Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Mencekam


__ADS_3

Alona untuk pertama kalinya mendengarkan perkataan kakaknya, ia hampir menangis ketika mendengar tembakan. Tidak hanya itu, ia melihat seseorang tewas tepat di depannya.


Allen melihat adiknya tidak punya banyak tenaga, tanpa pikir panjang ia langsung menggendongnya di depan. Sayangnya itu terlihat oleh para penjahat dan segera menembaknya.


Alona menutup matanya, ia hanya bisa pasrah di keadaan ini. Berbeda dengan Allen yang berusaha menghindari hujan peluru yang di lepaskan penjahat, tubuhnya berguling dan bersembunyi di belakang tembok dekat lift.


“Siapa kau?” tanya seorang prajurit yang mengenakan pakaian serba hitam.


Tepat setelah mengatakan itu, kepalanya hancur setelah terkena pukulan dari Budi. “Tuan, apa kau baik-baik saja?”


Allen tidak terkejut sama sekali, tetapi Alona melihat Budi dengan mata lebar terkejut.


“Ya,” jawab Allen sambil merobek kain di lengannya.


Setelah merobek kain lengannya, Allen menghentikan pendarahan di tangan kanannya. Tidak sampai disitu, jari telunjuk dan jempol tangan kanannya mengambil peluru yang masih menancap di tangannya.


3 penjahat bersenjata lengkap berlari ke arahnya, Allen menoleh ke arah para musuh. Budi menutupi pandangannya dan mengatakannya, “Biar aku yang menghentikannya!”


“Tidak, untuk sementara ayo lari.” Allen tahu pejuang tingkat 4 kebal senjata api, tapi perannya saat ini bukan untuk bertarung, tapi untuk menyelamatkan adiknya.


“Tapi...”


Pintu lift terbuka, Allen yang menggendong adiknya langsung melompat masuk dan menyembunyikan tubuhnya di dalam lift. “Jangan banyak tanya, ayo masuk!” teriaknya memberikan peringatan pada Budi.


Ekspresi Budi menjadi jelek, ia tidak menyangka tuannya akan bersikap pengecut seperti ini. Namun sebagai bawahan ia mengikutinya tanpa bertanya lebih lanjut.


Alona menyembunyikan wajahnya di pelukan Allen, ia gemetar ketakutan melihat banyak orang mati di depan matanya.


“Kak, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Aku juga tidak tahu, yang pasti mereka dari Kota R.”


Allen mengalihkan pandangannya ke Budi. “Alasan aku mundur dan tidak peduli dengan orang lain karena kita belum cukup kuat, apa kau tahu siapa orang yang memerintahkan Kota R?”


“Siapa?”


“Anak penguasa kota R, mungkin dia sekarang Pejuang tingkat 4!”


“Bukankah dia lumpuh?” ungkap Budi terkejut mendengar informasinya.


Allen menggelengkan kepala. “Bodoh, mana mungkin anak penguasa kota tidak punya dokter beladiri. Jika tebakanku benar, mereka punya pendukung yang sangat kuat, makanya aku tidak ingin terlihat mencolok.”


Budi mengerti apa yang di rasakan tuannya, ia awalnya menganggap tindakan Allen sangat pengecut. Namun siapa yang menyangka ternyata tindakannya sudah dipikirkan.


“Baik, Tuan!”

__ADS_1


“Jangan bersantai, ketika sampai lantai bawah tanah kau akan menjadi perisai hidup kita berdua.” Allen mengatakannya dengan ekspresi serius, ia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. 60 orang tersebar di seluruh lantai, pasti ada beberapa orang yang berjaga di bawah tanah.


Seperti yang di katakan Allen, tepat setelah lift terbuka, para penjahat langsung menghujani mereka dengan peluru. Budi menggunakan kekuatannya untuk menghentikan laju peluru.


Allen segera memanfaatkan celah di sudut lift untuk melompat ke belakang tembok bersama adiknya. Mendengar suara tembakan yang terus terdengar, Alona tak sadarkan diri.


Melihat 3 penjahat mengisi senjatanya, Allen langsung memanfaatkan kesempatan untuk lari. Matanya sedikit melirik ke arah Budi, ia melihat keringat di dahinya mulai bercucuran.


“Ayo bergerak!” teriak Allen memberikan perintah.


Meskipun seorang pejuang tingkat 4, Budi hanya berada di tahap awal, jadi kekuatannya terbatas. Setelah memastikan mereka cukup aman, Allen memberikan perintah pada Budi untuk menggendong adiknya.


“Aku akan mengurus mereka. Pastikan adikku tidak terluka!” ucap Allen sambil menepuk pundak Budi.


“Biar aku yang memancing mereka, Tuan!”


“Jangan bodoh, aku tahu auramu sudah lemah. Kita harus kabur dari sini!” bentak Allen dengan suara pelan.


Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, tembakan mengarah pada mereka. Untungnya semua peluru mengarah ke mobil di belakangnya. Allen segera berlari menuju tembok di dekatnya.


Sebelum melanjutkan pergerakannya, Allen mengangguk ke arah Budi dan langsung berlari mendekati 3 penjahat dengan memanfaatkan tembok dan mobil. Allen berguling ke sana kemari untuk menghindari peluru musuh.


Setelah cukup dekat, 3 penjahat menghentikan tembakannya. Mereka mencoba untuk mengepung Allen di dua arah berbeda. Allen tidak kehabisan akal, ia masuk ke bawah mobil dan mendapati 4 kaki mengepungnya dari belakang.


Kaki dan tangannya bergerak ke kanan dan segera keluar dari belakang salah satu penjahat. Tepat ketika ia muncul, tangan kanan dan kirinya segera mematahkan leher musuh. Kedua tangannya mengandung aura yang cukup kuat untuk menumbangkan seorang pejuang beladiri tingkat 1.


Tanpa perasaan Allen langsung mencekik leher penjahat dan langsung tewas. “Sial, aku sudah membunuh orang!” ucap Allen di bawah mobil. Ia melupakan sesuatu, seharunya ada 3 penjahat tapi Allen baru membunuh dua.


Budi yang masih berada di belakang mobil di hujani peluru. Tubuhnya mendekap Alona supaya tidak terkena tembakan, Budi yang mulai kehabisan aura hanya bisa menggunakan punggungnya untuk menghentikan peluru.


Tepat setelah terkena satu peluru menembus bahunya, Allen sampai dan mematahkan leher musuh. “Ayo cepat!” ucap Allen membobol salah satu mobil di lantai bawah tanah.


Budi menggendong Alona masuk ke pintu belakang, Allen segera menancap gas dan menerobos blokade yang dipasang para penjahat dari Kota R. Mobilnya sedikit terbang karena terlalu kencang, tapi Allen bisa mengendalikan mobilnya dengan sangat baik.


Tiba-tiba mobilnya dihentikan oleh seseorang, karena tahu orang di depan bukan musuh Allen segera menginjak rem. “Pasukan khusus, akhirnya kalian datang!” teriak Allen merasa senang.


Bukannya mendapat bantuan, salah seorang pasukan khusus malah mendekat dan mencekik Allen dan menariknya keluar mobil. “Jangan pura-pura, apa yang kalian incar!” katanya sambil mengeratkan giginya karena marah.


Darah keluar dari sudut bibir Allen, ia hanya bisa tersenyum kecut karena terluka oleh sekutunya sendiri. “Aku bukan bagian dari mereka!”


Budi membenarkan perkataan Allen. “Benar, kami hanya berhasil keluar!” ucapnya.


Pasukan khusus yang mengenakan kacamata hitam itu melepaskan pegangannya dari Allen. Ia tidak menyesal sama sekali setelah melukai Allen, wajahnya langsung berpaling ke arah pusat perbelanjaan di depannya.


Allen dan Budi merasakan pria pasukan khusus itu sangat kuat, mungkin lebih kuat dari Budi saat ini. Anehnya dia terlihat berumur 30 tahunan, berbeda dari Budi yang berumur 50 tahunan.

__ADS_1


Setelah melihat seorang pemimpin masuk, anggota pasukan lainnya mengikuti dari belakang. Mereka bersenjata lengkap dan mengenakan pakaian serba hitam.


Allen berdiri perlahan sambil membersihkan pakaiannya. “Budi, apa kau masih bisa jalan?” tanyanya.


“Tentu saja!”


Keduanya segera menuju ambulans yang sudah dipersiapkan Walikota Kota K, Alona langsung mendapat perawatan. Budi dan Allen duduk di pinggir jalan, mereka hanya butuh istirahat tanpa harus menjalani perawatan khusus.


Sebagai seorang pejuang beladiri, luka kecil bisa sembuh dengan sendirinya. Bahkan luka tembak yang diderita Allen sudah sembuh sepenuhnya, hal itu karena teknik jiwa dapat mempercepat regenerasi tubuhnya.


Budi dengan santainya mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Ia menghisapnya dan meniupnya ke udara bersamaan dengan mengalirkan auranya ke seluruh tubuh.


“Teknik beladirimu sangat unik,” kata Allen yang menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi.


“Sebenarnya ini bukan teknik beladiri, aku mempelajarinya setelah banyaknya tekanan hidup!”


“Manusia selalu beradaptasi di situasi apa pun. Jadi jangan salahkan dirimu!”


Pembicaraan singkat mereka selesai karena pria yang membanting Allen kembali, pakaiannya penuh darah. Anggota di belakangnya juga tidak kalah mengerikan, semuanya tampak sangat dingin.


Pasukan penolong datang, mereka berlari ke gedung pusat perbelanjaan dan segera mengevakuasi sandera. Lebih dari 200 orang tewas karena kebrutalan penjahat. Mereka semua tidak bersalah, tapi para penjahat dari Kota R tidak memandang bulu.


Suara tangisan terdengar dari segala arah, mereka semua meratapi nasib karena kehilangan anak, ayah, ibu, saudara, dan teman-temannya. Allen hanya bisa mengepalkan tangannya.


“Seandainya aku lebih kuat!” ucap Allen pelan.


Budi bisa merasakan rasa putus asa tuannya, tapi ia tidak mengatakan apapun karena itu dapat melukai harga diri tuannya.


Pria yang berhasil menyelesaikan masalah datang mendekati Budi dan Allen, ekspresinya tampak sangat mengerikan. “Siapa kalian?”


“Aku bos dari UMKM susu di dekan alun-alun,” jawab Allen mencoba untuk mengalihkan pembicaraan pribadi. Melihat mata pemimpin pasukan khusus, Allen sadar bahwa pertanyaan itu tidak sederhana.


Pemimpin pasukan khusus mengalihkan pandangannya dan segera meninggalkan mereka berdua. Tapi masih ada informasi janggal dari lantai bawah tanah, peluru menghujani pintu lift, tapi hanya ada sedikit luka yang mereka terima. Kecurigaan itu akan dilaporkan ke Walikota Kota K untuk menentukan keputusannya.


Disisi lain seorang pria muda sedang memainkan rubik, dan pria yang selalu mengatakan “Seni Adalah Ledakan” berdiri di sampingnya.


“Berapa jiwa?” tanya pemuda yang selalu mengatakan "Seni adalah Ledakan.".


“Hanya 195, ada seseorang yang mengganggu!”


“Itu belum cukup, aku membutuhkan 10 ribu jiwa. Katakan pada penguasa Kota R untuk terus membuat kekacauan!”


“Aku bukan budakmu, Sialan!”


“Jangan banyak bicara, apa kau ingin mati sekarang?”

__ADS_1


Jika Allen melihat sosok pria muda itu, ia akan sangat terkejut karena pria yang sangat humoris dan kaya raya adalah dalang di balik semua kejadian ini. Pria itu tidak lain adalah David, Sang Pangeran Pemburu.


__ADS_2