
Ledakan bom terdengar, Kota Z yang terkenal sangat aman dan penuh dengan kemewahan diteror.
Alona berlari kembali ke belakang punggung kakaknya. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Pemberontakan Pejuang Beladiri telah mencapai puncaknya. Lebih kita juga bersiap-siap." Allen menaiki motor hitam.
"Ayo naik," imbuhnya.
Alona enggan naik, tapi dia berpikir dua kali. Selain kakaknya tidak ada orang yang bisa dipercayai, bahkan Alona tidak mempercayai ayah dan ibunya yang menyimpan banyak rahasia.
Kakinya melangkah, Alona tidak punya pilihan lain. Lebih baik berusaha melarikan diri daripada mati tanpa sebab. Dia naik ke boncengan belakang tanpa helm, Allen juga tidak mengenakannya.
Gas motor di tarik hingga maksimal, motornya terbang keluar parkiran. Pada jalan lurus kecepatannya mencapai 200 kilometer per jam.
Rambut Alona beterbangan, dia tidak punya waktu untuk merapikannya. Dua tangannya memeluk erat tubuh kakaknya.
Dua mobil van mengikutinya dari belakang, Allen bisa menyadarinya tanpa harus melihat. Gas pada motor tidak dikendorkan, dia menyalip beberapa kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Penumpang di mobil Van mengeluarkan senjata api dan mulai menembak. Allen tersenyum dan mengangkat jari telunjuk tangan kirinya.
Penumpang mobil van langsung dieksekusi menggunakan penembak jitu. Mereka berhasil mengeksekusinya semua orang dalam mobil hanya dalam hitungan detik.
"Menggunakan senjata api lebih mudah daripada panah." Penembak jitu itu membanggakan keterampilannya. Dia lupa ada Ye Mo disebelahnya.
"Sniper memang kuat dan cepat, tapi punya kelemahan besar. Yaitu kecepatan tembaknya terbatas, bahkan gerak pelurunya mudah ditebak." Ye Mo menarik busurnya dan segera melepaskan anak panahnya.
Anak panah itu melambung tinggi dan mulai jatuh. Kecepatannya berlipat ganda karena gravitasi bumi, anak panah menancam di tangki mobil dan meledak.
"Bam."
Ye Mo menyimpan panah dan berpaling meninggalkan tempat. "Ayo pergi, tugas kita selesai."
"Baik, Bos."
Allen dan Alona masih mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di kampung halaman, Allen menurunkan Alona.
"Untuk sementara berlindunglah di bawah naungan ayah dan ibu. Setelah cukup kuat, barulah temui aku." Allen mengatakannya dengan ekspresi serius.
Alona tidak menjawab, dia langsung berlari ke hutan dan segera menuju rumahnya. Perasaannya campur aduk, kakaknya benar-benar membunuh orang tanpa mengedipkan mata.
Allen tidak mau menggangunya, kampung halamannya sangat aman. Jadi tidak mungkin ada yang berani mengusiknya. Dia segera kembali ke markas utama Perserikatan Raja Surgawi.
__ADS_1
"Tiwi, bagaimana bisnis kita?" tanya Allen dengan santai.
"Seperti biasa, penjualan pil beladiri terjual laris. Tidak hanya itu, beberapa taipan siap membeli semua barang tidak laku perusahaan." Tiwi menjelaskan situasinya dengan perasaan gembira.
Perusahaan Allen yang awalnya bergerak di bidang makanan dan teknologi beralih fungsi. Mereka menjual obat-obatan premium yang harganya selangit. Namun masih banyak permintaan yang diterima.
"Bagus, sepertinya aku harus mencari murid Alkimia. Apa kamu punya saran?" tanya Allen dengan suara pelan.
Tiwi mengangguk. "Lebih baik buka untuk umum, tidak hanya mendapat nama baik, kita juga mendapat tenaga kerja yang baik."
"Cerdas, umumkan perekrutan Peramu Pil di media sosial. Tetapkan waktunya minggu depan," katanya penuh dengan semangat.
"Baik, Hyung." Tiwi segera mengirim pesan pada sekretarisnya.
Allen pergi ke Pulau Nemo, dia mencari beberapa bahan yang cocok untuk tes. "Sial, aku lupa tidak punya bahan berkualitas tinggi."
Selama ini Allen hanya mengandalkan sistem, dia tidak pernah membeli atau mengumpulkan bahan sendiri.
"Sepertinya aku harus ke pasar." Allen membulatkan tekat menyusup ke Kota R untuk mencari bahan.
Setelah sampai pasar, Allen langsung membeli beberapa bahan yang siap digunakan. Tidak lupa dia membeli tanaman dan bunga yang berpotensi meningkat menjadi Tumbuhan atau Rumput Spiritual.
Melihat Allen yang memborong banyak bahan, seorang anak kecil mendatanginya. "Kak, bagi uangmyu," katanya dengan muka melas.
Anak kecil langsung berlari menuju gang tampak seperti sedang terburu-buru. Allen tidak mempermasalahkan, dia berkeliling mencari bahan yang banyak.
Setelah berkeliling, Allen melihat anak kecil tadi babak belur dipukuli seseorang. Tanpa pamrih Allen mendekat dan memberi pertolongan pertama.
"Nak, kau tidak apa-apa?" tanya Allen yang mencoba berbuat baik.
Anak kecil berusia 13 tahun itu menampis tangan Allen yang berusaha membantunya. Dia lalu lari ke sebuah gubuk kecil di pinggiran kota.
"Maaf kakak, aku hari ini tidak bawa makanan. Percayalah, dua jam lagi aku akan membawanya." Anak kecil itu keluar dan berlari ke pasar lagi.
Allen masuk ke dalam rumah gubuk dan menemukan seorang perempuan 18 tahun terbaring di atas kasur.
[Terdeteksi Tubuh Racun Gila, hati-hati dia bisa membuatmu mati dalam sekejap mata.]
Sistem tidak bisa memprediksi kekuatan Energi Jiwa dan Tubuh Raja, jadi perhitungannya salah kaprah.
"Siapa kau!" kata Perempuan di atas kasur. Sebuah aura ungu keluar dan langsung nutupi pandangan di gubuk kecil.
__ADS_1
Allen tersenyum manis dan menjawab, "Allen dari Raja Surgawi. Kedatanganku kesini untuk menyelamatkanmu."
"Jangan bercanda dan pergilah. Aku tidak membutuhkan pertolongan anak orang kaya sepertimu."
Allen tidak kehilangan senyumnya, padahal dua kakinya sekarang mati rasa karena racunnya sangat kuat.
"Aku tidak main-main." Allen mengedarkan Energi Jiwa dan membentuk Monster Bayangan di belakang punggungnya.
Monster Bayangan itu melahap semua racun di ruangan dan dirubah menjadi energi murni. Tentu saja Allen senang dengan perolehan energi murni.
"Apa sekarang kau percaya? Racun ini bukan kutukan tapi sebuah anugerah yang diberikan surga." Allen menjelaskan keistimewaan memiliki tubuh racun.
"Pergilah, aku tidak butuh bantuanmu!"
Allen menunjukkan video adiknya di pukul preman karena tidak memberikan mereka uang mengemis.
Dalam rekaman itu terdengar adiknya memohon ampun dan berkata uangnya untuk makan kanannya.
Perempuan di atas kasur itu menangis. "Brengsek kau menggunakan kelemahanku dengan baik," katanya sambil mengusap air mata di pipinya.
"Siapa namamu? Mungkin aku bisa membantu kalian." Allen berusaha membawa dua orang ini ke Kota K khususnya Raja Surgawi.
"Aku Ketie dan adikku Ryan. Kami hidup seperti ini sejak racun ditumbuhku mulai ganas, sekarang duduk saja susah." Ketie menjelaskan situasinya sambil berusaha duduk.
"Sebenarnya kau bisa menggunakan racun itu untuk senjata perlindungan diri. Bukankah kau sudah melakukannya tadi." Allen berbicara santai dan duduk di lantai tanah.
"Iya aku melakukannya tanpa sengaja..." Ketie menghentikan perkataan dan menyadari sesuatu. "Apa kau punya metode mengendalikan racun ini?" tanyanya penuh dengan harapan.
Allen tersenyum manis. "Semua tergantung bagaimana kau menunjukkan ketulusanmu."
Ketie sangat bersemangat. "Katakan, aku siap melakukan apapun jika tidak menyakiti adikku."
Allen melirik ke luar gubuk. "Sepertinya ada tamu tak diundang, aku akan bersembunyi dulu."
Ryan dipukuli hingga lukanya parah. Dua orang yang menyeretnya adalah penjaga keamanan pasar.
"Jangan mencuri lagi, Bocah miskin. Jika tidak ada aturan aku pasti sudah membunuhmu." Penjaga Keamanan itu melempar ejekan pada Ryan.
Ketie marah, matanya berubah marah darah dan aura ungu yang mengandung racun mulai melesat ke arah dia penjaga.
Racun itu langsung masuk ke mulut dan menyiksa dua penjaga dengan rasa sakit yang tiada tara. Anehnya mereka tidak bisa berteriak karena racun menghalangi suaranya.
__ADS_1
Ketie tampak dingin setelah membunuh dua penjaga yang kekuatan setara dengan Pejuang Beladiri Tingkat 1.
Allen mendekat dan bertepuk tangan. "Ayo selamatkan adikmu dulu, biarkan aku merawatnya."