
Allen tiba di Kota K, sambutan hangat langsung ia terima. Dua pria berpakaian serba hitam menyerangnya tanpa peringatan.
Sigap Allen langsung solto ke belakang menghindari serangan musuh. Matanya langsung fokus dan memancarkan kilatan petir berwarna ungu kehitaman.
[Iblis Kecil
Umur : 100 tahun
Elemen : Kegelapan
Total Kekuatan : 35.237.]
Dua orang tampak sama persis, mereka hanya iblis kecil yang tak punya nama. Namun anehnya, meskipun lemah mereka punya fisik yang sangat sempurna.
"Kenapa para iblis menyerangku?" tanya Allen sambil membersihkan pakaiannya.
"Oh, jadi kamu tahu kami iblis. Misinya membunuhmu atau menghilangkan satu tanganmu." Seorang Iblis menjawab dengan jujur.
"Sejak kapan Iblis menjadi sangat jujur!." Allen tanpa peringatan mengubah rambutnya menjadi putih.
Semua indranya bekerja maksimal, kakinya mulai melangkah dan tiba-tiba tubuhnya sudah di depan salah satu iblis. Pedang Pendek diayunkan setenang aliran air, dalam sekejap mata satu Iblis dieksekusi.
"Si... Siapa kamu sebenarnya?" tanya Iblis Kecil gagap ketakutan.
Allen bukan orang pemaaf, ia langsung bergerak dan mengalahkan lawannya dengan satu gerakan.
Rambutnya berubah menjadi hitam lagi, Monster Bayangan memakan tubuh iblis. Energi yang diterima lebih melimpah daripada membunuh manusia atau monster.
"Jadi ini alasan mengapa tubuh mereka sangat kuat." Allen berhasil sedikit menggali ingatan dua Iblis Kecil.
Alasan mengapa Fisik para iblis sangat kuat karena mereka terus berlatih di bawah panasnya api neraka. Sekarang dia juga tahu mengapa para iblis itu berhasil keluar dari Neraka. Itu semua karena ulah manusia yang tidak puas dengan kemampuannya. Akhirnya mereka memilih untuk mengorbankan jiwanya pada iblis neraka.
"Mungkinkah Ragnarok akan terulang kembali? Siapa yang tahu?." Allen membuang pikiran nyelenehnya dan segera melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di kantor, ia melihat tidak ada yang berubah. Semua karyawan bekerja dengan baik dan tampak bahagia.
Allen membuka pintu ruangan Tiwi. "Apa semuanya sudah selesai? Kenapa semuanya terlihat senang?"
Tiwi berdiri dari kursinya dan menjawab, "Keluarga besar dari Kota A menghubungi kita. Mereka siap memberikan jalan untuk perluasan bisnis disana. Ditambah lagi Keluarga Son sudah menyatakan bahwa mereka siap mendukung Perusahaan Allen."
Dua berita tadi sangat menggembirakan untuk semua orang. Tidak hanya gaji mereka naik, ada kesempatan untuk para karyawan di pindahkan ke Kota lain.
Tiwi sudah membuat rencana, setengah dari karyawan akan dipindahkan ke Kota S dan Kota A. Dia tidak tahu mengapa dua orang besar itu memberi mereka tawaran.
"Kerja bagus, aku serahkan semuanya padamu. Tapi ingat, selalu gunakan kemampuanmu untuk menilai orang." Allen tersenyum manis dan meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Baik, Bos." Tiwi sedikit terkejut mendengar Allen mengetahui kemampuan bawaannya.
[Tiwi
Umur : 19 tahun.
Elemen : Air, Cahaya, Tanah
Total Kekuatan : 42.320.
Kemampuan Bawaan : Punya mata untuk mendeteksi kebenaran - Eye of Truth.]
Kemampuan bawaan tidak bisa dibangkitkan sebelum melatih teknik khusus. Tiwi bisa membangkitkannya sendiri tanpa seorang guru, bakat ini jauh melebihi pengetahuannya. Allen berjalan keluar kantor dan menuju tempat kediaman Ye Mo.
"Mereka berhasil lolos?" tanya Allen pada Ye Mo.
Ye Mo menjawab, "Dua bajingan itu punya banyak trik. Aku kehilangan jejaknya, Shera dan Pedro sedang mencarinya."
Entah mengapa tiba-tiba Allen berkata dalam pikirannya. "Shera, Pedro kembali sekarang. Lupakan mereka berdua!."
Shera dan Pedro mendengar suara di kepalanya, mereka bisa mengenali itu suara Bosnya. Tanpa keraguan mereka putar balik dan langsung kembali ke tempat Ye Mo.
"Kemarin aku bertemu seseorang dari Keluarga Son, kelihatannya keluargamu dalam masalah besar. Apa kau tidak berniat membantu mereka?" tanya Allen dengan suara pelan.
Ye Mo terdiam memikirkan jawaban yang paling benar. Jika dia menjawab iya maka akan mengabaikan tempat kediaman yang diserahkan padanya, tapi kalau sebaliknya Keluarga Ye akan musnah.
Allen mengerutkan kening dan bertanya, "Bagaimana kalian tahu aku menyuruhmu kembali?"
Pedro menjawab dengan lantang, "Ada suara yang menyuruh kami kembali. Suaranya persis seperti anda."
"Tenanglah, aku tidak ingin kalian berkata formal. Jadi apa sekarang kalian mendengarnya?" tanya Allen. Kemudian ia mengirim telepati lagi seperti sebelumnya.
Shera dan Pedro mengangguk, mereka mendengar suara Allen yang ditujukan padanya.
Tanpa disadar Allen menemukan teknik baru untuk menghubungi rekan-rekannya.
"Baiklah, sekarang kalian pergi dulu. Aku ingin mendengar jawaban Ye Mo." Allen mengirim telepati pada Shera dan Pedro.
Tanpa peringatan, Pedro dan Shera pergi menggukan Langkah Bayangan. Mereka menuju tempat Drakula untuk berlatih.
Ye Mo masih diam, kelemahannya adalah terlalu banyak memikirkan resiko. Allen tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menunggu jawaban hingga berjam-jam.
Setelah hari mulai petang, Ye Mo membuka mulutnya dan ingin menjawab. "Tuan, maafkan aku. Tapi ayah dan ibuku dalam bahaya, izinkan aku pergi!."
Allen tersenyum puas. "Kalau kau menjawab tetap tinggal disini, aku sendiri yang akan memotong lehermu!."
__ADS_1
Hawa membunuh dilepaskan, Allen terlihat sangat mengerikan dengan kikatan petir ungu kehitaman disekujur tubuhnya.
Ye Mo kesusahan napas, hawa membunuh tuannya lebih instens dari sebelumnya. Jika saja dia menjawab salah, dapat dipastikan kepalanya akan melayang.
"B... baik... B... Bos!" jawab Ye Mo terbata-bata.
"Sekarang pergilah, kami akan menyusul setelah menyelesaikan urusan disini." Allen sengaja membiarkan Ye Mo bergerak sendiri.
Di waktu yang sama Allen mengirim telepati ke semua rekannya di Kota K. Mereka semua disuruh mempersiapkan diri untuk pertarungan nyata.
Budi dan 20 orang yang tersisa sampai duluan, mereka tampak cukup bagus setelah pelatihan intens.
Allen memberi mereka semua topeng. "Karena kalian sudah membangkitkan Prinsip Jiwa, aku harap kalian tidak akan membocorkan informasi kita."
"Baik, Bos!" jawab semua orang bersamaan.
Budi berdiri di sebelah Allen, disusul pria berkulit putih, dan Perempuan muda.
Drakula dan Tiwi sampai bersamaan, keduanya saling menyapa dengan senyum ramah.
Shera dan Pedro juga sampai dengan topeng dan pakaian lengkap untuk pertarungan.
"Sejak awal kalian bergabung dengan kelompok ini, sudah aku katakan resikonya. Kali ini musuh ingin menghancurkan keluarga salah satu saudara kita, jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Allen dengan tatapan serius.
"Hancurkan, bunuh!." Semua orang menjawab dua kata yang sama. Entah darimana mereka mendapatkan kata-kata itu, tapi Allen suka.
"Benar, kita tidak bisa membiarkan saudara kita menderita. Persiapkan diri kalian, besok pagi kita bergerak. Tiwi, serahkan perusahan pada Eksekutif Keluarga Son." Allen memberi perintah.
"Siap, Bos!."
Robert Moldova harus menjaga keluarganya, jadi dia tidak harus ikut. Son Hyuk masih mengasingkan diri di Pulau Nemo. Chris tidak mungkin ikut campur dalam urusan keluarga rendahan, jadi tidak mungkin meminta bantuannya.
Jery dan Yone baru sampai, mereka bertugas di ujung kota jadi membutuhkan waktu. Mereka berdua juga mendengar semua pembicaraan kelompoknya.
Allen menghirup napas dengan tenang, tangannya di angkat ke depan. Tanah bergerak dan membentuk berbagai peralatan.
"Gunakan itu, mereka hanya besi biasa tanpa kekuatan khusus. Tapi punya ketahanan yang cukup baik." Allen tampak pucat karena menggukan kekuatan Tanah terlalu berlebihan.
Siapa yang tidak terkejut melihat pedang, armor ringan, dan sepatu ringan diciptakan dari kekosongan. Bahkan Drakula sekalipun ternganga melihatnya, dia tidak pernah melihat keajaiban seperti ini.
Allen segera meninggalkan tempat dan bermeditasi memulihkan kekuatannya.
Anak asuh Budi langsung membagi senjata sesuai minatnya. Anehnya senjata itu pas dengan minat 20 orang.
"Sekarang bubar, segeralah berpamitan pada orang tua atau kekasih kalian. Anggap ini adalah hari terkahir kalian!" teriak Budi membakar semangat regunya.
__ADS_1
"Baik, Komandan!."