Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Jery Jadi Sasaran


__ADS_3

Sebentar lagi tahun berganti, Allen berdiri dari kursinya sambil meregangkan punggungnya. "Sudah waktunya aku bermain agresif."


Allen mengambil ponsel di kanan monitor, jarinya langsung bergerak cepat mencari nomor Clarissa.


"Halo, Allen. Apa kabar?" tanya Clarissa melalui teleponnya.


Allen tersenyum tipis ketika mendengar suara yang begitu halus dan nyaman. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"


"Siapa yang bisa menyakitiku, hahaha." Clarissa mencoba bercanda.


"Hahaha, bisa saja. Ngomong-ngomong jumat besok kosong?" tanya Allen.


Clarissa bergumam kurang jelas, setelah memikirkan beberapa saat ia mulai menjawab. "Aku ada acara jam 6 malam, tapi jam 8 aku kosong. Ada apa?"


Wajah Clarissa tampak sangat cantik merona, ia berharap Allen mengajaknya melihat kembang api tahun baru.


Allen tampak sangat gugup, ia meremas kertas di meja dan segera mengatakan maksudnya. "Aku ingin..."


Sebelum selesai mengungkapkan niatnya, seorang perempuan datang menghampiri Clarissa dan berteriak, "Hayo telepon siapa? William ya...?"


Perempuan berpakaian rapi dan modis itu adalah Dina, sahabat Clarissa sejak kecil. Keduanya dari keluarga super kaya, rumah bukanlah penghalang untuk mereka tinggal.


Saat ini Clarissa dan Dina ada di Kota A, tempat hiburan paling besar di dunia. Kedatangannya hanya untuk menonton grup penyanyi yang sedang naik daun.


Tiket VVIP tergeletak di meja, Clarissa mengambilnya dan membuat gestur menutup mulut. "Diam, aku sendang sibuk. Minggir sana!." Clarissa mencoba mengusirnya.


Namun apalah daya, Dina memang sifatnya seperti itu. "Halah, pasti si culun itu. Apa bagusnya dia si, gak modis, miskin, bodoh lagi!."


Dina mengatakannya dengan sangat lancar, padahal Allen masih ada di balik telepon dan mendengarnya.


Clarissa mendesis menyuruh Dina diam. Walaupun ia sudah menutup mikrofon telponnya dengan tangan, suaranya masih terdengar. Kadang HP terlalu canggih sangat merepotkan.


"Diam, pergi sana. Ini urusanku!." Clarissa membentak Dina sekali lagi. Ia sudah memperhatikan Allen sejak pengabdian di desanya. Jadi tidak ada salahnya dekat dengan pria desa yang punya banyak mimpi.


Dina melambaikan tangannya. "Ya, ya, ya. Nikmati waktumu, kita nanti harus berangkat."


Clarissa melepas tangannya yang menutupi telepon. "Sorry Allen, tadi Dina menggangu. Tadi kamu ingin apa?"

__ADS_1


Allen masih tersenyum tipis di balik telepon. Padahal dia tidak bodoh, ia menguasai 12 bahasa internasional. Ilmu komputer kelas dunia, bahkan tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam penyelesaian masalah kode mesin komputer.


"Tidak apa-apa, tadi aku ingin meminta bantuan tapi kelihatannya kamu masih sibuk." Allen langsung mundur, bukan karena takut tapi dia masih punya orang yang disayangi.


"Gak asik, ah. Kamu tadi mau ngajak aku jalan, Kan?" tanya Clarissa yang mulai agresif. Dia sudah mendapatkan izin dari ayahnya jadi langsung saja eksekusi.


Allen tersipu tapi mulutnya tidak bisa di ajak kompromi. "Tidak, mana mungkin aku berani mengajakmu. Kemarin saja ayahmu langsung keluar dari pesta perusahaan."


Tanpa sadar Allen mengungkit masa lalu yang paling di benci Clarissa. Pada malam itu Clarissa berusaha keras meyakinkan ayahnya untuk kembali, tapi usahanya berujung sia-sia.


"Ya udahlah, aku duluan ya..." Clarissa langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban.


Allen menatap teleponnya. "Apa dia marah? Seperti aku membuat kesalahan."


Jarinya bergerak dengan sigap, Allen mengirim pesan pada Nala untuk mencari informasi tentang Clarissa dan Ayahnya pada hari pesta Perusahaan Allen.


"Jery sudah lama menganggur." Allen punya ide untuk menjahilinya, tanpa rasa takut ia mengirim berkas penting perusahaan padanya dengan identitas anonim.


Disaat yang sama, Jery sedang santai membaca beberapa email yang masuk sambil memakan mie instan. "Apa itu latihan, dunia ini bisa dikendalikan dengan internet. Hahahaha!."


Ketika ada Email terkirim padanya atas nama anonim, Jery dengan santai membukanya. Fasilitas komputer yang disediakan Perusahaan Allen sangat mempuni, jadi mudah untuknya lepas dari serangan Cyber.


Setelah di buka, alarm ruangnya berbunyi. Jerry melihat judul data yang bernama, "Rahasia Perusahaan Allen."


"Kampret, apa ini?." Jery yang panik langsung menggerakkan jarinya mencari kesalahan sistem. Setelah beberapa detik ia berhasil menghentikannya dan mengusap dahinya.


"Sial, teknik penyerangan apa tadi. Aku belum sempat melihat dan semua sudah terinfeksi. Aku harus tahu caranya!." Jery memasang wajah senang dan menatap layar komputernya dengan senyum lebar.


Pintu ruangnya tiba-tiba didobrak hingga terbelah dua. Orang yang melakukannya tidak lain adalah Budi.


"Angkat tangan atau semua gigimu rontok!." Budi memberi peringatan, ia diberi tahu Nala bahwa Jery mencuri data penting perusahaan.


Jery secara resmi adalah karyawan Perusahaan Allen, sedangkan Nala adalah teknisi di balik semua sistem keamanan.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Guru. Lihatlah komputernya mati." Jery menunjuk layar monitor hitam karena tombol powernya di matikan dengan dengkulnya.


Tepat setelah Budi dan Jery melihatnya, tiba-tiba komputer menyala dan langsung membuka dokumen bernama, "Rahasia Perusahaan Allen."

__ADS_1


"Sial, siapa yang melakukannya. Ini tidak seperti yang kamu kira, Guru. Lihatlah tidak ada dokumen di dalamnya." Jery panik dan langsung membuka folder.


Tepat setelah dibuka, banyak dokumen penting yang dikirim padanya. Salah satunya adalah hasil scan yang menentukan kemenangan Perusahaan Allen di pengadilan pada bulan Februari.


"Tidak, tidak aku tidak melakukannya!." Jery panik dan langsung memeluk kaki Budi.


Budi sudah di beri arahan, jadi ia tidak melakukannya secara berlebihan. Tangan kanannya segera mengangkat Jerry ke tempat latihan.


Karena tugasnya adalah mengajari Jery kedisiplinan, Budi tidak segan-segan. Ia menghajarnya hingga ototnya hampir keluar dari tubuhnya.


"Jangan banyak alasan cepat berdiri!." Budi masih belum puas menghajar Jery yang sudah tak kuat berdiri.


"Maaf guru aku salah, semua itu terjadi karena kesalahan sistem. Aku tidak membocorkannya." Jery memohon ampun sambil merangkak ke arah Budi.


"Berdiri, seorang seniman beladiri tidak ada yang merengek sepertimu!." Budi keras dalam pelajarannya, ia tidak melihat Jery selama 1 minggu.


"Aku janji mulai besok akan latihan. Suer." Jery tersenyum lebar sambil mengangkat dua jarinya.


Allen juga tahu Jery tidak salah apa-apa. Bahkan dokumen penting yang ia terima hanya 1% dari semua dokumen penting. Tujuannya hanya ingin Jery mulai berlatih dan berguna untuk perusahaan dimasa depan.


"Budi sudah cukup, Jery tidak melakukan kesalahan. Biarkan dia istirahat." Allen menjadi pahlawan, padahal dia adalah biang keroknya.


"Oh dewa, akhirnya kau datang menyelamatkanku. Mulai sekarang kau adalah idolaku." Jery berganti memeluk kaki Allen.


"Menjijikkan, pergi sana. Aku ingin bicara dengannya sendirian." Allen menepuk punggung Jery dan menempelkan kertas berisi latihan khusus untuknya.


Jery belum menyadarinya sampai ia di kamar dan membuka bajunya. Kertasnya di ambil dan tangannya gemetar.


"Dewa sejati, mulai sekarang aku akan memujamu." Jery bersyukur masih di beri kesempatan.


Disisi lain Allen dan Budi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan melepas stresnya kemarin. Mereka semua hampir mati karena orang gila bernama Revan.


Ye Mo yang mengurus Son Hyung sedang memasak sup. Ia harus mengurus orang yang tidak tahu kapan bangunnya. "Sial, sampai kapan orang tua itu tidur!."


Son Hyung dengan tatapan datar muncul di belakang Ye Mo. "Aku disini, ngomong-ngomong ini dimana?"


Ye Mo melompat dan berteriak, "Eh Kambing, sapi, ayam, anjing, kerbau. Kenapa kau seperti hantu, Pak Tua!."

__ADS_1


__ADS_2