Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Tugas Pertama


__ADS_3

Allen duduk memperhatikan dua bocah 17 tahun yang sedang berlatih. Ia langsung mengajarkan keduanya teknik Langkah Bayangan.


Ye Mo tidak ada karena ia belajar sendiri di rumah penginapannya. Allen tidak bisa memaksanya, karena dia adalah jenius beladiri, membiarkannya berkembang sendiri bukan pilihan buruk.


"Langkah pertama menjadiq penentu kesuksesannya, jangan lupakan sensasi menghilangnya." Allen dengan suara tegas sambil menunjuk pijakan Pedro.


Shera langsung memahaminya, kakinya melangkah pelan dan hawa keberadaannya mulai menghilang. Namun kemampuannya hanya bertahan 1 detik saja.


Pedro melihat Shera yang berhasil menggukan Langkah Bayangan. Bukannya berkecil hati, ia justru bertambah semangat dan terus merasakan sensasinya.


Allen sebagai guru tidak membiarkan muridnya tersesat, ia segera mendekat dan menepuk pundak Pedro.


"Jangan terlalu kasar, bayangkan kau sedang menginjak air yang lembut." Allen melangkah dengan lembut, kaki kanannya menginjak tampak akan menginjak tanah tapi tiba-tiba kaki kirinya sudah ada di depan.


Pedro membelalakkan matanya, ia jelas masih dalam konsentrasi penuh. Ia sama sekali tidak kehilangan fokusnya, tetapi Allen berhasil mengelabuhinya.


"Fokusnya bukan pada bagaimana kau malangkah tapi bagaimana kau mempermainkan kecepatannya."


Shera yang mendengar arahan Allen langsung mempraktekkannya. Ia langsung mendapat pencerahan dan berhasil menghilangkan hawa keberadaannya selama 2 detik.


Pedro memang tidak secerdas Shera dalam menguasai sesuatu. Namun tekadnya tidak akan pernah kalah. Pedro terus mengulangi gerakannya sesuai petunjuk gurunya.


Shera duduk dan mengedarkan energi jiwa ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya menjadi hangat dan perasaan mau muntah muncul.


Setelah beberapa saat, Shera tampak pucar dan memuntahkan cairan kental berwarna hitam. Matanya terbelalak tidak percaya, ia segera merangkak mundur karena ketakutan.


Allen mendekat dan mengatakan, "Tidak perlu takut. Cairan hitam itu kotoran di dalam tubuhmu."


Shera langsung menenangkan dirinya, ia duduk dan kembali tenggelam dalam meditasinya. Energi jiwa terus berputar hingga membuat wadahnya semakin besar.


Pada zaman sekarang wadah penyimpan Mana atau Aura disebut Dantian. Namun pada zaman dahulu kala, tidak ada yang namanya Dantian, para pendahulu menyimpan energinya di Ruang Tanpa Batas.


Allen menyentuh perutnya, ia merasa Dantian di dalam tubuhnya sedang bergejolak. "Aku masih belum bisa mengendalikannya."


Pedro tidak berhenti, ia berusaha keras menggunakan Langkah Bayangan. Ia menghabiskan 8 jam hanya untuk bisa merasakan sensasi yang benar. Tidak mau menyerah, ia terus mengulangi gerakannya hingga terbiasa.


Karena matahari sudah tenggelam, Allen pergi menemui Tiwi yang masih berada di dalam ruangan.


"Sepertinya kau sedang senang." Allen tersenyum tipis dan segera duduk di sofa depan mejanya.


Tiwi berdiri dan duduk di kursi depan sofa. "Kita punya banyak komplain dari investor, 50% investor mau menarik dananya. Sesuai perjanjian, mereka harus menawarkan harga sahamnya di bawah pasar. Keuangan kita sendang melambung, jadi aku membelinya semua. Sekarang Perusahaan punya 87% saham." Tiwi mengungkapkan laporan terkini perdagangan saham internal.


"Lakukan sesukamu, aku tidak ingin ikut campur masalah itu. Tenang saja, mereka yang keluar pasti akan menyesal." Allen mengatakannya sambil mengambil teko dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri.


"Terus apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


Allen mulai menyeruput teh di cangkir. "Tunggu suasana lebih panas, setelahnya ambil tindakan dan buat pengaduan pada 8 lembaga yang menyatakan kita melakukan pencucian uang."


Pernyataan berani Allen terdengar seseorang, ia adalah penyadap handal yang dikirim oleh Perusahaan dari Kota R.


Allen mengangkat tangannya sejajar dengan dada. Ia membuat huruf dengan jari-jarinya untuk menyampaikan pesannya.


"Ada mesin penyadam, buat dirimu nyaman." Petunjuk Allen segera dimengerti.


Tiwi mengangguk, ia tahu bahwa ada seorang penyadap dan Allen menyuruhnya untuk bertindak biasa. Sesuai perintahnya, Tiwi membeberkan beberapa berita palsu untuk membingungkan lawannya.


20 kilometer jauhnya, ada seorang Pria menggunakan topi berwarna biru tua. "Oh, jadi para bocah-bocah itu menggunakan trik murahan."


Pria lainnya menyahut, "Bodoh... Kau juga masih bocah!"


"Aku sudah 18, Sialan. Lihatlah tubuh pendekmu!"


"Brengsek, kau menghinaku. Persiapkan dirimu ku gantung di tiang antena!"


Kedua pria itu saling bertengkar, tangannya saling beradu dan mencoba meraih rambut satu sama lain.


"Hentikan pertengkaran kalian, sekarang laporkan ke Bos." Seorang Pria berkacamata menghentikan pertengkaran mereka.


Pria kedua keluar dari ruangan, sebuah tinju tiba-tiba menghantam wajahnya. Pukulan itu dari seorang Pria berbadan besar yang mengenakan topeng.


"Jadi kalian para tikus yang mengawasi kita." Pria bertopeng hitam mengangguk dan kakinya melangkah pelan.


Dua Pria yang tersisa berfokus pada langkahnya, mata mereka mulai terbelalak ketika melihat Pria Besar sudah ada di depannya.


Serangan tinju selanjutnya mengarah padanya, Pria Berkacamata langsung berinisiatif menghentikannya menggunakan sikunya.


Tinju Pria Bertopeng tiba-tiba tembus dan pukulan telak mengarah ke wajahnya. Pria Berkacamata dikirim terbang hingga menabrak tembok pembatas.


Pria pertama ketakutan, ia hanya seorang peretas dan tidak punya kemampuan beladiri. Pria Bertopeng menyerang tengkuknya dan seketika ia pingsan.


Pria Berkacamata berusaha berdiri sambil mengusap mulutnya yang di penuhi darah. 3 gigi depannya pecah, Pria Berkacamata hanya bisa menahan sakitnya.


"Siapa kau?"


Pria Besar hanya diam, ia tidak mau mengungkapkan identitasnya. Tanpa memberitahu musuhnya, Pria Besar menggunakan tinjunya untuk menghancurkan 5 gigi lainnya.


Sosok wanita lainnya muncul menggunakan topeng hitam. "Biarkan kami yang mengurusnya. Ada 3 target lainnya," katanya.


Pria Besar langsung meninggalkan ruangan, target selanjutnya sudah menantinya. Awalnya ia beranggaoan bahwa lawannya sangat kuat, tapi ia harus kecewa karena Pejuang Tingkat 4 bukan lagi saingannya. Pria di balik topeng itu tidak lain adalah Budi.


Pria lainnya juga muncul, ia masih mengatur napasnya supaya tetap stabil. "Shera, kau sangat cepat."

__ADS_1


"Jangan sebut namaku, Guru mengingatkan kita untuk tetap menyembunyikan identitas ketika mengenakan topeng ini." Shera menunjuk topeng hitam yang dipakai.


Pedro yang ada di balik topeng tersenyum tipis, ia lupa mencatatnya. "Oh, iya. Ayo bawa tiga orang ini ke markas."


"Tidak perlu, kita harus membawanya ke mobil. Sepertinya ada orang kuat sedang mengarah kesini."


Sebelum Shera dan Pedro berhasil melarikan diri, seorang Pria Tua bermata merah berdiri di depan pintu. Raut wajahnya tampak sangat marah, ia menatap tajam ke arah Shera dan Pedro.


"Bajingan, aku akan membunuhmu!"


Pria Tua itu melesat maju bagaikan sebuah panah yang baru lepas dari busurnya. Kepalan tinjunya disiapkan, aura hitam gelap langsung menerobos keluar dari tubuhnya.


Shera dan Pedro tahu Pria Tua itu sangat kuat, keduanya tidak memiliki kesempatan menang. Pedro langsung maju ke depan dan tersenyum tipis.


"Aku akan menghentikannya, pergilah!"


Shera menggelengkan kepala, ia tidak mau meninggalkan Pedro. "Ayo hadapi bersama!"


Tepat setelah mengatakannya, Shera mendapat serangan dari belakang. Sebuah pisau tajam mencoba menebas lehernya, tapi Shera berhasil mengelak dan berputar ke samping.


Darah keluar dari leher sebelah kanannya, Shera membiarkan darahnya mengalir hingga ke pundak.


Pedro juga menerima serangan kuat dari Pria Tua, pukulannya mengarah ke perut. Rasanya seperti di pukul gada baja.


"Argh..." Tanpa sadar Pedro berteriak kesakitan.


Shera sedikit mengalihkan pandangannya ke Pedro, serangan pisau lainnya datang. "Siapa kau?" tanyanya sambil salto kebelakang.


Seorang Pria Kurus menjilat ujung pisau yang berlumuran darah Shera. "Anak muda, mengagumkan!"


Pria Kurus dan Pria Tua itu terlihat sangat kuat, tidak mungkin Shera dan Pedro lolos dari situasi ini.


Shera dan Pedro punya satu kartu lagi yang belum di gunakan, keduanya saling memandang dan mengangguk.


Shera berlari ke kanan dan melompat keluar jendela. Sedangkan Pedro masuk ke lorong sebelah kanannya.


Keduanya langsung menggukan Langkah Bayangan dan hawa keberadaannya langsung menghilang selama beberapa detik.


Pria Tua dan Pria Kurus membagi tugas, keduanya langsung berpencar untuk mengejar mangsanya.


Shera berhasil lolos dengan mudah karena keterampilannya sangat hebat. Berbanding terbalik dengan Pedro yang sudah tertangkap di dekat rumah persembunyiannya.


"Bocah Nakal, kau membuat ini semakin rumit. Ayo selesaikan!"


Sosok Pria berbaju hitam dengan topeng misterius muncuk dari belakang dan langsung memotong leher Pria Tua. "Sepertinya ada sedikit masalah," katanya.

__ADS_1


__ADS_2