
Allen tidak percaya dengan tampilan sistem yang menunjukkan kekuatan David, bisa dibilang itu hal seperti itu mustahil dimiliki pria sepertinya. Kecurigaan muncul, Allen harus mulai waspada dengan orang di sebelahnya.
Meskipun mencurigakan, Allen belum menyadari kejadian yang membahayakan nyawa Clarissa dan Alona adalah David. “Ya, sudah lama tidak bertemu. Apa yang membuatmu datang?” tanya Allen.
“Tentu saja menonton persidangan, ayah memaksaku datang. Sungguh menyebalkan.” David bersikap santai dan mengalir seperti air, penyamarannya sungguh sempurna.
“Perusahaanku bermasalah dengan beberapa pebisnis dari Kota R.” Allen mencoba memancing pembicaraan, walaupun baru di sektor ini ia masih bisa membaca orang seperti David.
Sayangnya David tampak tidak peduli, ia masih riang seperti biasanya. “Oh, sekarang kau punya perusahaan, pantas saja katanya kau keluar dari perusahaan William.”
Penyamaran David tidak bisa disaingi, kemampuannya menyembunyikan emosi sangat terlatih. Meskipun dalam pikirannya ia berkata, “Sial ternyata bocah ini yang membuat ayah marah-marah!”
Ayah David bukan orang sembarangan, ia marah karena salah satu pemberi uang mereka mulai bangkrut. 5 perusahaan besar di Kota R adalah milik keluarga David, walaupun tidak miliknya secara langsung, mereka bisa mengontrol arah perusahaan.
Meskipun sedikit ada sedikit perubahan di raut wajahnya, Allen melihatnya karena dia juga seorang Pejuang Beladiri. “Jadi tebakanku benar, bocah ini bukan orang biasa,” katanya dalam hati.
Sejujurnya Allen tidak ingin berurusan dengan orang jenius seperti David, tidak hanya lulus menjadi doktor di umur 25, ia juga punya banyak koneksi dengan para petinggi pemimpin kota.
“Aku masuk dulu, jadwal kita cukup padat hari ini.”
Allen dan Nathan masuk ke dalam ruang persidangan sesuai dengan jadwal, ekspresi mereka cukup tenang. Berbeda dengan David yang sedikit kesal karena diabaikan, ia sekarang mengerti mengapa 5 perusahaan besar di Kota R bisa jatuh separah ini.
“Eksekusi sistem perusahaannya, hancurkan semua berkas dan rekayasa semua bukti.” David memberi perintah pada pengawalnya, ia merasa persidangan ini tidak akan selesai dengan mudah.
“Baik, Tuan.”
David tidak ingin masuk dulu, ia harus mendapatkan kabar baik sebelum masuk. Bukannya kabar baik yang diterima, malah kabar buruk yang menyayat hatinya.
“Gawat, Tuan. Serangan semua peretas yang kita sewa dikembalikan, semua berkas dan bukti kita di komputer hilang, hanya ada berkas kertas yang masih dalam perjalanan kesini.”
“Ternyata kau tidak bodoh, Allen. Aku akui ini sebagai deklarasi perangmu.”
Mobil tim pembela 5 perusahaan besar datang beriringan. Mereka semua membawa berkas yang sangat tebal untuk menjadi pertimbangan para hakim. David memastikan bahwa berkas yang mereka bawa sudah benar, karena berkas salinannya sudah hilang.
“Semua aman, Tuan. Kita tidak kehilangan satu pun.”
__ADS_1
“Baiklah, kita mungkin mendapat sedikit kerugian. Jangan biarkan dia mengambil keuntungan!” kata David memberikan perintah.
Sosok pria mengenakan topeng hitam mengintip dari belakang pilar, dia adalah Allen yang menyamar dan menghilangkan keberadaannya. Sekarang dia yakin David bukan orang biasa, jadi lebih baik tetap waspada.
Setelah memastikan kebenarannya, Allen segera kembali dengan wajah yang sangat ceria. “Semua berjalan lancar, Nathan berikan penjelasan sesuai yang direncanakan,” bisik Allen.
“Aman, Bos.”
Suara pukulan palu kayu terdengar menandakan persidangan akan segera di mulai. Semua hadirin berdiri untuk menyambut hakim agung yang akan memimpin persidangan.
5 orang masuk ke dalam ruang persidangan, mereka tampak ketakutan karena ancaman David di belakang. Namun semua aibnya di pedang pihak musuh, jika tidak membelanya mereka akan habis.
Para wartawan mulai berdatangan dan masuk, mereka menyalakan kamera untuk menonton jalannya persidangan supaya lebih terbuka. Hakim agung sedikit terkejut dengan perkembangan ini, ia tidak menerima laporan bahwa wartawan boleh masuk ke dalam ruang persidangan.
“Apa-apaan ini, siapa yang memberi kalian izin masuk?” tanya Hakim Agung.
“Kepala pengamanan memberi kami izin, jadi lanjutkan persidangan sesuai prosedur, Hakim.” Seorang wartawan menjawab dengan suara lantang, mereka mendapat dukungan para penegak keamanan.
Allen sedikit menyempitkan matanya, ia memandang seorang pria yang mengintip dari balik pintu sebelah kanan. Meskipun samar Allen bisa melihat wajah Reza yang tersenyum karena berhasil mengadu domba dirinya dan David.
“Sial, ini terlalu cepat.” Allen merasa dirinya masih belum cukup kuat untuk berhadapan dengan David dan Reza secara bersamaan. Bukan dalam kekuatan fisik, tapi dalam kemampuan berbisnis dan koneksi.
“Silahkan maju ke depan, Tuan Allen,” pinta Hakim Agung.
“Baik.” Allen maju ke tempat yang sudah di persiapkan.
“Baiklah, untuk pertanyaan pertama. Apa kerugian Anda akibat kasus ini?”
Allen tersenyum manis, ia sudah tahu jawabannya tapi Hakim Agung sudah mempersiapkan bantahan yang cocok. Makanya ia sedikit memberi bumbu pada fakta yang terjadi.
“Bisa terlihat dalam halaman 59 laporan kami, kerugiannya melebihi 3 triliun rupiah. Itu semua terjadi karena banyaknya pesanan yang dibatalkan. Para eksekutif yang menerima suap juga membawa barang berharga perusahaan sesuai bukti nomor 12, lebih parahnya lagi mereka memberikannya pada perusahaan lain.”
Hakim Agung membalik halaman sesuai yang dikatakan Allen, ia sedikit terkejut anak berusia 23 tahun itu bisa mengatakan jawaban persis sesuai tuntutan yang di layangkan.
“Jika seperti itu, bukankah Anda seharusnya menuntut individunya?”
__ADS_1
“Awalnya memang seperti itu, tetapi setelah melakukan penelusuran ternyata produk kita juga di tiru. Hal itu terjadi satu tahun yang lalu, artinya para eksekutif itu sudah berkoalisi dengan pihak pesaing atau tertuntut.” Allen mengatakan semua pemikirannya dengan sangat mulus.
Persidangan mulai mengarah ke Allen tapi David masih diam, ia sudah mengancam Hakim Agung dan dipastikan kemenangan ada di pihaknya. Setelah rangkaian yang panjang, akhirnya pihak tertuntut mulai menyerahkan berkas pembelaan.
Lima hakim yang mendapatkan berkas hanya bisa terdiam, mereka semua mendapat ancaman dari 5 perusahaan besar Kota R.
“Apa mereka gila!” kata Hakim Agung dalam hatinya.
Halaman pertama dan kedua tidak ada masalah, tetapi setelah masuk ke halaman 3 semua kosong. Hanya kertas putih beserta nomor halaman di bagian bawah. Hakim Agung kebingungan, ia melihat kanan dan kiri untuk meminta solusi.
“Karena waktu terbatas, pembacaan pembelaan penuntut akan ditunda. 3 jam lagi kita akan melanjutkannya.” Hakim Agung memutuskan untuk menunda waktu persidangan karena berkas yang mereka terima kosong. Tidak hanya satu berkas, tetapi semua berkas.
Allen tersenyum tipis, ia segera meninggalkan ruang persidangan. Semua itu bukan kelakuannya, sebelum masuk ke ruang sidang kembali ia sempat mengunjungi ruang pembela penuntut. Karena ingin membuatnya semakin jelas, Allen menukar pembelaan tertuntut dengan kertas kosong tapi siapa yang menyangka ternyata kertasnya sudah kosong.
Allen sudah tahu siapa pelakunya, Reza pasti terlibat dalam pertengkarannya dengan David. Bisa dibilang Reza melempar kayu bakar di kobaran api, sehingga masalah menjadi semakin besar.
Pelaku utama yang memperbolehkan para wartawan masuk ke ruang sidang juga karena Reza. Awalnya itu ide Allen, tapi siapa yang menyangka ternyata pemikirannya dengan Reza sama persis.
Allen dan Nathan pergi ke tempat kopi, mereka berdua membicarakan semua rangkaian persidangan sampai berita di televisi mengatakan nama Reza.
“Seorang anak muda yang sangat dermawan, beliau memberi makan 1000 anak yatim...”
Reza muncul terus di berita, ia adalah sosok yang sangat dermawan dan suka menolong orang lain. Ketika ada bencana, di situlah Reza akan tampil dan membantu mereka. Karena itu masyarakat dunia menjulukinya sebagai malaikat surga.
“Apa pendapatmu tentang, Reza?” tanya Allen.
Nathan menyeruput kopi hangatnya. “Dia pria hebat yang dermawan, tapi semua itu pasti untuk meningkatkan popularitasnya.”
“Orang hebat ya... sepertinya matamu buram,” ucap Allen dengan suara pelan.
“Kenapa bisa begitu, Bos?”
“Belum saatnya kau tahu siapa sebenarnya pria bernama Reza. Sebaiknya kita fokus memperluas lini bisnis.” Allen tidak mau menceritakan keburukan Reza pada semua orang, hal itu mungkin saja menjadi bumerang untuknya. Seperti yang diketahui, Reza punya banyak mata-mata di seluruh dunia.
“Ah, tidak seru.”
__ADS_1
Allen tidak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya ke gedung pengadilan. Senyum di bibirnya tiba-tiba terbentuk, ia bisa melihat Hakim Agung membanting berkas kosong milik penuntut.
“Nathan, perintahkan seseorang untuk menyadap ruangan nomor 49 lantai 3,” kata Allen.