
Jamie Oliver mempercayai kata-kata Allen dan menjalankan rencananya. Secara tidak sengaja Allen sudah membangun satu jaring ke pemerintahan kota K, tinggal melanjutkan langkahnya dan kekayaan akan menghampirinya.
Allen pergi terlebih dulu, ia keluar dari restoran dan menuju kantor di rumahnya. Tepat setelah masuk mobil, Allen mencoba melihat statusnya yang sudah berkembang sangat banyak.
[Status : Pemain Allen]
Level : 2
Kekuatan tubuh : 20
Stamina : 20
Konsentrasi : 20
Mental : 9
Wibawa : 11
Aura : 20
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa.
Mata Dunia.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa).
Alkemis.
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 0
Bonus poin skill : 0
Allen menyadari bahwa kondisi mental sangat mempengaruhi perkembangannya, meskipun sudah menyelesaikan tugas harian tapi tidak dapat menembus level selanjutnya.
Meningkatkan kondisi mental sangat sulit, Allen sudah melakukan banyak cara untuk meningkatkannya dari 6 ke 9. Dalam 4 bulan ia hanya berhasil menambahkan 3 poin saja, ia tahu ini bukan berita baik.
“Bagaimana aku harus meningkatkannya?” ucap Allen yang merasa kebingungan.
Tepat setelah ia mengatakannya, suara tembakan terdengar. Seorang pria berpakaian merah memegang pistol dan membunuh seorang wanita. Meskipun samar, Allen bisa mengetahui pistol yang dia pakai tidak menggunakan peluru biasa.
Mata merah dari pembunuh itu melirik ke arah Allen yang baru saja muncul dari belakang semak. Tanpa menunggu lama, pembunuh langsung mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya.
Allen yang terkejut tanpa sadar mencoba menangkap pelurunya. Ia merasa bahwa teknik beladirinya sudah cukup untuk menghentikan sebuah peluru dari pistol biasa. Namun tepat setelah peluru menyentuh tangannya, peluru itu menembus tangannya dan melukai pipinya.
__ADS_1
Mata Allen terbuka lebar, ia sangat yakin sudah menggunakan aura untuk memblokirnya. Namun siapa yang menyangka pelurunya menembus telapak tangannya dan melukai pipinya.
“Sial!” ucap Allen sambil memegangi tangan kanannya yang terluka. Insting bertahan hidupnya bangun, Allen langsung berlari menjauh dari tempat kejadian. Namun suara tembakan terdengar lagi, peluru melesat dengan kecepatan tinggi.
Kaki kanan Allen menjadi sasaran, tapi ia sadar dan menghindari peluru aura yang ditembakkan pembunuh. Entah apa yang mendorongnya untuk melihat ke belakang, Allen menoleh dan mendapati pembunuh tampak sudah kekalahan.
Pikiran aneh mulai merasuki dirinya. “Mungkin ini adalah kesempatan,” katanya dalam hati.
Allen segera berbelok dan berputar. Tujuannya tidak lain adalah titik buta dari pembunuh, ia langsung menggenggam dan melayangkan serangan kejutan ke punggung pembunuh.
Meskipun hanya seorang Pejuang tingkat 3, Allen punya aura yang sangat kuat jadi pukulannya berhasil melempar pembunuh beberapa meter. Mata merahnya memandang Allen dengan penuh permusuhan, ia mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya. Sayangnya auranya sudah habis, peluru biasa yang berhasil keluar dari senjatanya.
Allen sadar akan hal tersebut, ia segera menggunakan tangan kiri untuk menghentikan peluru. “Kenapa kau melakukan kejahatan seperti ini?” tanyanya sambil melempar peluru ke depan pembunuh.
Sebelum menjawab, pembunuh itu tersenyum jahat. “Bodoh, mana mungkin bocah ingusan sepertimu tahu apa itu dendam. Cepat bunuh aku, Brengsek!”
Allen memalingkan wajahnya, ia meninggalkan Si Pembunuh. Namun keputusannya itu terlalu naif, pembunuh tertawa keras dan mengatakan, “Bocah Naif, Bodoh!”
Tubuh Si Pembunuh memancarkan cahaya merah, aura dalam tubuhnya mengamuk dan tubuhnya mulai mengembang seperti akan meledak. Benar saja setelah beberapa detik, ledakan besar terjadi.
Allen yang berusaha lari ketika merasakan lonjakan aura, tapi punggungnya masih terkena ledakan panas. Punggungnya berdarah dan baju bagian belakangnya terbakar.
“Sial, kenapa hari ini sangat sial!” ucap Allen berusaha berjalan dengan luka di tubuhnya. Ledakan tadi tidak hanya melukai fisik, tetapi kestabilan auranya juga terganggu.
Dua mayat yang seharusnya ada di tempat kejadian hangus menjadi abu, hanya ada bekas ledakan. Pohon-pohon di dekatnya juga terbakar habis. Tidak lama setelahnya para pasukan khusus sampai dan mengamankan tempat kejadian.
“Kenapa dua Pejuang tingkat 4 saling bertarung?” tanya Pemimpin Pasukan Khusus.
“Menurut laporan, mereka memperebutkan sebuah pil pertumbuhan aura. Kita punya buktinya,” jawab seorang prajurit sambil menunjukkan sebuah pil berwarna kuning.
Pemimpin pasukan khusus melangkah menuju tempat terlemparnya Allen, ia mengusap darah yang tertinggal di tanah. “Ini darah orang lain, pasti orang itu yang berhasil membawa pil lainnya. Segera identifikasi darahnya dan segera laporan padaku!”
“Baik, Komandan!”
Kejadian tidak terduga memaksa Allen masuk ke dalam pertarungan para Pejuang Beladiri. Awalnya ia hanya ingin bertambah kuat dan mengambil Clarissa dari David, tapi sekarang ia terlalu dalam masuk ke dunia para petarung beladiri.
[Poin Mental +1] (3x)
[Selamat, pemain Allen berkesempatan untuk menerobos level. Selesaikan misi khusus.]
[Misi Khusus]
- Punya dua keterampilan senjata.
- Dapatkan Spirit Pendukung.
“Misi pertama masih bisa dimengerti, sedangkan yang kedua...?” ucap Allen sambil bersandar di pohon. Punggungnya masih terluka, tapi ia harus istirahat dan memfokuskan pikirannya untuk penyembuhan.
__ADS_1
Alis Allen mengerut, ia mencoba menggali seluruh ingatannya. Namun tidak satu pun dari ingatannya yang dapat menjawab misi khusus nomor 2.
“Sudahlah, ayo meditasi dulu!” katanya pelan sambil menutup matanya.
Tidak berasa matahari akan mulai terbit, Allen berhasil mengobati rasa sakit di punggungnya dan mulai membuka matanya. Hembusan napasnya terdengar sangat panjang hingga mengeluarkan uap putih.
“Huh, akhirnya selesai.”
Tepat setelah berhasil menyelesaikan masalahnya, Allen mengambil ponsel di saku kanannya. Wajahnya langsung berubah jelek ketika melihat lebih dari 50 panggilan tak terjawab dari Budi.
“Jemput aku di bawah jembatan layang merah, jangan lupa bawa pakaian,” kata Allen melalui panggilan suara.
Budi tidak mengatakan apa-apa, ia menutup panggilan dan langsung bergegas ke jembatan layang merah. Tidak lupa ia membawa pakaian baru untuk menjemput tuannya.
Alona menghentikan Budi. “Apa yang terjadi?” tanyanya tampak khawatir dengan kakaknya.
“Tenanglah, beliau sangat kuat. Jadi jangan khawatir.” Budi segera melanjutkan langkahnya dan menuju mobil untuk segera menuju tempat Allen.
Sebenarnya Alona tidak khawatir, malahan dia tersenyum manis mengetahui ternyata kakaknya sangat kuat dan kaya raya. “Sekarang aku bisa pamer, haha liatlah kamar inap yang begitu mewah!” katanya sambil mengambil foto.
Tidak lupa ia mengirimnya ke media sosial untuk meningkatkan pengikutnya. “Lihatlah aku korban dari teror di mall kemarin, tapi keluargaku sangat kaya dan memberikan kamar inap VIP!” tulisnya di media sosial.
Setiap kali ada konten pamer, disitu pasti ada penghujat yang gatal untuk mengetik komentarnya. Alona tidak peduli dengan para penghujat, ia hanya memanfaatkan kontennya untuk menambah penonton.
“Benar, seperti itu. Aku bisa mendapatkan uang dari sini!” kata Alona sambil menatap layar ponselnya. Tidak lupa ia tersenyum jahat, pikirannya sudah mulai liar ingin memanfaatkan kekuatan kakaknya.
“Bagaimana aku harus menghabiskan uang ini?” ucap Alona sambil mengangkat kartu berwarna emas yang mempunyai batas belanja mencapai 100 juta rupiah.
Meskipun nakal dan bodoh, tubuh Alona tidaklah lemah. Ia sebenarnya sudah sembuh dari beberapa goresan, akibat penyerangan di gedung pusat perbelanjaan sebelumnya.
Tidak main-main, Alona segera mencari beberapa barang mewah di Toko Online. Tangannya segera mengetik sebuah merek ponsel dengan harga 30 juta rupiah, tanpa pikir panjang ia langsung memesannya. Tidak sampai di situ, ia juga membeli beberapa pakaian mewah seharga puluhan juga, bahkan ia membeli sepatu yang harganya melebihi 20 juta.
Disisi lain Allen mengganti pakaiannya sambil bersin. “Aku merasa tidak enak,” katanya pelan.
Setelah mengganti pakaian, Allen segera menemui Budi dan menyuruhnya untuk membeli beberapa makanan.
“Kita tidak punya uang, Tuan.”
“Kartu yang aku berikan?” tanya Allen.
“Aku berikan pada Nona Alona,” jawab Budi dengan santainya.
Allen segera menunduk dan tersenyum kecut. “Sial, mari kita lihat tagihan hari ini,” katanya pelan sambil melihat ponselnya.
Setelah beberapa saat tangannya gemetar menggenggam ponselnya. “Bocah nakal sialan!” teriaknya di dalam mobil.
Tertera tulisan di layar ponselnya. “Tagihan bulanan Anda telah mencapai batas.”
__ADS_1