Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Taruhan


__ADS_3

Allen yang mendengar suara Harjo Susanto langsung menoleh, ia mengerutkan kening ketika melihat lawannya.


"Redjo Suhat, Sang Tangan Iblis." Allen mendengar namanya bahkan ketika bekerja di ruangan sepanjang hari.


Nama Tangan Iblis didapatkannya pada tahun 2015, kala itu ia menemukan tambang batu mulia tanpa petalatan canggih. Prestasinya tidak hanya itu, Redjo Suhat telah menemukan banyak peninggalan sejarah dengan instingnya. Setiap kali ia menunjuk sesuatu, pasti benda itu sangat berharga.


Siapa yang menyangka pada tahun 2011 akan ada perseteruan antara Harjo Susanto dan Redjo Suhat. Keduanya memang menjadi musuh masa depan, tetapi Allen baru tahu hari ini adalah pemicu utamanya.


"Pedro, Shera perhatikan taruhan mereka berdua. Menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Allen dengan suara pelan.


Shera dengan cepat menjawab, "Bukankah sudah jelas pemenangnya siapa, pasti kakek tua sebelah kiri." Shera memastikan bahwa Redjo Suhat keluar sebagai pemenang.


Pedro berpikir keras, ia belajar dari kesalahan sebelumnya. "Jika ada keajaiban pasti kakek sebelah kanan menang."


Jawaban keduanya tidak salah, tetapi Allen sebagai mitra kerja tidak mau rekannya itu kalah dengan mudah.


Allen mengangkat tangannya. "Kek, aku membawa barang yang kau pesan!" teriaknya dengan suara lantang.


Semua mata tertuju padanya, Allen tampak tersenyum sambil mengangkat batu seukuran kepalan tangan. Harga batu itu tidak lebih dari 10 juta, jadi beberapa orang menertawakannya.


Harjo Susanto menoleh ke arah Allen dan tersenyum. "Woh, pas. Aku hampir kalah karena menunggumu sialan!" katanya mengulur waktu.


Tujuan Harjo Susanto adalah membatalkan taruhannya. Kali ini ia salah menilai orang, salah seorang ahli batu yang dia bawa ternyata tidak kompeten.


Ahli batu di samping Harjo Susanto menggelengkan kepala. Ia dapat melihat dengan jelas batu yang di bawa Allen hanya batu biasa.


"Sejak kapan tempat ini menjadi taman bermain," katanya pelan. Meskipun pelan, Allen masih bisa mendengarnya.


Sebagai tanggapan Allen hanya tersenyum manis sambil melirik Ahli Batu yang di sewa Harjo Susanto.


Setelah melihat taruhan di atas meja yang tertanda tangani Harjo Susanto dan Redjo Suhat, ia langsung ternganga.


"Apa dua orang ini gila!" katanya dalam hati.


Taruhan yang mereka sepakati setara dengan 3 triliun rupiah di tahun 2011. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran taruhan batu antik.


Redjo Suhat memberikan komentarnya. "Apa sekarang kau ingin mengundurkan diri dari taruhan?" tanyanya dengan suara tenang sambil meminta sebuah minuman.


"Siapa yang bilang, karena kita bertanding 3 batu jadi aku masih punya satu kesempatan." Harjo Susanto menginginkan pembatalan taruhan. Ia memberikan kode pada pengawalnya untuk membuat sebuah rencana.


"Jangan berharap bisa membatalkan taruhan kita, pria tua. Semua ruangan sudah dikunci, jadi tidak mungkin orang-orangmu mematikan lampunya!" kata Redjo Suhat.


Wasit yang memimpin pertandingan langsung mengambil surat perjanjian, ia mendapat sedikit uang dari Redjo Suhat untuk mengamankan situasi. Jadi sekarang Harjo Susanto melawan semua orang di dalam Pasar Antik.

__ADS_1


"Sial, aku sudah terjebak!" katanya dalam hati.


Allen mencoba mencari jalan keluar, menang dengan satu batu saja tidak akan memecahkan masalah.


"Kek, yakinlah kali ini aku akan membantumu." Allen mencoba meyakinkan Harjo Susanto atau Kakek Jojo.


Setelah mengatakannya, Allen maju ke depan dan menyerahkan batu miliknya untuk di potong.


Pemotong batu antik langsung mengeksekusinya, sebuah cahaya hijau muncul dari tengah batu.


"Itu giok kualitas terbaik, sialan jual padaku 200 juta." teriak seorang pria yang mengerti tentang batu antik.


Redjo Suhat mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka harus kalah di putaran kedua. Batu yang dia miliki hanya bernilai 180 juta.


"Paman, terus potong hingga terbelah." Allen menyuruh pemotong batu untuk meneruskannya.


"Bos, jika batunya terbelah nilainya akan turun!"


"Lakukan saja."


Pemotong batu melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya ia tidak mau merusak giok langka seperti itu.


Banyak orang yang mencemooh tindakan Allen, padahal ia bisa menang di putaran kedua dengan mudah. Jika batu giok langka itu terbelah, harganya akan merosot setengah dan Harjo Susanto kalah.


"Tenang dan percayalah padaku, kemampuanku menilai batu lebih baik dari siapapun."


Redjo Suhat tampak memandang rendah Allen, matanya menyempit dan senyum jahat muncul di wajahnya. "Ternyata bocah ini ingin mengambil keuntungan dariku, baiklah mari ikuti permainannya."


Bukannya mendapat penentangan, Redjo Suhat membiarkan pemotongan batu giok langka.


Setelah beberapa saat, alat pemotongnya berhenti. Pemotong batu bingung dan menyangkatnya ke atas.


"Aneh, kenapa sangat keras?" kata Pemotong Batu.


"Balik mata pemotongnya," kata Allen memberikan saran.


Pemotong Batu bingung dengan pikiran anak berusia 20 tahunan itu. Tapi ia tetap melakukan apa yang diinginkannya. Padahal jika membalik mata pemotong dapat mengakibatkan rusaknya batu.


Setelah di balik, pekerjaan memotong di lanjutkan. Beberapa batu giok berwarna hijau hancur berceceran di lantai. Warna hijaunya di gantikan menjadi merah terang.


"Giok Merah!" teriak pemotong batu.


Semua orang langsung mendekat dan mematikan barangnya bener. Terkahir kali giok merah seukuran kuku orang dewasa di jual dengan harga 2,9 miliar.

__ADS_1


Batu giok merah itu sangat istimewa, tidak hanya sekeras baja tapi juga punya kekuatan supernatural.


"Jual padaku, 1 miliar!" teriak salah seorang pria berpakaian rapi. Dia adalah kolektor batu giok garis keras, kekayaannya menyamai Harjo Susanto di masa depan.


"Bodoh, jangan menyebut dirimu kolektor garis keras lagi, Sialan. Kau tahi harga jualnya lebih dari 2,5 miliar, kau malah menawarnya 1 miliar! Aku 3 miliar!" teriak seorang pria paruh baya dengan pakaian kasual.


Kegaduhan ruangan terjadi, Allen ingin maju ke depan dan mengambil batu miliknya. Namun kerumunan orang menghilanginya.


"Bocah nakal, bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Harjo Susanto.


"Aku punya insting yang kuat. Jadi pilihanku tidak mungkin melesat. Untuk sekarang ayo pikirkan bagaimana caramu menang!" jawab Allen dengan suara pelan.


Harjo Susanto membisikkan sesuatu, tidak ada yang tahu selain keduanya. Keduanya saling mengangguk dan tiba-tiba berbicara sedikit keras.


"Tambahkan taruhanmu, aku akan menukar batu miliknya denganmu. Percayalah aku punya kenalan penyusup yang sangat baik!" ucap Allen sambil tersenyum tipis.


"Sialan, aku memang kalah dengannya. Tapi masalah trik kotor aku tidak mungkin kalah!"


Pembicaraan keduanya terdengar oleh Ahli Batu yang di sewa Harjo Susanto. Setelah mendengarnya, ia tanpa sadar tersenyum tipis.


"Karena sudah seperti ini, mari mencari penghasilan tambahan."


Seperti yang telah direncanakan, Ahli Batu itu mundur ke belakang dan melaporkan situasinya ke tim Redjo Suhat.


Seorang ahli batu mendekat ke arah Redjo dan membisikkan sesuatu. Bukannya takut, Redjo juga membuat trik untuk melawannya.


Allen dan Harjo Susanto sudah membuat trik terlebih dulu, mereka sengaja berbicara cukup keras supaya Ahli Batu sewaannya. Setelah memastikan semuanya selesai, Harjo Susanto membubarkan kerumunan di depan pemotong batu.


"Sudah, sudah. Aku tidak ingin menjual batu itu. Sekarang ayo lanjutkan taruhannya!" kata Harjo Susanto membuat suasana hening seketika.


Redjo Suhat tersenyum manis. "Bagaimana jika kita mengubah sedikit peraturannya. Ayo cari batu yang baru dan bandingkan!"


Allen dan Harjo Susanto tampak terkejut, tapi ekspresi Harjo Susanto terlalu berlebihan. Kakek tua itu membuka mulutnya dan membelalakkan matanya. "Kenapa? aku sudah membeli batu terbaik!"


"Bukankah anak muda di sebelahmu juga seorang ahli. Bagaimana kalau membandingkan kemampuan kita?" tanya Redjo Suhat tanpa rasa malu.


Semua orang yang menonton gemuruh, mereka berbalik mencemooh Redjo Suhat. Tetapi semua diam setelah Redjo mengangkat tangannya dan menenangkan penonton.


"Tenanglah, ini semua terjadi karena kawanku di sana tidak punya ahli batu lainnya."


Ahli Batu yang di sewa Harjo Susanto segera maju dan mengatakan, "Aku mengundurkan diri, Bos. Maafkan aku!"


Semua orang terkejut dengan pengunduran diri Ahli Batu Harjo Susanto, tapi semua orang tidak melanjutkan komentarnya karena ini semua pasti sudah di atur Redjo Suhat dan teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2