Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Celah Dimensi


__ADS_3

Gabungan serangan Burung Roc dan Alona meninggalkan jejak di langit biru. Udara disekitarnya terbelah, serangan itu menghantam Satan hingga terbang ratusan kilometer.


"Argh, aku tidak akan kalah lagi, Bajingan!"


Sampai seluruh energi kehidupan Alona dan Burung Roc habis, Satan masih menahannya.


"Sepertinya tugasku sudah berakhir, aku harap tidak di bangkitkan lagi." Alona tersenyum puas dengan serangan terkahirnya.


Kepala Burung Roc sudah tergeletak di tanah, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Alona mendekatinya dan memeluk burung itu.


Tubuh mereka berdua bersinar terang dan mulai memudar, cahaya kuning yang menyelimuti seluruh dunia juga mulai terangkat.


Allen yang berada dalam wujud bertarungnya hanya bisa terperangah tidak percaya. Alona satu-satunya keluarga kandung juga meninggalkannya.


"Kenapa, kenapa ini terjadi?" kata Allen sambil meneteskan air mata.


Pasukan Raja Surgawi hanya bisa tertunduk, meski mereka menang tapi kehilangan sosok guru yang selalu membantunya.


Namun kemenangan itu tidak bertahan lama, Satan muncul dari puing-puing batu. "Brengsek, apa kau kita aku tidak bisa belajar."


Satan telah berkembang, sekarang dia bisa tetap meregenerasi tubuhnya meski sangat lambat. Berbeda saat melawan Aldi di dimensi yang lain. Regenerasinya tidak berkerja dengan semestinya.


"Apa?"


Semua orang kebingungan, termasuk Allen yang melihat Satan masih sehat. Meski tubuhnya terluka tapi tidak ada luka fatal yang mengancam nyawanya.


"Kenapa kau masih hidup!" teriak Allen yang hampir kehilangan kesadarannya. Namun dia teringat bayangan kedua orang tuanya dan Alona.


"Bodoh, serangan sepeti itu tidak bisa membunuhku." Satan terbang ke langit dan bersiap mengguncang bumi sekali lagi.


"Jangan harap!" Allen langsung terbang menuju Satan dengan kemampuan bawaannya.


Teknik Pedang yang baru saja dipelajari langsung diterapkan. Karena semua ketrampilan sistem tidak bisa digunakan, Allen hanya bisa menggunakan Mata Dunia dan Energi Jiwa.


Namun sebelum menyentuh Satan, dia terpental jauh. Tangan Bayangan digunakan Satan untuk mengusir lalat seperti Allen.


"Aku tidak tertarik dengan manusia lemah sepertimu."


Shera dan Pedro tiba-tiba muncul di depan Satan, mereka langsung menggunakan serangan kombinasi. Namun pedangnya hanya meninggalkan luka kecil dan kemudian pulih kembali.


Sebuah medan berbentuk bulat muncul di sekitar Satan dan mengembang. Shera dan Pedro terdorong hingga menghantam tanah.


"Lalat-lalat penganggu." Satan terus meningkatkan tekanannya hingga tanahnya berlubang.


Shera dan Pedro telentang di atas tanah, tapi mereka tersenyum karena sudah memenuhi tugasnya.


"Kau membuat kesalahan, Bajingan!" kata Pedro sambil tersenyum. Dia tidak memperhatikan bagian tubuhnya yang mengenaskan. Dua tangannya telah hilang, kakinya terpotong setengah karena tekanan yang terlalu kuat.


Shera hanya bisa memandang musuhnya dengan tatapan penuh dendam, kondisinya lebih parah dari Pedro.


Meski begitu mereka berdua masih tersenyum dan menggigit lidahnya. "Ledakan Larva!"


Sama seperti teknik Allen waktu mendorong Cimera, Shera dan Pedro meledakkan cacing yang timbul akibat racun di tubuh Satan.


Karena ada banyak sekali goresan kecil di tubuhnya, Satan mulai merasa panas. Cacing yang sangat banyak itu meledak di dalam tubuhnya.


"Sialan, aku akan menghancurkan mayatmu!"


"Sudah terlambat Iblis Sialan!" kata dua pasangan itu. Mereka menatap tajam ke arah Satan dan mengucapkan satu kalimat yang sama.


"Teknik Pembalikan Jiwa. Matilah!"


Ledakan yang awalnya hanya sepeti kembang api di dalam tubuh satan menjadi seperti ledakan nuklir. Tidak hanya satu kali tapi lebih dari 1 juta cacing yang meledak di dalam tubuhnya.


Satan menempelkan kedua telapak tangannya. "Pertahanan Mutlak!"


Dia memfokuskan seluruh kekuatannya untuk melindungi tujuh inti di dalam tubuhnya. Ledakan terus-menerus itu menghancurkan area sekitar serta menguras energi kehidupan Pedro dan Shera.


"Sial!" teriak Allen yang merasa gagal melindungi saudara-saudaranya.

__ADS_1


Senyum kedua bocah itu terlihat sangat tulus, mereka bersedia mengorbankan nyawanya demi melukai musuhnya.


Tujuh inti di dalam tubuh Satan masih utuh, semua bagian tubuhnya mulai beregenerasi. Meski jauh lebih lambat dari sebelumnya, Satan masih bisa menggunakan sebagian besar kekuatannya.


"Manusia rendahan yang merepotkan. Andai saja senjataku masih ada, kalian akan bisana hanya dengan satu ayunan!"


Satan menyombongkan dirinya di langit, tubuhnya sudah kembali utuh seperti semua. Namun dia sekarang tidak bisa menyembunyikan 7 inti lagi.


Allen yang melihatnya langsung sadar, 7 inti Satan ada di kepala, kaki kanan, serta lima lainnya di arena perut dan dada.


Setelah memastikan kelemahan musuhnya, Allen mencoba terbang kembali. Namun dia dihentikan Ye Mo dan pasukannya.


"Tuan, biarkan kami berkontribusi juga. Tolong pulihkan dulu kekuatanmu." Ye Mo mengatakannya tanpa menoleh ke belakang.


"Benar, biarkan kami juga berjuang demi manusia." Budi yang tampak sudah membulatkan tekadnya.


Allen tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Tapi kepercayaan dalam dirinya tumbuh. "Baiklah, tahan dia selama mungkin!"


Sebuah kubus menggantikan posisi Allen, sekarang dia ada di dalam Ruang Pelatihan guna mengembalikan pengalamannya.


Ye Mo dan pasukannya tersenyum manis, mereka langsung menyilangkan kedua tangannya.


"Teknik Es Abadi!" kata 12 orang yang berpose sama.


"Aku tidak menyangka teknik Es Abadi masih ada. Ayo tunjukkan kekuatan kalian menyegelku!" kata Satan dengan nada sombong.


Gunung Es tercipta dalam sekejap mata, energi kehidupan 12 orang dari pasukan Ye Mo mulai terkuras. Rambut mereka mulai memutih dan matanya berubah sayu.


Satan dengan penuh percaya diri menyentuh Es Abadi dan membuat tubuhnya membeku. "Lemah, ini sangat lemah. Aku pernah terkurung di Es Abadi, tapi tidak selemah ini!"


Ye 100 orang lainnya melakukan gerakan yang sama. Mereka mengorbankan energi kehidupannya untuk menyegel Satan.


"Ugh." Satan memuntahkan seteguk darah berwarna hitam. "Bajingan, kau menggunakan racun!"


"Siapa bilang ini Es Abadi biasa. Matilah adalah tidurmu Iblis Sialan!" teriak Ye Mo mengendalikan es yang mengurung Satan.


"Tapi Bohong." Satan menggerakkan tangannya dan gunung es itu hancur.


Suaranya yang lantang membuat 111 orang lainnya tersentuh. Mereka juga mengatakan kalimat yang sama, "Teknik Pembalikan Jiwa!."


Energi Langit dan Bumi bergetar dan melonjak tajam. Satan merasa bahwa es abadi benar-benar bisa menyegelnya.


"Bajingan sialan, matilah!" teriak Satan yang berubah ke mode tempur. Lengannya bertambah menjadi 6, matanya merah, ramput putih dan dua tanduknya menyala merah darah.


Energi Iblis bertabrakan dengan teknik Es Abadi, keduanya beradu hingga daratan di sekitarnya hilang.


Semua pasukan Ye Mo memuntahkan darah. Mereka sudah kehilangan seluruh Energi Kehidupan dan Jiwanya. Tubuhnya sangat renta dan tidak lagi bisa berdiri.


"Sial, ternyata masih kurang." Ye Mo hanya bisa menyesal karena tidak berhasil membunuh musuhnya.


Semua pasukan dan dirinya tersungkur, tubuhnya bercahaya dan mulai memudar. Ye Mo dan semuanya tersenyum meski harus menggunakan keterampilan terlarang.


Disisi lain Allen terus berlatih tanpa memikirkan waktu, dia segera kembali setelah selesai dengan semuanya.


Namun matanya terbuka lebar setelah melihat 90% pasukan Raja Surgawi sudah hilang menggunakan Teknik Pembalikan Jiwa. 10% laimnya juga sudah tidak bisa bertarung, mereka hanya pejuang tingkat 8 dan dibawahnya.


"Apa yang terjadi, berapa lama aku di ruang pelatihan?" tanya Allen pada satu rekannya.


"2 minggu, anda sudah menghilang selama itu. Tidak ada lagi harapan, manusia telah musnah."


Allen menoleh ke atas dan matanya terbuka lebar, dia melihat Clarissa tertusuk tangan Satan. Jantung Allen berdetak kencang, amarahnya mulai memuncak dan ia langsung menerjang musuh.


"Iblis Bajingan, aku pasti membunuhmu!"


"Akhirnya kau kembali. Ternyata kau seorang pelintas ruang dan waktu. Apa mungkin kau yang bertarung denganku duli?"


"Persetan dengan musuhmu. Aku pasti membunuhmu!"


Allen tidak lagi bisa mengendalikan amarahnya, dia menggunakan seluruh kekuatannya. Bahkan Energi Jiwa dan Kehidupannya diperas teruse menerus.

__ADS_1


Tidak terasa pertarungan mereka berdua telah mengelilingi dunia yang sangat luas ini. Lebih dari 70% daratan telah hilang digantikan air laut.


"Celah Dimensi?" ucap Satan yang sedikit ketakutan. Dia tidak menyangka lawannya akan menjadi gila dan menghancurkan 6 intinya dalam 2 hari saja.


"Kau pikir bisa kabur?" teriak Allen yang mengejar Satan ke Celah Dimensi. Namun keputusan Allen ternyata salah, manusia tidak bisa hidup tanpa oksigen, sedangkan Iblis tidak membutuhkannya.


Tidak ada yang tahu berapa lama waktu telah berjalan, Satan dan Allen saling kejar-kerjaan.


Sampai akhirnya Allen berhasil mengambil satu inti Satan di kepalanya. "Satu intimu sudah di tanganku," katanya tersenyum puas.


Energi Jiwa Allen sudah hampir habis, dia tidak bisa mempertahankannya terlalu lama.


"Bajingan, kembalikan inti iblisku!"


Satan tidak bisa hidup kembali kalau intinya rusak, dia hanya bisa terperangah tak percaya kalah dari manusia.


Tanpa rasa kasian Allen langsung menghancurkan inti iblis, tubuh Satan meleleh dan segera menghilang.


"Maafkan aku semuanya!" kata Allen yang menangis.


Pelindung tunuhnya dari energi celah dimensi hilang, Allen mulai terjatuh ke jurang tanpa batas. Dia pelahan menutup matanya dan detak jantungnya mulai berhenti.


[Sistem Dewa berhasil terhubung, menyelamatkan pemain.]


[Kandungan Oksigen telah distabilkan.]


Allem mulai membuka matanya, dia tidak percaya masih bisa sadar. "Apa ini surga?"


Allen terbang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Tidak ada yang tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu.


Sampai akhirnya dia menemukan sebuah ruangan yang mempunyai 3 bola hitam. "Apa ini?" tanya Allen yang kebingungan.


[Bola Nasib, kamu bisa menggunakannya untuk memperbaiki Dimensi kehidupanmu.]


Allen menyentuh bola pertama, dia kembali di hidupkan menjadi Allen yang dulu. Pria berumur 35 tahun lajang dan hampir bunuh diri.


Bola kedua dilahirkan kembali menjadi Allen pada tahun 2009. Namun dia tidak memiliki kekuatan sistem dan ingatan masa lalu.


Bola ketiga Allen akan terus hidup di celah dimensi sampai ajal menjemputnya.


[Tentukan pilihanmu.]


Allen merenung memikirkan semuanya, dia sudah pernah menghancurkan ruang dan waktu ketika kembali ke bumi tahun 2009. Jika dia memilih kembali, artinya orang-orang kesayangannya akan mati lagi.


Jika kembali ke tubuh manusia berusia 35 tahun tanpa kekuatan dia akan merasakan kehilangan adiknya lagi.


"Kenapa bertanya, aku sudah memutuskan." Allen menyentuh bola ke tiga.


Cahaya yang sangat terang menerangi matanya Allen dipindahkan ke sebuah padang rumput. "Sekarang apa lagi, bukankah aku memilih bola ke tiga."


"Terima kasih sudah menerima takdirmu, aku adalah pembuat Sistem Dewa. Sepertinya ini akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir."


"Jadi apa yang akan kau lakukan padaku?"


"Aku minta maaf, kamu harus terus berada disini sampai seseorang menggantikanmu. Tolonglah mengerti, ini demi kebaikan seluruh alam semesta."


"Lakukan sesukamu." Allen duduk di padang rumput sambil memandang langit hitam. "Kira-kira aku harus disini berapa lama?"


Tepat setelah dia duduk ada seseorang yang datang. "Akhirnya ada manusia lain, aku Amir. Nama keluargaku Nano!"


Seorang pria setinggi 198 centimeter mengulurkan tangannya untuk jabat tangan.


"Apa kau menantangku bertarung?" tanya Allen dengan wajah serius.


"Sepertinya itu menarik!"


Dalam hitungan 10 detik Allen dalam mode betarung terkuatnya di lumpuhkan. Amir menabok pantatnya.


"Bocah, cepat katakan namamu!"

__ADS_1


"Malaikat Maut sialan, kau pikir aku mau mati begitu saja!"


~Tamat~


__ADS_2