Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Tawaran


__ADS_3

Koki yang di sewa Tiwi datang terlambat dan salah mengenali penyewa, jadi Allen mengabaikannya.


Clarissa dan ayahnya keluar dari ruang rapat dengan perasaan kecewa. Terutama Ayah Clarissa yang terlalu menganggap tinggi pria bernama Allen.


Namun sebelum melangkah keluar, seorang tamu pesta nyeletuk, "Jadi Kepala Koki dan semua masakan ini buatan bos, Sial aku harus menikahinya!"


"Jangan harap, bos sudah punya wanita incaran. Apa kau tahu cucu dari Harjo Susanto, dia sepertinya tertarik. Sial keluargaku kurang kaya!" ucap perempuan lainnya.


Gemuruh terdengar, Ayah Clarissa berhenti. Ia mulai sadar bahwa kesimpulan yang diambilnya sedikit terlalu cepat.


Para Koki di dapur keluar karena mendengar kegaduhan. Wakil Koki mendekati Allen dan bertanya, "Bos, apa yang terjadi?"


"Tidak ada yang spesial, hanya ada orang terlambat." Allen menjawabnya dengan sangat santai.


Ayah Clarissa membelalakkan matanya, ia tidak pernah menduga banyak pegawai sangat dekat dengan pemimpinnya. Bahkan seorang juru masak berani bertanya dengannya.


Doni, Bobi, dan Tom masuk ke dalam karena mendengar ke gaduh. Doni langsung nendekati Allen dan bertanya, "Apa perlu aku bubarkan?"


"Tidak perlu, kita semua disini untuk bersenang-senang. Bahkan tanpa kehadirannya kita akan terus melanjutkan pesta." Allen menjawabnya dengan sangat tenang.


Tiwi sedikit khawatir karena Ayah Clarissa adalah orang penting di bidang perbankan. Semua penguasa harus mempertahankan hubungan baik dengannya.


Koki yang datang terlambat kebingungan, ia melihat semua masakan sudah tertata rapi. Bahkan semua orang yang menikmatinya sangat puas.


Ayah Clarissa memejamkan mata dan segera keluar, Clarissa mengikutinya dari belakang.


Setelah sampai mobil, Clarissa mulai membuka mulutnya. "Ayah, bukankah kau sudah janji akan datang!"


"Aku sudah datang sesuai keinginanmu." Ayah Clarissa melihat ke luar jendela mobil, ia melihat seorang pria tua yang mengenakan jas rapi.


"Jo, apa kabar?" teriak Ayah Clarissa melambai ke luar jendela.


Harjo Susanto menoleh ke arah mobil hitam. "Baik, To. Kau dapat undangan juga?" tanyanya dengan suara senang.


Harjo Susanto sudah tahu betapa hebatnya Allen dalam membuat acara, khususnya masakan yang di sajikan.


"Aku sudah mau pulang, sepertinya disana sedikit gaduh." Ayah Clarissa memberikan pendapatnya.


"Haha, bukankah itu sedikit menarik. Mana ada pegawai yang sangat dekat dengan pemimpinnya." Harjo Susanto melihat ke depan pintu masuk ruang pesta.

__ADS_1


Perkataan Kakek Jojo membuat ayah Clarissa sadar akan sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang baik. Namun ia hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya.


"Sepertinya aku memang kurang cocok dengannya." Ayah Clarissa bukan orang baik, ia membutuhkan siasat apapun untuk mendapat keuntungan.


Harjo Susanto tersenyum tipis dan melirik Ayah Clarissa. "Aku harus mengatakan, kau sangat bodoh. Bocah sialan itu tidak sangat pintar mencuci tangannya. Bahkan pelayannya sendiri tidak tahu kemampuannya."


Setelah mengatakan itu, Harjo Susanto mengucapkan salam perpisahan dan menuju ruang pesta.


Ayah Clarissa mengerutkan kening, dia dan Kakek Jojo sudah bersahabat cukup lama. Namun perkataan tadi sedikit melukai hatinya. Ponsel di sakunya segera diambil dan jarinya menghubungi orang Kepercayaannya.


"Selidiki semua yang tentang Allen dan perusahaannya!"


Setelah mengatakannya Ayah Clarissa langsung menutup telepon tanpa mendengar jawabannya.


"Ayah, jangan berlebih. Allen hanya laki-laki biasa," kata Clarissa sambil tersipu. Bukannya sedih tapi ia tampak tersipu malu karena senang. Sekarang Clarissa bisa mendekati Allen tanpa harus takut apapun.


"Jangan bertindak bodoh, ada dua bajingan lain yang mengincar kekayaanku. Sebaiknya perhatikan langkahmu, bisa jadi Allen akan terluka karenamu."


Ayah Clarissa tahu Reza dan William sedang bersaing untuk mendapatkan hati putrinya. Oleh karena itu, ia selalu mengingatkan putrinya untuk melangkah dengan hati-hati.


Disisi lain Koki yang baru datang mendekati Allen, dia datang tanpa rasa bersalah karena melihat pemimpin perusahaan jauh lebih muda darinya.


Allen tersenyum tipis dan mempersilahkan Koki keluar ruangan. Setelah koki berjalan beberapa langkah, Allen menekan tombol mulai di ponselnya.


Perkataan Koki tadi di rekam dengan suara jelas. Tidak sampai disitu, Allen menerima kontrak kerjasama yang di tanda tangani Kepala Koki dan Tiwi.


"Sepertinya kita dapat dana segar lagi. 5 miliar rupiah, itu denda yang cukup besar." Allen mengatakan sesuatu yang tertulis di dalam kontrak.


Kepala Koki orang pintar, ia hanya tersenyum tipis. "Lakukan saja apa yang kau inginkan, tapi ingatlah kami para Koki menghormati mereka yang diatas."


Allen tersenyum balik sambil jalan menjauh. Kemudian ia mengambil semangkuk sup dan menyodorkannya.


"Aku tahu kebiasaan kalian, bagaimana jika kita bertanding?"


Kepala Koki menampar mangkuk sup dan mengatakan, "Jangan harap. Kami selalu bertanding dengan tingkatan yang setara."


Allen mengangguk ke arah Tiwi, kemudian di balas dengan anggukan.


"Baiklah, aku harap kau tidak menyesalinya." Allen hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan Kepala Koki keluar.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Harjo Susanto datang dan melirik ke arah kepala koki. "Siapa orang gila yang mencoba menyinggungmu lagi, Bocah?" tanyanya.


"Bukan hal yang perlu diributkan." Allen mempersilahkan Harjo Susanto dan pengawalnya masuk ke dalam.


Acara berjalan lancar, tidak ada kejadian yang bagus sehingga membuat Allen merasa bosan.


Allen melangkah keluar balkon, ia melihat pemandangan Alun-alun kota dari atas. "Udaranya sangat sejuk, apa yang kau lakukan disini?" tanya Allen pada Doni, Tom, dan Bobi.


"Bos," jawab Doni.


Setelah Doni menjawab, semua ketiganya kembali melihat taman di alun-alun.


"Semua berawal dari sini. Apa kau masih ingat gang disana, Bos?" tanya Tom sambil menggoyang-goyangkan gelasnya.


Allen mendekat dan melihat gang yang ditunjuk. "Kalian bertiga menghadangku, sejujurnya aku sangat takut waktu itu."


"Jangan bercanda, Bos. Kau menghajar kami bertiga tanpa balas." Bobi nyeletuk menyela pernyataan Allen.


"Aku hanya beruntung waktu itu."


Tiba-tiba semuanya tertawa, mereka menceritakan kejadian lucu dan keluh kesahnya selama ini. Tanpa terasa pesta sudah selesai.


Dari cerita Doni, Tom, dan Bobi, Allen dapat menyimpulkan bahwa hidup mereka seperti ada yang kurang. Bukan masalah uang atau kasih sayang keluarga, tetapi mereka kehilangan perasaan yang sejak kecil mereka miliki.


Allen sadar apa yang mereka inginkan, kekuatan adalah jawaban dari semua keluh kesahnya. Namun Allen belum berniat menjadikan mereka murid atau keluarganya.


Semua orang mulai pulang, menyisakan Tiwi, Doni, Bobi, dan Tom. Keempat orang itu membersihkan semua peralatan dan ruangan tanpa menunggu petugas.


"Sepertinya aku tidak bisa menundanya lagi. Ayo ambil resiko!" gumam Allen memantapkan hatinya.


Setelah mengatakan itu, Allen mengumpulkan keempat orang. Mereka membentuk sebuah lingkungan untuk diskusi.


"Baiklah, lihatlah aku baik-baik. Mungkin ini terlihat seperti sihir atau apalah yang kalian sebut." Allen menunjukkan sebuah api keluar dari telapak tangannya, tapi tangannya tidak melepuh atau terbakar.


Tentu saja melihat Allen melakukan itu, Tiwi dan teman-temannya tercengang.


"Aku seorang Pejuang Beladiri. Sebenarnya aku tidak ingin menyeret kalian ke dunia beladiri, tapi jika seperti ini terus, aku takut nyawa orang terkasih kalian menjadi korban."


Tiwi dan teman-temannya menjadi tegang. Mereka sudah merasakan ancaman nyata dari para pesaing bisnisnya. Bahkan  banyak diantara mereka membawa senjata api, sedangkan di Kota K senjata api di batasi penggunaannya.

__ADS_1


"Tidak perlu menyatakan apapun, aku hanya ingin menanyakan. Apa kalian bersedia bergabung denganku? Pastinya nyawa taruhannya!" tanya Allen dengan ekspresi serius.


__ADS_2