
Cerita tentang perang manusia, dewa, dan iblis sudah di lupakan. Hanya para peri yang dapat mengingatnya karena kejadian itu sudah sangat lama dan tidak menarik untuk dibahas. Namun semua manusia yang punya kekuatan berasal dari zaman itu, semua manusia jahat maupun baik bekerja sama mengalahkan musuh. Mulai dari situ juga para peri mau membuat kontrak dengan manusia, meskipun harus memakan waktu lebih dari 100 tahun atau lebih tepatnya pada zaman para pemburu monster.
Dari zaman ke zaman lain, manusia menyebut kekuatan mereka berbeda-beda. Pada awal pertumbuhan manusia mereka menyebutnya Energi, kemudian berganti menjadi Prana, Mana, Aura, Ki, dan lain sebagainya. Namun satu hal yang pasti, semuanya berawal dari jiwa setiap makhluk hidup.
Pemimpin Seven Soul mengetahui hal tersebut, makanya dia mengembangkan metode yang terus menerus di turunkan ke garis keturunan yang dianggap layak oleh teknik itu sendiri.
“Artinya Teknik Jiwa ini punya kesadaran?” tanya Allen penasaran.
“Aku tidak tahu bagaimana teknisnya, yang pasti pemilik teknik jiwa bukan orang jahat. Tapi sebagian dari mereka membunuh tanpa mengedipkan matanya, aku juga bingung tentang itu.” Peri Tanah mengungkapkan pendapatnya tentang garis keturunan yang mendapatkan teknik itu.
“Bagaimana cara membedakan baik dan buruk?”
Peri Tanah mengangguk dalam hatinya ia berkata, “Pantas saja dia membangkitkan Teknik Jiwa di umurnya yang sudah cukup matang.” Ternyata ia baru sadar bahwa kebaikan dan kejahatan sebenarnya berdampingan, atau orang dulu menyebutnya Yin dan Yang.
“Tidak ada yang tahu mana yang baik dan buruk, tapi yang pasti pengguna teknik jiwa tidak akan pernah hidup tenang karena musuh akan menyiksamu hingga titik darah penghabisan. Mungkin ini tanggung jawab yang disandang oleh para pengguna Teknik Jiwa.”
Kebenaran itu terdengar sangat menyakitkan, tapi Allen sudah siap akan semua kondisi karena sudah melangkah ke dunia Pejuang Beladiri. “Jangan khawatirkan aku tentang hidup tenang, sebagai seorang Pejuang Beladiri aku tidak akan gentar!” katanya dengan suara tegas.
“Aku tidak akan menghalangimu, yang pasti ayo latihan dulu cara menggunakan pedang dan tombak.” Peri Tanah memberikan isyarat untuk memulai latihan. Pengajarannya sedikit berbeda dengan Silvy karena Peri Tanah menggunakan metode kuno yang sering di praktikkan anggota Seven Soul.
Pedang yang biasa digunakan Allen disarankan menggantinya dengan pedang pendek 50 centimeter, itu dilakukan supaya memaksimalkan gerakan tubuh dan kecepatan yang dimiliki. Para pejuang yang Peri Tanah lihat sering memanfaatkan gerakan kaki untuk meningkatkan pergerakan tubuh bagian atasnya.
Allen mengambil sebuah batu dan memangkas ujung pedangnya yang terbuat dari besi biasa. Meskipun hanya besi biasa jika di selimuti aura pedangnya tidak akan patah, dengan catatan lawannya tidak menggunakan aura.
Peri Tanah menggelengkan kepala ketika melihat Allen mematahkan pedangnya dengan batu. “Gunakan elemen tanah untuk memangkas pedangmu dengan rapi,” katanya memberikan saran.
Setelah mendengarnya, Allen segera mengalirkan elemen tanah untuk membentuk ulang pedangnya. Sesuai dengan perkataan Peri Tanah, pedang yang awalnya tidak beraturan sekarang sangat rapi dan tajam.
“Tingkatkan kapasitas auramu dan tempalah pedang itu dengan elemen tanah, meskipun aku tidak sepintar gadis air itu, setidaknya pemahamanku tidak kalah darinya.”
Tanah dapat menciptakan logam, itulah kemampuan istimewa Peri Tanah, tapi ia tidak mau mengatakannya karena harus Allen sendiri yang mengalaminya. Berbeda dengan Peri Air yang langsung menunjukkan keterampilan istimewanya yaitu Es, kemampuan Logam terlalu menentang hukum alam. Jadi Peri Tanah tidak akan mengatakannya.
Peri Api sangat bosan mendengar ceramah dari kakek tua, ia tampak sangat mengantuk di atas batu. Kapasitas aura di dalam tubuhnya sudah maksimal jadi ia hanya menunggu tuannya menggunakan api.
Allen menutup matanya, ia mencoba mengingat pergerakan penculik. Meskipun mereka menggunakan pisau, teknik mereka dapat dijadikan referensi penggunaan pedangnya.
Sayatan, tebasan, dan tusukan terus diulangi sambil menutup mata. Allen mulai merasakan bahwa ada kejanggalan di hatinya, ia merasa mempelajari ilmu pedang hanya untuk menyelesaikan tugas khusus.
“Jadi begitu, bukan untuk apa? Tapi bagaimana prosesnya!” gumam Allen merasakan tembok yang selama ini menghadangnya mulai runtuh. Teknik pedang miliknya sendiri mulai tercipta hingga sebuah bayangan muncul setiap kali ia mengayunkan pedangnya.
Setelah mendapatkan petunjuk penguasaan ilmu pedang, suara pemberitahuan sistem muncul tapi Allen tidak peduli. Ia terus menyempurnakan pembentukan fondasi teknik pedangnya.
[Selamat, pemain Allen berhasil menguasai Ilmu Pedang.]
Tidak berasa Allen melatih ilmu pedangnya hingga malam, ia lupa akan misi harian yang harus dikerjakan. Tepat ketika jam menunjukkan 12 malam, sengatan listrik menusuk otot-otonya.
Meskipun rasanya sangat sakit, Allen tidak bergeming. Ia memaksakan tubuhnya dan mengayunkan pedang untuk menyempurnakan tekniknya. Karena misi harian diabaikan, kesadaran Allen tiba-tiba hilang dan tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Peri Tanah dan Peri Api mengkhawatirkannya, tapi keduanya tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya Spirit Pendukung. Mereka hanya bisa menunggu Allen bangun dari pingsannya.
Keesokan harinya, Allen segera bangun dan mengerjakan tugas harian. Meskipun rasanya tidak terlalu sakit dibandingkan dengan penggunaan Teknik Jiwa, Allen merasa tidak baik mengabaikan sistem yang membantunya sampai ke titik ini.
Setelah latihan harian, Allen menggunakan tongkat untuk menguasai penggunaan senjata yang kedua. Tidak butuh waktu lama untuknya menghancurkan tembok yang menghalanginya sebelumnya.
[Selamat, pemain Allen berhasil menguasai Ilmu Tongkat.]
“Bukankah kau mengatakan ingin menguasai ilmu tombak?” tanya Peri Tanah.
Allen tersenyum tipis. “Aku menyadari sesuatu, bukan apa senjatanya tapi bagaimana cara menggunakannya. Artinya mempelajari ilmu tongkat dan ilmu pedang adalah fondasi untuk menciptakan ilmu tombak.”
Pemikiran Allen tidak meleset, pemberitahuan sistem muncul dan memberikan hadiah khusus karena memahami kerangka dasar dari keterampilan senjata yang diinginkan sistem.
[Selamat, pemain Allen berhasil mempelajari ilmu dasar penggunaan senjata. Semua akan meningkat 5 poin.]
[Berhasil menyelesaikan Misi Khusus, selamat level Anda meningkat.]
[Peningkatan sistem mengakibatkan Anda dapat melihat status target, pengaturan ada di sebelah kanan atas.]
[Status : Pemain Allen]
Level : 3
Kekuatan tubuh : 35
Konsentrasi : 28
Mental : 20
Wibawa : 16
Aura : 28
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa.
Mata Dunia.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa).
Alkemis.
---- Spirit Pendukung ----
Peri Air
__ADS_1
Peri Tanah
Peri Api
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 0
Bonus poin skill : 0
Tidak ada penambahan keterampilan, Allen mencoba melihat Peri Tanah yang ada di dekatnya. Peningkatan sistem sama sekali tidak membantunya, karena informasi yang diperlihatkan tidak terlalu lengkap. Munculnya informasi juga membutuhkan waktu 5 detik, jadi Allen harus melihat Peri Tanah selama 5 detik untuk mengetahui informasinya.
[Peri Kuno
Nama : Belum punya
Elemen : Tanah
Umur : ??
Total Kekuatan : ??.]
“Kenapa hampir semuanya tanda tanya?”
Peri Tanah sedikit memiringkan kepalanya, ia mencoba bertanya untuk memastikan otak tuannya tidak bergeser. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya.
“Aku mendapat kekuatan baru, singkatnya aku bisa melihat elemen, umur dan total kekuatan target, meskipun punyamu banyak tanda tanyanya.” Allen mengatakan kebenarannya dengan santai.
Pandangannya mulai bergeser ke Peri Api ia membelalakkan matanya karena informasi yang diberikan begitu tidak masuk akal.
[Peri Remaja
Nama : Belum punya
Elemen : Api
Umur : 542 tahun
Total Kekuatan : 0.]
“Total kekuatan 0?” gumam Allen yang kebingungan dengan penjelasan sistem.
Peri Tanah mendekat dan mengatakan, “Mungkin total kekuatan adalah kerusakan yang bisa diberikan pada manusia atau makhluk lainnya. Kita para peri tidak bisa melukai manusia tanpa perantara kontraktor, jadi kekuatannya 0.”
Peri Api yang menjadi objek pembicaraan tidak peduli dan melanjutkan rebahannya sambil melihat langit yang mulai mendung. “Terserah apa yang kalian obrolkan, tapi jangan bangunkan aku!” katanya sambil menutup matanya.
Allen dan Peri Tanah mulai latihan lagi untuk menyempurnakan keterampilan pedang dan tongkatnya. Sebagai peri yang telah melihat perang ragnarok, ia mengatakan semua keterampilan yang mungkin membantu Allen.
__ADS_1
“Gerakan kaki yang bisa memotong jarak dengan cepat? Bagaimana caranya?” tanya Allen yang mulai tertarik dengan salah satu teknik pergerakan kaki.