Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Keluarga Aneh


__ADS_3

Perkataan Clarissa membuat Allen tercengang kebingungan, dia memang mencintainya. Namun posisinya belum cukup aman untuk bergerak kesana.


"Jangan bengong, mungkin ini kesempatan terkahir yang kamu miliki." Clarissa menunduk lesu. Dia tidak punya pilihan lain selain mengungkapkan perasaannya pada Allen.


Pada tahun 201, tahun dimana Clarissa akan menikah dengan seseorang. Allen tidak datang waktu itu, tapi yang pasti David menjadi pemilik hatinya di tahun 2021.


Allen menunduk, dia berpikir keras demi mendapat keputusan terbaik. Setelah beberapa saat dia menjawab, "Baiklah. Minggu depan aku akan membawa dua orang tuaku ke rumahmu."


Sekarang waktu yang paling tepat untuk mengambil keputusan. Clarissa yang mendengar jawaban Allen, dia berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Jangan lupa, minggu depan." Clarissa melambaikan tangannya dan langsung menyusuh sopir menancap gasnya.


"Nona, apa anda yakin melakukan ini?" tanya Sopir yang sedikit khawatir.


"Aku yakin dia punya sesuatu. Jadi jangan khawatir." Clarissa menjawab sambil memandang keluar jendela mobil.


Allen sendiri masih tetap di tempatnya. Dia tidak percaya apa yang baru saja dirasakan, perasaan senang bercampur gelisah, rasa cinta bercampur takut. Semuanya menjadi satu hingga Allen tidak bisa melakukan apa-apa.


Setelah beberapa saat, Allen memutuskan untuk pulang kampung. Semua urusan Raja Surgawi akan di atur Tiwi sebagai pemimpinnya.


Allen melewati kota dengan berlari, setelah sampai di Kota terdekat dia masuk dan memesan tiket kereta api.


Karena orang tuanya ada di pelosok Kota K, Allen mencoba menyamakan jalur perjalanannya. Jadi dia sedikit merepotkan diri untuk itu.


Beberapa saat setelah sampai di stasiun pemberhentian, Allen segera menguasainya Stealth untuk menyembunyikan hawa keberadaannya.


"Kenapa mereka ada disini?" ucap Allen dalam hati.


Allen melihat sekelompok orang berpakaian rapi dengan lambang Asosiasi Pejuang Beladiri. Kemudian di sisi lain juga ada para pencari informasi dari Keluarga Baruch.


Pergerakan keduanya sangat aneh, Allen tidak bisa gegabah keluar kereta dan menampakkan wajahnya. Sampai akhirnya dia menutup kepalanya dengan penutup jaket dan berlari keluar.


Setelah berjalan beberapa saat, Allen melihat kelompok Keluarga Morgan dan Windsor.


"Mereka sudah mendapatkan informasiku?" tanya Allen dengan suara pelan. Dia segera berlari dan menuju desa tengah hutan.


Anehnya desa di tengah hutan itu masih sama seperti dulu. Beberapa paman yang kembajak sawah tidak terganggu dengan kerusuhan di luar.


"Allen, kapan balik?" tanya seorang penggembala kambing.


"Paman, aku baru mau pulang. Ayok mampir," jawab Allen dengan logat khas mereka.

__ADS_1


"Kapan-kapan lah, sok lanjutkan."


Allen melanjutkan langkahnya menyusuri hutan. Setelah sampai didepan rumah, dia menyentuh pohon besar tempatnya membangun rumah kayu.


"Hei, bocah akhirnya kau pulang. Apa yang kau lakukan pada adikmu!" teriak Mahmudi, Ayah Allen.


Sambil mengacungkan celurit pemotong rumput dia berlari dan mengayunkannya. Serangannya tampak pelan di mata Allen yang sudah membangkitkan Mata Dunia.


Dengan santai dia menghindari serangan ayahnya. Namun tepat setelah senjata ayahnya lewat, dadanya tiba-tiba terluka dan darah keluar.


Tas samping yang dia bawa terputus dan jatuh. Allen melompat ke belakang dan mengusap lakunya.


Mahmudi melanjutkan langkahnya, dia mengayunkan celurit sekali lagi. "Jangan pernah mengalihkan pandangan dari musuhmu!" katanya.


Meskipun tidak mengunakan aura atau energi, Mahmudi tampak sangat lihai dalam menggunakan celurit. Ayunannya setengah air dan kecepatannya seperti angin.


Melihat ayahnya menyerang dengan serius, Allen segera berubah ke mode pertarungan. Matanya berubah merah dengan kilatan petir di ujungnya, kemudian rambutnya perlahan menjadi putih.


Tangannya mengepal dan mulai menyerang balik. Dengan niatan menghancurkan senjata ayahnya, Allen mengunakan energi jiwa.


Namun tepat sebelum kepalan tangannya menyentuh bilah celurit, tiba-tiba arah serangan ayahnya bergeser dan melukai tangannya.


"Apa?" ucap Allen kebingungan.


"Jangan mengalihkan pandanganmu!" teriak Mahmudi dengan suara tegas.


Allen sudah menggunakan seluruh kemampuan fisiknya, tapi dia merasa aneh karena setiap kali menyerang pasti ayahnya sudah berpindah.


Demi menghentikan serangan ayahnya, Allen mengepalkan kedua tangannya dan menyerang ke arah depan.


Mahmudi tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di samping. Tangan kanannya segera berayun dan menargetkan leher anaknya.


Allen sendiri tidak sempat bereaksi karena kehilangan target untuk sementara. Dengan kekuatan elemen dia mendorong tubuhnya ke belakang.


Namun tiba-tiba tendangan menghantam punggung hingga tulangnya berbunyi. "Argh." Allen merintih kesakitan.


Mahmudi dengan gagak berani melangkah mendatangi Allen dengan tatapan merendahkan. "Kau berhasil sampai di tingkat 5 dengan keterampilan bertarung seperti ini? Bangun!" teriaknya dengan amarah.


Allen mencoba bangun dan menelan pil kebugaran. Kali ini dia tidak menahan kekuatannya, bahkan pohon-pohon di sekitar mulai bergoyang karena gelombang energinya.


"Jangan salahkan aku ayah." Allen menarik pedang pemberian ibunya dan mencoba membuka kain mori. Kemudian dia mengikatnya di pergelangan tangan kanan bersamaan dengan pedang.

__ADS_1


Langkah Bayangan digunakan, kepalan tangan kirinya menghantam ayahnya. Namun serangannya meleset dan menghantam tanah. Ayunan pedangnya mencoba meraih ayahnya namun hanya bayangan yang dia tebas.


Sekali lagi dia menggunakan Langkah Bayangan dan mengayunkan pedangnya terlebih dulu. Kemudian diakhiri dengan tinjunya yang terus menghancurkan area sekitar.


Pertarungan itu berlangsung selama 2 menit, tapi Allen tidak bisa mendaratkan pukulan satupun.


Mahmudi yang melihat sedikit kekhawatiran di mata anaknya langsung memanfaatkan kesempatan untuk menyerang punggung.


Sayatan celuritnya memang tidak kuat atau punya efek beracun. Namun Allen sangat kesal karena tidak bisa memprediksi arah datangnya serangan.


Sampai akhirnya dia menggunakan teknik ledakan untuk mengekspor lawannya. Mahmudi melompat kebelakang karena hembusan angin, Allen dengan cepat menggunakan Langkah Bayangan dan menggunakan tinjunya untuk menyerang.


Mahmudi mengangkat sudut bibirnya, tubuhnya tiba-tiba berubah transparan dan serangan Allen hanya mengenai angin.


Allen yang bingung langsung memanfaatkan Elemen Tanah untuk mengurung tubuhnya dengan tanah.


Energi Jiwa dilepaskan untuk mencari keberadaan ayahnya, tapi dia tidak menemukannya. Kurungan yang terbuat dari tanah dilepaskan, tiba-tiba ayunan celurit langsung menyayat punggungnya.


"Argh," kata Allen yang kesakitan.


Mahmudi tampak melompat dan menyentuh tanah sebentar. Kemudian dia menghilang lagi.


Punggung Allen yang terbuka lebar tiba-tiba terkena serangan pagi. "Argh, ayah bagaimana kau melakukannya!" teriak Allen dengan suara keras.


Mahmudi muncul di depannya dan mengayunkan celurit dengan kekuatan penuh. "Jangan kehilangan fokus," katanya dengan wajah dingin.


Yeni muncul dan menghentikan bilah celurit dengan dua jarinya. "Sudah cukup, ayo makan. Alona sudah siap di meja makan."


Mahmudi kembali ke pengaturan awal, dia tersenyum lebar dan menggaruk punggung kepalanya. "Hehe, ok. Kali ini kita makan apa?" tanyanya sambil meninggalkan Allen yang terluka.


Langkah kakinya sepeti seorang bayi dan sangat mengesalkan. Jika dia bukan ayahnya, Allen pasti akan memukul kepalanya.


Yeni mengalihkan pandangannya ke Allen. Kemudian berjalan ke rumah sambil berkata, "Ayo masuk, biarkan aku yang membantu mengobatimu."


Allen merasa tertinggal, karena saat ini pakaiannya penuh dengan darah dan lukanya tidak sedikit. Setidaknya ada puluhan luka sayatan di punggung dan 4 luka di dadanya.


"Apa aku salah keluarga, Ya?" ucapnya sambil melepas baju dan mengusap darah di sekujur tubuhnya.


Untungnya Tubuh Raja Perang menyembuhkan luka dengan cepat. Tapi dia belum menggunakan Mahkota Raja karena menurutnya berlebihan.


Setelah sampai di ruang makan, Allen melihat Alona yang menguncir rambutnya ke belakang. Tatapannya tampak dingin dan dia terlihat jelas sedang marah padanya.

__ADS_1


Allen duduk, dia masih belum mengenakan pakaian bagian atas. "Bolehkah aku pakai baju dulu?" tanyanya dengan suara canggung.


__ADS_2