
Drakula pada dasarnya adalah Vampir, ia tidak bisa melupakan nikmatnya minum darah manusia. Namun Bosnya sekarang manusia, jadi dia hanya bisa menahan nafsunya.
Allen masuk ke dalam kantor, ia menemui Tiwi untuk bertanya tentang keadaan terkini. Namun langkahnya berhenti sebelum mengetuk pintu.
"Ini gila, dia sedang mencoba menerobos tingkat 3." Allen hanya bisa tersenyum manis merasakan Tiwi sudah mencoba menerobos.
Untuk menghormati Tiwi, Allen putar balik dan meninggalkan kantor. Tujuan selanjutnya adalah Rumah Tengah Hutan yang di tempati Ye Mo.
"Sunyi tapi sangat panas. Sampai kapan kau bersembunyi?" tanya Allen menatap pintu rumah.
Bayangan hitam mulai menunjukkan wujudnya, dia adalah David yang mulai waspada dengannya. Allen berdiri tegap menatap musuhnya itu.
"Aku tidak menyangka Pria Culun yang selalu aku ganggu ternyata punya sisi misterius." David mulai blak-blakan memusuhi Allen.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu, aku tahu kau sudah mempersiapkan semua ini." Allen merasakan 6 Pejuang Tingkat 5 untuk menyergapnya.
David berkata dengan suara pelan, "Baiklah mari bicara bisnis, ayahku kemarin menemui mu. Dia ingin kita membuat aliansi!."
"Sangat disayangkan aku harus menolak, Ayahmu memang sangat kuat tapi apa kamu sudah menelusuri kekuatan dibelakangku?" tanya Allen tanpa rasa takut.
Sedikit ancaman membuat David harus tersenyum kecut. Keluarga Baruch belum menemukan mengapa Allen dan kelompoknya bisa begitu kuat. Jika mereka salah langkah, bisa dipastikan rencana puluhan tahun akan gagal.
Namun untuk menutupi kepanikannya, David tertawa. "Haha, kau masih saja mengelak, Adik!."
Sebelumnya Allen terpaksa memanggil David dengan sebutan Hyung atau Kakak. Dengan itu ia membalikkan senjatanya.
"Kau juga begitu, Hyung." Allen menjawabnya dengan setengah hati.
David memberikan kode pada orang-orangnya untuk menekan Allen. Tapi mereka tidak merespon sama sekali.
"Apa kau masih mencari 6 orang itu?" tanya Allen dengan santai.
David membelalakkan matanya, 6 orang yang dia bawa adalah Pejuang Tingkat 5 tapi bisa di lumpuhkan tanpa di ketahui.
Drakula yang menjadi eksekutor hanya tersenyum jahat sambil mengusap darah di ujung bibirnya.
Setelah memberikan kode untuk ke dua kalinya, David menyadari bahwa lawannya tidaklah mudah. "Sepertinya aku kalah hari ini, tapi jangan senang dulu. Kau tidak bisa membunuhku saat ini."
Ancaman David bukan sekedar omong kosong, dia punya banyak pendukung yang siap membalaskan dendam jika terjadi kecelakaan. Untuk sekarang Allen tidak ingin mengambil resiko.
"Siapa yang ingin membunuhmu, Hyung. Aku hanya bermain-main, tenanglah." Allen berkata dengan santai.
David segera melarikan diri untuk mengamankan nyawanya. Dia tidak tahu siapa pendukung Allen hingga sekuat ini dalam setahun saja.
__ADS_1
"Mungkinkah William membantunya? Ini akan semakin sulit?." gumam David sambil berlari menyusuri hutan.
Allen mengepalkan tangannya, dia tidak punya waktu lagi untuk bersenang-senang. Tangannya segera mengambil telepon dan menghubungi Chris.
"Halo Chris, apa kamu ada waktu luang. Aku ingin membuat persetujuan." Allen ingin menukarkan ramuan penguat tubuh yang terbuat dari Bunga Selvia dan Tanaman Ivy.
"Datanglah, rumah kami selalu terbuka untuk penyelamat Keluarga Huber." Chris tidak melebih-lebihkan, Allen berhasil menolong Keluarga dari kehilangan Pedang Leluhurnya.
"Oke, oh iya apa kalian punya Bunga Salvia seperti kemarin atau Tanaman Spiritual lainnya?."
"Tanaman Spiritual? Aku tidak tahu. Tapi kalau Bunga Salvia kami tidak punya."
"Baiklah, lupakan saja. Nanti sore aku berangkat." Allen harus menunggu semua orang beristirahat.
Shera dan Pedro kelelahan karena bertarung terus, Budi juga sedang mengevaluasi pertarungannya di Keluarga Ye. Meskipun dalam kertas mereka diatas angin, tapi entah mengapa ada yang kurang dari pergerakannya. Kekuatannya tidak lain adalah pengalaman bertarung.
Hari berlalu dengan sangat cepat, Allen menunggu Shera dan Pedro untuk menemaninya ke Kediaman Keluarga Huber di Kota A.
Kali ini mereka harus menggunakan pesawat konvensional karena David sudah mulai mencurigainya. Terlalu sering berkunjung ke Pulau Nemo bukan hal yang baik.
Tepat sebelum berangkat, rombongan dari keluarga Ye baru datang. Allen tanpa basa basi langsung mengirim Teknik Jiwa pada mereka yang terkonfirmasi.
Sumpah Darah yang melekat dalam jiwanya merasa ada satu orang yang tidak terikat. Allen segera menghunuskan pedangnya, tanpa mengatakan apapun kepala anak 19 tahun itu dipenggal.
Semua orang diam, termasuk Ye Mo yanh tidak mengerti apa maksud bosnya.
"Coba hitung jumlah kalian." Allen memberi perintah.
Ye Mo terkejut ketika jumlahnya pas 60 sama seperti keberangkatan mereka. Namun ada 1 orang yang tak bernyawa di depannya.
"Kenapa aku bisa mengetahui dia pengkhianat?" tanya Allen sekali lagi.
Ye Mo menjawab sambil menyentuh dadanya, "Karena sumpah darah mengikat kita sebagai saudara."
"Benar, aku dan kalian sebenarnya bisa merasakannya." Allen melirik ke arah Ye Mo dan melanjutkan katanya, "Jujur aku sedikit kecewa padamu."
Ye Mo menunduk dan langsung berlutut. "Maafkan aku, Bos. Kekuatan jiwaku terlalu lemah saat ini."
"Lupakan, aku ingin pergi ke Kota A. Sebagai hukuman kamu yang akan mengurus mereka semua ini." Allen memalingkan badannya dan berjalan menjauh, setelah beberapa langkah dia berhenti. "Batas waktunya satu bulan," lanjutnya.
Ye Mo tahu betul apa yang dimaksud bosnya, ia harus membimbing semua orang memahami Prinsip Jiwa dalam satu bulan.
"Baik, Bos." Ye Mo tampak lemas saat menjawabnya.
__ADS_1
Allen mengirim telepati pada Budi. "Awasi dia dan bantu jika diperlukan."
"Baik, Bos." Budi menjawabnya dari kejauhan.
Allen dan dua orangnya langsung berangkat menuju Bandara. Setelah sampai di Bandara, Allen melihat orang yang dikenalnya.
"Clarissa, apa kabar?" tanya Allen dengan suara bahagia.
Dina di sampingnya langsung terlihat ketus ketika melihat wajahnya. Allen hanya bisa tersenyum ramah untuk menenangkan suasana.
"Allen, apa kabar? kamu tidak pernah menghubungiku." Clarissa tampak semangat menjawabnya, wajahnya juga terlihat sangat bahagia.
"Aku tahu kamu sangat sibuk, ngomong-ngomong mau kemana?" tanya Allen dengan santai.
"Kota A," sela Dina dengan nada ketus.
"Wah, kebetulan aku juga ingin kesana. Tiket pesawat nomor berapa?" tanya Allen pada Clarissa sambil menunhukkan tiketnya.
Dina menarik tiket Clarissa yang ingin di tunjukkan. "Apa peduli, jangan ganggu kami ada kerjaan."
Allen tertawa kecil. "Ya, baiklah. Ngomong-ngomong bagaimana kabar ayahmu?" tanya Allen menghadap Clarissa.
Clarissa langsung menjawab sebelum disambar Dina. "Baik, ayahku baik. Sepertinya dia juga sangat bahagia akhir-akhir ini."
Allen langsung teringat kekuatan Uang dari keluarga Clarissa. "Jangan-jangan Tua Bangka itu sudah menyiapkan panggung ini. Tapi kenapa ada Dina si Brengsek disini!"
Setelah cukup lama mengobrol, suara pengeras suara terdengar. "Bapak ibu yang terhormat, dimohon penumpang pesawat L213 segera masuk kabin...."
Allen dan dua orangnya langsung berlari bersama Clarissa. Sayangnya mereka beda gerbong, Allen di belakang sedangkan Clarissa di kisi VVIP.
"Bos, siapa dia?" tanya Shera.
"Clarissa, bukankah dia sangat cantik?" tanya Allen dengan senyum lebar.
Shera mengangguk dan berkata, "Tapi kenapa Si Cantik di sebelahnya sangat menyebalkan?"
"Kamu sudah mulai besar, jadi dengarkan..." Allen memberi nasihat tentang dunia, tidak lupa bahwa manusia bukan musuh sejatinya.
Shera dan Pedro baru 18 tahun, mereka besar dari Panti Asuhan pelosok kota.
Setelah duduk seorang pramugari mendatanginya dengan gaya sedikit menggoda, Allen tahu ini pasti orang suruhan Dina.
"Pergilah, aku tidak suka di ganggu." Allen menolak dengan tegas tanpa memikirkan perasaan wanita itu. Shera dan Pedro melihatnya dengan tatapan bingung.
__ADS_1