
Allen sudah pakai baju dan semua keluarga berkumpul. Mahmudi dengan tingkahnya yang khas langsung mengambil makanannya.
Yeni dengan cepat menapuk tangannya. "Jangan sembarangan, aku masak buat anak-anak."
"Sayang ayolah, aku juga lapar." Mahmudi mencoba menggoda istrinya.
Keluarga yang aneh ini tidak bisa lepas dari pikiran Allen. Setelah menghajarnya hingga sekarat, ayahnya tidak mengatakan apapun.
Alona mengambil makanan dulu dan segera menyelesaikannya. Kemudian ibunya dan ayahnya baru mengambilkan makanan. Allen masih terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa yang kau lakukan, cepat makan." Yeni, Ibu Allen membentaknya dengan suara yang cukup kasar.
Allen datang hanya ingin meminta restu dan membawa kedua orang tuanya untuk melamar Clarissa. Namun apa yang terjadi saat ini membuatnya bingung.
Setelah semua selesai makan, Yeni membuka pembicaraan dengan tenang. "Apa yang sedang kau lakukan diluar?" tanyanya dengan ekspresi serius.
Allen menceritakan semua pekerjaannya mulai dari pengembangan perusahaannya sampai dengan kelompok Raja Surgawi. Namun semua pencapaiannya tidak membuat ayah dan ibunya tersenyum sedikitpun.
"Hanya itu?" tanya Yeni dengan suara sedikit kecewa.
"Ibu, aku juga sudah menguasai Prinsip Jiwa tingkat 5. Kami semua telah membangkitkan Pohon Dunia dan berhasil selamat dari perang dunia." Allen masih ngotot membanggakan dirinya.
Yeni menghela napas. "Apa yang kau rasakan setelah bertarung dengan ayahmu?" tanyanya.
"Kuat, lincah, dan aneh." Allen menjawab dengan perasaan bingung. Dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi tidak pernah berhasil menyentuhnya.
"Jadi pengalaman diluar hanya sampai disini. Bertarunglah dengan Alona." Yeni berdiri dan meninggalkan meja makan, ekspresinya tampak kecewa. Kemudian Mahmudi seperti anak kecil mengikutinya dari belakang.
Tinggal Alona dan Allen yang ada di meja makan. Alona membuka mulutnya dan berkata, "Jangan sia-siakan tenagamu. Kamu tidak akan pernah bisa menang melawanku." Alona mengambil ponselnya disaku dan memotret dirinya sendiri.
Allen menyempitkan mata dan menggunakan Mata Dunia untuk melihatnya.
[Alona
Umur : 22 tahun
Elemen : ?
Total Kekuatan : ??.]
"Percuma menggunakan mata spesial milikmu. Aku punya kemampuan yang bisa menutupi semuanya. Kecuali umur, sial seharusnya aku bisa menyelesaikan ujiannya!" ucap Alona dan memukul meja dengan pelan.
Meja yang terbuat dari kayu jati dengan kualitas terbaik hancur. Alona menatapnya dengan santai dan berteriak, "Yah, mejanya hancur lagi!."
__ADS_1
Mahmudi dengan kecepatan kilat langsung muncul sambil membawa palu dan paku. Kemudian dia mengelus kayu jati dan mengukurnya. "Tenang, 4 jam selesai," kata Mahmudi dengan santai.
Kayu-kayu itu langsung dibawa keluar dan Mahmudi langsung membetulkannya. Dia menggunakan semua barang-barang layaknya tukang kayu, dan semuanya berjalan dengan lancar.
Allen masih tidak percaya pukulan biasa dari Alona menghancurkan meja jati yang sangat kokoh. Bahkan Allen harus mengerahkan semua kekuatannya untuk melakukannya.
"Kenapa kamu menjadi sangat kuat?" tanya Allen penasaran.
Alona memalingkan wajahnya dan menunjuk pelipisnya. "Pikir saja sendiri, aku akan bertarung denganmu tiga hari lagi. Tiga hari lagi, oh iya soal lamaran dengan Clarissa orang tua kita akan datang. Jangan lupakan aku, belikan barang-barang mahal."
Setelah langkah ke tiga, Alona kembali lagi dan menyodorkan tangannya. "Berikan aku kartumu, aku saja yang belanja."
Allen hanya bisa terperangah dan memberikan kartu kreditnya tanpa perlawanan. Dia bingung dengan perubahan Alona yang sangat signifikan. Bahkan Allen tidak punya kesempatan sedikitpun untuk menang melawannya.
Mencoba mencari keberuntungan, Allen berjalan ke bukit di dekatnya. Dia melihat gua yang dulu pernah menuntunnya untuk memperbaiki aliran waktu yang kacau.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud, tolong berikanlah petunjuk lainnya." Allen hanya bisa meronta ke batu yang tidak lagi mengandung semangat jiwa.
Hari mulai malam, Allen menyerap energi alam disekitarnya dan mulai mengedarkan Prinsip Jiwa ke seluruh tubuhnya.
Awalnya semua baik-baik saja, tetapi setelah tengah malam suara aneh mulai terdengar. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar di telinganya, Allen tetap tenang karena Poin Mentalnya cukup tinggi.
Bisikan aneh yang mengatakan harus membunuh kedua orang tua, semua itu datang dari Iblis Jiwa.
Allen tetap diam, hatinya sudah di mantapkan dan otaknya sudah menancap ke hati nuraninya.
Setelah mengabaikannya cukup lama, Iblis Jiwa menarik kesadaran Allen ke tempat yang sangat jauh.
"Lihatlah, setelah kau membunuh adikmu. Kedua orang tuamu bisa kau bunuh dengan mudah." Iblis Jiwa menarasikan kejadian kelam itu.
Allen melihat dirinya membunuh adik dan dua orang tuanya. Sosok Monster Bayangan memakan mereka dan mendapatkan kekuatannya.
Setelah menyerap ayah dan ibunya, Allen datang ke rumah Clarissa sendirian. Dia dengan penuh percaya diri melamar Clarissa sendiri.
Ayah Clarissa tampak senang karena menganggap Allen adalah seseorang yang pemberani. Mereka menjalani prosesi pernikahan dengan lancar dan mulai menguasai dunia.
Tidak sampai disitu, Allen membunuh semua anggota Keluarga Baruch dengan satu tangan. Bahkan membelah David dengan tangannya sendiri.
"Mengapa aku bisa sekuat itu?" ucap Allen asli yang menonton semua kejadian.
"Kekuatan, kau sangat kuat setelah memakan keluargamu. Oh iya, semua orang di desamu juga orang-orang kuat jadi kau bisa memakannya." Iblis Jiwa malah menjerumuskan Allen ke jalan iblis.
Allen hanya diam, dia melihat kelanjutan dari adegan pembantaian. Bahkan dengan kekuatan Allen saat itu, dia bisa menghancurkan pondasi Keluarga Windsor dan Morgan dengan mudah.
__ADS_1
Peperangan terjadi dimana-mana, Allen sebagai pusatnya bisa menguasai semuanya. Bahkan Asosiasi Pejuang Beladiri berada di bawah kakinya. Clarissa juga tampak senang setelah menikah dengannya.
Namun Allen asli memiliki perasaan buruk, dia tidak pernah melihat saudara-saudaranya sejak saat itu.
"Mereka sudah bergabung denganmu. Bukankah anggota-anggota lemah seperti mereka cocok untuk menjadi bahan bakar?" ucap Iblis Jiwa dengan suara serak.
Allen hanya diam dan terus menonton, tapi setelah bercinta dengan Clarissa Bayangan Allen tampak keracunan.
Iblis Jiwa langsung menutup penglihatan yang sudah diketahui akhirnya. "Hiraukan adegan terkahir, kamu bisa mengubahnya dengan cara membunuh wanita itu!."
Mata Allen berubah merah, petir kecil keluar dari ujungnya. Rambutnya berubah putih dan senyumnya bertambah lebar.
Suara tawa Allen terdengar sangat keras. "Iblis bajingan, apa kau menyuruhku untuk membunuh istriku? Apa kau pernah memikirkan aku kembali ke masa lalu demi menjaganya?" tanya Allen dengan tatapan penuh amarah.
Tangan kanan Allen segera menekuk gumpalan hitam. Gigi taringnya diperlihatkan dengan tatapan penuh amarah.
"Apa kau menyuruhku membunuh, Adik dan kedua orangtuaku!" tanya Allen dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Jangan mimpi, Bajingan gila. Lebih baik aku mati daripada melukai adik dan dua orang tuaku!" katanya sambil menghancurkan Iblis Jiwa.
Gumpalan hitam itu hancur dan berteriak, "Bocah Sialan, aku pasti akan datang lagi. Jadi persiapkan dirimu!."
Allen membuka matanya dan matahari mulai terbit dari timur, cahaya kuning menembus tubuhnya yang penuh keringat dingin.
Setelah menahan selama dua detik, Allen memuntahkan darah hitam dari yang penuh dengan energi jahat.
"Apa ini?" tanya Allen kebingungan, dia segera mengusapnya dan muntah lagi.
Allen setidaknya muntah 7 kali berturut-turut, dia berhasil menyingkirkan 7 iblis jiwa dengan sekali jalan. Ini yang dimaksud Alona sebagai ujian.
Setelah dua hari berlatih, Allen kembali ke rumah dan menantang Alona yang sudah siap di lapangan pertarungan.
"Apa kau sudah siap?" tanya Alona dengan suara merendahkan.
Allen mengangguk dan memasang kuda-kuda kebanggaannya, rambutnya berubah putih dan matanya muncul petir kecil.
"Mulai!" kata Mahmudi dengan suara lantang.
Alon bergerak dengan pelan, tubuhnya tiba-tiba hilang dan memukul perut Allen dengan cukup keras.
Allen yang tidak menyadari pergerakannya hanya bisa menerima serangan dan terentang cukup jauh hingga membentur pohon besar.
"Sial, apa itu tadi?" katanya sambil memuntahkan seteguk darah segar.
__ADS_1