiwi, wakil direktur yang mengurus semua masalah-masalah sederhana.”
Tiwi menganggukkan kepala dan memberi salam. “Selamat malam, paman. Saya Tiwi.”
Ayah Clarissa langsung sadar bahwa semua urusan perusahaan yang menjalankan Tiwi. Ia menghela napas dan mengatakan, “Baiklah, semua sudah selesai ayo kembali.”
“Ayah, bukankah kita menghadiri pesta sampai akhir?”
“Tidak, aku sudah memastikan kebenarannya.”
Tepat sebelum keluar, Koki yang di janjikan datang membawa kopernya. “Maaf aku terlambat,” katanya sambil membungkuk ke arah Ayah Clarissa.
Semua orang melihat makanan yang di makannya, makanan itu tidak hanya enak tapi sangat menggugah nafsu makan. Namun siapa yang menyangka ternyata masakan itu bukan buatan Koki Kota I.
__ADS_1
Clarissa yang sadar dengan kemampuan Allen langsung menoleh ke belakang. “Apa semua ini perbuatanmu?”
Allen tersenyum dan mengatakan, “Sebenarnya aku kurang suka dengan pria yang sering terlambat.”