
Karena tidak punya alasan untuk menahan barangnya, Allen dengan berat hati harus merelakannya. Namun suara Harjo Susanto dari belakang terdengar.
“Tunggu, aku yang punya batunya. Kenapa kau membelinya dari bocah nakal ini!” teriak Harjo Susanto dengan nada tinggi. Untungnya dia tidak tahu identitas Dante yang asli, jika tahu tidak mungkin untuknya berkata seperti itu.
Allen merasa lega karena Harjo Susanto tidak tahu siapa Dante, akhirnya ia hanya berkedip pelan dan mempersilahkan Harjo Susanto untuk maju ke depan. “Benar apa yang dikatakannya, aku bukan pemilik batunya. Jadi silahkan membelinya dari Pak Tua,” katanya dengan suara sopan.
Dante menyempitkan matanya, ia sebenarnya sudah menyudutkan Allen untuk menjual Black Jade padanya. Namun siapa yang menyangka ternyata Allen punya pendukung yang cukup kuat.
“Baiklah, mari jual padaku 100 miliar!” ucap Dante pada Harjo Susanto dengan suara pelan.
Harjo Susanto langsung menjawab, “Tidak!”
“Apa kau tahu siapa aku?” tanya Dante dengan tatapan mengancam.
“Tidak, memangnya kau siapa. Bukankah kau hanya kakek tua sepertiku!”
Pertengkaran dengan Harjo Susanto tidak membuahkan hasil, jadi Dante memilih untuk menaikkan harganya dua kali lipat. “200 miliar,” katanya pelan.
Harjo Susanto menoleh ke arah Allen, ia hanya mendapatkan gelengan kepala yang menandakan bahwa Allen tidak setuju. “Aku tidak ingin menjualnya, jadi jangan terlalu berharap. Bukankah sekarang aku punya 3 triliun sebagai taruhan?” tanyanya mengalihkan pandangan ke Redjo Suhat.
Karena kalah taruhan, Redjo Suhat tampak sangat pucat. Ia memberi kode pada wasit untuk mengamankan hartanya yang tersisa, tapi Pedro sudah menghadangnya dan mengambil koper taruhan.
Semua surat berharga ada di dalam koper, Pedro segera melemparnya ke Shera dan langsung kabur. Pintunya langsung dibuka padahal masih terkunci, keduanya berlari melarikan diri tapi Allen dan Harjo Susanto masih ada di dalam.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Dante dengan suara serak serta melepaskan sedikit aura mengancam.
“Apa kau mengkhianatiku?” tanya Harjo Susanto menoleh ke arah Allen.
“Kadang uang bisa membutakan mata, jadi...”
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Allen segera kabur ke pintu keluar yang sudah di siapkan Pedro dan Shera. Kecepatan larinya setara dengan pejuang tingkat 3, Dante langsung membuat pergerakan untuk menghentikannya.
Tangan Dante dengan santai menarik baju Allen, tetapi Allen segera melepas baju dan melanjutkan larinya. Dante ingin melanjutkan pengejarannya, tetapi langkahnya terhenti setelah merasakan berat di tangannya.
“Apa bocah itu selama ini pakai baju seberat ini?” kata Dante sambil mengangkat baju. Ia mendapati ada 6 lempengan baja seberat 5 kilogram, jika di jumlah Allen membawa 30 kilogram setiap saat.
__ADS_1
Tepat setelah Dante menoleh ke arah pelarian Allen, ia menghilang dan tidak merasakan kehadirannya sedikitpun. “Sungguh pria yang mengesankan, baiklah ayo main petak umpet seperti yang kau inginkan.”
Allen sebenarnya tidak lari jauh, ia malah kembali ke dalam ruangan dan menemui Harjo Susanto. “Semua sudah selesai, pria tua serakah itu akhirnya pergi dan membawa Black Jade. Dari sini kita tahu semua bahwa pemimpin pasar antik sebenarnya hanyalah orang yang serakah!” katanya memprovokasi.
Harjo Susanto tertawa keras sambil menepuk punggung Allen. “Haha, akhirnya kau kembali. Baiklah mana hadiahku?”
Allen memberikan koper taruhan dan Harjo Susanto langsung memberikannya pada pelayan. Setelahnya, mereka langsung keluar dari pintu utama. Harjo Susanto sudah menyiapkan mobil dengan kecepatan super tinggi. Budi yang mengendarai mobilnya, jadi Allen bisa lebih tenang.
Kecepatan mobilnya tidak masuk akal, hanya dalam 15 detik langsung mencapai kecepatan 170 kilometer per jam. Pada tahun 2011, mobil ini bisa di bilang sangat langka dan mahal.
Harjo Susanto dan Allen berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak. Mereka segera membagi hasil kemenangannya, Harjo Susanto mendapat 90% total dari taruhan, sedangkan Allen hanya mendapat uang tunai.
“Apa kau yakin hanya menerima uang tunai?”
“Semua sudah di tentukan, jadi aku akan mengambilnya.” Uang tunai yang dimaksud masih berupa cek. Jadi Allen harus menukarnya ke bank dunia terlebih dulu. Karena nominalnya terlalu besar, pencairan harus menunggu 1 minggu.
“Kenapa tidak mencairkannya atas namamu saja?”
Allen menggelengkan kepala. “Apa Anda tahu kakek tua yang kita provokasi sebelumnya?” tanyanya.
“Palingan dia kakek tua kaya yang punya banyak uang panas.”
“Ular Naga?”
Harjo Susanto langsung gemetar ketakutan, ia sudah mendengar bahwa organisasi itu punya banyak catatan kriminal. Bahkan membunuh adalah teman mereka sehari-hari. Harjo Susanto tidak bisa menemukan tempat persembunyian mereka karena organisasi Ular Naga sangat misterius.
“Ya, Dante adalah pemimpin dari organisasi jahat itu. Jadi segera siapkan dirimu!” kata Allen.
“Brengsek, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” teriak Harjo Susanto dengan suara sedikit takut.
“Kalau aku melakukannya, apa mungkin kau berani menghentikannya waktu aku terpojok?”
“...” Harjo Susanto tidak dapat berkata-kata, ia harus mengakui bahwa siasat Allen tidak mengatakan identitas Dante sangat tepat.
Setelah beberapa saat diam, Harjo Susanto mencoba bertanya tentang dunia beladiri. “Bagaimana kau bisa tahu dia pemimpin organisasi jahat itu?”
__ADS_1
“Aku seorang Pejuang Beladiri, jadi informasi seperti itu bukan sebuah rahasia lagi.”
Rasa penasaran Harjo Susanto menjadi lebih tinggi, ia bertanya banyak hal untuk mendapat informasi. Allen sebagai anak baik menjawabnya sebaik mungkin, ia juga sempat menawarkan untuk bergabung dengannya. Namun Harjo Susanto menolaknya karena masih memikirkan keluarganya.
Allen segera kembali ke penginapan untuk mencari Nathan dan Nala, tetapi ia hanya menemukan satu lembar kertas bertuliskan pesan ancaman. “Sial, mereka sudah bergerak!” katanya sambil merobek kertas di tangannya.
Budi mendekat dan menanyakan situasinya, “Apa yang terjadi, Bos?”
“Nathan dan Nala dalam masalah, sekarang siapkan pasukan yang sudah siap untuk bertarung. Meskipun lawan kita tidak terlalu kuat, kita butuh personil yang siap perang!”
Budi hanya bisa menggelengkan kepala. Pasukan yang baru saja di bangun belum bisa memenuhi persyaratan yang di tetapkan. “Sepertinya belum ada yang seperti itu, Bos.”
Allen sedikit panik, ini pertama kalinya salah satu keluarganya di culik. Jadi ia segera menelepon Harjo Susanto, tetapi sebelum di angkat ia mematikannya. “Tenang, mari berpikir jernis.”
Peri tanah dan peri air tidak membuat gerakan, mereka memang ingin melihat pilihan apa yang diambil tuannya. Allen segera menuju kontrakannya, ia langsung mengambil bahan-bahan obat dan memasukkannya ke dalam panci.
Wajahnya terlihat sangat serius, Allen membuatnya tanpa buku petunjuk, hanya insting yang menuntunnya sampai sejauh ini. Budi melihat dari luar, ia hanya diam dan menunggu perintah selanjutnya.
Setelah beberapa saat, Allen berhasil membuat sebuah cairan berwarna hijau tua. “Sepertinya ini sudah cukup, Budi masuklah!” katanya menyuruh Budi masuk ke dalam kontrakan.
Perlu di ingat, kontrakan Allen seharga 25 juta. Jadi lingkungan dan kontrakannya cukup luas. Setelah Budi masuk, Allen segera memberinya dua botol cairan obat misterius.
“Rendam tubuhmu dengan dua cairan tubuh ini. Rasanya akan seperti di gigit semut, jangan pernah keluar dari bak mandi sebelum 2 jam!” ucap Allen dengan wajah serius.
Budi hanya menjawab, “Siap, Bos.”
Karena kamar mandi hanya ada satu, Budi menggunakannya. Sedangkan Allen memasak air untuk dirinya sendiri, wajahnya masih terlihat tegang dan memasukkan 5 botol ramuan ke dalam air panas.
“Semoga ini berhasil!” katanya sambil memasukkan tubuhnya ke dalam bak mandi di kamar tengah.
Tepat setelah masuk, tubuh Allen menjadi sangat panas. Semua kotoran di tubuhnya telah di keluarkan, bau tidak sedap mulai mencemari kamar tengah. Rasa sakit mulai menyerang tubuhnya, tulangnya seperti sedang di pukuli.
Peri Tanah menyempitkan mata dan mengelus jenggotnya. “Obat apa itu?” tanyanya.
Peri Air yang sangat berwawasan luas menjawab, “Aku tidak tahu, tapi yang pasti efeknya membuka potensi tersembunyi seseorang. Sebaiknya ayo bantu dia memperbaiki tubuhnya.”
__ADS_1
Sebelum kedua peri melakukan pergerakan, aura ungu melonjak keluar dari dalam alam bawah sadarnya. Setelah keluar, aura ungu itu menyelimuti tubuhnya dan segera memperbaikinya seperti sedia kala. Bahkan kulitnya sekarang semakin putih dan lembut.
Allen membuka matanya. “Apa yang baru saja terjadi? Aku kehilangan kesadaran?” gumamnya pelan.