Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Misi Pelarian


__ADS_3

Allen dan kelompoknya tidak bisa keluar, mereka masih duduk dan menunggu kesempatan.


"Apa kalian tidak punya ide?." Allen bertanya pada teman-temannya. Ia berharap ada ide yang dapat membawa mereka lolos.


Shera yang biasanya sangat aktif hanya diam, ia tidak punya ide lain selain menggali tanah. "Aku hanya bisa memikirkan menggali tanah, Bos."


Allen memikirkan hal tersebut, sebenarnya ia juga memikirkan ide itu. Tapi resikonya sanga tinggi, jika ada getaran tidak wajar pasti musuh di luar mengubur mereka hidup-hidup.


Peri Tanah keluar dan memberikan saran. "Kenapa bingung, bukankah kau punya kemampuan tanah. Masukkan saja teman-temanmu ke Ruang Pelatihan, kemudian kau mendorong ruangnya ke dalam tanah."


Allen menyempitkan matanya. "Ruangannya terlalu besar, kekuatanku tidak cukup mendorongnya."


"Ruang Pelatihan itu sangat misterius, lihatlah di alam bawah sadarmu." Peri Tanah masuk dan menunjuk sebuah kubus berukuran satu meter.


"Benda apa itu?" tanya Allen kebingungan. Terakhir kali ia tidak menemukan benda ini.


"Ini Ruang Pelatihan yang baru saja kau dapatkan. Aku juga tidak mengerti mengapa ukurannya bisa menyusut." Peri Tanah menjelaskan sesuai dengan kapasitasnya.


Allen kembali ke Dunia dan mengeluarkan sebuah kubus. "Letakkan tangan kalian disini," katanya sambil menyentuh kubus.


Tubuh Budi dan teman-temannya tersedot masuk ke dalam kubus. Allen juga ikut masuk dan langsung melihat sekitar.


"Apa tubuh kita mengecil?." Allen masih belum mengerti situasinya, ia segera menyuruh Peri Tanah keluar.


Peri Tanah tidak bisa masuk Ruang Pelatihan. "Jadi ruangan itu khusus untuk para manusia. Orang yang membuatnya sungguh hebat!."


Allen yang tidak mendapat jawaban dari Peri Tanah, kemudian ia mencoba masuk ke dalam alam bawah sadar. Ia tidak bisa menemukan ruangan para peri, hanya ada Menara Kuno yang digunakan Toko Sistem.


"Jadi Ruang Pelatihan ini khusus untuk manusia, tidak mungkin makhluk selain manusia masuk. Tapi kenapa Li Sogun bisa melindunginya." Pertanyaan Allen tidak ada yang bisa menjawabnya, hanya waktu yang bisa membuka misteri di balik Kubus Ruang Pelatihan.


Allen mendekati Budi dan lainnya. "Energi jiwa disini sangat melimpah, kalian bisa menstabilkan Prinsip Jiwa."


"Baik, Bos." Budi dan lainnya menjawab serentak.


Allen sendiri keluar dari kubus pelatihan dan melihat sekitar. "Bagaimana caraku mengendalikan tanah?" tanyanya sambil menghubungi Peri Tanah.


"Sangat mudah, bayangkan tanahnya selembut air. Kemudian bentuk sesuai keinginanmu." Peri Tanah mencoba menjelaskan teknik pengendalian.

__ADS_1


Tepat setelah menyelesaikan penjelasannya, Peri Tanah langsung membuka matanya lebar-lebar. "Apa?."


Allen sudah berhasil menguasai pengendalian tanah. Ia segera menjatuhkan kubus ke dalam tanah, tujuannya cukup jauh. Supaya musuh di atas tidak curiga karena adanya pergerakan di bawah tanah.


"2 kilometer seharusnya sudah cukup dalam. Udara semakin tipis, aku susah bernapas." Allen melepas topengnya dan mencoba menghirup udara.


"Gunakan elemen angin untuk memasok oksigen ke dalam paru-parumu." Peri Tanah mendampingi Allen dalam misi pelariannya.


Setelah mendengarnya, Allen segera menutup mata dan berkonsentrasi mengendalikan angin. Setelah mengendalikan angin, ia memisahnya dan menarik oksigen masuk.


Allen menggerakkan kubus perlahan, ia memanfaatkan elemen tanah untuk memperkecil gesekannya.


Disisi lain, Revan menginterogasi Son Hyung. "Cepat katakan, apa masih ada harta di dalam sana!"


Son Hyung tersenyum, darah mulai keluar dari sudut bibir kanannya. Matanya lebam karena pukulan dan pipinya berdarah bekas sayatan pisau.


"Tidak ada, aku sudah membawa semuanya." Son mencoba melindungi Allen dan teman-temannya.


Namun Revan bukan pria tua semarangan, ia melihat ada sedikit kebohongan. "Dimana orang-orangmu?."


"Mereka mati."


"Karena aku menghormati kepala keluargamu, sekarang pergilah!." Revan melempar tubuh Son keluar pintu.


"Kau akan menyesali tindakanmu ini. Ingat aku Son Hyung akan kembali dan mengambil hutang ini!" seru Son Hyung berlari meninggalkan kamp.


Air matanya tidak bisa berhenti karena kepala Pamannya di gantung. Son Hyung membulatkan tekad akan membalas dendam.


"Aku harus mencari mereka." Son Hyung menemukan secercah harapan. Allen dan teman-temannya punya budidaya aura yang sangat misterius, bahkan Pejuang Tingkat 6 sepertinya tidak mungkin menang melawannya.


Setelah berlari cukup jauh, segerombolan pembunuh datang menyergapnya. Son Hyung mengelak dari tusukan musuh dan terus melanjutkan pelariannya.


Dua orang bertopeng hitam tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Keduanya langsung menebas musuh dan mengirim dua orang ke neraka.


Pedro dan Shera berhasil mempelajari Langkah Bayangan ke tingkat yang lebih tinggi. Pergerakannya sekarang setara dengan Pejuang Tingkat 5, tapi kekuatannya masih setara dengan Pejuang Tingkat 3.


6 pembunuh yang tersisa mengangguk, mereka berpencar untuk menghindari pembunuhan masal. Sayangnya Allen dan Budi sudah berjaga di dua arah berbeda.

__ADS_1


Allen membuat auranya menyerupai tangan dan menangkap 3 pembunuh. Tanpa ekspresi ia meremas dan menghancurkan tubuhnya. Tidak lupa ia menggunakan Pelahap Jiwa untuk menghilangkan jejak.


Budi sedikit berbeda, ia menggukan tinjunya untuk menghancurkan tengkorak para pembunuh. Kemudian menggunakan Pelahap Jiwa untuk menghilangkan jejak.


Satu orang berhasil melarikan diri, ia terangah-engah karena baru saja melihat manusia memakan manusia. "Sial, mereka monster."


Ye Mo muncul di belakang dan sudah bersiap menyerang. "Kami manusia biasa, bukankah perilaku kalian lebih parah dari monster!."


Pedang pendek di tangan kanannya segera menusuk jantung musuhnya. Tidak lupa ia juga menggukan Pelahap Jiwa untuk mengetahui informasi tentang musuhnya.


Allen dan kelompoknya segera berkumpul mendekati Son yang sudah pingsan.


"Apa kita harus membawanya, Bos?" tanya Budi yang kurang nyaman dengan pria bernama Son.


"Dia akan menjadi bantuan besar untuk kita. Jadi mari selamatkan nyawanya dan biarkan takdir menuntunnya." Allen menjawab dengan ekspresi dingin.


Budi memikul tubuh Son yang sebenarnya tidak semuda kelihatannya. Meskipun tampak muda, Son berumur 72 tahun.


Allen dan kelompoknya berhasil selamat dari kejaran musuh, mereka menggunakan jalur hutan untuk menghindari kecurigaan.


Butuh waktu 2 hari dua malam untuk mereka sampai di penginapan tengah hutan. Ye Mo yang mengurus Son, Allen dan lainnya mengurus pekerjaan yang sempat tertunda.


Revan Baruch sudah menunggu lama, ia sudah kehabisan kesabaran. "Hancurkan saja!" serunya sambil menunjuk Pintu Masuk Gua Misterius.


Sesuai permintaannya, 10 Tank langsung melepaskan bersama. Ledakan besar terjadi, tanah bergetar hingga hewan-hewan berlarian.


Revan menyempitkan matanya, ia melihat gua misterius masih utuh tanpa goresan. "Apa yang kalian tunggu! serang lagi!." Dia tampak sangat kesal hingga uratnya timbul di dahi.


Pesawat, Tank, dan Penembak Rudal semuanya digunakan, tanah di sekitarnya luluh lantah. Namun Gua Misterius masih berdiri tegap tanpa goresan.


"Kau yang memaksaku, Sialan!." Revan menekan tombol merah pemicu Nuklir.


Sebuah Nuklir skala kecil turun dari langit dan langsung mengarah ke Gua Misterius. Ledakan super besar terjadi, tidak hanya tanahnya yang hancur tapi tumbuhan disekitarnya rata dan terbakar. Selamat 10 tahun tempat ini akan gersang karena radiasi nuklir.


Revan bisa bernapas lega karena Gua Misterius hancur dan hanya menyisakan serpihan-serpihan batu. "Baiklah, ayo pergi. Mereka pasti sudah hancur menjadi abu."


Padahal Allen dan kelompoknya bekerja seperti Biasa. Allen sedang di depan komputer dan berusaha membeli banyak Bitcoin dengan harga murah.

__ADS_1


"Keberuntunganku sangat besar hari ini. Para bocah-bocah itu menjualnya dengan harga yang sangat murah." Allen melihat kalender dan mendapati hari ini adalah tanggal 30 Desember 2010.


__ADS_2