
Pertengkaran antara Kota R dan Kota K bukan lagi rahasia, semua orang di kedua kota mengetahui hal tersebut. Permusuhan kedua kota berawal dari anak penguasa kota R terlibat pertengkaran dengan anak dari Walikota Kota K, keduanya saling berseteru hingga anak dari penguasa Kota R lumpuh dan sekarang menjadi bunga kamar. Tulang punggungnya terkena benturan benda tumpul hingga bengkok dan tidak dapat diobati oleh medis.
“Aneh, bukankah seharusnya mereka punya medis di kalangan petarung beladiri.” Allen bergumam pelan, ia curiga anak dari penguasa kota R memanipulasi media untuk keuntungannya.
Allen berjalan menyusuri jalan yang masih basah, ia mengepal erat karena merasa sangat lemah. Meskipun fisiknya sudah bertambah kuat, ia sadar tidak bisa mengalahkan William.
“Tenanglah, Allen!” ucap Allen memberikan semangat pada dirinya.
Sebuah bayangan William bertarung dengan pria aneh yang selalu mengatakan “Seni adalah Ledakan.” Gerakan tangan dan pukulan keduanya tampak sangat jelas, meskipun William sangat kuat, ia tidak bisa merobohkan musuhnya.
Tanpa sadar sebuah pemberitahuan sistem muncul di sebelah Allen, tapi ia tidak menyadarinya dan terus berjalan menuju kantor. Angin di sekitar tubuhnya mulai terasa hangat, Allen berhasil membangkitkan salah satu kekuatan yang seharusnya tidak di miliki manusia pada umumnya.
[Selamat, pemain Allen berhasil membangkitkan Teknik Jiwa yang telah sembunyi dalam tubuhnya.]
[Kekuatan mental +1]
[Mental terlalu kuat\, Kekuatan Mental +1](3x)
[Persyaratan naik level telah terpenuhi. Misi Kenaikan Level telah ditambahkan!]
...
Karena terlalu fokus pada angan-angannya, Allen tidak menyadari sederet pemberitahuan sistem. Tanpa terasa ia sudah sampai di alun-alun kota dan bertemu Doni yang sedang menawarkan susu cup ke pengunjung.
Meskipun sudah mendapat pemasukan yang stabil, Tiwi selalu mencetuskan ide baru yang sangat inovatif. Terlihat dari banyaknya preman yang sudah mengenakan seragam dari usaha dagangnya.
Allen melambaikan tangannya. “Don, kesini bentar!”
Doni menoleh ke arah Allen dan segera berlari sambil berkata, “Ok, Bos!”
Beberapa pengunjung mengalihkan pandangannya ke Allen, mereka tampak kagum padanya karena bisa berhasil mengubah kesan preman pada Doni.
“Besok minggu ada pemeran UMKM di Gor Jayabaya, bawa 2 orang untuk menemanimu. Tiwi dan aku mungkin tidak bisa hadir, jadi kamu yang menjadi koordinatornya.”
Allen memberikan kepercayaan penuh pada Doni, ia sudah melihat rasa ingin berubah dari Doni dan teman-temannya. Jadi tidak ada salahnya memberi mereka kesempatan untuk berkembang.
“Tapi...”
Allen menepuk pundak Doni, dan tersenyum tipis. “Jangan merendahkan dirimu, aku yakin kau bisa melakukannya!”
“Baik, Bos!”
Setelah mendapat perwakilannya di pameran UMKM, Allen segera mengajak Tiwi ke lahan kosong untuk Toko Bangunan. Mereka berdua melihat beberapa titik yang menurutnya penting dan segera mampir ke warung di depannya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Allen.
Tiwi hanya bisa tersenyum kecut, menurut pengetahuannya tentang bisnis. Lingkungan ini sangat buruk untuk sebuah Toko Bangunan. Meskipun pengetahuannya terbatas, ia tetap mengatakan pendapatnya.
“Lingkungan ini sangat buruk untuk Toko Bangunan, Bos. Tapi aku akan terus menjalankan rencananya.”
__ADS_1
Allen bisa mengerti apa yang dipikirkan Tiwi, ia hanya bisa menggelengkan kepala. “Butuh 3 tahun untuk melihat hasilnya. Semua orang juga setuju dengan pendapatmu, tapi orang sukses selalu selangkah lebih maju dibandingkan orang biasa."
“Aku masih tidak mengerti yang kamu rencanakan, Bos. Hanya dengan 10 miliar tidak mungkin bisa mengubah lingkungan ini.”
“Serakah dapat membunuhmu, memangnya aku mengatakan ini perjuangan solo?”
Tiwi mengerutkan alisnya, ia masih belum mengerti apa yang dipikirkan bosnya. Namun ia akan terus mengikuti perkembangan dan belajar sesuatu darinya. Meskipun hanya lulusan SMA, Tiwi punya kemampuan luar biasa.
Beberapa alat berat datang dan para pekerja segera mengerjakan proyeknya dengan. Semua izin sudah diurus Kakek Jojo yang punya banyak koneksi di pemerintahan, jadi semua berjalan dengan lancar.
Hari mulai gelap, para pekerja mulai makan malam dan berkemah di sekitar proyek. Allen dan Tiwi ingin menghampiri mereka, tapi 3 truk hitam. Allen bisa merasakan bahwa ada lebih dari 60 orang bersenjata lengkap di dalamnya.
Untuk mengetahui keadaannya, Allen mengaktifkan Mata Dunia untuk melihat setitik masa depan. Pandangannya tiba-tiba kabur dan jiwanya dibawa ke masa depan, ia melihat dirinya menangis di depan mayat wanita.
Allen segera mendekat dan melihat mayat wanita itu, siapa yang menyangka ternyata Alona tertembak tepat di jantungnya. Ia tidak pernah mengingat ini terjadi di kehidupan sebelumnya.
Sayangnya sebelum mengetahui dimana tempat pasti kejadian tersebut, durasi Mata Dunia telah habis. Sontak Allen segera berlari menuju mobil yang terparkir dan segera menancap gas mengikuti rombongan truk.
Tiwi hanya bisa terdiam dan menghela napas. “Bos, selalu bertindak tanpa mengatakan apapun,” katanya pelan sambil mengambil ponsel di saku dan memanggil Doni untuk menjemputnya.
Setelah beberapa menit, Allen berhasil menyusul 3 truk yang beriringan. Tidak lupa Allen menghubungi Alona untuk memastikan keadaannya, walaupun Mata Dunia hanya bisa melihat esok hari, Allen merasa ada hubungannya dengan hari ini.
Tidak lama setelah memasuki kota, 3 truk parkir di sebuah gudang kosong. Allen tidak berhenti dan terus menginjak gas mobilnya untuk menghindari kecurigaan, setelah cukup jauh ia berhenti di sebuah restoran 24 jam.
“Sial!” ucap Allen yang menatap layar ponselnya, 24 panggilan tidak terjawab.
“Nak, hidup ini panjang. Jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil dari wanita.” Pria paruh baya itu adalah orang yang selalu menolong Allen ketika dalam kesulitan.
“Oh, Paman. Dia bukan...”
“Jangan berbohong pada dirimu sendiri, Minumlah!” ucap Paman.
Allen ingin menanyakan nama orang tersebut, tapi entah mengapa penjaga warung kelontong itu mengetahui maksudnya.
“Aku sering dipanggil Budi. Aku juga tahu kamu pemilik kamar mewah di tempatku bekerja, Allen.”
“Bagaimana Anda bisa tahu?”
“Sejujurnya aku hafal semua orang yang masuk dan keluar perumahan mewah itu. Ya, nasibku memang harus seperti ini.”
Allen mengerutkan alisnya, ia sadar betul kemampuan Paman Budi bukan sembarangan. Tanpa sadar teknik jiwa mulai keluar dari tubuhnya dan menyelidiki kekuatan Paman Budi.
Tidak butuh lama bagi Allen untuk menyadari bahwa Paman Budi bukan orang biasa. Setidaknya tubuhnya terlalu sehat dan kuat untuk pria berusia 50 tahunan, itu menandakan bahwa dia adalah petarung bela diri.
“Paman, bagaimana Anda bisa bekerja di banyak tempat?”
Allen langsung merujuk pada inti pembicaraan, tidak mungkin seorang petarung beladiri menjadi penjaga warung kelontong.
“Aku hanya terbuang dari keluarga, huh ceritanya panjang.”
__ADS_1
Tanpa sadar pembicaraan mengalir hingga Paman Budi menceritakan semua kejadian kejam yang menimpa dirinya. Semua berawal dari seorang wanita yang Budi dan saudaranya sukai, awalnya persaingan mereka tampak sehat dan biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu, saudara budi mulai menggunakan cara licik dan merebut kekasihnya dengan harta.
Budi merasa harta tidak penting untuk petarung beladiri sepertinya. Namun keluarga mereka membutuhkan sumber daya untuk meningkatkan kemampuan pengaruhnya. Lambat laun Budi diasingkan dan diusir dari keluarganya, sekarang ia hanya seorang penjaga warung kelontong dan pelayan di restoran.
Meskipun sudah berumur 50 tahunan, ingatan dan fisiknya masih segar dan bertenaga. Hal itu wajar di kalangan para petarung beladiri, bahkan rumor ada pria tua berumur ratusan tahun masih bugar.
Alasan Budi bekerja di beberapa tempat karena ia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seniman beladiri tidak mungkin melupakan kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi makanan sehat dan beberapa sumber daya khusus. Oleh karena itu Budi harus punya banyak uang.
“Paman, aku bukan orang kaya. Tapi... maukah Anda bekerja denganku?” tanya Allen langsung melempar jaring.
“Nak, dunia beladiri itu kejam. Lebih baik jangan terlibat atau kau akan merasakan neraka dunia.”
“Tenanglah, Paman. Aku bukan orang lemah.” Allen mengepalkan tangannya dan melepaskan energi jiwa yang tanpa sadar ia kontrol dengan mudah. Kepalan tangannya tampak hangat menandakan bahwa Allen telah melangkah menjadi petarung beladiri sejati.
Melihat Allen yang masih mudah berhasil menciptakan aura merasa tercengang. “Anak muda sepertimu sudah menjadi pejuang tingkat 3, sungguh mengesankan!”
Allen hanya tersenyum, ia tidak mengetahui tingkatan di dunia ini karena selama ini hanya bermain dengan komputer.
[Selamat, pemain Allen berhasil mengendalikan jiwa dengan sempurna. Level dua telah terbuka.]
[Status : Pemain Allen]
Level : 2
Kekuatan tubuh : 10
Stamina : 10
Konsentrasi : 10
Mental : 6
Wibawa : 5
Aura : 10
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa.
Mata Dunia.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa).
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 0
Bonus poin skill : 0
__ADS_1