Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Kakek Tua Misterius


__ADS_3

Matahari mulai terbit, Allen keluar dari rumah sakit dan mengambil ponselnya di saku. Jemarinya langsung menekan nama Budi segera memanggil untuk menjemputnya.


Sembari menunggu Budi datang, Allen berjalan-jalan di taman depan rumah sakit. Ia berlari kecil untuk meningkatkan kebugaran tubuhnya, tapi pandangannya segera terfokus pada seorang kakek dan anak kecil berusia 12 tahun. Mereka sedang mempelajari teknik Tai Chi yang digunakan untuk menenangkan pikiran.


“Kek, apa aku bisa menjadi kuat?” tanya anak kecil dengan ekspresi polos.


“Semua orang punya kesempatan masing-masing. Jadi jangan malas berlatih.” Kakek tua berambut putih itu menjawab dengan senyum paling manis yang bisa ia lakukan.


Allen dari jarak yang cukup jauh mencoba merasakan aura milik Kakek berambut putih. Namun ia tidak bisa merasakan sedikitpun aura keluar dari tubuhnya.


“Mungkinkah dia memang manusia biasa?” gumam Allen pelan.


Tepat setelah bergumam, tatapan kakek berambut putih langsung mengarah padanya. Sontak Allen tertegun, ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam memandangi mereka latihan.


Latihan gerakan Tai Chi yang di praktikkan bocah 12 tahun berhasil di hafal Allen dari jarak jauh. Meskipun tampak sederhana, Allen bisa merasakan perbedaan mencolok antara anak kecil dan kakek tua. Perbedaan itu terletak pada tempo gerakan, pernapasan, dan pastinya kontrol pada emosinya.


“Gerakan itu hampir sama seperti punyaku, tapi aku merasa ada yang kurang darinya.” Allen merasa gerakan Tai Chi yang entah bagaimana ia menghafalnya terasa sangat istimewa dibandingkan milik kakek tua.


Meskipun lebih istimewa, Allen belum bisa menguasainya sepenuhnya. Makanya ia mencoba untuk mempraktikkan di depan kakek tua dan bocah 12 tahun. Kakinya dibuka sewajarnya, tangan kanan mulai berayun pelan, matanya tetap terbuka tapi napasnya diatur sedemikian rupa sehingga selaras dengan gerakannya.


Lengan kirinya mulai mengikuti, temponya tidak berubah sama sekali. Hal itu karena kontrol pada emosi Allen sudah membaik, dengan 15 poin Mental, seharusnya mempelajari sesuatu tidak lagi susah untuknya.


Gerakan Allen mulai lagi, ayunan tangannya tampak seperti air mengalir, pelan tapi sangat kuat. setelah menyelesaikan satu rangkaian gerakan, Allen mengulang lagi hingga misi harian miliknya selesai.


[Selamat, pemain Allen berhasil menggabungkan meditasi dan teknik beladiri. Kedua kemampuan akan digabung.]


[Sistem eror...]


Setelah pemberitahuan eror, Allen tidak peduli dengan pemberitahuan sistem dan mengulangi gerakannya terus menerus. Tidak berasa waktu berlalu dengan cepat, Budi yang sudah hadir 1 jam lalu tidak mau mengganggu tuannya.


Kakek tua dan bocah 12 tahun itu duduk di bangkunya sebelumnya. Allen segera memalingkan wajahnya dan melangkah menuju tempat Budi berdiri. ia tidak ingin masalah ini diperpanjang.


“Meskipun dia berbakat, sikap sombong itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Jadi jangan menirunya ya, bocah!” kata Kakek Tua kepada cucu sekaligus muridnya.

__ADS_1


Kakek tua itu bukan orang biasa, Allen merasakan aura yang keluar dari tubuhnya sangat misterius. Matanya tidak mau menatapnya bukan karena takut, tapi karena rasa hormat kepada senior.


Silvy terbang mendekati Allen. “Kali ini keputusanmu sangat tepat, bocah!” katanya dengan suara pelan.


“Memangnya siapa dia?” tanya Allen.


“Orang aneh yang bisa mengambil kekuatan para peri tanpa membuat kontrak. Metodenya sangat jahat, tapi banyak manusia yang menggunakannya.” Silvy menjelaskan tentang metode yang digunakan Kakek Tua.


Metode penyerapan kekuatan peri ini tidak sempurna karena manusia hanya bisa mengambil sebagian. Namun metode ini sangat efektif untuk mereka yang tidak puas dengan keterampilan satu elemen. Untuk menjalankan metode ini, manusia harus bisa melihat peri, pasalnya para peri hanya bisa di lihat oleh mereka yang pantas.


“Aku juga tidak tahu mengapa tidak banyak manusia yang bisa melihatku. Intinya hanya takdir yang dapat mempertemukan kita,” kata Silvy dengan santainya.


Setelah bisa melihat peri, para manusia jahat itu mulai mengekstrak kekuatan peri dengan memasukkannya ke dalam ruang khusus. Meskipun tidak sakit, para peri yang masuk ke dalam ruangan itu perlahan akan mati.


“Sangat kejam!” ucap Allen dengan raut wajah marah.


“Sifat manusia memang seperti itu. Kami para peri memang di takdirkan untuk mati di tangan manusia, jadi tidak perlu merasa bersalah.”


Sayangnya hanya peri bodoh berusia kurang dari 20 tahun yang mengikuti permintaan manusia. Sebagian besar menolak dan berakhir dengan pertarungan antara manusia dan peri calon kontraktornya. Makanya Silvy dan lainnya mencoba menguji Allen di pertemuan pertama mereka.


“Kurang dari 20 tahun?” tanya Allen sedikit bingung.


“Kami para peri tercipta dari alam, jadi selama ada yang mati pasti akan ada yang lahir. Bisa dibilang para peri berumur 100 tahun ke atas sangat langkat,” jawab Silvy.


“Artinya kamu juga salah satunya?”


“Tentu saja!” jawab Silvy sambil menyombongkan dirinya. Padahal para peri yang berumur panjang itu tidak dapat menemukan calon kontraktornya, hanya takdir yang dapat menjawabnya.


Peri paling tua di antara kontraktor Allen adalah Peri Tanah, Silvy mengatakan peri itu berumur 2500 tahun atau bahkan lebih. Dia juga menyaksikan perang antara Manusia, Dewa, dan Iblis di perang Ragnarok. Umur tidak menentukan prestasi kekuatan peri, tetapi bagaimana mereka memahami alam.


Peri Tanah bisa membuat besi dari udara kosong, hal itu sama dengan Peri Air yang bisa membekukan airnya. Tidak kalah dengan Peri Tanah, Peri Air diperkirakan berumur 1500 tahunan, tapi pemahamannya tentang alam sangat baik hingga melebihi Peri Tanah.


“Bagaimana dengan Peri Api?”

__ADS_1


“Jangan sebutkan pria sialan itu. Dia hanya berumur 500 tahun tapi sudah sok keras!” ucap Silvy dengan ketus.


Allen hanya bisa tersenyum, ia benar-benar ingin mengatakan bahwa bocah yang sebenarnya itu kau Silvy. Pasalnya Silvy hanya berumur 200 tahunan, umur yang sangat pendek dibanding lainnya.


Meskipun umur peri tidak menentukan prestasi, Allen merasa bangga karena ia berhasil membebaskan para peri dari kehidupan yang membosankan. Perlu diketahui, para peri yang belum mendapatkan kontraktor hanya bisa memandangi sekitar tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Baiklah, ceritanya sudah selesai. Ayo latihan pedang lagi!”


“Ok, Mis!” jawab Allen dengan suara lantang.


Kakek tua tersenyum manis dari jauh, ia bisa melihat Silvy. “Jadi bocah sombong itu belum membuat kontrak dengannya. Ini akan menarik karena umur peri itu pasti diatas 50 tahun!” gumamnya sambil mengambil ponsel dari sakunya. Dia menghubungi seseorang dari organisasinya untuk mengamati pergerakan Allen.


Setelah beberapa saat, ia mendapatkan informasi ternyata Allen adalah target dari Organisasinya. “Bukankah ini kebetulan yang sangat menguntungkan!” ucap Kakek Tua yang belum diketahui identitasnya. Namun dapat dipastikan dia adalah bagian dari Organisasi Ular Naga.


Semua mata mulai menatap benih ancaman, mereka mulai memperhatikan Allen karena di umurnya sekarang sudah bisa melihat seorang peri. Organisasi Ular Naga mulai menolak tawaran dari para pelanggan terkait Allen, hal itu dikarenakan salah satu petinggi mereka melarangnya.


“Kakek, ayo latihan lagi.” Anak kecil menarik tangannya Kekek Tua yang baru saja menghubungi seseorang.


“Tidak perlu di lanjutkan, ayo ikuti kakek ke rumah besarku!”


Sesampainya di rumah itu, suara teriakan anak kecil terdengar sangat keras. Tidak dapat dibayangkan bagaimana organisasi gila itu memperlakukan anak kecil dan mengekstrak kekuatannya.


Disisi lain Allen melatih pedangnya dengan giat, walaupun sistem belum mengatakan bahwa ilmu pedangnya bukan keterampilan senjata yang dimaksud.


“Gerakkan sikumu ke sudut yang tepat. Jangan buru-buru, fondasi awal sangat penting untuk melepaskan kekuatan yang besar!” ucap Silvy memberikan pelatihan meskipun ia bukan kontraktor.


Allen adalah anak yang cerdas, mungkin untuknya belajar dengan cepat. Namun kali ini otak dan fokusnya tidak hanya ke ilmu pedang, melainkan ilmu tombak dan bagaimana cara menyembunyikan 3 simbol sekaligus.


Tepat setelah gerakan terakhir, Allen merasakan 3 simbol di dalam tubuhnya menghilang. “Silvy, cepat buat kontrak denganku!” teriak Allen tergesa-gesa.


Namun teriakannya tidak mendapat respons, Allen menoleh ke belakang dan mendapati Silvy telah di culik oleh seseorang berpakaian hitam.


“Kau akan mati, Sialan!” ucap Allen sambil mengeratkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2