Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Emosional


__ADS_3

Allen tampak biasa melihat tangan Cimera tumbuh lagi, dia dengan 3 Artefak Raja juga bisa melakukannya dalam sekejap.


"Manusia yang menarik, kau bisa melukaiku dengan energi berwana ungu itu." Cimera mengubah bentuk tubuhnya menjadi lebih ramping. Kedua tangannya berbentuk pisau kecil yang bisa bergerak sangat cepat.


Dalam sekejap mata dia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ayunan pisaunya langsung mengenai kulit Allen tanpa perlawanan.


Bukannya tidak bisa menghindar, Allen sengaja terkena sedikit serangan untuk memastikan kekuatan musuh.


Tangan kanannya yang terluka di suap, Allen tersenyum manis setelah mencium baunya. "Ternyata seperti itu, sekarang ayo lihat siapa yang lebih cepat."


Langkah Bayangan digunakan terus menerus, garis darah keturunannya adalah Ninja jadi tubuhnya sangat lentur dan cepat. Allen menangkis dan membuat serangan balik di waktu yang sama. Meski sedikit lebih lambat dari musuhnya, Allen selalu mendaratkan serangan fatal.


Dua pedang pendek digunakan untuk membuat kombinasi serangannya semakin brutal. Allen bertarung dengan Cimera tanpa memperhatikan sekitarnya.


Tanah yang menjadi pijakan mereka terbang ke langit terus menerus. Gelombang benturan kedua senjata menghancurkan lingkungan sekitar. Ribuan monster telah kehilangan nyawanya akibat dari pertarungan itu.


Allen tersenyum lebar setelah mendapatkan lawan bertarung yang seimbang. Meski dia belum membuka 3 segelnya, Cimera itu punya banyak sekali kombinasi serangan. Hal itu tidak membuat Allen berkecil hati, semakin lama dia beradu serangan Allen semakin banyak pengalaman.


Dalam kecepatan yang tidak manusiawi itu, Allen mendapat banyak sekali pengalaman. Sehingga bisa menjadi modal untuk pertarungannya melawan Satan.


Setelah seharian bertarung di udara, Cimera mulai merasa mual. "Racun, bajingan kau menggunakan racun!"


Allen hanya bisa tersebut manis. "Kami manusia memang lemah, tapi tahukah kamu kenapa kita selalu mendominasi di Bumi ini?"


"..."


"Benar, itu karena kita menghalalkan segala cara untuk menang. Entah itu racun atau cara licik lainnya, kita hanya butuh menang!"


Energi jiwa di tubuh Allen menerobos keluar. Dua telapak tangannya disatukan, matanya memancarkan cahaya putih.


"Sekarang cobalah untuk beregenerasi!" teriak Allen sambil menggunakan serangan yang tak kasat mata.


Setiap kali racunnya mengenai tubuh target, racun itu akan langsung masuk ke saraf dan membentuk sebuah cacing parasit. Cacing parasit itu bisa di kontrol dengan energi jiwa.


Saat Allen melepaskan energi jiwanya dia mencoba meledakkan cacing parasit di sekujur tubuh Cimera.


Tidak butuh waktu lama untuk meledakkannya, Cimera hanya bisa berteriak kesakitan ketika seluruh bagian tubuhnya meledak.


Ledakan dahsyat itu sangat menyilaukan, hingga membuat seluruh arena di sekitarnya kering. Bahkan beberapa gunung rata dengan tanah.


Allen mengatur napasnya, dia menggunakan energi jiwa yang cukup banyak. Meski masih banyak, staminanya terbatas. Manusia tidak seperti dewa yang bisa bertarung bertahun-tahun tanpa henti.

__ADS_1


"Ugh manusia sialan. Kau menghancurkan sebagian intiku!" kata Cimera yang mencoba meregenerasi tubuhnya.


Allen tidak percaya dengan penglihatannya, dia terbelalak terheran-heran. "Apa?"


"Jangan puas dulu, manusia. Pertarungan sebenarnya baru dimulai!" ucap Cimera.


Tubuh manusianya sudah hancur sekarang dia berubah menjadi monster raksasa setinggi 25 meter. Tubuhnya gemuk dan membawa dua gada seukuran tiang listrik.


Setelah membentuk tubuhnya dengan sempurna, monster Cimera memunculkan tentakel yang sangat banyak dari punggungnya.


"Sekarang aku akan mulai serius manusia!" teriaknya sambil menggerakkan seluruh tentakel yang berjumlah ratusan.


"Lari, jangan sampai tertangkap!" terial Allen memberi perintah pada pasukannya.


Karena mereka semua sangat cepat, tidak ada satupun manusia yang tertangkap. Namun ada ratusan monster yang tertangkap dan dihisap habis energinya.


Energi kematian yang dipancarkan cimera semakin kuat, bahkan Pejuang Tingkat 9 tidak akan bisa menanganinya.


"Semua mundur, situasi diluar kendali!" kata Allen memberi komando.


Semua pasukan Raja Surgawi mundur, tapi ada beberapa yang tidak bisa melarikan diri karena melawan dia jenderal lainnya.


"Sial, kita akan tamat!"


Energi kematian yang menyelubungi dunia berhasil di tekan.


"Ternyata ada makhluk yang berguna juga disini!" kata Cimera sambil menggarahakan tentakelnya pada Zahra.


Alona mengayunkan tangannya dan memotong tentakel monster cimera. "Kenapa terburu-buru, bukankah bosmu belum datang."


"Dia akan datang, dua orang bodoh itu pasti akan segera selesai!" teriak Cimera.


"Ya kamu tidak salah, orang tuaku memang tidak sekuat Satan. Tapi mereka bisa mengurangi sebagian kekuatannya!"


Allen yang mendengar perkataan Alona langsung sadar, dua orang yang dimaksud Cimera adalah orang tuanya.


"Dimana mereka?"


"Kamu tidak perlu tahu, ayah dan ibu sedang berjuang di celah dimensi mengulur waktu untukmu. Oh iya, seluruh penduduk desa juga sudah mengorbankan nyawanya untuk menghentikan mereka semua selama 10 tahun."


"Apa? Tidak mungkin?"

__ADS_1


Tiwi yang mendengar perkataan Alona langsung tersadar kenapa kedua orang tua tidak bisa dihubungi. "Jadi, mereka sudah..."


"Tidak, tidak, ini tidak mungkin!" teriak Alona histeris. Energi jiwa menerobos paksa keluar dari tubuhnya, sosok raksasa berwarna biru tua terbentuk akibat kegilaan itu.


"Tiwi, kendalikan dirimu!" teriak Allen mencoba menenangkan Tiwi.


"Sudah terlambat, dia menggunakan teknik rahasia keluarganya. Susanoo serta Pembalikan Jiwa."


"Tidak, tidak, tidak!"


Teriaknya tangis Tiwi terdengar ke seluruh penjuru medan perang. Semua pasukan Raja Surgawi hanya bisa menangis melihat Tiwi kehilangan kesadarannya.


Monster Bayangan itu membentuk sebuah pedang dan menghancurkan semua monster menjadi debu. Bahkan salah satu Jenderal musuh yang terkena serangannya langsung sekarang.


"Aku akan membunuh kalian semua!" teriakan Tiwi yang melotot penuh amarah.


Ayunan pedangnya menghancurkan gunung dan membelah angin. Tanah di sekitarnya ikut terangkat ke langit dan tanpa sadar menghantam Cimera di depan Allen.


"Semoga kamu bahagia di kehidupan selanjutnya." Alona memberi salam terkahir untuk kawannya itu.


Semua anggota Raja Surgawi juga memberi salam perpisahan, termasuk Allen yang telah bersama selama ini. Pasukan monster ketakutan, bahkan mereka lebih takut Tiwi daripada Jenderal Cimera.


Pembantaian satu pihak membuat sebagian pasukan monster menjadi debu. Meski begitu kekuatan jiwa ada batasnya, setelah tiga menit mengamuk Tiwi kehilangan bentuk Monster Bayangan.


Tangisnya berwarna merah darah, penyesalan yang tidak akan pernah dia lupakan adalah meninggalkan kedua orangtuanya.


Setelah menoleh ke arah Allen, Tiwi tersenyum manis dan berkata, "Terima kasih, Hyung. Semoga kamu damai di kehidupan selanjutnya."


Allen tersenyum ramah dan berkata, "Terima kasih, terima kasih, terima kasih." Air matanya tanpa sadar jatuh ke pipinya.


Monster raksasa yang berada di dekat Tiwi langsung memangsanya seperti sedang memakan ikan.


"Jangan terbawa suasana, mati itu pasti yang belum pasti itu takdir di depanmu." Alona menyadarkan Allen yang terlalu terbawa emosi.


"Kamu benar, ini adalah akhirnya aku akan mengakhiri semuanya!" teriak Allen membakar semangat seluruh pasukannya.


Zahra tersenyum dan membuai gerbang dimensi. Sosok buruk raksasa keluar dari portal itu.


"Roc, ini tugas terkahirmu. Tolong gunakan seluruh kekuatanmu." Alona yang merawat burung Roc hanya bisa tersenyum manis.


Burung raksasa itu melebarkan sayapnya, panjangnya sekitar 70 meter dan menutupi cahaya matahari.

__ADS_1


Suara kicau burung Roc menggetarkan seluruh medan perang. Semua anggota Raja Surgawi mendapat kekuatan tambahan mereka merasa energi alam di dalam tubuhnya melonjak pesat.


"Manusia-manusia hina." Salah satu jenderal mencoba menyerang Burung Roc. Namun sebelum mendaratkan serangannya dia dilahap dan mati di perut Burung Roc.


__ADS_2