Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Ramuan


__ADS_3

Karena Yone berlatih di kamarnya, Allen terpaksa harus tidur di kasurnya dengan suara-suara pijakan kaki.


Hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Allen segera menendang selimutnya dan melompat dari kasur.


Matanya tampak masih sayu karena ngantuk, tetapi ia sadar bahwa latihannya telah terlewatkan.


Dengan pakaian yang masih sama seperti kemarin, Allen segera berlari menuju alun-alun kota dan meregangkan tubuhnya. Tidak lupa ia juga meditasi di bawah terik matahari yang menyengat.


Yone dan Budi mendekat secara bersamaan, mereka saling melirik dan kemudian diam. Tidak ada satupun yang ingin menyapa, tapi mereka berdua merasa saling terhubung oleh sebuah tali persaudaraan.


Keduanya bisa langsung menyimpulkan bahwa Budi dan Yone juga seorang pengguna teknik jiwa.


Allen membuka matanya, ia melihat Yone dan Budi menunggunya selesai latihan. "Jadi ada apa kalian disini?" tanya Allen dengan suara tenang.


Yone yang lebih tua mendapat kesempatan pertama. "Bos, aku harus bersembunyi. Jadi izinkan aku mencari tempat persembunyian."


Allen menggangguk dan langsung menutup matanya. Ia masuk ke dalam Toko Sistem atau Menara Kuno di dalam alam bawah sadarnya.


[3,1 juta koin emas.]


Setelah membeli dua buku teknik , Allen segera mencari buku keterampilan penyamaran.


[1000 Wajah.


Dapat mengubah wajah sesuai keinginan, total hingga 1000 wajah.


Harga : 50 ribu koin emas.]


"Harga yang sangat murah, ini sangat cocok untuk kakek tua. Sekarang mari cari barang untuk Budi."


Allen menggunakan layar sistem untuk mencari barang berharga yang berkaitan dengan kekuatan fisik.


Setelah mencari 1 jam penuh, Allen akhirnya menemukan semua ramuan yang harganya jauh melebihi teknik Nathan dan Nala.


[Rekonstruksi Tubuh.


Membangkitkan tubuh manusia hingga mencapai puncaknya. Tidak efektif kecuali manusia.


Harga : 500 ribu koin emas.]


Teknik Naga Langit dan Ketentraman Hati Es totalnya hanya 400 ribu, tapi satu ramuan rekonstruksi tubuh saja mencapai 500 ribu.


Karena Allen bukan orang pelit, ia tetap membelinya 1. Untungnya dia membaca catatan kecil di pojok kanan pengantar sistem.


[Tidak efektif untuk pemain Allen.]


"Sejak kapan sistem menjadi sangat sensitif padaku." Allen mengeluh karena semua barang di Toko Sistem tidak bisa digunakan untuknya.


[Otoritas Anda masih kurang, setidaknya buat diri Anda naik ke tingkat 3.]

__ADS_1


Sistem menjadi sangat formal, Allen tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Kabar baiknya sekarang ia bisa mendapat jawaban dari sistem.


2 jam di alam bawah sadar sama dengan 2 detik di dunia nyata. Allen melihat Yone dan Budi masih berdiri di depannya.


Karena tidak ingin memberikan bukunya secara langsung, Allen menunjuk dahi Yone dan mengirim bab pertama.


"Kamu pelajari itu, setelah benar-benar menguasainya datanglah padaku." Allen memberi isyarat untuk Yone segera bersembunyi.


Yone sudah pernah menerima teknik jiwa melalui transfer pikiran. Jadi dia tidak terlejut dengan keterampilan yang tiba-tiba masuk ke dalam pikiran. Namun keterampilan yang di berikan Allen kali ini sangat berharga. Bahkan Pejuang Beladiri rela mengeluarkan triliun rupiah hanya untuk bab pertamanya.


"Baik, Bos." Yone tidak mau membuang-buang waktu. Jadi ia segera pergi sambil menutup kepalanya dengan penutup jaket.


Budi masih berdiri di depannya, Allen segera mengerti apa yang di rasakan pria paruh baya itu. "Minum ini, jangan biarkan siapapun melihatnya. Jika ramuan ini bocor, tidak hanya nyawamu yang melayang tapi juga semua orang disekitar, termasuk aku."


Allen memberikan ramuan itu dengan hati-hati. Setelah memberikannya, Allen memilih untuk mengawasi Budi lebih lanjut.


"Baik, Bos. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan!"


"Sepertinya aku berubah pikiran, aku ke penginapan perusahaan. Sepertinya Tiwi sudah membeli semua bangunannya, ayo menginap disana dan gunakan ramuan itu."


Allen memimpin jalannya, ia menuju sebuah penginapan di lereng gunung keramat yang dimanakan Kelut.


Butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di sana. Allen dan Budi menggunakan mobil hitam polos untuk menemani perjalanannya.


Sesampainya di sana, Allen dan Budi di sambut oleh beberapa pelayan. Budi dan Allen tidak terbiasa dengan sambutan mewah, jadi mereka hanya berjalan dan sesekali menundukkan kepalanya.


Allen dengan santainya menjawab, "Baik, tunjukkan jalannya."


Setelah sampai di depna kamar, Allen hanya bisa ternganga melihat pintunya setinggi 3 meter. "Bukankah ini terlalu boros?"


Karyawan penginapan hanya bisa tersenyum tipis. Dia sebenarnya sedang mengejek Allen yang tampak tak berpendidikan. Namun Tiwi sebagai bosnya memerintahkan untuk memperlakukan Allen sebaik mungkin.


"Silahkan, Tuan."


Allen dan Budi masuk tanpa memberi tip pada karyawan yang mengantarnya.


Setelah masuk, mereka langsung menutup pintu dan bersiap untuk menyelesaikan latihannya. Sedangkan karyawan yang mengantar hanya bisa tersenyum kecut dan pergi meninggalkan ruangan.


"Sekarang minum ramuannya, aku akan melindungimu." Allen memberikan perintah pada Budi.


Setelah mendengar perintah, Budi tanpa pikir panjang langsung menelan habis ramuan di dalm botol. Wajahnya langsung memerah karena panas.


Semua kulit dalam tubuhnya menjadi merah karena marah. Budi sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menghancurkan setiap ototnya.


Allen tidak mau mengganggu prosesnya, jadi ia melambaikan tangan dan kamar Eksklusif itu langsung di selimuti es. Jadi suara tidak akan bisa keluar dengan mudah.


Budi tidak bisa menahan rasa sakitnya, ia berteriak sekuat tenaga hingga air liurny keluar. "Agrh...!!!"


Allen hanya diam dan melihat situasi, selama nyawa Budi masih bisa di tolong, dia tidak akan membuat pergerakan.

__ADS_1


Kuku di tangan Budi milai melepuh dan mengelupas. Bahkan beberapa telah lepas dari jarinya, Budi tidak bisa menghentikan teriakannya.


Baju yang dia kenakan mulai mengeluarkan asap dan terbakar perlahan. Pupil mata Budi menghilang, ia tampak seperti orang yang hampir meninggal.


"Jangan sampai kau pingsan, lakukan yang terbaik untuk melewati perconaan ini." Allen mencoba memberikan motivasi.


Seperti yang dia katakan, Budi berusaha keras mempertahankan kesadarannya. Ia hanya berteriak kesakitan tanpa kehilangan kesadaran.


Setelah beberapa menit, kulit yang merah mulai melepuh dan digantikan kulit baru. Prosesnya sangat cepat, sehingga Budi langsung berdiri setelah semua kulitnya mengelupas.


"Sepertinya aku berhasil." Budi mencoba menyenangkan dirinya.


"Semangat..." kata Allen, tapi ia berhenti karena melihat Budi terjatuh dan berteriak lagi.


"Argh, ini sakit sialan!" teriak Budi yang mulai mengumpat tidak jelas.


Allen tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ia yakin Budi sedang berusaha sekuat tenaga.


Budi menggelat seperti seekor cacing yang terkena garam. Dia melompat kesana kemari sambil membenturkan tubuhnya.


"Apa sekarang sedang tren pria bugil berdansa?" ucap Allen sedikit kebingungan.


Budi tampak sedang menari dan membenturkan tubuhnya ke dinding es.


Entah mengapa tiba-tiba Allen teringat Teknik Jiwa. "Gunakan teknik yang aku berikan!" teriak Allen memberikan instruksi.


Budi dengan sekuat tenaga berdiri dan mempraktikkan pembukaan Teknik Jiwa. Perlahan tapi pasti, rasa saki di dalam tubuhnya mulai menghilang.


Kulitnya yang baru retas dan digantikan dengan kulit baru lainnya. Allen tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ia yakin Budi sekarang cukup kuat untuk menerima serangannya.


"Selamat, sepertinya kau sudah melewati tembok pembatas yang mengulangimu." Allen memberikan tepuk tangan, tapi sebelum mendapat jawaban Budi terjatuh dan pingsan.


Sekarang Allen menjadi canggung, seorang pria paruh baya tanpa busana ada di dalam kamarnya. "Apa yang harus aku lakukan, Sial!" gumamnya mulai panik.


Es mulai mencair dan Allen mengibarkan lengannya. Semua ruangannya menjadi bersih, bahkan debu-debu juha menghilang.


Sebelum Allen keluar, ia merasakan ada 4 orang yang ada di depan pintu kamarnya. Ia mengurungkan niat untuk membuka pintu.


"Sial, apa yang harus aku lakukan!"


Entah apa yang ada di pikirannya, Allen menghubungi Nathan dan menyuruhnya membeli sepotong baju untuk Budi.


"Ok, Bos."


Nathan sendiri juga tidak tahu ukuran tubuh Budi, tetapi ia yakin bahwa baju ukurannya XXXL.


Allen duduk meditasi di depan pintu, sehingga ia bisa langsung membuka pintu jika Nathan sudah datang.


Suara kutukan pintu terdengar. "Bos, makan siang sudah siap. Tolong bukakan pintunya," kata seorang pelayanan sambil membawa meja dorong.

__ADS_1


__ADS_2