
Tiga minggu berlalu dengan cepat, Allen membuka mata dan melihat langit. Hembusan napasnya mengeluarkan asap putih yang menyegarkan.
"Sepertinya sudah cukup. Kita harus kembali." Allen berdiri dan mencari dua rekannya.
Son Hyuk akan menjadi penunggu Pulau Nemo. Dia belum diizinkan keluar sebelum memahami Prinsip Jiwa tingkat 4.
[Status : Pemain Allen]
Level : 4
Kekuatan tubuh : 91
Stamina : 82
Konsentrasi : 91
Mental : 60
Wibawa : 39
Aura : 91
Total Kekuatan : 72.370 (kurang akurat)
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa, tingkat Maha Dewa.
Mata Dunia, tingkat ?.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa), tingkat ?.
Alkemis, tingkat rendah.
Keterampilan Senjata, tingkat rendah.
---- Spirit Pendukung ----
Peri Air
Peri Tanah
Peri Api
Peri Angin (Silvy)
Peri Kegelapan (Lembu Suro)
---- Gelar ----
Peramu Racun, meningkatkan efek racun sebanyak 10%.
Pengguna Senjata, meningkatkan akurasi 10%.
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 0
__ADS_1
Bonus poin skill : 0
Allen mendapat kemajuan yang cukup signifikan, jadi ia harus mengimbanginya dengan pengalaman nyata. Bisa terlihat Poin Mentalnya sangat rendah.
"Shera, selamat sudah memahami Prinsip Jiwa tingkat 3. Pedro berusahalah lebih keras." Allen mencoba memompa semangat juang dia orang andalannya.
"Baik, Bos." Pedro tampak sangat bersemangat karena rekannya sudah berhasil menerobos Prinsip Jiwa tingkat 3 atau setara dengan Pejuang Tingkat 6.
Setelah sampai di Kota K, Allen melihat beberapa orang duduk dan membicarakan Perusahaan Allen berkembang terlalu cepat.
"Aku yakin sebentar lagi para orang kaya akan menjatuhkannya. Aku dengar direktur Perusahaan Allen sangat keras kepala."
"Benar, aku kemarin melihat beberapa mobil milik perusahaan Born. Kau tahu sendiri, siapapun yang berurusan dengan mereka akan hancur."
"Sial, aku harus segera mencari pekerjaan baru."
Allen mendekat dan mengatakan, "Tenang saja, aku yakin Disrektur punya kekuatan yang cukup untuk mengatasinya."
"Siapa kau?"
"Aku mantan pengawal Direktur, sekarang bekerja di bagian pengamanan." Allen memalsukan identitasnya untuk menghindar kecurigaan.
"Wah nasib kita sama berarti, Bro. Apa kau yakin Disrektur bisa mengatasi Perusahaan Born?" tanya salah satu pemuda.
"Tenang saja, aku kemarin mendengar mereka akan mulai serangan balik nanti sore. Jika informasiku salah kau bisa keluar dari perusahaan."
Allen bercengkerama dengan dua pemuda yang bekerja di Perusahaan Allen. Mereka mengatakan keluh kesahnya ketidak bekerja di kantor.
Allen tidak mau kalah, dia juga mengarang cerita tentang pekerjaan petugas keamanan dan menambahkan sedikit bumbu provokasi.
Setelah larut, Allen mengunjungi perusahaan dan mendapati Tiwi masih bekerja di mejanya.
Tiwi berdiri dan menyodorkan setumpuk kertas. "Entah mengapa ketika kita mulai melebarkan sayap, banyak Perusahaan yang mengirim mata-mata."
"Hal itu sangat wajar, mereka pasti mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam Perusahaan Allen. Sudahkah kamu menghubungi Kakek Jojo?" tanya Allen.
"Sudah, disisi dia juga banyak masalah akan sulit untuk membantu kita. Bahkan Keluarga Son juga mendapat tekanan dari berbagai pihak." Tiwi melaporkan semua kejanggalan.
"Aku akan mengurus sebagian, untuk selanjutnya hubungi Keluarga Huben dan Muller, mereka pasti bersedia membantu." Allen melihat jendela dan melanjutkan perkataannya, "Oh iya, kirimkan juga proposal pada Keluarga Gong."
"Baik, Bos."
Allen segera menghilang layaknya debu yang tertiup angin. Tiba-tiba ia muncul kembali di bawah dan menghadang dua pria berpakaian serba hitam.
"Siapa kalian?" tanya Allen yang sudah mengenakan Topeng Misterius.
"Serang!." Dua pria langsung menyerang Allen dengan pedang hitam.
Sigap Allen segera menghendar dan menangkap tubuh keduanya dengan Tangan Bayangan.
Dua pria tidak kehabisan akal, mereka melempar pedangnya ke arahnya. Allen segera menghendar dan matanya langsung menatap ke arah musuh. Namun dua pria itu sudah menghilang.
"Sangat disayangkan, padahal aku ingin menginterogasi mereka." Allen hanya bisa menghela napas karena mayat Dua Pria itu ada di tangan Shera dan Pedro.
Monster Bayangan segera memakan dua pria dan sebagian ingatannya di transfer ke Shera dan Pedro.
"Bos, musuh kita tidak sederhana. Organisasi Ular Naga ternyata punya pendukung kuat, yaitu Keluarga Baruch." Shera melaporkan informasi penting.
__ADS_1
"Mereka berdua dari Keluarga Baruch, tujuannya hanya mengintai penginapan milik Son Hyung." Pedro juga mengungkapkan misi dua pria tadi.
"Tetap bergerak dalam bayang-bayang. Aku akan melihat Son Hyung di gubuknya."
Shera dan Pedro menghilang, mereka bersembunyi di tempat yang sangat aman di belakang Allen.
Setelah berjalan beberapa menit, Allen menemukan seorang pria tua yang duduk di dalam gubuk. "Kek, apa kamu masih belum selesai?" tanyanya pelan.
Son Hyung membuka tirai dari gubuknya, setelah berlatih beberpaa bulan akhirnya kekuatannya sudah stabil di tingkat 6.
"Bajingan Cilik, akhirnya kau menjengukku. Bagaimana kabarmu?" tanya Son Hyung basa-basi.
"Tidak perlu basa-basi, kenapa anda membiarkan para pengintai mengelilingi tempatku. Bukankah kita ada perjanjian sebelumnya." Allen tampak sedikit marah.
"Bocah, aku tidak pernah mengatakan bahwa akan membantu ketika ada penyusup. Tapi aku akan membantu ketika ada kerusuhan."
"Terserahlah, untuk sekarang lebih baik kamu pulang. Keluarga Son dalam masalah yang lumayan serius." Allen mengatakan situasi Keluarga Son saat ini.
Son Hyung langsung berdiri dan berlari kembali ke rumah. "Aku akan segera kembali."
"Semoga selamat sampai tujuan." Allen melambaikan tangan.
Selanjutnya ia mengunjungi kediaman Ye Mo. Ia melihat sekelompok orang yang dilatih di bawah air terjun.
"Tidak buruk, 16 dari 20 anak sudah memahami Prinsip Jiwa. Sayangnya besok adalah batas waktunya." Allen tersenyum di balik pohon.
Hari sudah gelap, Ye Mo tampak panik ketika melihat empat anak asuhannya belum memahami Prinsip Jiwa. Dia menggunakan segala cara untuk membantu 4 anak tersebut, tapi hasilnya nihil.
Matahari mulai menampakkan dirinya, Allen tiba-tiba muncul di tengah-tengah tempat latihan. Tanpa peringatan, Allen segera memukul perut 4 anak yang belum memahami Prinsip Jiwa. Keempatnya langsung pingsan tanpa mengetahui siapa penyerangnya.
"Sepertinya kau gagal lagi," ucap Allen dengan tarapan kurang puas.
Ye Mo berlutut dan meminta maaf. "Maaf Tuan, aku sudah menggunakan segala cara untuk membantu mereka."
Allen menggelengkan kepala dan menyuruh Budi membawa semua pasukannya. Setelah beberapa menit, Budi dan pasukannya berdiri tegap menghadap kearahnya.
"Kami siap menerima tugas, Bos." Budi mewakili pasukannya.
"Tenang saja, ini masih pagi jadi mari latihan ringan." Allen menyuruh pasukan yang baru latihan satu bulan untuk bertanding dengan pasukan utama.
20 anak asuh Ye Mo gemetar melihat betapa mengerikannya pasukan Budi. Tanpa senjata mereka mundur satu langkah.
"Sepertinya tidak perlu lagi. Apa yang kamu lihat Ye Mo?" tanya Allen dengan tatapan serius.
"Mental, mental mereka belum siap ada di medan perang." Ye Mo mengatakan apa yang dia pikirkan.
"Salah, mereka hanya tidak mau menghadapai tantangan. Lihatlah, tidak ada satupun dari mereka yang membangkitkan Pemahamannya tenteng Prinsip Jiwa dengan kemampuan. 16 dari mereka hanya mengikuti pemahamanmu. Bukannya sudah sering aku katakan, Prinsip Jiwa tidak mempunyai bentuk pasti. Jadi latihlah mereka sesuai dengan keinginannya."
Allem mengatakan semua itu dengan tatapan mengintimidasi. Ye Mo hanya tertunduk lesu karena melupakan dasar penting.
"Maaf, Tuan."
"Aku tidak butuh kata maafmu. Sekarang perbaiki kesalahanmu dan satu bulan lagi aku ingin melihat mereka sudah siap. Organisasi Ular Naga sudah mulai bergerak." Allen sangat kecewa dengan pekerjaan Ye Mo.
Budi mendekat dan mengatakan, "Bos, keluargaku dalam bahaya. Bolehkah aku membawa pasukanku?"
"Lakukan secepatnya. Jika butuh bantuan segera hubungi kita disini." Allen memberi perintah.
__ADS_1
"Baik, terimakasih Bos!."