Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Mencangkul


__ADS_3

Keluarga tidak pernah kehabisan bahan untuk bercanda, Allen bersyukur bisa lahir dari mereka berdua.


Setelah menuruni pohon, Allen masuk ke rumah tanpa membawa sendal. Ia meninggalkannya di atas pohon.


"Ayo sarapan." Yuni membuka tudung saji yang sangat sederhana dibandingkan dengan makanan Kota.


Nasi yang ada di Bakul membuat aromanya lebih segar. Sayur bayam dan beberapa lauk seperti tempe, tahu, dan rebusan terong juga tersedia.


Mahmudi yang baru datang langsung mengambil nasi. Yuni langsung bergerak memukul punggung tangannya.


"Bukankah waktunya makan, ayo gas..." Mahmudi mencoba meniru perkataan anak muda zaman sekarang.


Mereka makan bersama layaknya keluarga yang bahagia, setiap suapan nasinya terasa sangat menyenangkan. Allen tidak akan pernah melupakan hari ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Mahmudi harus pergi ke kebun untuk mengurus pohon pisangnya.


Allen memanggil ayahnya dengan sapaan Bapak atau Pak. "Pak, boleh aku ikut?." Allen menawarkan diri ikut ke kebun yang sudah lama tidak ia kunjungi.


"Ok, ayo!." Mahmudi mengijinkannya. Mereka berjalan kaki selama 1 jam untuk mencapai pekarangan tempat ayahnya menanam pohon pisang.


Allen menyempitkan matanya ketika merasakan energi jiwa yang sangat padat di sebuah gua. "Pak, itu gua apa?" tanyanya.


"Kamu sudah lama tidak main ke sini sampai lupa. Tempat itu milik leluhur kita, pekarangan ini juga diwariskan turun temurun, tidak ada yang boleh menjualnya."


Mahmudi juga menceritakan tentang seorang pemborong yang mencoba merebut lahan ini. Kejadian aneh mulai menimpa mereka hingga pemborong itu meninggal karena bunuh diri.


Allen bukan orang bodoh, tentu saja pemborong itu dibunuh. Namun perlakukan belum jelas, Allen mencoba memperhatikan bapaknya yang mencangkul tanah.


"Tidak mungkin..." Allen membuang kecurigaannya dan segera membantu. Tubuhnya telah ditingkatkan, jadi ia bisa mencangkul lebih cepat.


Namun matanya terbelalak ketika melihat bapaknya sudah hampir selesai mengerjakan bagiannya. "Kok bisa?."


Mahmudi segera menyelesaikan cangkul terakhirnya. "Pengalaman itu penting, perhatikan caraku memegang cangkul dan posisi kakiku."


Mahmudi mulai mengerjakan bagian Allen, meskipun tidak terlalu cepat tapi setiap ayunannya sangat berat. Cangkulnya menancap cukup dalam, pijakan kaki bapaknya bergeser dan membuang tanah di ujungnya.


"Apa kau mengerti?." Mahmudi bertanya pada Allen yang tampak serius memperhatikan teknik mencangkul.


"Biarkan aku mencobanya." Allen memposisikan kakinya sama dengan bapaknya, kemudian mengayunkan dengan kekuatan penuh. Benar saja ujung cangkul menancap sempurna, tapi susah untuk di tarik.

__ADS_1


"Manfaatkan gaya gravitasi, setiap benda pasti jatuh ke bawah. Tidak perlu membuang tenaga saat mencangkul, optimalkan saja efektivitasnya." Mahmudi memberikan saran kemudian langsung mempraktekkannya.


Allen memperhatikannya dengan konsentrasi penuh, tekniknya sama persis tapi energinya tidak dapar menarik ujung cangkul. Sebenarnya dia bisa menggunakan sedikit Energi Jiwa, tetapi poin pentingnya bukan di situ.


Peri Tanah muncul dan menambahkan sarannya. "Teknik mencangkul ini sama seperti teknik pedang tingkat tinggi. Memanfaatkan gravitasi untuk menambah daya rusaknya."


Dengan bantuan Peri Tanah dan Bapaknya, Allen berhasil menguasai teknik cangkul dalam sehari.


"Sekarang tinggal menambahkan kecepatannya. Gunakan tempo untuk merasakan gaya gravitasi." Mahmudi terus memberikan penjelasan mencangkul.


Allen menyerap ilmunya seperti spon, ia langsung bisa memahaminya dan mempraktekkannya. Tidak hanya menambah kontrolnya, Allen merasa ada sesuatu yang terus berontak untuk keluar.


Energi Jiwa yang terkandung di dalam tubuhnya bergejolak. Allen menahannya dan segera lari ke gua peninggalan leluhurnya.


Wajah Mahmudi tampak khawatir tapi dia tidak menghentikan anaknya. Justru dia menonton Allen dari luar gua sambil membawa dia cangkul di tangannya.


Allen duduk di dalam gua kecil, ia menggunakan Prinsip Jiwa untuk menenangkannya. Namun usahanya sia-sia, energi dalam tubuhnya terus berontak dan menembus tubuhnya.


Gua peninggalan leluhurnya bergetar, Allen mengeratkan giginya karena sakitnya bukan main. Sakit seperti jarum keluar dari perutnya.


Energi yang lepas dari tubuhnya diserap 12 batu yang terpasang di setiap sudutnya. Satu persatu dari batu itu mulai memancarkan cahaya putih, kemudian meredup dan Allen langsung pingsan.


Mahmudi menggendong anaknya pulang, ia tampak khawatir dan segera memanggil dukun pengobatan di desa.


Allen panik ingin keluar gua, tapi usahanya sia-sia. Setelah menunggu beberapa saat, 12 batu yang bersinar mulai meredup dan membentuk gumpalan asap.


"Anak muda, akhirnya kami menemukan orang yang ditakdirkan. Tolong selamatkan retakan waktu di dunia."


"Retakan waktu?." Allen kebingungan apa yang sedang dibicarakan gumpalan asap, gumpalan itu mulai membentuk wujud perempuan.


"Aku yakin kamu sudah pernah mengalami reinkarnasi paksa. Sebenarnya itu terjadi karena kerusakan ruang dan waktu."


Sosok perempuan cantik tercipta dari gumpalan asap. Matanya yang indah bisa menyihir setiap orang.


"Aku tidak punya waktu bicara omong kosong. Cepat kembalikan aku!." Allen menolak percaya bahwa dirinya hanyalah kesalahan ruang dan waktu.


"Tenanglah, kita tidak bisa mengembalikan dirimu ke dimensi asalmu."


"Sekarang dimensi, sebenarnya siapa kalian!." Allen terus berteriak tidak terima dirinya dipermainkan.

__ADS_1


"Dimensi, sebuah ruang alternatif yang tercipta karena pertarungan Raja Segalanya dan Shen Zero. Setelah pertarungan sengit, Shen Zero akhirnya kalah dan memilih menggunakan Reverse God."


Gumpalan asap itu menjelaskan detail mengapa Allen bisa kembali ke masa lalu. Rupanya kejadian ini bukan bantuan dari dewa untuknya balas dendam. Namun itu hanyalah kesalahan dari ruang dan waktu.


Jika Allen memperbaiki Ruang dan Waktu, bisa jadi ia akan kembali menjalani kehidupan yang sengsara. Tidak seperti saat ini yang bergelimang harta serta kekuatan yang hebat.


"Tidak perlu menjawabnya sekarang, tugasku hanya untuk menyampaikan misi ini pada Yang Ditakdirkan."


Sebelum menghilang, perempuan itu menyentil dahi Allen dan tersenyum manis.


Sejumlah besar informasi tentang formasi muncul di dalam ingatannya, Allen yang terbangun langsung menarik rambutnya karena sakit.


"Argh..."


Mahmudi dan Yuni panik, mereka langsung menendang kepala Allen hingga pingsan. Keduanya saling memandang dan mulai tersenyum tipis.


"Untungnya kita cerdas, jadi dia tidak perlu menderita lagi." Mahmudi membanggakan idenya.


"Jangan sombong, aku yang menendangnya duluan." Yuni tidak mau kalah, ia bersikeras bahwa dirinya lebih cepat.


Jiwa Allen mulai tenang dan mencoba mengingat apa yang diberikan sosok perempuan. Tidak hanya tentang Simbol Kuno, Allen juga mendapatkan teknik Formasi tingkat Dewa.


[Selamat pemain Allen berhasil membuat keterampilan baru, Pembuat Simbol.]


"Lagi-lagi tingkatannya tanda tanya. Ya sudahlah, sekarang aku sudah baikan. Ayo keluar." Allen berjalan keluar kamar dan mendapati Mahmudi dan Yuni tengkurap di tanah.


"Bapak, Ibu. Apa yang terjadi!."


Mahmudi mendongak ke atas. "Kenapa, kami hanya tiduran dan berlomba siapa yang paling cepat menemukan sumber air." Mahmudi menjawab sambil menempelkan telinganya ke tanah


Yuni berjalan ke arah utara, sedangkan Mahmudi berjalan sebaliknya. Mereka berdua tidak hanya mencari minum tapi juga mencari air untuk mandi.


Keduanya tidak ingin anaknya mandi di sungai lagi, jadi Mahmudi mengusulkan untuk membuat kamar mandi pribadi.


"Yes aku dapat duluan." Mahmudi mulai menggali menggunakan cangkul.


Tidak lama setelahnya Yuni mengambil skop dan mulai menggali. Allen berasa di abaikan, padahal ia baru saja siuman dari pingsannya.


"Apa kalian serius ingin membuat dua sumur?." Allen yang kurang paham hanya bisa bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja, lebih baik banyak sumur nanti untuk sedekah ke tetangga yang tidak punya akses air bersih."


Mahmudi membanggakan dirinya, padahal tidak ada seorangpun di desa yang kekurangan air.


__ADS_2