
Hari pernikahan tiba, Allen dan Clarissa mengenakan gaun dan stelan jas yang sangat ingat berwarna putih.
Mereka berdua berjalan mengikuti menuju tempat pelaminan dan mengucapkan sumpah janji sehidup semati.
Tidak ada gangguan sama sekali, hal itu membuatnya Sulaiman Hardiman dan para tamu undangan bingung. Bahkan Reza dan William tidak tahu apa yang sedang dilakukan kelompoknya.
Allen tersenyum manis dan menyuapi Clarissa dengan tenang. Foto diambil dari segala arah, acara pesta digelar dengan aman dan lancar.
Reza dan William tampak menggenggam teleponnya dan menghubungi seseorang. Raut wajah mereka memperlihatkan kemarahan.
"Apa yang terjadi?" tanya ayah William.
"Pasukan kita menghilang, aku menduga ada pihak lain yang ikut campur." William harus memastikan kebenarannya.
Perlu diingat, William dan Reza merupakan Pejuang Beladiri Tingkat 7. Keduanya punya kartu as yang bisa membunuh pejuang tingkat 8, tapi orang-orangnya tidak sehebat mereka.
5 jam yang lalu, Allen memberi perintah untuk menyergap pasukan musuh di kamp. Mengandalkan Mata Dunia, Allen memprediksi masa depan dengan mudah.
Arah dan pergerakannya sudah ditentukan, kelompok Raja Surgawi dibagi menjadi 4. Tiwi, Simon, Budi, dan Ye Mo menjadi ketua kelompok.
Sedangkan Shera dan Pedro menjadi pasukan tambahan, mereka akan menyergap siapapun yang lolos dari pertempuran.
Dalam hitungan detik, 4 kelompok berpencar dan memperhatikan pergerakan musuh. Karena hari masih gelap, pasukan musuh masih tidur dan meninggalkan beberapa penjaga.
Tiwi yang memimpin pasukan ke arah utara berhadapan dengan kelompok misterius. Mereka adalah kelompok mahkluk luar angkasa atau disebut alien. Wujudnya persis seperti manusia, tapi ada lingkaran kuning di atas kepalanya.
Tiwi yang awalnya ingin bersembunyi sampai matahari terbit, tiba-tiba dikejutkan oleh serapan alien di belakangnya.
"Siapa kau?" tanyanya pada Tiwi.
Bukannya kaget, Tiwi tampak tenang dan menoleh ke belakang. "Aku datang untuk menghalangimu datang ke pernikahan Clarissa."
"Oh, jadi kamu orangnya Sulaiman. Baiklah, sekarang mati!" katanya sambil melepaskan pukulan.
Tiwi dengan santainya menggerakkan tangan dan menangkap tinju alien. "Sepertinya kau belum sarapan."
Tanpa rasa iba, Tiwi langsung melepas lengan alien dari tempatnya. Meski seorang perempuan, Tiwi punya kestabilan tubuh yang cukup tinggi.
"Apa?" ucap Alien terkejut.
Tangan kanan yang di bawa Tiwi meleleh, kemudian tangan Alien kembali utuh. "Menarik, kau bukan manusia biasa."
"Sebagai mahkluk asing, kamu punya banyak bahan untuk dibicarakan." Tiwi menarik pedangnya dari kekosongan. Pedang itu terbuat dari energi jiwa yang dipadatkan.
Warna ungu kehitaman mulai menyelimuti tubuhnya, Tiwi menatap tajam ke arah musuh dan langsung melesat. Tusukan energi pedangnya diremehkan, musuh tidak menghindar dan menerima serangan.
__ADS_1
"Percuma, tidak ada yang bisa melukai tubuh kami."
Tiwi tidak peduli dan langsung mengayunkan pedangnya. Kejadian itu terjadi sangat singkat, alien yang awalnya abadi tergeletak di tanah.
"Apa? Kenapa aku tidak bisa bangun."
"Percaya diri boleh, tapi jangan goblok." Tiwi mengumpat sambil mengerahkan teknik Pelahap Jiwa.
Sebagian kecil ingatan Alien diserap, Tiwi tidak percaya ternyata alien itu sudah berumur 1000 tahun. Jika saja dia tidak lengah, mungkin Tiwi mengalami banyak kerugian.
"Berpencar, habisi semua gangguan." Tiwi memberi perintah pada kelompoknya.
Lebih dari 100 bayangan terlihat, mereka langsung berpencar dan mencari informasi di sekitar.
Salah satu rekannya menghilang, hal itu membuat kelompok alien kebingungan.
"Apa yang terjadi, dimana Remon!" ucap ketua kelompok Alien.
"Tuan Jeson, Remon telah kehilangan api jiwanya. Bisa disimpulkan dia mati di tangan manusia."
"Sial, kita bergerak cepat."
Sebelum bergerak, Tiwi berjalan mendekati kelompok itu. "Tidak perlu repot, aku sudah mendatangi kalian."
"Siapa kau?"
Dia sendiri, Tiwi berhadapan dengan 49 Alien yang setara dengan Pejuang Tingkat 7 dan 8. Meski begitu Tiwi tidak gentar sedikitpun, dia masih tenang menghadapai terapan permusuhan dari lawannya.
"Bocah gila, jadi apa yang kau lakukan pada Remon?" tanya Ketua Kelompok Alien.
"Oh, jadi namanya Remon. Dia menggangu tidurku dan membuat onar, jadi membunuhnya adalah hukuman yang tepat."
Ketua kelompok langsung memberi aba-aba. "Serang, bunuh bocah gila itu!"
Tiwi tersenyum manis, tubuhnya mulai bergerak dan pedangnya mulai bersinar. "Tebasan Bintang!" katanya pelan.
Sebuah sayatan pedang tercipta dan menyapu semua musuh di depannya. 48 Alien yang katanya bisa beregenerasi cepat tergeletak di tanah. Mereka berusaha menyembuhkan tubuhnya yang terkena serangan.
"Kalian para alien sangat bodoh. Kenapa juga kalian menabrak serangan sekuat itu." Tiwi mengejek Ketua Kelompok Alien yang terdiam di tempat.
"Bacot."
Sebelum bergerak tiba-tiba dua orang muncul di belakangnya. Keduanya langsung menusuk dan membelah tubuh musuhnya.
"Apa?"
__ADS_1
Tiwi berjalan pelan mendekati Ketua Kelompok Alien, senyumnya tampak lebar sehingga menciptakan kesan yang mengerikan.
"Apa hanya ini kemampuan kalian?" tanya Tiwi sambil mengangkat kepala musuh.
"Ini belum berakhir, Raja pasti akan membalaskan kehidupan kami!" teriak Ketua Kelompok sambil menggigit lidahnya.
Tiwi tersenyum manis dan memasukkan obat penyembuh ke mulut Alien. "Tidak perlu terburu-buru, lihatlah penderita rekan-rekanmu dulu."
48 alien yang kalah dulu berteriak keras karena jiwanya mulai di ekstrak oleh monster bayangan. Mereka berteriak sekeras-kerasnya karena rasanya sangat sakit.
Ketua Kelompok Alien hanya bisa menutup matanya, tapi dia masih mendengar jeritan anggotanya yang di siksa.
Tiwi menggunakan formasi khusus untuk memaksa Alien membuka matanya. "Apa kalian pernah berpikir manusia bisa melakukan semua ini?"
"Bajingan apa yang kau lakukan!" teriak Ketua Kelompok Alien dengan perasaan marah.
"Tenanglah, ini tidak ada bandingannya dengan para manusia yang telah kalian bunuh. Oh bukan, manusia yang kalian buat untuk uji eksperimen."
Tiwi mendapatkan informasi dari berbagai rekannya yang mencuri sebagian ingatan dari kelompok alien.
"Bagaimana kau tahu? Kami memastikan berita ini tidak bocor!"
"Bodoh, memangnya senjata biologi secanggih itu bisa dibuat dengan satu percobaan?" tanya Tiwi dengan senyum manis.
Suara teriakan kelompok alien hilang, meninggalkan Ketua Kelompok Alien yang masih di sandera Tiwi.
"Raja pasti akan membunuhmu."
"Tidak, kami yang akan mendatangi kalian. Jadi persiapan mentalmu." Tiwi langsung menghancurkan musuhnya.
Jiwanya dilahap dan ingatannya sedikit dirampok, Tiwi menyadari bahwa organisasi Alien terlalu besar. Bahkan terdapat Pejuang Tingkat 9 yang legendaris.
"Aku harus segera melaporkannya." Tiwi merasa ini adalah informasi penting. Tapi dia segera mengurungkan niatnya setelah menerima telepati dari Allen.
"Tiwi, jangan terprovokasi dengan ingatan musuh. Kita punya banyak saudara, jangan anggap mereka remeh." Allen sebenarnya ingin mengingatkan Tiwi untuk bekerja sama.
Namun Tiwi menangkapnya berbeda, dia merasa bahwa Pejuang Tingkat 9 bukan sesuatu yang harus ditakutkan.
Kelompok Tiwi berjaga di bagian Utara sampai acara pernikahan berjalan lancar. Mereka duduk dan menyiapkan beberapa kompor untuk makan pagi.
Salah satu alien melihat semua pembantaian yang dilakukan Tiwi dan kelompoknya. Dia langsung berlari kembali ke markas dan melaporkan semua kejadian yang telah dia lihat.
"Jadi bocah bernama Allen itu punya pasukan kuat? Cari tahu semua informasi tentangnya!" ucap Raja Alien yang berwujud manusia biasa.
Matanya merah serta kulit putih bersih. Pakaiannya berwarna hitam dengan tambahan aksen berwarna merah darah.
__ADS_1
Alien itu setara dengan Pejuang Tingkat 10 untuk ukuran manusia biasa. Namun Allen dan kelompoknya masih optimis bisa mengusir para alien dari bumi.