
5 musuhnya tidak memberinya kesempatan, Allen hanya bisa menghindar dan berlari seperti tikus.
Menggunakan elemen untuk masuk ke dalam tanah, kemudian masuk ke Ruang Pelatihan.
"Sial!" kata Allen sambil memegangi mulutnya yang baru memuntahkan darah segar.
"Aku harus cepat." Allen duduk bersila dan mengedarkan teknik jiwa. Tidak lupa dia memakan beberapa pil penyembuhan.
Satu hari telah berlalu di Ruang Pelatihan, tapi hanya 6 jam di Bumi. Allen segera keluar dan melihat sekelilingnya.
"Apa mereka sudah tidur?" katanya pelan.
Lima senjata tiba-tiba menusuk perutnya, Leluhur Keluarga Morgan menggunakan keterampilan rahasia milik Alien.
"Mati kau!"
Darah mengalir keluar dari tubuhnya, Allen tersenyum manis melihat semua orang puas dengan pencapaiannya.
"Apa kalian puas?" tanyanya.
Joy dengan santainya berkata, "Tentu saja, kematianmu akan menjadi hadiah paling indah untuk kami!."
Berbeda dengan Roy yang merasa aneh. Dia melihat ke bawah dan tidak melihat bayangan Allen, segera setelah itu dia berteriak, "Mundur!"
Semua orang kecuali Joy mundur. Tubuh Allen meleleh layaknya lilin dan tubuh aslinya muncul dan menusuk salah satu Leluhur Keluarga Morgan.
"Kena kau!"
Tusukan pedangnya mengandung energi jiwa serta racun yang mematikan. Hanya dalam hitungan detik targetnya langsung kehilangan nyawa.
"Sialan!" teriak Joy dengan keras serta mengayunkan tombaknya.
Tepat setelah dia sampai di depan mayat rekannya, tiba-tiba cahaya merah berontak keluar dari tubuh itu.
"Awas!"
Tubuh Leluhur Keluarga Morgan yang baru saja kehilangan nyawanya sudah ditukar. Jadi Allen memilih untuk meledakkan jasadnya.
Joy yang tepat berada di sebelah mayat itu hanya bisa bertahan. Ledakan besar menghancurkan seluruh lingkungan sekitarnya. Pohon-pohon hangus dan tanah berterbangan.
Roy dan 2 lainnya dihempaskan hingga ratusan meter, sedangkan Joy menancapkan tombaknya menahan ledakan.
Allen yang sudah menyerap ingatan targetnya muncul dari tanah. Dia segera mengambil pil untuk meningkatkan mentalnya.
"Ayo kita lihat apa dia masih selamat." Allen berjalan pelan menuju Joy yang terkena ledakan.
Tepat setelah Allen berdiri di depannya, tangan Joy tiba-tiba menusuk perutnya. Mata Allen terbuka lebar dan gemetar.
"Apa?"
"Kau pikir ledakan kecil itu bisa membunuhku?" tanya Joy Morgan sambil tersenyum. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan, dua kakinya hancur dan satu tangannya hilang.
Menyisakan tubuh dan satu tangan yang memegang tombak. Tekad Joy patut diakui semua orang di dunia.
__ADS_1
"Sepertinya pengorbananmu sia-sia." Allen melebarkan matanya dan tiba-tiba Joy tersadar ternyata tusukan tangannya tidak mengenai target.
"Apa? Bagaimana bisa?"
Allen tersenyum karena sebelum mendekat, dia menggunakan teknik ilusi untuk mengelabui semua orang.
"Sederhana, ini hanya trik ilusi. Meski aku tidak sekuat kalian, tapi masalah trik curang akulah jagonya."
Roy yang melihat kondisi Joy segera berteriak, "Serang!"
Allen yang belum sempat mengeksekusi lawannya langsung mundur. Meski hanya 3 orang yang menyerangnya, mereka semua Pejuang Tingkat 9.
Roy menggunakan pedangnya untuk membelah tanah, dua rekannya juga melakukan hal yang sama.
Allen seperti tupai yang melompat ke sana kemari hanya untuk menghindari serangan langsung. Bukan gayanya menghadapai serangan kuat seperti itu, jadi bersembunyi sementara adalah pilihannya.
"Kakak, apa kamu masih bisa mendengarku?" tanya Roy dengan perasaan cemas. Tidak lupa dia menggunakan obat kelas atas untuk membantu penyembuhannya.
"Ya, aku masih mendengarmu." Tubuh Joy pelahan kembali seperti semula, tapi pergelangan kaki sampai telapaknya tidak bisa kembali.
"Kenapa tidak tumbuh lagi?" tanya Roy yang kebingungan.
"Kamu saja tidak tahu, bagaimana denganku!"
Saat semua orang fokus pada Joy, Allen menyelinap di belakang mereka dan menyerang salah satu leluhur yang berada di paling belakang.
"Argh!" teriak Leluhur yang berdiri paling belakang. Lehernya terkena serangan mematikan dari pedang energi jiwa.
Roy dan satu rekannya menoleh ke belakang, mereka mendapati rekannya sudah berguling-guling kesakitan.
"Tolong, tolong aku!"
Lehernya terbakar dan apapun yang dia makan akan hancur. Roy mencoba memberinya ramuan dan pil, tapi semuanya gagal.
"Bertahanlah!" ucap Roy mencoba menggunakan energinya untuk memadamkan energi jiwa.
Namun sayangnya sebelum menghentikan api di leher rekannya, Roy kehabisan kekuatan. Begitu pula dengan nyawa rekannya yang melayang tanpa ada pertolongan berarti.
"Sial!"
Joy menepuk pundak Roy. "Jangan menyalahkan dirimu, Bajingan itu memang punya banyak trik."
Bukannya senang, Roy malah membentak kakaknya. "Sialan, semua ini karena ide bodohmu menyergap pasukan musuh dengan formasi!"
"Apa yang kau katakan, semua orang setuju!"
Pertengkaran Joy dan Roy membuat satu rekannya yang lain merenggut nyawanya. Allen menusuk jantungnya dan menghancurkan pusat energinya.
"Aku bawa mereka dulu, Ya!" kata Allen sambil menarik dua mayat leluhur.
Tanpa memperdulikan kehadiran Allen, dua kakak beradik itu terus bertengkar.
"Kau sendiri yang mengatakan tidak perlu membawa pengguna elemen tanah, lihat sekarang tikus itu menggali tanah terus-menerus!" teriak Joy dengan mata melotot.
__ADS_1
Roy yang marah dan terbawa suasana hati langsung menusuk kakaknya dengan pedang. Matanya melebar karena setelah dia sadar, pedangnya menusuk jantung kakaknya.
"Kakak, maafkan aku. Cepat makan ini!"
"Sialan, pergilah. Kau menyerang titik paling lemahku. Bahkan pil paling kuat tidak bisa menyelamatkan nyawaku. Pergilah, sialan!"
Joy perlahan lemas dan jatuh ke tanah, penyesalan Roy tidak bisa mengembalikan nyawa kakaknya. Karena pengaruh formasi ini, semua Leluhur Keluarga Morgan tidak bisa dibangkitkan lagi.
"Sial!" teriak Roy Morgan. Suaranya menggema ke seluruh gunung dan hutan, rasa penyesalannya tidak akan pernah terlupakan.
Allen tanpa rasa bersalah mereka kejadian itu menggunakan ponselnya. "Wow, kejadian yang sangat mengerikan. Kau membunuh kakakmu sendiri," katanya tanpa rasa iba.
Roy menatap tajam ke arah Allen, kemudian dia tersenyum manis. "Kalau begitu, ayo mati bareng!"
Pelukan Roy tidak bisa dihindari, Allen hanya bisa pasrah dan menunggu nasib membawanya.
Bahkan setelah menggunakan semua harta miliknya, tekad Roy untuk mati bersama tidak tergoyahkan.
"Sialan!" teriak Allen meratapi nasibnya.
Ledakan super besar menghancurkan gunung dan lingkungan di sekitarnya. Tanah terangkat ke langit hingga memenuhi seluruh ruang di dalam formasi.
Allen menggunakan seluruh hartanya untuk bertahan. Namun rasanya sia-sia karena dia hampir kehilangan seluruh bagian tubuhnya.
Untungnya dia masih bisa masuk ke Ruang Pelatihan sebelum nyawanya direnggut dewa kematian.
Pil Kebugaran segera di telan untuk membantunya. Tubuh Raja dan Mahkota Raja membantunya menyembuhkan luka.
2 minggu berlalu begitu saja, Allen akhirnya menyembuhkan tubuh dan sebagian kekuatan.
"Bagus, aku keluar."
Setelah keluar dari Ruang Pelatihan, dia berada di bawah pohon besar. Batangnya berwarna emas dan daunnya hijau.
"Kau sudah bangun, anak muda." pohon itu berbicara.
Sontak Allen terkejut, dia mundur kebelakang dan jatuh. "Kau, pohon dunia. Tapi kenapa Zahra tidak ada?"
Bukan terkejut karena kehadiran Pohon Dunia, tapi Allen terkejut karena Zahra tidak ada.
"Tenanglah, aku tidak berasal dari dimensi waktumu sekarang. Tapi aku berasal dari dimensi waktu asalmu."
"Apa kamu tahu aku bereinkarnasi?"
"Tidak hanya tahu, akulah yang membawamu ke dimensi waktu yang lain. Ini kekuatan terkahirku, jadi ingat-ingat perkataanku!"
Suara pohon dunia melemah. "Para Perompak dunia akan segera sampai, segera satukan dunia."
"Perompak dunia?"
Sebelum mendapatkan jawabannya, kesadaran Allen sudah kembali ke Bumi. Dia menghubungi Tiwi.
"Siapkan rencana penyerangan. Kita akan menghancurkan Keluarga Morgan sekarang juga!" katanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1