Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Hari Pesta


__ADS_3

Fokus pada satu bidang adalah jalur yang telah ditetapkan pencipta Prinsip Jiwa pada keturunan Mahmudi dan Yeni. Oleh kerena itu, Allen harus fokus pada satu bidang dulu.


"Jadi ini yang dimaksud Alona?" tanya Allen dengan suara pelan.


Kakek tua menggelengkan kepala. "Tidak, Alona dan keluargamu hanya ingin kamu sadar. Menjadi serakah adalah hal yang sangat buruk," jawabnya dengan bijak.


Kesadaran Allen mulai kembali ke Bumi, ia membuka matanya perlahan dan tersenyum tipis. Pupil matanya langsung melirik ke arah kanan tempat Yeni menunggu.


"Cepat telan pil ini dan segera ke ruang makan." Yeni langsungnya masukkan pil misterius ke dalam mulut Allen.


Pilnya langsung ditelan, Allen tidak tahu apa-apa tentang pil tersebut. Namun setelah Pilnya melewati tenggorokan, energi murni yang sangat besar meledak.


Allen mengeratkan giginya sambil menahan sakit, Yeni yang percaya dengan anaknya langsung pergi keluar kamar.


Energi murni yang meledak dari pil ternyata sangat kuat, Prinsip Jiwa menyerapnya dengan susah payah. Tubuh Raja Perang juga membantu menyerap energi murni, secara tidak langsung dia juga menyembuhkan semua lukanya.


Hanya dalam dua tarikan napas, Allen menghela napas lega. Semua lukanya sembuh, bahkan status poin Auranya meningkat sangat banyak.


"Baiklah, aku akan fokus pada satu hal." Allen sudah memantapkan tekadnya.


Setelah menunggu setengah jam, Allen keluar kamar dan menuju ruang makan. Alona dan kedua orangtuanya bercanda dengan santai sambil menunggunya.


"Kenapa tidak makan dulu?" tanya Allen dengan santai. Dia sudah tidak canggung lagi dengan kedua orangtuanya. Kakek tua di dalam mimpinya memperlihatkan perjuangan ayah dan ibunya demi melahirkan dirinya dan Alona.


"Cepat duduk, ayo makan bersama." Yeni menyuruh Allen duduk dengan suara santai dan penuh kebanggaan.


Mereka membahas tentang lamaran yang akan dilayangkan ke Clarissa. Semua kebutuhan telah dipenuhi Alona dalam beberapa jam saja. Meskipun sangat boros, dia punya pengetahuan tentang barang mahal dan berkualitas.


Tidak berasa hari-hari berlalu. Allen dan semua keluarganya siap untuk berangka ke Kediaman Keluarga Hardiman. Mereka mengendarai mobil mewah keluaran terbaru dari Audi yang terkenal kenyamanannya.


Kedatangan mereka berempat disambut hangat oleh pelayanan dan karpet merah. Ternyata tidak hanya keluarga Allen yang datang, Davi, William, dan Reza juga datang membawa keluarga mereka.


Keluarga Allen mendapat sorotan mata yang kurang sedap dari tamu undangan. Namun Yeni dan Mahmudi tetap tenang tanpa terpengaruh sedikitpun.

__ADS_1


Alona tersenyum manis dan berjalan di atas karpet merah mengenakan sepatu hak tinggi. Dia sangat cantik, bahkan Clarissa hampir tersaingi olehnya.


Allen menutup pintu dan menyerahkan kunci pada pelayan parkir. Pakaian rapi dengan jas yang sangat mahal, dia berjalan dengan penuh percaya diri.


Semua orang terkejut melihat Allen sehat tanpa luka sedikitpun. Padahal perang sebelumnya sudah menghancurkan sebagian rencana Keluarga Baruch.


David dan ayahnya Bernard langsung menghadang mereka. "Anak kampung sepertimu tidak seharusnya datang kesini," kata David memprovokasi Allen.


Menanggapi pernyataan menohok itu, Allen dengan santai menjawab. "Setidaknya aku tidak pernah kalah perang. Oh iya, maaf kamu tidak pernah memimpin perang."


David yang sebelumnya tampak sangat humoris menjadi mudah marah. Namun Bernard menghentikannya dan berkata, "Sudahlah."


Setelah menghentikan anaknya, Bernard mengeluarkan tangannya ke Yeni yang tampil cukup menarik. "Aku Bernard, senang bertemu dengan kalian."


Yeni tak segan menjabat tangannya dengan penuh kewibawaan. "Angel, nama keluargaku Sie. Senang bertemu dengan kalian juga."


Mahmudi juga mengulurkan tangannya. "Alexander, keluargaku tidak meninggalkan nama marga padaku."


Allen hanya bisa terperangah, dia tidak menyangka orang tuanya akan berbohong. Tiba-tiba Alona mengikut pinggangnya.


Bernard langsung menjabat tangan Mahmudi dan sudah mendapat informasi tentang keduanya. Orang tua Allen hanya manusia biasa, tidak ada gejolak energi yang mereka miliki.


William dan ayahnya juga datang, mereka tampak ramah pada Allen dan berjabat tangan santai.


"Apa kabar, aku sudah tahu kamu tidak mungkin mati hanya karena serangan kecil itu." William bisa menyembunyikan hatinya dengan baik. Padahal dia berharap Allen mati dan tidak ditemukan.


Reza juga tidak kalah ramah, dia menjabat tangan kedua orang tua Allen dan adiknya. Sedangkan untuk Allen dia memberikan tinjunya untuk melakukan tos.


"Hei, kau menjadi sangat berisi. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanya Reza dengan nada santai.


"Sepertinya waktu di pelelangan, kau menaikkan harga barang yang aku mau." Allen melampar senyum tapi kata-kata sangat menohok.


Reza tertawa kecil. "Jangan seperti itu, aku tahu kamu punya banyak uang jadi menaikkan harganya bukan masalah besar. Toh sebagian hasil pelelangan disumbangkan ke panti asuhan."

__ADS_1


Meski Reza sangat licik, dia masih peduli dengan citranya. Makanya dia terus berbuat baik dan menyumbang ke panti asuhan.


Tidak bisa dipungkiri teknik itu memang sangat efektif. Ketiganya berbincang dengan santai sambil saling menyindir.


David dan Bernard yang diabaikan mulai menepi. Mereka berencana membuat keributan di pesta yang diselenggarakan Keluarga Hardiman.


Velicia datang dan menyapa Allen. "Allen, ternyata kau masih hidup. Inteligen Asosiasi Pejuang Beladiri harus ditingkatkan," katanya dengan nada sedikit bahagia.


Mereka berempat dengan santai berbicara, meski saling menyindir tidak ada satupun yang merasa tersinggung.


Clarissa dengan gaun berwarna putih dan ayahnya dengan jas hitam serta bunga mawar di sakunya mulai turun dari lantai dua.


"Hadirin yang terhormat, terima kasih sudah datang ke rumahku yang sederhana. Hari ini aku ingin mengumumkan tunangan anak semata wayangku." Sulaiman berkata dengan suara pelan tapi bisa didengar semua orang.


Clarissa memberi isyarat pada Allen untuk maju. Ayahnya akan menyebut namanya di depan semua tamunya.


"Allen, silahkan maju kedepan." Sulaiman mengatakan nama calon menantunyanya. Padahal beluk ada resepsi lamaran, tapi Sulaiman sudah menganggap Allen sebagai menantunyanya.


Mahmudi, Yeni, dan Alona maju kedepan. Namun mereka dihadang oleh dua penjaga.


Allen menghentikan penjaga dan bilang, "Mereka keluargaku. Biarkan masuk."


"Maaf Tuan, hanya Tuan Muda yang diizinkan masuk."


"Tidak ada yang melarang orang tuaku masuk!" Allen dengan nada tinggi menyusui penjaga.


Yeni dan Mahmudi masih mempertahankan ekspresi dingin dan mendekati Sulaiman. Tidak ada yang melihat jalan keduanya melewati penjaga keamanan.


"Keith Anderson, apa kamu masih ingat siapa aku?" tanya Mahmudi dengan suara pelan.


Sulaiman Hardiman langsung terkejut, tidak ada yang pernah mengetahui nama aslinya. "Siapa kau?" tanya Sulaiman dengan wajah tegangan.


"Lupakan, aku tidak peduli apa motifmu. Tapi anakku ingin menikahinya jadi jangan buat masalah." Yeni melirik ke arah Clarissa sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Sulaiman masih belum menemukan identitas asli orangtua Allen. Setelah keduanya kembali, dia langsung memerintahkan sekretarisnya untuk mencari semua informasi ayah dan ibu menantunya.


__ADS_2