Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Perubahan


__ADS_3

Pemberitahuan sistem bertumpuk hingga Allen tidak bisa membacanya. Ia segera masuk ke kamar mandi dan memuntahkan darah hitam ke WC.


"Apa yang hueg..." Allen tidak tahu mengapa badannya merasa sangat berat setelah menggenggam Inti Mana.


Allen menatap Inti Mana di sampingnya, ia mencoba mengedarkan Prinsip Jiwa dan menciptakan monster hitam Pelahap Jiwa.


Tanpa rasa takut, Allen mencoba menelan semua energi yang ada di dalam Inti Mana. Untungnya Peri Air datang dan menghentikannya.


Peri Air berseru, "Apa kau ingin mati!."


Allen sadar dan menarik tekniknya, ia terengah-engah kemudian memuntahkan darah hitam lagi ke WC.


"Memangnya apa istimewanya Inti Mana?." Allen mencoba mencari informasi dari Peri Air.


"Mana sama dengan Energi, Energi sama dengan Aura. Inti artinya pusat, jadi Inti Mana ini menyimpan banyak sekali Aura." Peri Air menjelaskan dengan bahasa yang baik.


Namun Allen menerimanya mentah-mentah. "Bukankah bagus jika aku berhasil menyerap semuanya?."


"Bodoh, semakin banyak auranya. Maka resikonya sangat besar, bisa-bisa tubuhmu meledak karena kebanyakan Aura." Peri Air mencoba memukul kepala Allen dengan tangan mungilnya.


Inti Mana, barang paling misterius di Zaman Peperangan. Kala itu semua orang ingin mencari Inti Mana dan menempatkannya di tempat latihan.


Setiap kali orang itu berlatih di situ, perkembangan mereka meningkat. Bahkan ada kasus seorang anak petani menjadi jenius pedang.


Artinya, setiap orang yang berlatih di sekitar Inti Mana akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.


"Kenapa tidak aku tempatkan di dalam alam bawah sadar Ku. Kalian bisa berlatih dengan tenang." Allen menyarankan ide yang mustahil.


[Proses pembaruan sistem akan dilaksanakan. Segera bersiap-siaplah.]


Allen sempat melirik pemberitahuan sistem, ototnya tiba-tiba menegang dan tidak bisa di gerakan. Tidak hanya di tangan atau paha, tapi semua ototnya di plintir hingga mengeluarkan cairan hitam.


"Argh...!!!" Allen tidak bisa menahan rasa sakitnya, ia berteriak sekeras-kerasnya.


Budi dan Ye Mo langsung berlari dan mendobrak pintu kamar mandi. Budi melihat Allen menggeliat seperti seekor cacing. Tanpa pikir panjang ia langsung menggendongnya dan memindahkannya ke kasur.


Allen terus menggeliat, ia tidak mau berteriak lagi. Mulutnya di kunci rapat bukan karena ingin tapi karena otot di wajahnya juga terkena serangan.


Setelah beberapa detik, Allen berhenti bergerak mematung. Budi mencoba membantu tapi kekuatan penuhnya tidak bisa mengembalikan posisi Allen yang sangat aneh.


Kaki kanannya di angkat tinggi-tinggi, kaki kirinya menekuk ke belakang hingga menyentuh kepalanya. Tangan kanan dan kirinya menekuk ke belakang.


"Maaf, Bos aku akan menggunakan seluruh kekuatanku!." Budi melepaskan aura pejuang tingkat 5 dan segera membantu Allen. Sayangnya Budi tidak bisa menolong Allen yang sedang kritis.


"Biarkan aku berjuang." Allen masih sempat mengeluarkan suara. Setelahnya otot di seluruh tenggorokannya juga diplintir dan suaranya tidak keluar.


Budi dan Ye Mo menunggu Allen selesai bergerak aneh. Malam berlalu dengan cepat untuk mereka karena tidur. Namun bagi Allen yang menderita setiap detiknya serasa satu tahun.


Matahari mulai terbit, Allen tertidur lelap di kasurnya yang sudah berantakan. Budi dan Ye Mo membersihkan dan merapikan kamarnya.


Pukul 10 pagi, Allen membuka matanya. Ia melihat tanggal 31 Desember 2010, ia tidak punya janji dan memilih untuk menghubungi keluarganya.


"Ayah, apa kabar?" tanya Allen melalui telepon.

__ADS_1


"Wah anakku Allen, kabar baik. Kapan pulang, Nak. Kami semua di kampung sangat merindukanmu." Ayah Allen menjawabnya dengan suara gembira.


Ayah Allen bernama Mahmudi, ia seorang petani di desa dan kadang jual jasa memangkas rumput.


"Anakku Allen, cepat pulang. Ibu sangat menyayangimu!." Ibu Allen berteriak keras setelah mendengar Mahmudi mengangkat telepon dari anaknya.


Ibu Allen bernama Yeni, seorang ibu rumah tangga yang kadang menawarkan jasa bersih-bersih rumah, cuci baju, dan lain sebagainya.


Mahmudi dan Yeni tinggal di rumah kayu tengah hutan. Untuk mencapai tetangga, mereka harus berjalan 10 menit. Untungnya Alona cukup boros dan membeli telepon dengan penangkap sinyal yang baik.


"Ya, Bu, Yah. Aku hari ini mau pulang. Tolong jangan terlalu repot aku sudah cukup kaya di kota." Allen membanggakan dirinya.


"Hahaha, kau sudah sukses. Jadi Alona mengatakan yang sebenarnya, yasudah aku akan menyembelih Robi." Mahmudi menyebut nama ayamnya di desa.


"Yah, bukannya Robi masih muda. Sembelih saja Tono." Yuni malah mendebat masalah memotong ayam kesayangan mereka.


Allen tersenyum manis dan tiba-tiba air mata menetes ke bantal di pangkuannya. "Kenapa aku begitu bodoh meninggalkan mereka dan memilih mengejar cinta. Bahkan setelah semua aku korbankan, aku berakhir di khianati."


Ingatan tentang pertemuan Allen dengan Clarissa dan David yang membawa anaknya muncul. Allen tidak bisa menahan air matanya meratapi nasib di kehidupan sebelumnya.


"Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti ini." Allen mengusap air matanya dan segera mendengar pertengkaran orang tuanya.


"Sudah-sudah, jangan sembelih Tono dan Robi. Aku akan membawa sate dari kota. Jangan lupa sediakan api unggun dan panggangan, Yah. Aku punya banyak daging di rumah."


Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai jam 11 siang. Setelah puas berbicara dengan orang tuanya, Allen segera berdiri dan membersihkan tubuhnya.


"Apa setiap kali pembaruan sistem selalu terjadi seperti ini?." Allen melihat kaca dan tubuhnya penuh dengan otot tanpa terlihat lemah tidak penting.


["Tentu saja, Tuan. Aku Sistem Dua akan memandu pemain Allen."]


["Tenanglah, Tuan. Aku Sistem Dua yang akan membantumu menguasai dunia."]


"Baiklah, kalau begitu apa yang baru di Sistem tingkat 4?." Allen mencoba menguji pendampingnya.


["Sangat banyak, Kamu akan menyadarinya seiring berjalannya waktu."]


"Sama aja kau tidak berguna." Allen mengejek sistem, tapi ia tidak mendapat jawaban. Karena Sistem hanya diam, ia mencoba melihat Statusnya.


[Status : Pemain Allen]


Level : 4


Kekuatan tubuh : 67


Stamina : 61


Konsentrasi : 59


Mental : 34


Wibawa : 32


Aura : 80

__ADS_1


Total Kekuatan : 61.370 (kurang akurat)


---- Keterampilan ----


Pemain pengguna sistem dewa, tingkat Maha Dewa.


Mata Dunia, tingkat ?.


Seni Beladiri (Teknik Jiwa), tingkat ?.


Alkemis, tingkat rendah.


Keterampilan Senjata, tingkat sangat rendah.


---- Spirit Pendukung ----


Peri Air


Peri Tanah


Peri Api


Peri Angin


---- Gelar ----


Peramu Racun, meningkatkan efek racun sebanyak 10%.


Pengguna Senjata, meningkatkan akurasi 10%.


---- Bonus ----


Bonus poin bebas : 0


Bonus poin skill : 0


Perkembangannya cukup signifikan, Allen hampir saja menembus Pejuang Tingkat 6. Namun ia tidak boleh rakus dan berkembang sebagaimana mestinya.


Untuk mengamankan waktunya, Allen mencoba melihat masa depan dengan Mata Dunia. Jiwanya melayang ke masa depan dan melihat sekelompok orang melukai orang-orangnya di Perusahaan Allen.


Nathan lagi-lagi terluka, ia diserang sekelompok Pejuang Beladiri tingkat 4. Anehnya Nathan tidak melawan sama sekali.


Pengelihatannya hanya bertahan sekitar 5 detik, Jiwa Allen segera kembali ke masa kini. Ia segera memanggil Budi.


"Iya Bos, ada yang bisa aku bantu?." Budi bertanya sekaligus membungkukkan badannya.


"Mulai sekarang pantau terus pergerakan Nathan. Suruh Shera mengawasinya." Allen tidak mau kecolongan, ia sudah merasa ada yang aneh dengan Nathan.


"Kenapa tidak membunuhnya saja, Bos. Itu mengurangi resiko pengkhianatan." Budi menyarankan sesuatu yang ekstrim.


Ye Mo datang dan mengatakan, "Membunuhnya saat ini akan membuat citra kita buruk. Ditambah lagi Sumpah Darah melarang kita saling membunuh."


Allen mengangguk. "Sebenarnya aku bisa membunuhnya langsung dengan tuduhan pengkhianatan. Namun aku ingin tahu motifnya."

__ADS_1


"Baik, Bos. Aku akan melakukannya." Budi segera pergi menemui Shera dan menceritakan rinciannya.


__ADS_2