
Allen tidak pernah melihat kejadian seperti ini, ia hanya bisa terdiam dan menunggu mereka tumbang.
Seharian menunggu, Allen tidak mendapatkan hasil sama sekali. Mereka berdua masih terus bergerak dan aura di sekitarnya sangat stabil. Bahkan ia harus mengakui kestabilannya lebih baik darinya.
"Aku kalah dari bocah yang baru pertama kali melatih teknik jiwa. Siapa bocah-bocah ini!" gumamnya sedikit kesal.
Namun Allen tahu bahwa Teknik Jiwa bukan tentang kestabilannya, tetapi bagaimana cara mengontrolnya. Namun meningkatkan kestabilannya sampai ke titik maksimal juga tidak ada masalah.
Allen menyelesaikan latihan paginya, ia melihat dua bocah sudah tumbang di lantai. Kemudian ia melihat ke arah jam dinding.
"20 jam. Bukankah ini gila!" gumamnya sambil menolong Pedro dan Shera.
Tidak lupa Allen memberi pil kebugaran, supaya tubuh mereka tidak hancur setelah latihan berlebih.
Karena penasaran, Allen mencoba melihat latihan Ye Mo di penginapan tengah hutan. Ia mengintip bocah 18 tahun duduk bermeditasi di bawah pohon besar.
"Apa aku salah memberi?" gumam Allen pelan. Saat ini dia menggunakan kemampuan angin dan stealth. Jadi Ye Mo tidak mungkin menemukan keberadaannya.
Setelah memperhatikan beberapa saat, Allen mulai curiga Ye Mo mempraktekkan teknik beladiri yang berbeda.
Teknik Jiwa tidak berfokus pada meditasi ketenangan, tetapi berfokus pada kemampuan mengendalikan. Sebanyak apapun mereka meditasi, kalau tidak bisa mengendalikan tubuhnya sama saja bohong. Pengalaman dan gerakan dasar harus selalu dilakukan hingga diluar kepala, itu pondasi awal Teknik Jiwa.
Berbeda jika mereka memang sudah terlatih sejak awal. Memperkuat jiwa dengan meditasi adalah salah satu solusi menjadi lebih kuat.
Ye Mo tampak kebingungan, ia sudah melakukan sesuai arahan petunjuk. Namun tidak ada sedikitpun perasaan mengeluarkan aura.
"Aneh apa aku salah melakukannya?" ungkap Ye Mo kebingungan.
Allen tidak mau membantunya, kebanggaannya sebagai keturunan keluarga besar masih sangat kental. Jika memberinya petunjuk sekarang, Ye Mo akan menjadi pria yang sombong dan tidak tahu bumi.
Karena tidak ingin menggangu, Allen meninggalkan Ye Mo dan berlari ke gedung utama Perusahaan Allen.
Pelatihan pejuang Beladiri dipimpin Budi sebagai instruktur. Peregangan dasar dan pengetahuan dasa disampaikan dengan baik. Namun beberapa orang yang cukup kuat meremehkannya.
"Instruktur, lama kali teorinya! Ayo bertarung yang kalah duduk sini!" teriak salah seorang pria berbadan besar.
Awalnya Budi tidak ingin menanggapi karena mereka calon rekannya. Namun Allen memberinya kode supaya menghajar pria itu hingga sekarat.
"Hajar dia!" gumam Allen sambil memberi kode menyayat leher.
Budi yang tidak terlalu cerdas menaruh spidolnya. "Maju, jangan pernah mengadu ke perserikatan beladiri jika kau kalah!"
"Setuju!" jawan pria besar.
Tubuh Budi dan penantangnya tidak jauh berbeda, tapi badan Budi sedikit lebih kecil di banding lawannya.
__ADS_1
"Aku beri kau satu kesempatan menyerang!" teriak pria besar.
Tanpa rasa bersalah, Budi langsung menyerangnya dengan kepala tangan yang sekeras besi. Pria besar yang menantang langsung di bawa terbang. Seketika penantang pingsan di tempat tanpa perlawanan sedikitpun.
"Inilah pentingnya dasar-dasar. Kau bahkan tidak tahu titik rawan tubuh manusia, bagaimana kau bisa jadi pejianh!" katanya.
Semua orang terdiam, mereka semua adalah pejuang beladiri. Jadi tahu seberapa kuat pria penantang tadi, tapi Budi mengalahkannya dengan satu serangan.
"Jangan ada yang membantunya, kalau aku melihatnya kalian akan bernasib sama sepertinya!"
Budi mengatakannya dengan santai demi sebuah candaan. Namun semua orang di ruangan tegang mendengarnya.
Allen merasa aneh, padahal ribuan orang mendaftar kemarin. Namun sekarang tidak lebih dari 200 orang di ruangan ini.
Karena penasaran, Allen mendarangi Tiwi di ruang direktur. "Tiwi, kenapa banyak pejuang tidak hadir?"
Tiwi hanya bisa tersenyum kecut, ia tidak menduga para pejuang sangat tidak disiplin. Setelah menandatangani surat kontrak, mereka menghilang dan sampai sekarang belum kembali.
Pembatalan kontrak diharuskan kedua belah pihak setuju, atau harus ada pelanggaran berat. Tidak masuk selama 20 hari dalam sebulan termasuk pelanggaran sedang. Sedangkan untuk memecat mereka, setidaknya Pejuang Beladiri tidak masuk selama 25 sebulan.
Tiwi awalnya tidak curiga, tetapi setelah menandatangi kontrak ia baru sadar. Para pejuang itu tidak bisa di batasi aturan.
"Kenapa bingung, pecat saja mereka."
Allen menunjuk poin terkahir. "Bukankah disini sudah jelas, mereka harus mematuhi teta tertib perusahan. Tambahkan saja teta tertib di perusahaan untuk tidak terlambat, kemudian buat aturan baru..."
Allen menjelaskan banyak cara untuk menendang para pejuang yang tidak disiplin. Ia mempelajari trik kotor itu dari William di kehidupan sebelumnya.
Tidak sampai sebulan, semua tikus yang menggangu segera hilang. Namun masih menyisakan beberapa mata-mata dari perusahaan lain.
Allen tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat, karena mungkin saja mata-mata itu bisa digunakan untuk mengelabuhi musuh.
"Nathan, apa semua orang di daftar hitam sudah tersingkir?" tanya Allen di ruangan Nathan.
"Masih ada 28 orang, mereka punya latar belakang yang aneh. Bahkan salah satunya anak seorang petani desa di Kota B."
Kota B sangat jauh dari Kota K, seharusnya semua itu hampir mustahil anak desa jauh-jauh datang ke Kota K.
"Sepertinya identitas mereka semua telah di hapus. Apa mungkin nanya di samakan?" tanya Allen.
"Semua mata-mata itu menggukan identitas palsu. Nama mereka semua beda dengan data yang kamu beri."
"Terus apa hasil dari nama-nama yang ku beri?"
"Mereka semua mati dalam kecelakaan aneh. Bahkan ada yang tenggelam di tengah samudera."
__ADS_1
Allen mengerutkan kening, ia harus berpikir bagaimana mencari siapa yang menjadi pendukungnya.
"Bos, bagaimana kau mengetahui nama mereka?"
Allen tersenyum tipis, kemudian menunujuk matanya. "Aku punya kemampuan khusus untuk mengetahui kebenaran seseorang," kata Allen dengan sangat santai.
Nathan tampak gemetar, artinya bosnya sekarang tahu nama aslinya. "Apa anda juga tahu nama kecilku?"
"Nathan Azzam, keluarga yang pernah di hancurkan oleh para bandit. Anehnya kejadian itu hilang dari sejarah karena keluarga Azzam maupun lawannya adalah kumpulan pejuang beladiri."
Nathan membelalakkan matanya, ia tidak menduga bosnya bisa mengetahui latar belakangnya juga.
"Bos, tolong sembunyikan fakta ini. Musuh kami lebih kuat dari yang kau bayangkan."
Allen tersenyum manis. "Aku tahu, kau pikir musuhmu lebih kuat dariku."
Allen membandingkan musuh nyatanya, Reza, William, dan David bukan orang sembarangan. Bahkan mungkin saja kekuatan yang menghancurkan Keluarga Azzam hanya salah satu kaki tangan mereka.
Setelah beberapa saat menyelesaikan pembicaraan mereka, Allen meninggalkan ruang Nathan dan mencari Pedro dan Shera.
"Apa kalian meniak latihan, bukankah lebih baik istirahat sejenak?" ucap Allen menghentikan Pedro dan Shera.
Untuk memastikan kesehatan mereka, Allen memeriksanya dengan teliti. "Sial, apa ada monster seperti mereka. Bagaimana tubuh yang hancur, dalam sehari sudah sembuh," ucap Allen dalam hatinya.
Meskipun begitu, Allen masih memasang wajah datar. Dia tidak ingin memuji Pedro dan Shera.
"Tubuh kalian belum terbentuk sepenuhnya. Sekarang makan pil ini dan lakukan meditasi, serap kasiatnya."
Allen memberikan 2 buah pil kebugaran tubuh yang sudah ditingkatkan. Seharusnya tidak akan membunuh mereka berdua.
Tanpa rasa takut, dua bocah 17 tahun itu menelan pilnya. Denga bermodalkan nekat, kedua langsung duduk meditasi dan menyerap kasiat pil.
Aura putih transparan yang sudah stabil mulai memunculkan gejolak. Namun tidak sampai 1 menit, aura keduanya sudah tenang dan stabil seperti semula.
Pedro terlebih dulu membuka mata. "Bos, aku tidak merasakan ada yang aneh?" tanyanya.
Shera berdiri. "Aku merasakan energi aneh mengalir dari setiap pembuluh darahku, tapi segera menghilang setelah bayangan hitam."
Pedro memang kurang sensitif, tetapi kecepatannya menyerap energi tidak bisa di pandang rendah.
"Itu tadi pil yang sangat berharga untuk para pejuang beladiri. Kalian menyerapnya kurang dari 1 menit, sebenarnya kalian adalah jenius yang belum diasah." Allen memasang wajah datar, ia keceplosan memuji Pedro dan Shera.
"Maaf, Bos. Potong saja gajiku jika perlu!" ucap Pedro.
Allen menggelengkan kepala. "Gaji kalian selama 1 tahun tidak bisa membeli satu pil tadi. Karena kalian di bawah kepemimpinanku, jadi jangan merasa bersalah. Gajimu akan meningkat 10 kali dibanding yang lain."
__ADS_1