
Kelompok bertopeng itu melanjutkan perjalanannya, Allen memimpin perjalanan tepat pukul 3 pagi. Suasana hutan masih sangat sunyi, hewan-hewan melata aktif mencari mangsanya.
"Perhatikan langkahmu!" seru Allen memberi peringatan.
Tepat setelah ia menyelesaikan peringatannya, Ye Mo yang larinya paling lampar terkena gigitan ular berbisa.
Shera yang melihatnya langsung memotong ular itu menggunakan pedang pendek. Setelah mengalami pengalaman pertarungan hidup dan mati, refleknya sekarang meningkat.
Budi yang sadar langsung memberinya Pil Kebugaran untuk menetralisir racun. Ye Mo tampak meringis kesakitan, Ular yang menggigitnya adalah King Cobra yang terkenal mematikan.
Pedro dengan celar menarik Bisa dengan mulutnya, kemudian ia memuntahkannya ke arah kanan. Setelah menyedot habis Bisa ular, Pedro membuat lukanya sedikit membesar dengan pisaunya, kemudian mengoleskan beberapa obat herbal.
Shera dengan sigap membungkus luka Ye Mo dengan perban. Kerjasama mereka bertiga sangat apik, Allen hanya bisa bertepuk tangan.
"Luar biasa, tapi di dalam pertarungan jangan pernah mrlakukan itu." Allen memberi mereka peringatan.
"Kenapa, Bos?" tanya Budi dengan suara sopan.
"Pertama, musuh kalian belum kalah. Kemudian kalian bertiga terlalu fokus mengobati rekan tanpa melihat sekitar." Allen menunjuk seekor serigala yang siap menerkam mereka.
Budi ingin membuat gerakan, tapi dihentikan Allen. "Jangan provokasi serigala malam, itu sangat menyusuhkan." Allen memberi peringatan yang ramah.
Kelompok Allen perlahan meninggalkan kelompok serigala malam. Seperti yang dikatakan Allen, ternyata Serigala Malam itu membawa 20 temannya yang bersembunyi.
Matahari mulai terbit, Allen dan kelompoknya sampai di air terjun yang airnya tampak sangat menyegarkan.
[Air Mata Kehancuran.
Siapapun yang mandi atau mencuci tangannya, maka keberuntungannya akan di kuras habis.]
Ye Mo orang pertama yang melangkah maju untuk melompat ke dalam air. Namun Allen meraih kerahnya dan langsung menariknya.
"Hati-hati, ini jebakan." Allen menyempitkan matanya dan melihat gundukan batu di tengah wadah air terjun.
Suara berdengung cukup keras hingga Allen dan kelompoknya harus menutup telinga. Sosok kura-kura berwarna hijau penuh dengan lumut muncul dari gundukan.
"Sudah lama aku tidak melihat manusia yang menyadari penyamaranku. Sungguh disayangkan kalian harus mati!." Monster kura-kura langsung menggerakkan badannya.
Bukannya takut, Allen dan kelompoknya justru berwajah datar. Monster kura-kura berjalan lebih pelan daripada siput, Allen dan kelompoknya menunggu hingga ia menyelesaikan langkahnya.
"Apa ini dunia fantasi!" seru Ye Mo yang belum pernah melihat kura-kura berbicara.
Shera dan Pedro juga terkejut, tetapi mereka segera menerimanya karena gurunya tampak sangat tenang.
"Hoho, persiapkan dirimu untuk mati Manusia!" seru Monster Kura-kura yang berhasil menyelesaikan satu langkah kakinya.
"Senior, kami tidak ingin mencari gara-gara. Tolong tenangkan dirimu!." Allen justru ingin berdamai dengan Monster kura-kura.
"Lalu untuk apa kalian datang?" tanya Monster kura-kura sambil menyelesaikan langkah keduanya.
"Kami hanya ingin mencari keberuntungan di gua misterius. Tepatnya 30 kilometer dari sini." Allen menjelaskan tujuannya dengan tenang.
__ADS_1
"Oh, peninggalan bocah sialan itu. Baiklah lewat saja!." Monster kura-kura tidak menghentikan langkah kakinya.
Allen segera sadar bahwa Monster kura-kura itu sedang menguji kelompoknya. "Semua dengarkan, jangan sampai terkena airnya!" serunya memberikan arahan.
Budi bersiap dan langsung menarik Shera dan Pedro, tanpa peringatan ia langsung melempar dua bocah ke seberang.
Pedro dan Shera tampak sangat tenang, mereka mendarat mulus di seberang wadah air terjun.
"Trik yang kreatif, sebaiknya jangan menggunakan trik yang sama!."
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Budi sudah melempar Ye Mo terbang ke seberang.
"Hei Sialan, sudah aku bilang jangan gunakan trik kotor lagi!" seru Monster Kura-kura tampak sangat marah.
Budi punya kekuatan fisik yang mempuni, ia mengambil ancang-ancang dan segera melompat ke seberang. "Mudah," katanya dengan nada dingin.
Monster Kura Kura tidak terima. "Kau juga tidak boleh melompat, Sialan!" teriaknya sambil menunjuk Allen.
Sebuah pohon besar menjadi sasaran tinju Allen, hanya dengan satu serangan pohon itu tumbang. Allen menyusunnya sedemikian rupa sehingga menjadi semua perahu rakit. Dengan tenang Allen melewati wadah air terjun.
"Tidak mungkin, kalian pasti curang. Aku tidak mungkin meloloskan kalian berlima!." Monster Kura Kura semakin marah, tapi ia tetap memberi kelimanya token berwarna kuning.
Monster Kura Kura yang menguji segera kembali ke tempatnya. Padahal ia cukup senang karena ada pewaris sah dari para Seven Soul.
Air terjun tiba-tiba menghilang Allen dan teman-temannya tidak menoleh ke belakang. Mereka semua langsung berlari melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanannya tidak terjadi apa-apa, Allen dan teman-temannya berhasil melewati hutan tanpa ada gangguan. Setelah matahari tenggelam, mereka sampai di tempat tujuan.
[Son Hyung
Umur : 72 tahun.
Elemen : Angin dan Api
Total Kekuatan : 67.378.]
[Revan Baruch
Umur : 210 tahun
Elemen : Kegelapan, Api, Tanah
Total Kekuatan : 83.378.]
Hanya ada dua orang yang menarik perhatiannya. Allen tidak mau bertingkat gegabah karena mereka jauh lebih kuat darinya.
"Baruch?." Allen teringat marga dari David. Tangannya menggenggam hingga gemetar, ia menyadari keluarga David bukan sekelompok penjahat biasa.
"Bos, ada yang salah?" tanya Budi muncul dari belakang.
Mereka semua masih mengenakan topeng hitam, jadi identitasnya masih belum terbongkar. Namun lawannya kali ini berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak tidak, aku hanya sedikit kesal karena Keluarga Baruch ada disini. Untuk sekarang kita harus menunggu mereka masuk."
Allen dan kelompoknya menunjukkan wujudnya, mereka semua langsung duduk di bawah pohon dan menyalakan api untuk makan malam.
Revan dan Son melirik ke arahnya, Allen masih tampak tenang dan menyelesaikan pekerjaannya membuat makanan. Ye Mo mengambil sisa daging dari Harimau Loreng, Budi dan Pedro mencari kayi bakar, sedangkan Shera membuat membantu Allen menyiapkan bumbu.
Mereka semua bergera dalam irama yang sangat cepat, tangan dan kakinya melangkah tanpa mengeluarkan suara.
Son yang penasaran mendekat. "Siapa kalian?" tanyanya dengan ekspresi dingin.
"Kami hanya kelompok pencari harta. Aku dengan gua misterius itu mengandung kesempatan untuk orang seperti kita." Allen menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.
Son yang mendengar jawabannya tambah tertarik, ia menyuruh kelompoknya menjauh. "Apa aku boleh bergabung?"
Allen mengangguk. "Tentu saja, silahkan duduk. Lebih baik menambah teman daripada mencari musuh."
Son dengan tenang duduk di kursi yang terbuat dari batang pohon kering. Ia diberi mangkuk kecil yang terbuat dari Batok Kelapa. Sendoknya juga terbuat dari Batok Kelapa.
Son yang terlahir di keluarga kaya raya hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Melihat Budi dan teman-temannya menyodorkan mangkuk ke Allen, Son juga melakukan hal yang sama.
Allen segera menuangkan masakannya, ia punya keterampilan memasak yang sangat baik. Jadi caranya menuangkan sup harimau begitu elegan.
Tanpa mengatakan apapun, Budi dan teman-temannya sedikit membuka topeng dan meminumnya.
Son juga meminumnya, tubuhnya tiba-tiba merasa sangat hangat dan aura di dalam tubuhnya bergejolak. Merasakan bahaya, Son langsung duduk dan mengedarkan teknik pengembangannya.
Setelah beberapa menit, Son membuka matanya. "Masakan apa ini!" serunya terkejut melihat kekuatannya bertambah.
"Harimau Loreng biasa." Allen menjawab dengan suara dingin.
"Aku yakin jika memakannya lagi pasti akan naik ke tingkat 6!." Son panik dan menyodorkan mangkuknya.
Allen menggelengkan kepala. "Kau akan meledak jika melakukannya lagi, sup Harimau Loreng ini hanya boleh diminum sekali sehari."
"Terus bagaimana dengan mereka!." Son menunjuk Budi dan Pedro yang meminun lebih dari 3 mangkuk.
"Mereka istimewa, lihatlah dua lainnya." Allen mengalihkan pandangannya ke Shera dan Ye Mo yang bermeditasi.
"Aku Son Hyung, buatkan aku sup seperti ini besok. Berapapun bayarannya akan aku lunasi sekarang!." Son panik karena ini adalah kesempatan seumur hidup, ia sudah tiga kali gagal menerobos tingkat 6.
"Baiklah, bukankah giliran kalian masuk gua?." Allen mengalihkan pandangannya ke kelompok yang keluar dari gua.
12 orang berlimuran darah, 7 diantaranya terluka parah hingga tangannya kanan atau kirinya terputus. Kondisi mereka sangat parah, Allen segera menggunakan keterampilan sistem melihatnya.
[Ubait Rostov
Umur : 130 tahun
Elemen : Tanah
Total Kekuatan : 69.367.]
__ADS_1