
Pramugari cantik itu segera pergi dengan raut wajah yang tak sedap dipandang. Allen yang merasakan tatapan mereka berdua berkata, "Tidak perlu bingung. Tujuannya sudah jelas tidak baik, seiring berjalannya waktu kalian akan mengerti."
Shera dan Pedro mengerti, mereka kemudian diam dan menikmati perjalanannya. Setelah beberapa hari, akhirnya mereka sampai di Kota A.
Penerbangan pada tahun 2011 masih kurang baik karena banyak pesawatnya masih model lama. Namun Allen dan yang lainnya sampai di tempat tujuan tanpa hambatan.
Pramugari yang ditolak menatap tajam ke arahnya, Allen balas dengan senyum ramah. "Sebaiknya kamu hati-hati dengan orang bernama Dina," bisik Allen dengan suara pelan.
Pramugari cantik itu langsung terbelalak matanya tidak percaya. "Bagaimana kamu tahu..."
Allen hanya menjawabnya dengan senyuman dan segera meninggalkan kabin pesawat.
Saat di ruang tunggu untuk melakukan pengecekan ulang, Allen bertemu dengan Clarissa dengan beberapa pengawal serta Dina di sebelahnya.
Karena terlihat sedang tergesa-gesa, Allen tidak menyapanya. "Sepertinya mereka ada masalah."
Shera dan Pedro hanya diam sambil mengarahkan pandangannya ke Clarissa dan lainnya.
Allen menaruh tasnya di alat detektor, tiba-tiba alarm berbunyi sangat keras hingga petugas keamanan mendatanginya.
"Tunggu sebentar Tuan, mari ikut kami ke ruang sebelah." Penjaga Keamanan segera mengarahkan Allen dan dua orang di belakangnya.
Allen dan Shera di suruh duduk, sedangkan Pedro harus berdiri di belakang mereka.
"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Petugas Keamanan dengan atribut lengkap. Dia adalah salah satu orang paling berpengaruh di Bandara ini, Rosy Huben.
Allen duduk dengan santai, ia tidak merasa membawa sesuatu yang berbahaya. "Saya tidak tahu," jawab Allen dengan santai.
Rosy memukul meja dengan tatapan marah, ia merasa sedang di remehkan. "Apa?"
"Aku tidak tahu, tasku hanya barang-barang biasa." Allen tidak berpindah dari tempatnya.
Rosy tampak sangat marah dan menarik kerah Allen, tatapan matanya mengarah ke matanya. Allen dengan santainya tersenyum tipis.
"Sejak kapan Keluarga Huben punya pria sogokan sepertimu?" tanya Allen dengan suara pelan.
Allen dengan paksa melepaskan kerahnya dari cengkeraman Rosy, sekarang dia yang aka mengancam.
"Apa kau kenal, Chris? aku punya sedikit persahabatan dengannya." Allen menyebutkan Nama Kepala Keluarga yang seharusnya tidak dikenal publik.
Rosy langsung berlutut dan meminta maaf. "Bos, aku salah. Saya tidak tahu anda kenalan Kepala Keluarga."
Allen mengabaikannya dan mengambil barang-barangnya. "Aku tidak akan melupakan kejadian ini. Jangan harap kau masih bisa menduduki kursi itu!."
__ADS_1
"Bos, tolong selamatkan aku!." Rosy masih mencoba memohon pada Allen. Tapi usahanya tidak berhasil dan wajahnya berubah menjadi kusut.
Dina datang bersama Clarissa. Senyum mereka tampak sangat ramah pada Rosy sebagai kepala Bandara dan perwakilan Keluraga Huben. Namun balasannya sungguh mencengangkan.
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajah anjingmu." Rosy Huben langsung mencari mobil dan pulang ke Kediaman Huben.
Allen dan dua temannya belum sampai, Rosy berhasil sampai duluan dan langsung meminta pertemuan dengan Kepala Keluarga.
Allen dan teman-temannya baru sampai setelah satu jam, kendaraan yang mereka pakai sedikit bermasalah, jadi harus pelan-pelan.
"Terima kasih, Paman," kata Allen dengan senyum ramah.
Setelah melihat mobil pergi, Allen berjalan menuju pintu Gerbang Keluarga Huben yang tingginya lebih dari 7 meter.
"Apa ini tidak berlebihan?" ucap Allen pelan.
Dua penjaga keamanan menghampirinya dan bertanya, "Ada yang bisa di bantu, Bapak?"
"Aku ingin bertemu Chris, katanya suruh masuk saja." Allen dengan santainya menyebutkan nama Kepala Keluarga. Dia sendiri juga tidak tahu sebenarnya Chris adalah Nama Kepala Keluarga yang dirahasiakan.
"Di keluarga Huben tidak ada yang namanya Chris, Bapak. Mungkin anda salah orang." Penjaga Keamanan tetap tersenyum ramah.
Allen sadar bahwa penjaga keamanan di depannya merupakan seorang Pejuang Tingkat 3. Namun tidak mengetahui keberadaan Chris.
Dalam beberapa detik Rosy Huben menyambutnya dengan senyum ramah. "Akhirnya kamu datang, Bos. Silahkan masuk."
Penjaga keamanan langsung ciut, dia membungkuk hormat. "Silahkan, Tuan.
Allen sedikit bingung, padahal baru beberapa detik tapi Rosy sudah menyambutnya.
"Oke, aku kesana sekarang." Allen mematikan teleponnya sebelum Chris menjawab.
Rosy memimpin jalan ke Kediaman Kepala Keluarga. "Maafkan kelakuanku tadi, Bos. Sebenarnya itu hanya permintaan rekan kerja."
"Jadi kamu hanya menuruti Dina. Baiklah, dia memang begitu. Ngomong-ngomong kapan kita sampai, sudah 30 menit kita berjalan." Allen sedikit merasa aneh.
Rosy hanya tersenyum ramah dan menjawab, "Kepala Keluarga Chris adalah orang penting, tolong jangan mengungkapkan namanya dimana-mana."
Wajah Rosy tampak sangat pucat setelah melangkah ke halaman Kepala Keluarga. Hawa membunuh yang kuat dilepaskan, Rosy Huben langsung terjatuh karenanya, bahkan setelah 2 detik dia pingsan.
Allen menatap tajam ke arah pintu rumah, rambutnya mulai berubah putih. Pakaiannya berkibar, Shera dan Pedro berdiri di belakangnya.
"Maafkan kelancangan kami, tapi kenapa Anda menghalangiku bertemu dengan Chris?" tanya Allen dengan santai. Tekanan seperti itu tidak akan bisa mempengaruhi kondisi mentalnya.
__ADS_1
"Darimana kau tau aku bukan Chris?" tanya orang yang ada di dalam rumah.
Allen tersenyum sambil menunjuk pelipisnya. "Aku punya kemampuan khusus mengingat aura seseorang. Bukan warnanya tapi karakteristiknya."
"Kemampuan yang menarik, tapi itu tidak penting. Apa tujuanku menemuinya?" tanya Pria di dalam Rumah.
"Tidak ada yang mendesak, aku hanya ingin mencari Tumbuhan Spiritual dan beberapa tanaman herbal." Allen masih berdiri tegap tapi Shera dan Pedro mulai kewalahan. "Mari bicara dengan lebih nyaman, apa Anda masih terus menggunakan tekanan mental seperti ini?" lanjutnya.
Pria misterius itu menarik hawa membunuhnya, ia membuka pintu dan tampak postur tubuh tinggi dan proporsional mengenakan jas rapi.
"Perkenalkan namaku Petrik Huben, Kepala Pelayan Keluarga Huben. Tolong jangan pandang rendah diriku ini." Pria misterius itu memberi hormat layaknya pelayan pada umumnya.
Allen tersenyum ramah dan menjawab, "Kenapa harus meremehkan seorang Pejuang Tingkat 7."
[Petrik Huben
Umur : 471
Elemen : Api
Total Kekuatan : 172.425.]
Allen sekarang punya gambaran betapa menakutkannya dunia ini. Sepanjang perjalanannya menuju yang terkuat, Allen sudah menemui banyak Pejuang Tingkat 7. Diantaranya, Petrik Huben, Son Hyuk, dan Ayah David.
Merasakan tekanan mereka, Ayah David masih yang paling kuat. Allen sibuk melarikan diri tanpa mengetahui total kekuatannya.
Petrik Huben tersenyum ramah dan mempersilahkan masuk. "Silahkan masuk, aku tidak menduga ada anak muda yang sangat peka sepertimu."
Sebenarnya Petrik Huben tidak pernah menunjukkan kekuatannya pada siapapun. Bahkan Chris Huben tidak pernah melihat Kepala Pelayannya bertarung.
"Terima kasih," jawab Allen sambil tersenyum ramah.
Shera dan Pedro berjalan dengan susah payah. Mereka terkena serangan mental yang sangat kuat. Namun setelah meminum Pil, mereka berjalan normal. Kejadian itu dilihat dengan mata kepalanya selamat sendiri, Petrik Huben hanya tersenyum.
Melihat pintu terbuka, Chris langsung berdiri dan menyambut Allen dengan perasaan gembira. Pedang yang dia menangkan dari lelang terpanjang rapi dengan susunan Formasi yang terlihat lemah.
"Halo, Bro. Apa kabar?" tanya Chris dengan senyum lebar.
Allen justru malah kebingungan. "Siapa kau?" tanyanya karena melihat transformasi tubuh Chris yang tidak wajar.
Chris tertawa keras, ia mengubah wujudnya menjadi pria gendut lagi. "Apa sekarang kau mengenalku?"
Allen tertawa dan menepuk pelan pundak Chris. "Dari awal aku sudah mengenalimu. Hanya saja aku sedikit terkejut melihatmu bisa mengubah warna auramu."
__ADS_1
Chris dan Allen bercengkerama dan mengobrol. Mereka tampak sangat lepas dan bercerita banyak tentang kehidupan dunia luar.